“Jangan bawa anak itu pulang!”
Suara Ayah terdengar begitu keras dari ponsel Arga hingga aku yang berdiri di sebelahnya bisa mendengar setiap kata.
Arga menggenggam ponselnya semakin erat.
“Kenapa, Yah? Kirana anak Ayah juga.”
“Kamu nggak mengerti persoalannya. Suruh dia kembali ke tempat asalnya!”
Aku menunduk. Baru beberapa menit menemukan keluargaku, aku sudah merasa seperti orang yang tidak diinginkan.
Namun, Arga justru meraih tanganku.
“Kalau Ayah punya sesuatu yang disembunyikan, malam ini kita bicarakan. Aku akan membawa Kirana pulang.”
Dia memutus sambungan sebelum ayah kami sempat menjawab.
“Kak, kalau kedatanganku bikin masalah, aku bisa menginap di penginapan saja.”
Arga menatapku.
“Kamu sudah kehilangan Ibu. Kakak nggak akan membiarkan kamu kehilangan keluarga lagi.”
Sepanjang perjalanan menuju rumah Mahendra, aku memeluk kotak kayu peninggalan Ibu. Arga beberapa kali mengajakku berbicara, menanyakan kehidupanku di desa, sekolahku, dan makanan kesukaanku.
Aku menjawab sebisanya.
Ketika mengetahui bahwa aku membiayai kuliah melalui beasiswa dan membantu Ibu berjualan hasil kebun, wajahnya berubah sedih.
“Kamu pasti banyak mengalami kesulitan.”

Aku menggeleng.
“Ibu selalu bilang kami mungkin nggak kaya, tapi selama masih bisa makan dan tidur nyenyak, kami termasuk orang beruntung.”
Arga memalingkan wajah ke jendela.
Aku melihatnya diam-diam menghapus air mata.
Empat puluh menit kemudian, mobil memasuki halaman sebuah rumah besar di kawasan Pondok Indah.
Dua pria sudah menunggu di teras.
Yang pertama bertubuh tinggi dengan kacamata tipis. Yang kedua berwajah lebih muda, mengenakan kaus hitam dan celana jins.
Begitu aku turun, pria berkacamata langsung mendekat.
“Kirana?”
Aku mengangguk gugup.
“Aku Bima, kakak keduamu.”
Belum sempat aku menjawab, pria yang lebih muda sudah memelukku.
“Aku Raka. Astaga, jadi benar kita punya adik perempuan!”
Pelukannya begitu erat sampai aku hampir menjatuhkan kotak kayu.
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman Ibu, aku merasakan kehangatan keluarga yang selama ini tidak pernah kukenal.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Seorang pria berambut putih muncul di ambang pintu.
Wajahnya langsung mengeras ketika melihatku.
“Darma,” kata Arga dingin, tanpa lagi memanggilnya Ayah. “Kita perlu bicara.”
Pria itu menatapku dari kepala sampai kaki.
“Kamu benar anak Ratna?”
Aku mengangguk.
“Iya, Pak.”
Wajahnya pucat mendengar nama Ibu.
“Ratna masih hidup?”
Pertanyaan itu membuat dadaku sesak.
“Ibu meninggal dua minggu lalu.”
Darma terhuyung sedikit. Bima refleks hendak menolongnya, tetapi dia mengangkat tangan.
“Masuk semuanya.”
Kami berkumpul di ruang keluarga.
Aku duduk di antara Bima dan Raka, sementara Arga meletakkan dokumen dari kantor polisi di atas meja.
“Ayah harus menjelaskan ini.”
Darma membaca laporan tersebut. Jemarinya gemetar ketika melihat tanda tangan Ibu.
“Ayah tahu soal laporan pencarian ini?” desak Arga.
Darma menutup mata.
“Ayah tahu Ratna pernah datang mencari kalian.”
Raka langsung berdiri.
“Jadi Ibu masih hidup waktu itu?”
“Iya.”
“Terus kenapa Ayah bilang Ibu meninggal?”
Darma tidak menjawab.
Bima mengambil dokumen itu.
“Di sini tertulis seseorang memberi keterangan bahwa kami bertiga sudah meninggal. Siapa yang melakukannya?”
Darma mengusap wajah.
“Ayah tidak pernah menyuruh siapa pun mengatakan kalian meninggal.”
“Lalu siapa?” tanyaku pelan.
Darma memandangku lama sekali.
“Kalau kamu benar anak Ratna, pasti dia meninggalkan sesuatu.”
Aku spontan memeluk kotak kayuku lebih erat.
Tatapannya langsung tertuju pada benda itu.
“Kotak itu…”
Arga bergerak mendekatiku.
“Ayah tahu isinya?”
Darma tidak menjawab.
Tiba-tiba seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun masuk dari ruang makan.
Dia mengenakan gaun mahal dan kalung berlian. Wajahnya terlihat ramah, tetapi senyumnya langsung menghilang ketika melihat kotak di tanganku.
“Mas Darma, ada tamu?”
“Ini Kirana,” jawab Arga. “Adik kami.”
Perempuan itu membeku.
Aku baru mengetahui bahwa dia bernama Helena, istri kedua ayah kami.
Helena tersenyum kaku.
“Jadi kamu anak Ratna? Wah, sudah besar sekali.”
Namun, matanya terus menatap kotak kayu.
“Boleh Tante lihat kotak itu?”
Aku menggeleng sopan.
“Maaf, Tante. Ibu berpesan agar kotak ini dibuka ketika kami berempat berkumpul.”
“Sekarang kan sudah berkumpul.”
Helena mengulurkan tangan.
Aku mundur sedikit.
Arga langsung berdiri di depanku.
“Biar Kirana sendiri yang membukanya.”
Aku meletakkan kotak itu di atas meja.
Di dalamnya terdapat empat amplop, sebuah foto keluarga lama, dan flashdisk kecil.
Pada setiap amplop tertulis nama kami.
Arga, Bima, Raka, dan Kirana.
Aku menyerahkan tiga amplop kepada kakak-kakakku.
Arga membuka suratnya terlebih dahulu.
Baru membaca beberapa baris, air matanya langsung jatuh.
Bima menutup mulut dengan tangan.
Raka menangis tanpa suara.
Aku membuka surat milikku.
Kirana sayang, kalau kamu membaca surat ini bersama kakak-kakakmu, berarti doa terbesar Ibu akhirnya terkabul. Ibu tidak pernah meninggalkan mereka karena tidak mencintai mereka. Ibu pergi karena seseorang mengancam akan menyakiti kalian jika Ibu tetap berusaha menemui mereka.
Aku berhenti membaca.
Tanganku mulai gemetar.
Di halaman berikutnya, Ibu menuliskan sesuatu yang membuatku sulit bernapas.
Orang yang mengancam Ibu bukan ayahmu.
Aku mengangkat kepala.
Helena sudah berdiri.
Wajahnya pucat pasi.
“Tunggu,” katanya tiba-tiba. “Surat itu belum tentu benar.”
Arga menatapnya tajam.
“Kenapa Tante begitu takut?”
“Aku nggak takut!”
Bima mengambil flashdisk dari kotak.
“Kita lihat isinya.”
Dia menghubungkan flashdisk ke televisi ruang keluarga.
Muncul sebuah video lama.
Dalam rekaman itu, Ibu duduk di sebuah kamar sederhana. Wajahnya jauh lebih muda, tetapi matanya terlihat sembap.
“Anak-anakku,” katanya dengan suara bergetar. “Kalau suatu hari kalian melihat video ini, Ibu ingin kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Aku langsung menangis mendengar suaranya.
“Ibu pernah kembali mencari kalian ketika Kirana berusia lima tahun. Namun, seseorang memberi tahu Ibu bahwa kalian bertiga meninggal dalam kecelakaan saat perjalanan sekolah.”
Raka mengepalkan tangan.
“Ibu bahkan ditunjukkan foto tiga makam dengan nama kalian.”
Darma menundukkan kepala.
Di layar, Ibu melanjutkan.
“Beberapa tahun kemudian, Ibu menemukan bukti bahwa kalian masih hidup. Tetapi ketika Ibu mencoba menghubungi kalian, seseorang mendatangi rumah dan mengancam akan membawa Kirana pergi.”
Video berhenti sejenak sebelum menampilkan foto seorang perempuan muda.
Aku langsung mengenalinya.
Helena.
Suasana ruang keluarga seketika berubah mencekam.
“Ini fitnah!” Helena berteriak.
Namun, video berlanjut.
Ibu memperlihatkan salinan pesan ancaman dan dokumen lama yang diduga digunakan untuk memisahkan keluarga kami.
“Aku menyimpan semuanya bukan untuk membalas dendam, melainkan agar suatu hari anak-anakku mengetahui kebenaran.”
Arga menatap Helena dengan wajah mengeras.
“Tante yang membuat kami percaya Ibu meninggal?”
Helena mundur selangkah.
“Aku cuma ingin melindungi keluarga ini!”
“Melindungi dari apa?” bentak Bima.
Helena mulai menangis.
“Darma nggak pernah bisa melupakan Ratna! Bahkan setelah menikah denganku, dia masih mencari kabarnya!”
Darma mengangkat kepala.
“Helena, cukup.”
“Tidak! Kamu selalu membandingkanku dengannya!”
Raka menatap perempuan itu dengan jijik.
“Jadi karena cemburu, Tante memisahkan empat anak dari ibunya?”
Helena tidak mampu menjawab.
Darma kemudian mengakui sesuatu yang selama ini disembunyikannya.
Setelah bercerai, dia membiarkan keluarganya menguasai proses pengasuhan ketiga putranya. Ketika Ratna pergi membawa Kirana, dia tidak berusaha memperbaiki hubungan mereka. Bertahun-tahun kemudian, Helena memberitahunya bahwa Ratna telah meninggal.
“Ayah percaya begitu saja?” tanyaku.
Darma menunduk.
“Ayah memilih percaya karena itu lebih mudah daripada menghadapi kesalahan Ayah sendiri.”
Arga menggeleng kecewa.
