Aku Datang ke Pernikahan Sahabat Lama untuk Melihat Calon Suami Kaya yang Selalu Ia

“Berhenti menyebut namaku seolah semua ini salahku,” kata Nadira. Suaranya bergetar, tetapi matanya tetap menantang Dimas. “Kamu yang menerima tawaranku.”

Aku memandang mereka bergantian. Dari ballroom terdengar pengumuman kedua, meminta keluarga pengantin segera menempati kursi.

“Cari ruangan,” kataku. “Aku tidak mau hidupku dijadikan tontonan.”

Staf hotel mengantar kami ke ruang pertemuan kecil. Siska ikut bersamaku. Ibu Dimas menutup pintu, meredam suara musik dari luar.

Amplop cokelat itu tergeletak di meja.

“Siapa yang mengirim ini?” tanyaku.

“Saya.”

Seorang lelaki berkemeja abu-abu muncul di ambang pintu. Aku mengenalinya sebagai Fajar, fotografer yang dahulu sering mengerjakan proyek bersama kami.

Nadira langsung berdiri. “Kamu tidak diundang.”

“Aku diminta memotret pernikahan kalian. Setelah menerima nama lengkap pengantin pria, aku sadar siapa dia.”

Fajar meletakkan ponselnya di meja.

“Foto tadi kuambil saat menjemput peralatan dari apartemen Rani. Aku baru menemukan arsipnya lagi minggu lalu.”

“Tapi foto itu tidak membuktikan apa-apa,” sahut Nadira.

“Memang,” jawabnya. “Karena itu aku datang untuk bertanya. Dimas justru memintaku diam sampai akad selesai.”

Aku menoleh kepada Dimas.

“Jelaskan sekarang.”

Ia duduk dengan bahu merosot. Jam pemberianku masih tergenggam di tangannya.

“Tiga tahun lalu, Nadira menawarkan dana untuk menyelamatkan usahaku.”

Aku ingat usaha itu. Sebuah perusahaan pemasaran kecil yang kami bangun dari meja makan apartemenku. Aku mengurus konsep dan hubungan dengan klien, sementara Dimas menangani penawaran serta pembayaran.

“Usaha kita,” koreksiku.

Ia mengangguk tanpa menatapku.

“Saat itu ada proyek besar. Kita butuh modal produksi. Nadira bersedia membantu, dengan syarat aku mendirikan perusahaan baru bersamanya.”

Aku menunggu.

“Dan?”

“Kontrak klien harus dialihkan ke perusahaan itu.”

Dadaku mulai sesak. Sebulan sebelum Dimas menghilang, aku menghabiskan malam-malam panjang menyiapkan proposal untuk jaringan hotel. Setelah ia pergi, ia mengatakan proyek itu batal.

“Proposal yang mana?”

Dimas menyebut namanya.

Siska meraih tanganku di bawah meja.

Aku melepaskan genggamannya perlahan, lalu membuka ponsel. Surel lama masih tersimpan. Ada puluhan revisi proposal, rancangan anggaran, dan pesan Dimas yang memintaku bekerja lebih cepat.

“Kamu bilang kliennya mundur.”

“Aku tahu.”

“Kamu bilang semua tabungan kita habis untuk menutup uang muka vendor.”

Dimas menutup mata.

Nadira menyela. “Tanpa modal keluargaku, proposal itu cuma berkas di laptop. Aku yang membuatnya jadi bisnis.”

Aku menatap sahabat yang dahulu tidur di lantai apartemenku ketika bertengkar dengan orang tuanya. Ia tahu berapa lama aku bekerja. Ia pernah membawakan kopi ketika aku menyelesaikan presentasi itu.

“Kenapa tidak mengajakku bicara?”

Nadira terdiam sebentar.

“Karena kamu tidak akan mau berbagi kendali.”

“Jadi kalian memilih mengambil semuanya?”

“Tidak sesederhana itu.”

“Buat aku sederhana, Nad. Apa syarat lainnya?”

Dimas menjawab sebelum Nadira sempat membuka mulut.

“Aku harus mengakhiri hubungan denganmu. Nadira bilang hubungan pribadi akan mempersulit pemisahan usaha.”

Ruangan terasa semakin sempit.

