Suamiku Meninggalkanku Sendirian di Jalan Tol Tengah Malam demi Menemui

Nomor polisi itu membuatku kembali merasakan dinginnya hujan di bahu jalan.

Aku memperbesar layar, mencocokkannya dengan catatan di ponselku. Tidak ada satu angka pun yang berbeda.

“Jangan hapus apa pun,” kataku. “Simpan rekaman dan cadangannya. Lalu hubungi polisi.”

Fikri mengangguk, tetapi tangannya gemetar saat meraih telepon.

“Saya seharusnya langsung memeriksa instruksi tambahan itu, Bu.”

“Kamu harus menjelaskan semuanya nanti. Sekarang bantu saya memastikan buktinya tetap ada.”

Aku menelepon Arga. Ia menjawab sebelum nada sambung kedua.

“Alya? Kamu di mana?”

“Di kantor pusat. Aku selamat.”

Terdengar embusan napas panjang, lalu suaranya pecah.

“Syukurlah. Aku ke sana sekarang.”

“Nadira bersamamu?”

“Masih di kantor cabang.”

“Jangan katakan aku sudah ditemukan. Polisi sedang dihubungi.”

Ia terdiam.

“Apa yang terjadi?”

“Ada mobil lain yang datang menjemputku. Nomornya tercantum dalam pesan dari perangkat sekretariat.”

Di seberang sana terdengar suara kursi bergeser.

“Aku akan—”

“Jangan mendatanginya sendirian, Arga. Serahkan kepada petugas.”

Untuk pertama kalinya malam itu, ia mengikuti perkataanku tanpa membantah.

Sambil menunggu, kepala keamanan membuka rekaman lobi kantor cabang. Arga terlihat datang pukul satu lewat beberapa menit. Nadira menyambutnya sambil menangis, lalu membawanya ke ruang rapat.

Tidak terlihat keributan. Tidak ada petugas lain yang tergesa-gesa.

“Masalah kantor apa yang membuatnya harus datang?” tanyaku.

Kepala keamanan memeriksa laporan piket.

“Tidak ada insiden yang dicatat, Bu.”

Aku menatap layar sampai mataku perih.

Dua hari sebelumnya, aku meminta pemeriksaan atas sejumlah tagihan pengiriman dari sebuah perusahaan vendor. Nominalnya terlalu besar, sedangkan beberapa nomor surat jalan tercatat berulang. Pagi nanti, aku dijadwalkan bertemu auditor internal.

Nadira yang mengatur jadwal pertemuan itu.

“Periksa nama pemilik vendor ini,” kataku, menyerahkan surel kepada petugas.

Hasil awal muncul ketika polisi tiba.

Salah satu pengurusnya adalah kakak kandung Nadira.

Aku duduk perlahan.

Selama ini aku mengira ia menganggapku sebagai penghalang dalam hubungannya dengan Arga. Rupanya ada alasan lain mengapa ia selalu menanyakan dokumen yang kubawa pulang.

Arga datang hampir bersamaan dengan penyidik. Rambutnya basah, wajahnya pucat. Ia bergerak hendak memelukku, tetapi berhenti ketika aku mundur.

“Aku minta maaf.”

Aku mengangguk singkat.

“Duduk. Ceritakan telepon Nadira sejak awal.”

Ia menatap petugas, lalu mulai menjelaskan. Nadira mengaku ada orang yang mengancamnya di kantor cabang karena masalah pembayaran vendor. Ia meminta Arga datang tanpa melibatkan banyak orang.

“Kenapa harus menurunkan istrimu?” tanya petugas.

Arga menunduk.

“Dia bilang orang itu mengenali Alya dari rapat direksi. Saya pikir lebih baik Alya pulang.”

“Dengan meninggalkannya di bahu jalan?”

Tidak ada jawaban yang bisa membuat keputusan itu terdengar masuk akal.

Lalu aku bertanya, “Bagaimana Nadira tahu tempatmu berhenti?”

Arga mengusap wajah.

“Saya meneleponnya sebelum keluar dari acara. Dia bilang sopir pengawal sudah diberi tahu, dan meminta saya memberi kabar saat menemukan tempat untuk berpindah kendaraan.”

“Jadi kamu memberitahunya?”

“Iya.”

Ia menatapku, seolah baru saat itu memahami bahwa seluruh percakapan mereka telah membawaku ke lokasi yang direncanakan.

Ponsel Arga bergetar di meja.

Nadira.

Atas arahan petugas, ia menjawab dengan pengeras suara.

“Pak, Bapak sudah menemukan Bu Alya?”

“Belum.”

“Kalau begitu pulang dulu. Saya bantu koordinasikan pencariannya.”

“Mobil abu-abu itu siapa yang mengirim?”

Hening.

Petugas mengangkat tangan, meminta Arga tidak menambahkan pertanyaan.

“Mobil apa, Pak?” suara Nadira terdengar lebih kecil.

“Yang disuruh menjemput Alya.”

Sambungan terputus.

Petugas yang berada di kantor cabang segera diminta memastikan keberadaannya. Nadira ternyata sudah turun ke area parkir membawa tas dan laptop. Ia dihentikan sebelum meninggalkan gedung, kemudian diminta memberikan keterangan.

Menjelang subuh, pengemudi MPV ditemukan melalui data kendaraan sewaan. Keterangan awalnya membuat perutku mual.

Ia diminta membawa seorang perempuan ke rumah kosong di pinggir Bekasi. Katanya, perempuan itu sedang mengalami masalah keluarga dan teleponnya harus diamankan.

Di ponselnya tersimpan foto diriku.

Foto dari kartu akses perusahaan.

Aku meminta berhenti membaca laporan sementara itu. Tanganku sudah tidak mampu memegang gelas.

Arga duduk beberapa kursi dariku. Ia menangis tanpa suara.

Aku tidak mendekat.

Pemeriksaan berlangsung berminggu-minggu. Pesan, aliran pembayaran, serta keterangan pengemudi menghubungkan Nadira dan kakaknya dengan rencana menahanku sampai dokumen audit di rumah bisa diambil. Mereka mengira bukti hanya tersimpan di laptop pribadiku.

Padahal, sejak menemukan kejanggalan pertama, aku sudah mengirim salinannya kepada auditor.

Ada hal lain yang akhirnya harus kuhadapi. Kedekatan Arga dan Nadira memang telah melampaui urusan kantor. Arga mengakuinya setelah pesan-pesan mereka diperiksa.

“Tidak pernah ada rencana saya mencelakai Alya,” katanya dalam pertemuan bersama pendamping kami.

“Aku percaya kamu tidak mengirim mobil itu,” jawabku.

Ia mengangkat wajah, menyimpan harapan yang terlalu cepat.

“Tapi kamu tetap orang yang menyuruhku turun.”

Harapan itu lenyap.

Aku pindah ke apartemen kecil dekat rumah kakakku. Proses perpisahan kami berjalan bersamaan dengan penyelidikan. Arga tidak menghalangi, meskipun beberapa kali ia meminta kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

Aku belum bisa memikirkan kesempatan. Aku masih terbangun setiap mendengar hujan mengetuk jendela.

Sebulan kemudian, Fikri menyerahkan salinan rekaman lengkap untuk keperluan keteranganku. Ada bagian yang belum pernah kudengar karena malam itu kami terlalu sibuk memeriksa pesan.

Suara Arga terdengar dari komunikasi kendaraan sebelum ia meninggalkan acara.

“Kalau nanti Alya banyak bertanya, bilang saja saya sedang rapat. Jangan biarkan dia mengganggu.”

Aku memutar bagian itu sekali lagi, lalu menghentikannya.

Perintah pengalihan pengawal memang bukan darinya. Namun, jauh sebelum Nadira mengirim instruksi palsu, Arga sudah membiasakan orang-orang mengabaikan suaraku.

Malam itu, aku mengganti nama kontak darurat di ponselku menjadi nama kakakku.

Kemudian aku meneleponnya.

“Aku boleh menginap?”

“Boleh. Kirim lokasi, aku jemput.”

Aku mengirimkannya, lalu menunggu di dalam apartemen yang hangat.

Untuk pertama kalinya setelah kejadian itu, aku tahu siapa yang benar-benar akan datang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang