Nama Arga tercetak di halaman itu, tepat di bawah kalimat yang membuat tanganku mendadak dingin.
“Penetapan jabatan ditunda sampai verifikasi rekam jejak kegiatan lapangan selesai.”
Kepala unit menutup map ketika menyadari beberapa orang mulai mendekat.

“Kita bicarakan di ruangan saya.”
Arga langsung meraih sikuku.
“Nadira, ini pasti kesalahan administrasi.”
Aku menatap tangannya sampai dia melepaskannya.
Sebulan sebelumnya, di tempat yang sama, dia bahkan tidak mau melihat lebam di lenganku.
Saat itu aku baru pulang dari pemeriksaan kesehatan gratis di sebuah sekolah pinggiran kota. Keributan pecah ketika seorang murid berteriak melihat temannya pingsan. Anak-anak berdesakan di koridor. Aku terjatuh saat berusaha melindungi murid yang terbaring di dekat pintu.
Pergelangan tanganku terkilir, tetapi kami berhasil memindahkan anak itu ke tempat aman.
“Cuma memar begitu,” kata Arga malamnya. “Mereka cuma anak-anak nakal.”
Kemudian dia pergi membantu Salma menyiapkan presentasi.
Malam itulah aku mendaftar untuk penempatan dua tahun di klinik terpencil. Aku seorang dokter, tetapi selama bertunangan dengan Arga, cita-citaku selalu diperlakukan seperti kegiatan sementara yang kelak harus berhenti setelah menikah.
Aku mengikuti wawancara, menyerahkan dokumen, lalu menerima penempatan. Beberapa kali aku mencoba membicarakannya. Arga selalu terburu-buru.
Kini, setelah namaku diumumkan sebagai koordinator lapangan, dia akhirnya punya waktu untuk mendengarkan.
Di ruang kepala unit, kami duduk bersama Salma dan seorang petugas verifikasi program.
Petugas itu membuka laptop.
“Kami menemukan perbedaan antara laporan yang diajukan dinas dan catatan fasilitas pelaksana.”
Salma segera menjawab, “Mungkin karena penyusunan laporan dilakukan beberapa tim.”
“Karena itu kami meminta klarifikasi.”
Layar diputar ke arah kami.
Foto kegiatan di sekolah muncul. Aku mengenalinya. Di sudut gambar terlihat aku berjongkok di samping murid yang pingsan, sementara seorang guru membuka jalan.
Namun, dalam laporan pengajuan jabatan Arga, kegiatan itu disebut dipimpin oleh Salma. Namaku tidak tercantum sebagai dokter pelaksana.
Arga disebut sebagai penanggung jawab lapangan yang hadir sepanjang kegiatan.
Padahal pagi itu dia berada di hotel untuk mengikuti pertemuan dengan calon mitra.
“Ini foto dokumentasi umum,” kata Arga. “Tidak semua nama harus dicantumkan.”
Petugas itu membuka halaman berikutnya.
Ada uraian penanganan kegawatdaruratan, lengkap dengan keputusan klinis yang kuambil. Lalu muncul lampiran daftar hadir.
Di samping namaku terdapat tanda tangan.
Bukan tanda tanganku.
Aku mendekatkan wajah ke layar.
“Siapa yang menandatangani ini?”
Salma memandang Arga. Gerakan singkat itu lebih jelas daripada jawaban apa pun.
“Berkasnya harus masuk malam itu,” katanya akhirnya. “Kami tidak mau mengganggumu karena kamu sedang istirahat.”
“Jadi kamu menandatangani atas namaku?”
“Aku hanya menyalin dari berkas lama.”
Ruangan menjadi sunyi.
Aku teringat Arga menyebutku sensitif karena mengeluhkan luka. Pada saat yang sama, pengalaman yang membuatku terluka justru mereka gunakan untuk memperkuat pengajuan karier.
“Aku perlu salinan dokumen ini,” kataku.
Arga mencondongkan tubuh.
“Kita bisa selesaikan sendiri. Jangan sampai masalah pekerjaan merusak pernikahan.”
Aku menatapnya.
“Waktu kamu memakai pekerjaanku untuk laporanmu, kamu ingat kita akan menikah?”
Dia tidak menjawab.
Petugas verifikasi menjelaskan bahwa pemeriksaan akan dilanjutkan. Mereka memintaku memberikan keterangan tertulis, tanpa perlu mengambil keputusan apa pun saat itu.
Aku mengangguk. Untuk pertama kalinya pagi itu, ada orang yang memberiku ruang untuk berpikir.
Arga menungguku di parkiran.
“Aku memang tidak membaca setiap lampiran,” katanya. “Salma yang mengurus.”
“Tapi kamu tahu kamu tidak datang ke sekolah.”
Dia mengusap wajah.
“Aku koordinator program. Namaku memang harus ada.”
“Sebagai koordinator program, iya. Sebagai orang yang hadir dan menangani kejadian, tidak.”
Arga terdiam, lalu menunjuk map penempatanku.
“Lalu ini? Kamu menerima tugas dua tahun tanpa persetujuanku.”
“Aku mencoba mengajakmu bicara.”
“Kamu seharusnya bilang lebih tegas.”
Aku hampir tertawa. Selama ini aku harus memilih waktu, menjaga nada, dan memastikan pembicaraan tidak mengganggu pekerjaannya. Sekarang kegagalannya mendengarkan pun menjadi kesalahanku.
“Aku akan tetap berangkat,” kataku.
“Kalau begitu, bagaimana pernikahan kita?”
Kulepaskan cincin dari jariku. Tangan kiriku masih terasa sedikit kaku.
“Aku tidak bisa menikah dengan orang yang baru menganggap pekerjaanku penting ketika pekerjaannya terancam.”
Arga memandangi cincin di telapak tanganku.
“Kamu membuang hubungan tiga tahun karena satu laporan?”
“Karena aku tidak lagi merasa aman mempercayakan hidupku kepadamu.”
Aku meletakkan cincin itu di atas map yang dipegangnya, lalu masuk ke mobil.
Membatalkan pernikahan ternyata lebih melelahkan daripada mengatakannya. Ada keluarga yang kecewa, uang muka yang hilang, dan pertanyaan yang harus kujawab berulang kali.
Ibuku sempat menangis.
“Kamu yakin sanggup tinggal sejauh itu?”
“Belum tahu semua kesulitannya, Bu,” jawabku. “Tapi aku ingin mencoba.”
Ibu mengangguk, kemudian mulai bertanya apakah klinik menyediakan lemari dan apakah aku perlu membawa seprai.
Pertanyaan sederhana itu membuatku menangis.
Sebelum berangkat, aku menyerahkan keterangan beserta catatan kegiatan asli. Hasil pemeriksaan internal kemudian menyatakan laporan perlu dikoreksi, sementara pengajuan jabatan Arga tetap ditunda. Aku tidak mengikuti perkembangannya setiap hari. Ada pelatihan, perlengkapan, dan pasien-pasien baru yang harus kupersiapkan.
Klinik tempatku bertugas berada di sebuah pulau kecil. Perjalanan dari pelabuhan diteruskan dengan sepeda motor melewati jalan berbatu.
Pada malam pertama, listrik padam ketika aku sedang menata obat. Aku duduk di bawah lampu darurat, berkeringat dan tiba-tiba ingin pulang.
Ternyata keberanian tidak membuat seseorang kebal terhadap takut.
Pagi berikutnya, bidan setempat mengetuk pintu kamar.
“Dok, ada yang mencari.”
Seorang remaja berdiri di teras bersama ayahnya. Begitu melihatku, dia tersenyum malu.
Aku mengenali wajahnya.
Dia murid yang pingsan di sekolah itu.
“Kamu tinggal di sini?”
“Ibu saya tinggal di sini, Dok. Waktu kejadian, saya sekolah dekat rumah paman.”
Ayahnya menyerahkan sebuah kantong berisi pisang.
“Anak saya mengenali foto dokter di pengumuman klinik.”
Remaja itu kemudian mengeluarkan amplop dari ranselnya. Di dalamnya ada kartu buatan teman-teman sekelasnya. Nama mereka memenuhi bagian belakang.
Di bagian depan tertulis satu kalimat.
Terima kasih sudah tetap menolong ketika semua orang panik.
Aku membacanya sambil menahan air mata.
Surat keputusan telah membawaku sampai ke pulau itu. Namun, kartu sederhana dari anak-anak yang pernah disebut nakal itulah yang akhirnya membuat tempat asing tersebut terasa seperti awal sebuah kehidupan yang kupilih sendiri.