Aku pernah mengira kesalahanku adalah terlalu sibuk bekerja sampai Dimas merasa diabaikan. Selama hampir setahun setelah ia pergi, aku memeriksa setiap percakapan kami, mencari kalimat yang seharusnya tidak kuucapkan.

Ternyata mereka sudah menghitung kepergiannya sebelum aku sempat bertanya.

“Kamu bebas menolak,” kataku kepada Dimas.

“Aku takut kehilangan kesempatan.”

“Lalu kamu membuatku kehilangan kesempatan yang kukerjakan sendiri.”

Ia mengangguk. Kali ini tidak ada pembelaan.

Ibu Dimas mengusap matanya.

“Saya baru tahu sebagian ketika melihat surat lama di rumahnya bulan lalu. Dia bilang urusan kalian sudah diselesaikan.”

“Belum pernah ada yang diselesaikan, Bu.”

Aku menunjuk jam di tangannya.

“Sekarang jelaskan itu.”

Dimas memandangi jam tersebut lama sekali.

“Aku kembali dua minggu setelah pergi. Kunci cadanganmu masih kubawa. Aku ingin mengambil barang-barangku sebelum pindah kantor.”

“Kamu masuk tanpa izin?”

“Iya.”

“Dan mengambil jam yang sudah kamu kembalikan?”

Suaranya nyaris tidak terdengar.

“Aku melihatnya di laci. Aku mengambilnya karena… itu satu-satunya benda dari masa ketika kamu masih percaya kepadaku.”

Aku merasakan kemarahan yang dingin.

“Kamu mengambil pekerjaanku, lalu menyimpan hadiahku supaya bisa merasa masih punya sesuatu yang baik.”

Dimas meletakkan jam itu di meja.

“Maaf.”

Aku tidak menyentuhnya.

Fajar menggeser sebuah kursi mendekat.

“Ran, aku masih punya arsip proyek itu. Termasuk surel saat Dimas meminta namamu dihapus dari presentasi akhir. Waktu itu dia bilang kamu sudah keluar dan menyetujuinya.”

“Bisa kirimkan kepadaku?”

“Bisa.”

Nadira memandang ponsel Fajar, kemudian menatapku.

“Kamu mau merusak pernikahanku?”

Aku menarik napas sebelum menjawab.

“Aku datang membawa amplop ucapan selamat. Kalian yang membawa semua ini sampai ke sini.”

Ketukan terdengar. Ayah Nadira masuk bersama seorang petugas acara. Ia terhenti melihat putrinya menangis.

“Ada apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku mengambil tas.

“Tanyakan kepada mereka, Pak. Saya perlu pulang.”

Sebelum keluar, aku menoleh kepada Dimas.

“Seluruh pembicaraan tentang usaha akan lewat pendampingku. Jangan datang ke rumahku.”

Ia mengangguk.

Di lobi, Siska membantuku memesan mobil. Saat itulah tangisku akhirnya pecah. Ia berdiri di sampingku tanpa menyuruhku tenang.

Akad hari itu ditunda. Aku mengetahuinya dari pesan singkat ibu Dimas malam harinya, bukan dari unggahan tamu yang mulai beredar.

Beberapa minggu berikutnya kuhabiskan bersama seorang advokat, memeriksa arsip usaha. Bukti pekerjaanku masih lengkap. Penyelesaiannya memakan waktu berbulan-bulan, termasuk pembayaran hak atas proyek dan penggunaan materi yang kubuat. Uang itu tidak mengembalikan tiga tahun hidupku, tetapi aku menerimanya tanpa merasa sedang meminta belas kasihan.

Suatu sore, jam tersebut datang melalui kurir, disertai surat Dimas. Aku membacanya sekali, lalu menyimpannya bersama dokumen penyelesaian.

Keesokan harinya, kubawa jam itu ke tukang servis.

“Ukiran belakangnya mau dihapus?” tanya lelaki tua di balik meja.

Aku memperhatikan dua huruf kecil itu.

D.A.

Dahulu aku memilihnya untuk Dimas dan Aku.

“Tidak usah, Pak. Ganti talinya saja.”

Sebulan kemudian, aku memakainya saat menandatangani kontrak pertama atas nama usahaku sendiri. Klien memintaku menjelaskan jadwal pekerjaan, dan aku membalik pergelangan tangan untuk melihat waktu.

Aku masih punya dua puluh menit.

Kali ini, tidak ada seorang pun yang berbicara mewakiliku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang