
Ketika membuka mata, hal pertama yang kulihat adalah langit-langit putih dan cahaya lampu rumah sakit yang menyilaukan.
Kepalaku terasa berat. Ada perban di pelipis, sementara lengan kiriku dipasangi infus. Aku mencoba menggerakkan tubuh, tetapi rasa nyeri membuatku meringis.
“Nadira, jangan bergerak dulu.”
Suara itu bukan milik Arga.
Aku menoleh perlahan dan melihat Rani, sahabatku sejak pendidikan militer, duduk di samping tempat tidur. Matanya sembap.
“Sudah berapa lama aku di sini?”
“Hampir enam jam. Kamu sempat kehilangan kesadaran. Dokter bilang kamu mengalami gegar otak ringan dan harus diawasi.”
Aku menelan ludah.
“Arga?”
Rani terdiam.
Aku langsung memahami sesuatu dari ekspresinya.
“Dia di mana?”
Rani menghela napas.
“Dia mengantar Larasati ke rumah sakit lain.”
Aku memejamkan mata.
“Bagaimana kondisinya?”
“Katanya cuma cedera bahu ringan. Tapi Arga tetap mendampinginya.”
Aku tertawa kecil, meskipun kepalaku langsung terasa sakit.
“Jadi dia bahkan enggak tahu aku dirawat di sini?”
Rani menggenggam tanganku.
“Dia tahu. Petugas medis sudah menghubunginya.”
Aku menatap sahabatku.
“Lalu?”
“Dia bilang akan datang setelah memastikan Larasati baik-baik saja.”
Aku mengalihkan pandangan ke jendela.
Enam jam.
Selama enam jam, lelaki yang mengaku mencintaiku tidak datang, meskipun mengetahui aku sempat kehilangan kesadaran akibat kecelakaan.
Rani merapikan selimutku.
“Nadira, ada sesuatu yang harus kamu tahu. Ayahmu sedang dalam perjalanan.”
Aku langsung menoleh.
“Siapa yang memberi tahu Ayah?”
“Aku. Maaf, tapi aku enggak mungkin menyembunyikan kejadian ini.”
Aku hendak menjawab, tetapi pintu kamar terbuka.
Jenderal Surya Mahendra masuk bersama seorang ajudan. Begitu melihatku, langkahnya terhenti.
“Nadira.”
Aku berusaha tersenyum.
“Ayah.”
Beliau mendekat, lalu duduk di samping ranjang. Tangannya yang biasanya begitu mantap kini sedikit gemetar ketika menyentuh perban di kepalaku.
“Dokter bilang kamu sudah stabil. Tapi Ayah tetap ingin mendengar langsung bagaimana keadaanmu.”
“Aku baik-baik saja.”
Ayah menatapku lama.
“Jangan selalu mengatakan baik-baik saja hanya karena kamu tidak ingin membuat orang lain khawatir.”
Kalimat itu membuat pertahananku runtuh.
Air mataku jatuh.
Ayah tidak bertanya tentang Arga. Beliau hanya menggenggam tanganku sampai tangisku mereda.
Malam itu, setelah dokter memastikan kondisiku tidak memburuk, Ayah meminta ajudannya mengatur pengamanan dokumen dinasku yang sempat tertinggal di kendaraan.
Aku langsung teringat map hitam berisi salinan keputusan penempatan.
“Ayah, dokumenku…”
“Sudah diamankan oleh petugas yang berwenang. Tidak ada yang hilang.”
Aku menghela napas lega.
Namun sebelum Ayah meninggalkan kamar, ponselku berdering.
Arga.
Aku menatap layar beberapa detik sebelum mengangkatnya.
“Nadira, kamu di rumah sakit mana?”
Suaranya terdengar tergesa-gesa.
“Kenapa baru bertanya sekarang, Mas?”
“Aku sibuk mengurus Larasati. Kondisinya tadi cukup mengkhawatirkan.”
Aku terdiam.
“Dia baik-baik saja?”
“Sudah. Cuma memar dan cedera ringan.”
“Syukurlah.”
Arga menghela napas.
“Kamu jangan salah paham. Waktu kecelakaan, aku panik. Larasati duduk di belakang dan aku takut dia terluka parah.”
Aku memandang perban di tanganku.
“Aku juga ada di mobil itu.”
“Aku tahu.”
“Tapi kamu bahkan tidak menoleh ketika aku memanggilmu.”
Hening.
Kemudian Arga berkata dengan nada kesal.
“Nadira, jangan memperbesar masalah. Semua orang juga panik dalam kecelakaan.”
Aku menutup mata.
Dulu, aku mungkin akan mencoba memahami alasannya.
Namun malam itu, aku sudah terlalu lelah menerima pembenaran.
“Mas, kita selesai.”
“Apa?”
“Hubungan kita selesai.”
Arga tertawa pendek.
“Kamu sedang emosi karena kecelakaan. Kita bicarakan setelah kamu tenang.”
“Tidak. Aku sudah memikirkannya sebelum kecelakaan.”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan.
“Selamat atas rencana pernikahanmu dengan Larasati.”
Tidak ada jawaban.
Lalu terdengar suara benda jatuh.
“Nadira… dari mana kamu tahu?”
“Aku melihat undangannya.”
“Nadira, dengarkan aku. Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Undangan pernikahan dengan namamu sendiri tidak membutuhkan banyak penjelasan, Mas.”
Aku memutus sambungan.
Untuk pertama kalinya, aku tidak menunggu dia menelepon kembali.
Tiga hari kemudian, aku diperbolehkan pulang dengan anjuran beristirahat dan menjalani pemeriksaan lanjutan.
Aku memilih tinggal sementara di rumah Ayah.
Arga datang keesokan sorenya.
Dia membawa buket bunga putih dan sebuah kotak makanan kesukaanku.
Ketika melihatku duduk di teras, dia langsung menghampiri.
“Sayang, akhirnya kamu mau bertemu.”
Aku tidak membalas panggilannya.
“Duduklah, Mas. Kita bicara sebentar.”
Arga terlihat lega.
“Aku tahu kamu pasti bisa memahami semuanya.”
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu menikahi Larasati?”
Wajahnya menegang.
“Nadira, situasinya rumit.”
“Jelaskan.”
Dia menarik napas panjang.
“Ayah Larasati punya jaringan yang luas. Hubungan keluarga kami juga sudah lama dekat. Pernikahan ini bisa membuka banyak kesempatan.”
Aku mengangguk perlahan.
“Jadi kamu memilih menikah demi keuntungan karier?”
“Bukan begitu. Larasati perempuan baik. Aku juga punya perasaan kepadanya.”
Jawaban itu lebih menyakitkan daripada kebohongan apa pun.
“Sejak kapan?”
Arga menunduk.
“Hampir satu tahun.”
Aku tersenyum getir.
Satu tahun.
Selama satu tahun, aku masih mempercayai setiap alasan lemburnya, perjalanan dinasnya, dan pesan singkatnya yang semakin jarang.
“Kenapa kamu tidak mengakhiri hubungan kita?”
Arga justru menatapku dengan ekspresi yang sulit kupercaya.
“Karena aku juga menyayangimu.”
Aku tertawa pahit.
“Mas, menyayangi seseorang bukan berarti menjadikannya cadangan ketika kamu sedang mempertimbangkan perempuan lain.”
Arga mengusap wajahnya.
“Aku sebenarnya ingin menjelaskan setelah pernikahan.”
Aku membeku.
“Setelah pernikahan?”
Dia mengangguk ragu.
“Aku berharap kita tetap bisa dekat. Aku tidak ingin kehilanganmu sepenuhnya.”
Aku berdiri perlahan.
“Keluar, Mas.”
“Nadira…”
“Silakan pergi.”
Dia ikut berdiri.
“Kamu akan menyesal bersikap seperti ini. Aku bisa memberikan kehidupan nyaman untukmu.”
Aku menatapnya untuk terakhir kalinya sebagai kekasih.
“Aku tidak pernah meminta kamu membelikanku kehidupan, Arga. Aku hanya meminta kejujuran.”
Aku masuk ke rumah tanpa menoleh.
Seminggu kemudian, masa istirahatku selesai. Setelah mendapatkan izin medis untuk kembali bekerja, aku menghadiri kegiatan penerimaan jabatan di lingkungan komando baruku.
Pagi itu, aku mengenakan seragam dinas lengkap.
Dua bintang terpasang di pundakku.
Aku berdiri di depan cermin cukup lama.
Bukan karena ingin mengagumi pangkatku.
Melainkan karena aku teringat perempuan yang beberapa hari sebelumnya menangis sendirian di ranjang rumah sakit.
Aku masih perempuan yang sama.
Hanya saja, kali ini aku memilih tidak mengukur harga diriku berdasarkan keputusan seorang lelaki.
Rani datang menjemputku.
Begitu melihatku, dia tersenyum lebar.
“Selamat bertugas, Mayor Jenderal Nadira Mahendra.”
Aku membalas hormatnya sambil tersenyum.
“Terima kasih.”
Acara hari itu dihadiri sejumlah pejabat militer, termasuk beberapa perwira tinggi dari satuan lain.
Aku sudah mengetahui bahwa Arga akan hadir.
Namun aku tidak berusaha menghindarinya.
Ketika kendaraan kami memasuki kompleks acara, aku melihat Arga berdiri bersama Larasati dan ayahnya, Letnan Jenderal Wibowo.
Larasati mengenakan kebaya modern berwarna biru muda. Arga terlihat rapi dengan seragam dinas.
Mereka sedang berbincang dengan beberapa undangan.
Aku turun dari mobil.
Seorang perwira penyambut langsung memberikan hormat.
“Selamat pagi, Ibu Jenderal.”
Aku membalasnya.
Dari kejauhan, Arga menoleh.
Awalnya dia hanya memandang sekilas.
Namun ketika melihat seragam dan tanda pangkatku, wajahnya langsung berubah.
Dia menatapku tanpa berkedip.
Larasati mengikuti arah pandangannya.
“Mas, itu Nadira, kan?”
Arga tidak menjawab.
Aku berjalan menuju ruang acara, didampingi ajudan yang ditugaskan secara resmi.
Beberapa perwira menghampiriku untuk memberikan salam.
Arga terlihat semakin kebingungan.
Akhirnya dia berjalan mendekat.
“Nadira?”
Aku berhenti.
“Selamat pagi, Mayor Jenderal Arga.”
Dia menatap kedua pundakku.
“Kamu… mayor jenderal?”
Aku mengangguk.
“Benar.”
“Tapi selama ini kamu…”
Aku memotong dengan tenang.
“Selama ini aku memang seorang prajurit, Mas. Kamu hanya tidak pernah benar-benar bertanya tentang pekerjaanku.”
Wajah Arga memerah.
Larasati yang berada di belakangnya tampak terkejut.
Namun sebelum percakapan berlanjut, seorang petugas protokol menghampiri.
“Maaf, Ibu Jenderal Nadira. Panglima sudah menunggu di ruang penerimaan.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih.”
Arga langsung menoleh.
“Panglima?”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya melangkah menuju ruang utama.
Beberapa menit kemudian, acara dimulai.
Di hadapan para undangan, pembawa acara mengumumkan penempatan dan pengenalan sejumlah pejabat baru.
Namaku disebut dengan jelas.
“Mayor Jenderal TNI Nadira Mahendra.”
Aku maju sesuai arahan protokol.
Ketika namaku diumumkan bersama riwayat penugasanku, beberapa perwira terlihat saling bertukar pandang.
Namun kejutan terbesar terjadi ketika Jenderal Surya Mahendra memasuki ruangan.
Seluruh undangan berdiri memberikan penghormatan sesuai tata upacara.
Ayah berjalan menuju tempat yang telah disediakan.
Setelah rangkaian acara resmi selesai, beliau menghampiriku.
“Nadira, bagaimana kondisi kepalamu?”
Aku tersenyum.
“Sudah jauh lebih baik, Yah.”
Ayah mengangguk.
“Jangan abaikan pemeriksaan lanjutan.”
Percakapan sederhana itu terdengar oleh Arga yang kebetulan berdiri tidak jauh dari kami.
Dia langsung membeku.
Larasati menatap kami bergantian.
“Yah?” bisiknya.
Arga terlihat seperti kehilangan kemampuan berbicara.
Ayah kemudian menoleh kepada beberapa perwira yang mendekat.
“Ini putri saya, Nadira. Dia baru menyelesaikan rangkaian penugasan sebelumnya dan mulai bertugas di jabatan barunya.”
Ruangan di sekitar kami mendadak terasa sunyi.
Aku melihat Arga menelan ludah.
Dia akhirnya memahami sesuatu yang selama empat tahun tidak pernah diketahuinya.
