
“Apa yang sebenarnya terjadi pada Bagas?” ulangku sambil menatap Dimas.
Suamiku tidak menjawab. Wajahnya yang tadi tampak tenang kini berubah pucat. Raisa berdiri di sampingnya sambil memeluk Elang, sementara anak kecil itu mulai merengek karena kelelahan.
“Nadira, kita jangan membicarakan ini di sini,” kata Dimas akhirnya.
Aku tertawa getir.
“Tiga tahun, Dimas. Tiga tahun aku menunggu kabarmu. Sekarang setelah kita bertemu, kamu masih mau menyuruhku menunggu?”
Raisa mengusap air matanya.
“Bagas tidak meninggal karena kecelakaan biasa, Nad.”
Aku langsung menoleh.
“Apa maksudmu?”
“Dia dibunuh.”
Suara pengumuman penerbangan terdengar dari pengeras suara bandara. Orang-orang berjalan melewati kami sambil menarik koper, tidak menyadari bahwa dunianya seseorang baru saja runtuh.
“Raisa!” bentak Dimas.
“Sudah cukup!” Raisa membalas dengan suara bergetar. “Aku capek menyembunyikan semuanya.”
Aku menggenggam foto di tanganku semakin erat.
“Jelaskan dari awal.”
Raisa menatap Elang, lalu meminta Dimas membawanya membeli minuman di kedai yang masih terlihat dari tempat kami berdiri. Setelah mereka menjauh, Raisa mulai bercerita.
Tiga tahun lalu, Bagas bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan logistik bernama PT Samudra Kencana. Perusahaan itu memiliki kontrak pengiriman dengan perusahaan keamanan tempat Dimas bekerja.
Suatu malam, Bagas menemukan dokumen pembayaran yang mencurigakan. Sejumlah pengiriman tercatat sebagai barang elektronik, tetapi nilai asuransi dan dokumen pengirimannya tidak sesuai.
Bagas mulai menyalin data tersebut karena khawatir namanya digunakan untuk mengesahkan transaksi ilegal.
“Dia menghubungi Dimas karena tahu suamimu bekerja di bagian investigasi internal,” jelas Raisa.
Aku mengangguk perlahan.
“Lalu?”
“Dimas berjanji akan membantu. Tapi beberapa hari kemudian, Bagas ditemukan meninggal setelah mobilnya masuk ke jurang.”
Aku mengingat hari pemakaman Bagas.
Raisa menangis sampai pingsan. Dimas berdiri di sampingku sepanjang prosesi, menggenggam tanganku erat.
Dua minggu setelah itu, Dimas menghilang.
“Jadi Dimas mengetahui sesuatu tentang kematian Bagas?”
Raisa mengangguk.
“Bukan cuma mengetahui. Dia ada di sana malam itu.”
Jantungku berdegup kencang.
“Maksudmu dia yang membunuh Bagas?”
“Bukan.”
Raisa menarik napas panjang.
“Dimas mencoba menyelamatkannya.”
Menurut Raisa, Bagas sempat menelepon Dimas karena merasa diikuti. Dimas langsung menuju lokasi, tetapi ketika tiba, mobil Bagas sudah berada di dasar jurang.
Sebelum petugas datang, Dimas menemukan ponsel Bagas yang terlempar ke semak-semak. Di dalamnya terdapat rekaman percakapan seseorang yang mengancam Bagas agar menghentikan penyelidikannya.
“Siapa orang itu?” tanyaku.
Raisa menunduk.
“Direktur perusahaan tempat Bagas bekerja. Namanya Hendra Wijaya.”
Aku terdiam.
Nama itu tidak asing.
Hendra adalah teman lama ayah Dimas. Ia bahkan pernah datang ke pesta pernikahan kami dan memberikan hadiah berupa sebuah jam tangan mahal.
“Kenapa Dimas nggak langsung menyerahkan rekaman itu ke polisi?”
“Dia menyerahkannya melalui pengacara. Tapi kemudian ada orang yang membocorkan identitasnya. Setelah itu, dia mendapat ancaman.”
“Lalu kenapa dia harus menggunakan nama Reno?”
“Karena dia sempat menjadi saksi dalam penyelidikan yang berlangsung tertutup. Nama itu awalnya dipakai untuk melindungi identitasnya.”
Aku memandang Dimas yang sedang duduk bersama Elang di kejauhan.
“Dan setelah semuanya selesai?”
Raisa tidak menjawab.
Aku mulai memahami bahwa ada sesuatu yang belum dikatakannya.
“Raisa, lihat aku. Kapan sebenarnya ancaman terhadap Dimas berakhir?”
Air mata mengalir di pipinya.
“Sekitar delapan bulan lalu.”
Aku membeku.
“Delapan bulan?”
Raisa mengangguk.
“Kasusnya sudah masuk pengadilan. Hendra dan beberapa orang lain akhirnya ditahan.”
“Berarti selama delapan bulan terakhir Dimas bisa menghubungiku?”
Raisa menutup wajahnya.
“Maaf, Nad.”
Aku berdiri perlahan.
Rasanya seperti seseorang baru saja menarik lantai dari bawah kakiku.
Selama delapan bulan terakhir, aku masih mendatangi kantor polisi untuk menanyakan perkembangan laporan orang hilang.
Aku masih menyimpan nomor telepon Dimas.
Aku masih terbangun tengah malam setiap kali bermimpi melihatnya pulang.
Sementara dia sudah bebas menjalani kehidupannya.
Bersama Raisa.
Bersama Elang.
Ketika Dimas kembali, aku langsung bertanya.
“Kapan kamu berencana memberitahuku bahwa kamu masih hidup?”
Dimas memandang Raisa.
Dari ekspresinya, aku tahu dia menyadari rahasianya telah terbongkar.
“Nadira, aku memang salah.”
“Jawab pertanyaanku.”
“Aku sedang mencari waktu yang tepat.”
“Delapan bulan bukan waktu yang cukup?”
Dia terdiam.
Aku mengangguk sambil tertawa pahit.
“Ternyata aku bukan orang yang sedang kamu lindungi lagi. Aku cuma orang yang sengaja kamu tinggalkan.”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Dimas mengusap wajahnya.
“Aku takut pulang.”
“Takut apa?”
“Takut kamu nggak bisa menerima semuanya. Takut melihat kehidupan kita sudah berubah.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kamu takut menghadapi kenyataan, jadi kamu membiarkan aku hidup dalam kebohongan?”
Dimas menunduk.
Elang yang sejak tadi memperhatikan kami tiba-tiba menarik ujung kemejanya.
“Ayah, Tante itu kenapa menangis?”
Dimas berjongkok.
“Nggak apa-apa, Nak.”
Aku menatap anak itu.
“Dia tahu kamu bukan ayah kandungnya?”
Dimas mengangguk.
“Dia tahu Bagas adalah ayah kandungnya. Tapi sejak kecil dia terbiasa memanggilku Ayah.”
“Lalu ibunya?”
Raisa menjawab pelan.
“Ibu kandung Elang meninggal beberapa bulan setelah melahirkannya karena komplikasi penyakit. Sejak Bagas meninggal, aku yang menjadi wali dan merawat Elang.”
Aku akhirnya memahami hubungan mereka.
Raisa adalah bibi Elang. Dimas membantu membesarkannya selama mereka hidup berpindah-pindah tempat.
Namun, masih ada satu pertanyaan yang membuat dadaku sesak.
“Kalian saling mencintai?”
Keheningan menyelimuti kami.
Dimas tidak segera menjawab.
Dan justru itulah jawaban yang paling kutakutkan.
Raisa menangis.
“Nad, kami nggak pernah merencanakan ini.”
Aku memejamkan mata.
“Tapi itu terjadi?”
Dimas mengangguk perlahan.
“Setelah semuanya berakhir, kami mulai menyadari perasaan kami.”
Aku merasa seluruh tubuhku kehilangan tenaga.
Selama tiga tahun, aku membayangkan Dimas hidup dalam penderitaan, bersembunyi dari orang-orang berbahaya, dan merindukanku setiap malam.
Ternyata, di tengah kehidupannya yang baru, dia telah menemukan seseorang untuk dicintai.
Dan seseorang itu adalah sahabatku sendiri.
“Kenapa kalian nggak jujur sejak awal?” tanyaku.
Raisa terisak.
“Karena kami tahu kamu akan terluka.”
Aku menggeleng.
“Kalian bukan melindungiku dari luka. Kalian cuma menunda saat aku mengetahui pengkhianatan kalian.”
Dimas mencoba menggenggam tanganku, tetapi aku mundur.
“Jangan sentuh aku.”
“Nadira, aku masih ingin bertanggung jawab atas semuanya.”
“Kalau begitu, mulai dengan mengatakan yang sebenarnya kepada ibumu.”
Wajah Dimas berubah.
“Mama?”
“Iya. Perempuan yang terus menyimpan fotomu di samping tempat tidur rumah sakit. Perempuan yang setiap kali sadar setelah stroke selalu bertanya apakah anaknya sudah ditemukan.”
Dimas menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku melanjutkan dengan suara bergetar.
“Ibumu pernah bilang dia rela kehilangan rumah selama masih punya harapan melihatmu kembali.”
Untuk pertama kalinya, Dimas menangis.
Namun, anehnya, melihat air matanya tidak lagi membuatku ingin memeluknya.
Aku hanya merasa sangat lelah.
Kami berpisah di bandara setelah Dimas menyetujui untuk menemui ibunya dan memberikan keterangan resmi mengenai keberadaannya.
Dua hari kemudian, Dimas datang ke rumah kontrakan kecil tempat ibunya tinggal bersama seorang perawat harian.
Aku sengaja datang lebih dulu.
Ketika Dimas masuk, Bu Ratih sedang duduk di kursi roda menghadap jendela.
“Ma,” panggil Dimas lirih.
Perempuan itu perlahan menoleh.
Untuk beberapa detik, ia hanya menatap putranya tanpa berkedip.
Kemudian bibirnya bergetar.
“Dimas?”
Dimas berlutut di hadapannya.
“Iya, Ma. Dimas pulang.”
Bu Ratih mengangkat tangannya yang masih lemah akibat stroke, lalu menyentuh wajah putranya.
“Kamu masih hidup?”
Dimas menangis.
“Iya, Ma. Maafin Dimas.”
Bu Ratih memeluknya dengan susah payah.
Aku berdiri di dekat pintu, menyaksikan pertemuan yang selama bertahun-tahun selalu kubayangkan.
Namun, ketika Dimas mulai menjelaskan alasannya menghilang, Bu Ratih tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang membuat kami terdiam.
“Mama sudah tahu kamu masih hidup.”
Dimas mengangkat wajah.
“Apa?”
Bu Ratih memandangnya dengan mata basah.
“Delapan bulan lalu, ada seorang perempuan datang membawa foto kamu sama anak kecil. Dia bilang kamu baik-baik saja.”
Aku langsung menegang.
“Siapa perempuan itu, Ma?”
“Raisa.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bu Ratih melanjutkan dengan suara pelan.
“Dia minta Mama jangan bilang ke Nadira. Katanya kalau Nadira tahu, orang-orang jahat bisa menemukan Dimas lagi.”
Aku merasa darahku mendidih.
Delapan bulan lalu.
Tepat ketika kasus yang melibatkan Hendra telah selesai.
Raisa ternyata datang menemui ibu Dimas dan meminta perempuan yang sedang sakit itu menyimpan rahasia.
Dimas menatapku dengan wajah terkejut.
“Aku nggak tahu soal ini, Nad.”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku hanya mengeluarkan ponsel dan menelepon Raisa.
“Datang ke rumah Bu Ratih sekarang.”
“Nadira, ada apa?”
“Aku sudah tahu kamu pernah datang delapan bulan lalu.”
Di seberang sana terdengar keheningan panjang.
Kemudian Raisa menjawab dengan suara kecil.
“Aku akan datang.”
Satu jam kemudian, Raisa tiba.
Wajahnya pucat ketika melihat Bu Ratih duduk bersama kami.
“Aku bisa menjelaskan,” katanya.
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu meminta ibu Dimas merahasiakan keberadaan anaknya?”
Raisa mulai menangis.
“Karena waktu itu Dimas bilang dia ingin pulang kepadamu.”
Aku tertegun.
Raisa melanjutkan.
“Setelah kasus selesai, Dimas sempat membeli tiket ke Jakarta. Dia ingin menemui kamu dan memulai semuanya lagi.”
Aku menoleh kepada Dimas.
Dia menunduk.
“Tapi aku takut kehilangan dia,” bisik Raisa. “Aku sudah terbiasa hidup bersama Dimas dan Elang. Aku tahu itu egois, tapi aku nggak sanggup melihatnya pergi.”
“Jadi kamu mendatangi ibunya?”
