Aku Membawa Makan Siang ke Kantor Suamiku, tetapi Resepsionis Berkata, “Istrinya

“Karena dia bukan hanya memakai tempatku di sampingmu,” kataku. “Dia juga sedang mencoba mengambil bagianku di perusahaan.”

Arga mengulurkan tangan ke arah map, tetapi Pak Dimas segera menggesernya.

“Kita bicara di ruang rapat,” ujar pengacara itu. “Dokumen ini tetap bersama saya.”

Aku menoleh kepada Nadia yang berdiri pucat di belakang meja.

“Kamu tidak bersalah karena menyampaikan informasi yang diberikan kepadamu. Tolong hubungi kepala HR dan petugas keamanan gedung.”

Arga membuka mulut hendak membantah.

“Kalau kamu ingin menjelaskan, sekarang kesempatanmu.”

Kami naik tanpa percakapan. Kotak makan masih kubawa, terasa semakin berat meskipun isinya hanya cukup untuk satu orang.

Di ruang rapat, Celine memilih kursi dekat pintu. Arga duduk di sampingnya, kemudian berpindah setelah menyadari aku memperhatikan.

Pak Dimas membuka dokumen.

“Ini salinan berkas yang dikirim untuk pemeriksaan awal kepada kantor notaris. Staf mereka melihat perbedaan dengan tanda tangan Bu Laras yang tersimpan, lalu menghubungi saya kemarin.”

Aku menatapnya. “Jadi belum selesai diproses?”

“Belum. Namun, ada dokumen pendukung yang perlu diperiksa.”

Arga mencondongkan tubuh.

“Aku berniat menjelaskannya setelah rencana investasi ini matang.”

“Dengan memalsukan persetujuanku?”

“Itu hanya berkas awal.”

Pak Dimas menunjuk satu halaman.

“Berkas awal tidak membutuhkan pernyataan bahwa istri Anda sudah hadir dan memberikan persetujuan.”

Celine meraih gelas, tetapi meletakkannya kembali tanpa minum.

Kepala HR, Bu Ratih, masuk membawa laptop. Ketika melihatku, ia tampak bingung.

“Bu Laras?”

“Siapa yang mengajukan kartu akses keluarga untuk Celine?”

Bu Ratih memandang Arga sebelum menjawab.

“Sekretariat direksi, Bu. Berdasarkan instruksi Pak Arga.”

“Dokumen pendukungnya?”

Ia membuka sebuah folder. Di layar muncul hasil pindai kartu keluarga.

Nama Celine tercantum sebagai istri Arga.

Aku membaca tanggal penerbitannya dua kali.

Pada tanggal itu, aku sedang menemani ibu menjalani perawatan di Bandung. Setiap malam Arga menelepon, menanyakan apakah aku sudah makan.

“Dokumen ini tidak sesuai dengan data keluarga kami,” kata Pak Dimas. “Tolong amankan berkas asli pengajuannya dan riwayat komunikasi terkait.”

Bu Ratih langsung mengangguk.

Arga mengusap wajah.

“Aku hanya ingin mempermudah akses Celine. Dia menangani proyek penting.”

“Kalau begitu kenapa tidak diterbitkan kartu konsultan?”

Tidak ada jawaban.

Reno mengetuk pintu beberapa menit kemudian. Ia membawa tablet dan sebuah map tipis.

“Maaf, Bu. Saya rasa Ibu perlu melihat ini.”

Arga berdiri. “Reno, ini bukan urusanmu.”

Reno menegang, tetapi tetap meletakkan map di depanku.

“Nama saya tercantum sebagai penyiap dokumen. Jadi saya perlu menjelaskan.”

Di dalamnya terdapat undangan rapat pemegang saham, daftar hadir, dan salinan surat persetujuan. Namaku ada di semua halaman.

“Ada rapat?” tanyaku.

“Pertemuan daring, Bu. Saya hanya mengurus jadwal.”

“Aku tidak pernah hadir.”

Reno membuka rekaman yang tersimpan bersama catatan rapat.

Layarnya menampilkan Arga, dua calon investor, dan seorang perempuan yang duduk membelakangi jendela terang. Kamera perempuan itu buram, tetapi suaranya terdengar jelas.

“Saya Laras. Untuk pembicaraan berikutnya, bisa langsung melalui suami saya.”