“Dan karena pilihan Ayah, kami kehilangan kesempatan bertemu Ibu untuk terakhir kalinya.”
Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.
Bima akhirnya menghubungi pengacara keluarga. Dia meminta seluruh dokumen diperiksa secara resmi, termasuk dugaan pemalsuan dan ancaman terhadap Ibu.
Helena meninggalkan ruangan sambil menangis.
Aku tidak merasa puas melihatnya ketakutan.
Yang kurasakan justru kesedihan mendalam.
Betapa banyak tahun yang hilang hanya karena kebohongan seseorang.
Malam semakin larut ketika kami akhirnya duduk berempat di taman belakang.
Raka masih memegang surat dari Ibu.
“Jadi selama ini Ibu selalu mengingat ulang tahun kita?”
Aku mengangguk.
“Setiap tahun, Ibu membuat empat kue kecil. Satu untukku, tiga untuk kalian.”
Bima menutupi wajahnya.
“Kenapa kami nggak pernah tahu?”
“Setelah meniup lilin, Ibu selalu bilang semoga suatu hari kami bisa makan kue bersama.”
Arga memandang langit.
“Aku bahkan nggak ingat kapan terakhir kali dipeluk Ibu.”
Aku menggenggam tangannya.
“Ibu sering bercerita tentang kalian, meski dulu aku nggak tahu siapa yang dimaksud. Katanya Kak Arga paling suka melindungi adik-adiknya, Kak Bima selalu bertanya macam-macam, dan Kak Raka paling susah disuruh tidur.”
Raka tertawa di antara tangisnya.
“Itu benar banget.”
Kami akhirnya tertawa bersama untuk pertama kalinya.
Beberapa hari kemudian, tiga kakakku ikut pulang ke desa.
Mereka ingin melihat rumah tempat Ibu menghabiskan sisa hidupnya.
Ketika sampai, Bu Ratih menyambut kami dengan mata berkaca-kaca.
“Jadi ini anak-anak Ratna?”
Arga langsung menunduk dan mencium tangannya.
“Terima kasih sudah menjaga Ibu dan Kirana.”
Bu Ratih menangis.
“Ibumu perempuan yang kuat. Tapi setiap kali melihat anak laki-laki seusia kalian, matanya selalu sedih.”
Kami mengunjungi makam Ibu sore itu.
Arga berlutut paling lama.
“Bu, Arga pulang.”
Suaranya pecah.
“Maaf, Bu. Arga terlambat.”
Bima dan Raka ikut menangis.
Aku berdiri di belakang mereka, menggenggam foto lama yang ditemukan dalam kotak kayu.
Di foto itu, Ibu sedang menggendongku, sementara tiga anak laki-laki kecil berdiri mengelilinginya.
Keluarga kami ternyata pernah bahagia.
Hanya saja, kebahagiaan itu dirampas terlalu cepat.
Enam bulan kemudian, penyelidikan terhadap dokumen dan ancaman lama masih berlangsung. Aku dan kakak-kakakku memutuskan untuk tidak lagi tinggal bersama Darma dan Helena.
Arga membantuku melanjutkan kuliah, Bima sering menelepon untuk memastikan aku makan tepat waktu, dan Raka hampir setiap akhir pekan datang mengajakku berjalan-jalan.
Namun, kejutan terbesar justru datang pada ulang tahunku yang kedua puluh tiga.
Ketiga kakakku membawaku kembali ke rumah kecil peninggalan Ibu.
Ketika pintu dibuka, aku melihat sebuah meja makan panjang.
Di atasnya terdapat empat kue ulang tahun kecil.
Persis seperti yang selalu dibuat Ibu.
Arga tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Selama dua puluh dua tahun, Ibu meniup lilin untuk kita semua.”
Bima menyalakan lilin pertama.
“Sekarang giliran kita meneruskan kebiasaannya.”
Raka merangkul bahuku.
“Dan mulai hari ini, adik kecil kita nggak akan pernah merayakan ulang tahun sendirian lagi.”
Aku menangis sambil tertawa.
Sebelum meniup lilin, aku memandang foto Ibu yang tergantung di dinding.
“Bu, akhirnya kami berkumpul.”
Angin sore masuk melalui jendela, menggerakkan tirai putih yang dulu selalu dicuci Ibu setiap hari Minggu.
Untuk sesaat, rasanya seperti beliau masih berada di sana.
Aku dulu datang ke kota besar hanya dengan membawa satu tas kain dan harapan yang nyaris tidak kumiliki.
Aku pulang dengan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang ataupun kemewahan.
Tiga kakak yang mencintaiku.
Dan sebuah keluarga yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Kini aku mengerti pesan terakhir Ibu.
Keluarga bukan hanya tentang orang yang tinggal serumah sejak kita dilahirkan.
Keluarga adalah mereka yang tetap memilih menggenggam tangan kita, bahkan setelah bertahun-tahun dipisahkan oleh keadaan.
Dan meskipun Ibu tidak lagi berada di samping kami, kasih sayangnya telah melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh kekayaan keluarga Mahendra.
Menyatukan kembali empat hati yang selama ini terpisah.