“Aku bilang keselamatan Dimas masih terancam. Aku pikir kalau keluarganya tetap percaya dia harus bersembunyi, Dimas akan menunda kepulangannya.”
Aku menatap perempuan yang pernah kuanggap saudara sendiri.
Perempuan yang mengetahui seluruh kesedihanku.
Yang pernah memelukku ketika aku menangis sampai tertidur.
Yang mendengarkan setiap ceritaku tentang kerinduan kepada suami.
Ternyata selama ini, dia juga orang yang sengaja memperpanjang penderitaanku.
Dimas berdiri dengan wajah marah.
“Raisa, kamu bilang Mama sendiri yang nggak mau menemuiku karena masih kecewa!”
Raisa menangis semakin keras.
“Aku takut kamu kembali ke Nadira!”
“Jadi kamu membohongi kami berdua?”
Raisa tidak mampu menjawab.
Bu Ratih menangis pelan di kursi rodanya.
Aku mendekatinya dan menggenggam tangannya.
“Ma, Mama nggak salah. Mama cuma percaya pada apa yang Raisa katakan.”
Bu Ratih mengangguk lemah.
Dimas menatapku.
“Nadira, kalau saja aku tahu semua ini…”
Aku menggeleng.
“Jangan, Dimas.”
Dia terdiam.
“Jangan jadikan kebohongan Raisa alasan untuk menghapus pilihanmu sendiri.”
Air matanya kembali jatuh.
“Kamu tetap punya delapan bulan untuk mencari tahu keadaan ibumu. Kamu tetap bisa menghubungiku. Kamu memilih mempercayai cerita yang paling nyaman buatmu.”
Dimas menunduk.
Kali ini dia tidak membantah.
Beberapa minggu kemudian, pengadilan memproses perkara perceraian kami sesuai prosedur yang berlaku.
Dimas akhirnya melapor secara resmi untuk memperbarui statusnya dalam laporan orang hilang. Ia juga mulai mengambil tanggung jawab atas perawatan Bu Ratih.
Aku tidak melarangnya menemui ibunya.
Namun, aku tidak lagi mengizinkannya menggunakan rasa bersalah untuk membujukku kembali.
Suatu sore, Dimas datang menemuiku di sebuah kedai kopi kecil di Surabaya.
Dia membawa sebuah amplop.
“Aku sudah membaca semuanya,” katanya.
Di dalamnya terdapat salinan dokumen gugatan dan surat yang kutulis beberapa bulan sebelum pertemuan kami di bandara.
“Aku baru tahu kamu pernah menulis surat seperti ini.”
Aku memandangnya.
Surat itu berisi kalimat yang dulu kutulis ketika hampir menyerah mencari Dimas.
Jika suatu hari kamu masih hidup, pulanglah. Aku tidak meminta penjelasan yang sempurna. Aku hanya ingin tahu kamu baik-baik saja.
Dimas menangis setelah membacanya.
“Maaf aku pulang terlambat.”
Aku menggeleng pelan.
“Kamu bukan pulang terlambat, Dimas. Kamu berhenti pulang ketika masih punya kesempatan.”
Dia terdiam.
“Apa benar-benar nggak ada jalan untuk kita?”
Aku memandang keluar jendela.
Dulu, aku mungkin akan menjawab bahwa selama masih ada cinta, semuanya bisa diperbaiki.
Namun, tiga tahun penuh ketidakpastian telah mengajarkanku sesuatu yang berbeda.
Cinta tidak cukup jika seseorang terus memilih kebohongan.
“Aku pernah mencintaimu lebih dari apa pun,” jawabku. “Tapi sekarang aku ingin belajar mencintai diriku sendiri.”
Dimas menunduk.
Kami berpisah sore itu tanpa pertengkaran.
Beberapa bulan kemudian, perceraian kami resmi diputuskan.
Aku melanjutkan pekerjaanku sebagai konsultan administrasi di Surabaya. Aku menyewa apartemen sederhana dekat kantor dan mulai menjalani kehidupan yang tidak lagi dipenuhi jadwal pencarian orang hilang.
Sesekali aku masih mengunjungi Bu Ratih.
Hubungan kami tidak berakhir hanya karena pernikahanku dengan putranya telah selesai.
Suatu hari, Bu Ratih menggenggam tanganku dan berkata, “Nadira, Mama minta maaf karena selama ini kamu harus menanggung semuanya sendirian.”
Aku tersenyum.
“Mama nggak perlu minta maaf.”
“Dimas kehilangan perempuan yang paling tulus mencintainya.”
Aku menggeleng.
“Dia kehilangan kesempatan, Ma. Itu berbeda.”
Setahun setelah pertemuan di bandara, aku menerima sebuah surat dari Raisa.
Dalam surat itu, ia mengaku telah berpisah dari Dimas. Mereka tidak lagi tinggal bersama, tetapi Dimas masih membantu memenuhi kebutuhan Elang sesuai kesepakatan mereka.
Raisa mengatakan ia sedang menjalani konseling untuk memahami mengapa dirinya begitu takut ditinggalkan hingga tega menyakiti orang-orang terdekat.
Di bagian akhir surat, terdapat kalimat yang membuatku terdiam.
Nad, dulu aku iri karena kamu selalu dicintai dengan begitu tulus. Aku pikir kalau berhasil mengambil tempatmu, aku akan mendapatkan kebahagiaan yang sama. Ternyata aku hanya mengambil seseorang yang bahkan tidak berani jujur kepada dirinya sendiri.
Aku membaca surat itu sekali lagi.
Lalu menyimpannya ke dalam laci.
Aku tidak membalasnya.
Bukan karena masih ingin menghukum Raisa.
Melainkan karena aku sudah tidak membutuhkan permintaan maaf tambahan untuk melanjutkan hidup.
Malam itu, ketika sedang merapikan dokumen lama, aku menemukan sebuah foto pernikahanku dengan Dimas.
Kami berdiri di depan pelaminan sederhana. Raisa tersenyum di sampingku, sementara Bagas berdiri di belakang Dimas.
Empat orang yang dahulu saling percaya.
Empat orang yang tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah karena sebuah kejahatan, rahasia, dan serangkaian keputusan yang salah.
Aku memperhatikan wajah Bagas dalam foto itu.
Untuk sesaat, aku teringat anak kecil di bandara yang memanggil Dimas dengan sebutan Ayah.
Elang tidak bersalah atas semua yang terjadi.
Dia hanya seorang anak yang membutuhkan keluarga dan kasih sayang.
Aku berharap suatu hari nanti dia akan mengetahui kisah ayah kandungnya tanpa harus mewarisi kebohongan orang-orang dewasa.
Aku kemudian memasukkan foto itu ke dalam kotak kenangan.
Bukan untuk menghapus masa lalu.
Tetapi untuk meletakkannya di tempat yang semestinya.
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal dan membuka jendela apartemen.
Matahari baru terbit di atas gedung-gedung Surabaya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi meraih ponsel untuk memeriksa apakah ada kabar tentang Dimas.
Aku tidak lagi membayangkan suara langkahnya di depan pintu.
Tidak lagi menunggu telepon dari nomor yang tidak dikenal.
Dan tidak lagi merasa hidupku tertunda karena seseorang belum pulang.
Tiga tahun lalu, aku kehilangan suami.
Setahun lalu, aku menemukan bahwa dia masih hidup.
Namun, baru sekarang aku memahami bahwa kehilangan yang paling menyakitkan bukan selalu kehilangan seseorang karena kematian.
Kadang-kadang, kita kehilangan seseorang ketika dia masih bernapas, masih tersenyum, bahkan masih berdiri tepat di hadapan kita.
Karena orang yang kita kenal dahulu sudah tidak lagi menjadi orang yang sama.
Aku menutup jendela, mengambil tas kerja, lalu melangkah keluar.
Di depan pintu apartemen, ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
Nadira, ini Dimas. Aku cuma ingin tahu apakah kamu bahagia sekarang.
Aku membaca pesan itu cukup lama.
Kemudian, untuk pertama kalinya, aku menjawab tanpa menangis.
Aku sedang belajar bahagia, Dimas. Dan kali ini, aku tidak perlu menunggu siapa pun untuk memulainya.
Setelah mengirim pesan tersebut, aku memasukkan ponsel ke dalam tas dan berjalan menuju lift.
Pintu lift terbuka.
Aku melangkah masuk dengan perasaan ringan.
Sebab, selama tiga tahun aku mencari seorang lelaki yang hilang.
Namun, pada akhirnya, orang yang paling perlu kutemukan kembali ternyata adalah diriku sendiri.