Aku mengangkat wajah.

Celine menunduk.

Selama beberapa detik, yang terdengar hanya dengung pendingin ruangan.

“Kamu menirukanku?”

“Aku diminta membantu presentasi,” jawabnya lirih.

“Dengan memperkenalkan diri sebagai aku?”

Arga memotong, “Investor ingin melihat keterlibatanmu. Kamu selalu sibuk dengan ibumu, sementara kesempatan ini tidak bisa menunggu.”

Aku memandang lelaki yang kunikahi delapan tahun lalu.

Sebelum ayah meninggal, perusahaan ini hanyalah distributor kecil. Aku ikut mengurus gudang, menghitung stok, bahkan menagih pembayaran. Ketika Arga masuk, aku mengajarinya mengenali pelanggan satu per satu.

Aku mundur dari operasional karena percaya kami sedang membagi tanggung jawab.

Rupanya, ketidakhadiranku digunakan sebagai ruang untuk menggantikanku.

“Aku bisa dihubungi,” kataku. “Kamu memilih orang lain untuk menjawab atas namaku.”

Celine tiba-tiba mengangkat kepala.

“Pak Arga bilang kalian sudah berpisah. Katanya tinggal menyelesaikan administrasi.”

Aku menatapnya.

“Enam bulan lalu kamu makan malam bersama kami. Kamu melihat kami pulang dengan mobil yang sama.”

Ia membuka mulut, kemudian menutupnya lagi.

Pak Dimas meminta semua orang berhenti saling menyela. Ia mencatat kronologi dan mengingatkan agar tidak ada berkas atau pesan yang dihapus. Aku meminta salinan diamankan sebelum akses sistem terkait ditinjau.

Arga mendekat saat aku berdiri.

“Laras, jangan hancurkan semuanya karena kesalahan ini.”

Aku memegang tali tas agar tanganku tidak terlalu terlihat gemetar.

“Aku sedang mencoba mengetahui apa yang masih bisa diselamatkan.”

Pemeriksaan berikutnya mengungkap bahwa saham yang hendak dialihkan kepada Celine akan menjadi bagian dari kesepakatan pendanaan. Sejumlah kewajiban pembayaran juga direncanakan masuk ke perusahaan, sementara hubungan keluarga palsu digunakan untuk membuat pihak luar percaya bahwa kami semua menyetujuinya.

Tidak semua orang terlibat. Beberapa staf hanya menjalankan instruksi, sama seperti Nadia. Namun, bukti pesan dan riwayat penyuntingan dokumen cukup jelas menunjukkan siapa yang merencanakan serta menyiapkannya.

Proses hukum berjalan. Rencana transaksi dihentikan sebelum diselesaikan, dan para pemegang saham mengganti Arga dari jabatan direktur utama.

Aku tidak langsung kembali memimpin. Selama beberapa minggu, aku hanya mampu bekerja setengah hari. Setelah itu, aku pulang dan menangis di rumah ibu.

Arga beberapa kali meminta bertemu. Aku bersedia sekali, ditemani Pak Dimas.

“Aku masih mencintaimu,” katanya.

Aku ingin kalimat itu terasa berarti. Namun, yang teringat justru suara Celine dalam rekaman, menyebut namaku dengan begitu mudah.

“Aku akan mengurus perpisahan kita,” jawabku.

Tiga bulan kemudian, aku datang lagi ke kantor membawa kotak makan yang sama.

Nadia langsung berdiri.

“Selamat pagi, Bu Laras.”

Aku tersenyum. Kali ini ia sudah mengenalku.

Sebelum aku menuju lift, ia menyerahkan amplop kecil.

“Ini tertinggal di kotak makan Ibu waktu itu. Petugas pantry menemukannya saat membersihkan.”

Di dalamnya ada secarik kertas yang kutulis pagi sebelum semuanya terbongkar.

Jangan lupa makan. Aku tunggu pulang.

Aku memandang tulisan itu lama, lalu melipatnya kembali.

Siang harinya, kotak makan kubuka di meja kerjaku sendiri. Rendangnya masih hangat. Di luar ruangan, seseorang mengetuk untuk meminta persetujuan.

“Masuk,” kataku.

Aku menyisihkan makananku sebentar, menerima dokumennya, lalu mulai membaca dari halaman pertama.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang