Gelas Ibu jatuh ke karpet ketika Nadine mengumumkan bahwa Arga bukan anak kandung Ayah. Tak seorang pun bergerak mengambilnya. Di tengah ballroom yang beberapa detik sebelumnya dipenuhi tepuk tangan, kakakku berdiri seperti orang yang tiba-tiba lupa cara bernapas.
“Ayah?” panggilnya.
Ayah memandangi hasil tes DNA di tangannya, lalu mengangkat wajah.
“Kamu tetap anak Ayah.”
Arga mundur selangkah.
“Berarti benar?”
Semua ini bermula dari pertanyaanku tentang aset keluarga. Ketika Nadine mengatakan anak-anak mereka kelak akan memakai nama Pratama, aku bertanya mengapa dia begitu mendesak Ayah mengalihkan saham, rumah orang tua kami, bahkan apartemenku kepada Arga sebelum pernikahan.
Aku ingin menghentikan sesuatu yang mencurigakan. Aku tidak menyangka akan menghancurkan dunia kakakku di depan puluhan orang.

Ayah mengambil mikrofon dari meja.
“Mohon maaf. Acara malam ini kami akhiri. Ada urusan keluarga yang harus kami bicarakan.”
Seorang paman hendak bertanya, tetapi Ibu menggeleng. Staf hotel membantu mengarahkan tamu keluar. Bisik-bisik mengikuti mereka sampai pintu tertutup.
Kami pindah ke ruang pertemuan kecil di sebelah ballroom. Arga menolak duduk.
“Sekarang jelaskan.”
Ibu menangis diam-diam. Ayah meletakkan dokumen itu di meja.
“Dua bulan lalu kamu menjalani pemeriksaan sebelum mendonorkan darah untuk operasi Ayah. Ada hasil yang membuatmu bertanya tentang hubungan keluarga kita.”
Arga menatapnya tajam.
“Aku cuma bertanya kenapa dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan.”
“Ayah tahu. Tapi Ayah takut pertanyaan berikutnya akan datang.”
“Jadi Ayah melakukan tes diam-diam?”
Ayah mengangguk.
“Padahal Ayah sudah tahu jawabannya?”
Keheningan itu cukup menjadi jawaban.
Ibu mengusap pipinya.
“Kamu anak kakak Ibu, Ga. Mbak Laras.”
Arga perlahan menoleh.
Nama itu hanya kukenal dari foto perempuan muda yang tersimpan di lemari Ibu. Kami diberi tahu dia meninggal karena kecelakaan sebelum aku lahir.
“Dia meninggal bersama suaminya waktu kamu berumur empat bulan,” lanjut Ibu. “Kami merawatmu, lalu mengangkatmu sebagai anak. Waktu kamu mulai sekolah, kami ingin menjelaskan. Tapi selalu ditunda.”
“Karena kalian malu?”
“Karena kami takut kehilanganmu,” jawab Ayah.
Arga tertawa pendek. Wajahnya justru semakin sedih.
“Jadi kalian membiarkanku mengenal semua orang, kecuali orang tuaku sendiri.”
Aku menunduk. Untuk luka yang satu itu, tidak ada penjelasan yang terdengar cukup.
Nadine mendekat dan menyentuh bahunya.
“Itulah sebabnya aku meminta kepastian aset. Aku ingin melindungimu.”
Namun, Arga menepis tangannya.
“Kamu dapat hasil tes ini dari mana?”
Nadine terdiam.
“Aku menemukannya waktu membantu Ibu membereskan berkas pemeriksaan.”
Ibu mengangkat wajah.
“Kamu bilang hanya mencari kuitansi rumah sakit.”
“Aku terkejut, Bu. Aku perlu waktu untuk memahaminya.”
“Lalu selama punya waktu itu,” tanyaku, “kenapa kamu mengurus pengalihan apartemenku?”
Nadine menatapku dengan kesal.
“Kamu masih memikirkan apartemen?”
“Aku memikirkan alasan kamu memasukkan barang milik orang lain ke dalam dokumen yang katanya untuk melindungi Arga.”
Kakakku menarik kursi dan akhirnya duduk.
“Tunjukkan berkasnya, Ran.”
Aku menyerahkan salinan dari staf hukum perusahaan. Arga membacanya perlahan. Saat sampai pada lampiran aset, alisnya bertaut.
“Kamu bilang ini cuma rancangan pembagian saham operasional,” katanya kepada Nadine.
“Karena itu bagian utamanya.”
“Di sini ada rumah Ayah dan Ibu.”
“Kita bisa membicarakan rinciannya nanti.”
“Dan apartemen Rania.”
Nadine menyilangkan tangan.
“Aku hanya ingin kamu mendapat bagian yang pantas sebelum semuanya berubah.”
Ayah membuka map lain yang dibawanya dari ballroom.
“Tidak ada rencana mengeluarkan Arga dari keluarga atau perusahaan.”
Dia mengeluarkan surat dari kantor notaris. Tanggalnya tiga minggu sebelum Nadine pertama kali membawa rancangan pengalihan aset.
“Ayah sedang meninjau pengaturan harta keluarga supaya hak kalian berdua jelas. Bukan karena Arga kurang berhak, tapi karena selama ini terlalu banyak hal yang hanya Ayah ucapkan.”
Arga membaca namanya, lalu namaku, tercantum dalam surat tersebut.
“Ayah seharusnya bicara kepadamu lebih dulu,” lanjut Ayah. “Tentang semuanya.”
Nadine meraih tasnya.
“Kalau memang sudah dijamin, kenapa tidak bilang dari awal? Semua keributan ini bisa dihindari.”
Aku memandangnya.
“Kamu pernah bertanya?”
Dia tidak menjawab.
Ponselnya bergetar di meja. Nadine segera mengambilnya, tetapi Arga menahan tangannya.
“Apa ada yang sedang menunggumu?”
“Cuma keluargaku.”
“Telepon mereka. Bilang pertunangannya ditunda.”
Nadine membeku.
“Ga, kamu sedang emosi.”
“Aku baru tahu orang tuaku menyembunyikan asal-usulku. Aku juga baru tahu calon istriku mengetahuinya lebih dulu dan memilih menggunakannya untuk meminta aset. Aku perlu berhenti sebelum membuat keputusan lain.”
Air mata Nadine mulai jatuh.
“Aku melakukan ini karena takut kamu tidak punya apa-apa.”
Arga menatapnya lama.
“Kalau malam ini Ayah bilang aku tidak akan mendapat perusahaan, kamu masih mau menikah denganku?”
Nadine membuka mulut.
Namun, jawabannya tidak datang cukup cepat.
Arga mengangguk kecil, seolah akhirnya memahami sesuatu yang menyakitkan.
Malam itu dia pulang bersamaku. Di mobil, aku meminta maaf karena mengangkat persoalan tersebut di depan tamu.
“Aku seharusnya mengajakmu bicara lebih dulu.”
“Iya,” katanya.
Aku menerima jawabannya.
Beberapa kilometer kemudian, dia menambahkan, “Tapi terima kasih sudah memperhatikan sesuatu yang tidak kuperhatikan.”
Hubungannya dengan Ayah dan Ibu tidak pulih dalam semalam. Selama beberapa minggu, dia hanya datang untuk bekerja. Pertunangannya berakhir setelah percakapan panjang dengan Nadine. Urusan perusahaan diperiksa kembali, dan semua rancangan yang belum disetujui dihentikan.
Suatu Minggu, Ibu mengundang kami pulang. Di meja makan ada sebuah kotak berisi foto, surat, dan gelang bayi milik Arga.
Kali ini, mereka tidak menyimpan apa pun.
Di antara foto itu ada gambar Ayah muda tertidur di kursi rumah sakit sambil memeluk bayi. Di belakangnya, tulisan tangan Ibu berbunyi, Hendra belum tidur dua malam. Takut Arga bangun dan tidak menemukan siapa-siapa.
Arga memandangi foto itu lama sekali.
Kemudian dia menemukan amplop dari ibu kandungnya, ditulis beberapa minggu sebelum kecelakaan untuk menitipkan dokumen asuransi kepada Ibu.
Di bagian akhirnya ada satu kalimat yang membuat kami semua terdiam.
Kalau suatu hari anakku membutuhkan rumah, aku tahu pintu kalian selalu terbuka.
Arga mengusap tulisan itu dengan ibu jarinya.
Ayah duduk di seberangnya, menunggu tanpa berani mendekat.
Akhirnya kakakku mengangkat wajah.
“Ayah,” katanya pelan, “besok temani aku mengunjungi makam mereka.”
Ayah mengangguk dengan mata basah.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam pertunangan itu, Arga membiarkan tangannya digenggam.