Perempuan yang dianggapnya tidak memiliki kedudukan ternyata seorang mayor jenderal.
Dan ayah perempuan itu adalah panglima yang selama ini sangat dihormatinya.
Namun Ayah tidak mempermalukannya.
Beliau menyapa Arga sebagaimana menyapa perwira lain.
“Mayor Jenderal Arga, selamat pagi.”
Arga segera berdiri tegak dan memberikan hormat.
“Siap, Jenderal!”
Ayah membalasnya.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada penyalahgunaan kedudukan.
Justru sikap tenang itu membuat Arga terlihat semakin gelisah.
Seusai acara, dia menungguku di dekat taman kompleks.
“Nadira, kita harus bicara.”
Aku berhenti.
“Ada apa?”
Dia mengusap wajahnya.
“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku siapa ayahmu?”
Aku menatapnya heran.
“Apakah itu akan mengubah caramu memperlakukanku?”
Arga terdiam.
Aku melanjutkan.
“Kalau kamu tahu pangkatku dan siapa ayahku sejak awal, apakah kamu akan tetap menikahi Larasati?”
Dia tidak menjawab.
Dan diamnya sudah cukup.
Beberapa saat kemudian, Larasati datang menghampiri.
Wajahnya terlihat tegang.
“Nadira, aku ingin meminta maaf.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
Larasati menarik napas.
“Arga mengatakan hubungan kalian sudah berakhir sejak lama. Aku baru tahu beberapa hari lalu bahwa kalian masih bersama ketika kami merencanakan pernikahan.”
Aku menoleh kepada Arga.
Dia langsung menunduk.
Larasati melanjutkan.
“Aku sudah membatalkan rencana pernikahan kami.”
Arga tersentak.
“Laras, kita sudah membicarakan ini!”
Perempuan itu menatapnya tajam.
“Aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang memulai hubungan denganku menggunakan kebohongan.”
Aku tidak menyangka mendengar keputusan tersebut.
Namun aku tidak merasakan kemenangan.
Tidak ada kebahagiaan melihat Arga ditinggalkan perempuan lain.
Yang kurasakan justru kelegaan karena akhirnya semua pihak mengetahui kebenarannya.
Larasati mengangguk kepadaku.
“Semoga kamu segera pulih sepenuhnya, Nadira.”
“Terima kasih.”
Dia kemudian berjalan pergi.
Arga hendak mengejarnya, tetapi berhenti.
Dia menatapku dengan mata merah.
“Nadira, sekarang semuanya sudah selesai. Kita bisa memulai lagi.”
Aku memandangnya lama.
“Memulai apa, Mas?”
“Hubungan kita.”
Aku menggeleng.
“Hubungan kita berakhir bukan karena Larasati datang. Hubungan itu berakhir ketika kamu memilih berbohong kepadaku.”
Arga menangis.
“Aku menyesal.”
“Aku percaya kamu menyesal. Tapi penyesalan tidak otomatis mengembalikan kepercayaan.”
Dia mencoba menggenggam tanganku.
Aku mundur selangkah.
“Jangan, Mas.”
Untuk pertama kalinya, Arga benar-benar berhenti memaksaku mendengarkan pembenarannya.
Beberapa bulan kemudian, aku kembali disibukkan dengan tugas dan tanggung jawab baruku.
Kasus kecelakaan kami telah ditangani melalui proses yang berlaku. Aku menyelesaikan pemulihan dan menjalani pekerjaan tanpa membawa persoalan pribadi ke dalam urusan kedinasan.
Ayah tidak pernah menggunakan kedudukannya untuk mencampuri karier Arga.
Aku juga tidak menginginkannya.
Suatu sore, ketika sedang merapikan dokumen di ruang kerja, aku menemukan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya ada kalung dari selongsong peluru yang pernah diberikan Arga.
Aku memandangnya beberapa saat.
Dulu, benda itu mengingatkanku pada hari ketika seorang lelaki mempertaruhkan keselamatannya untuk menyelamatkanku.
Sekarang, aku memahaminya secara berbeda.
Aku tidak perlu menghapus seluruh kenangan baik hanya karena hubungan kami berakhir buruk.
Arga memang pernah menyelamatkanku.
Namun pengorbanannya di masa lalu tidak memberinya hak untuk menyakitiku di masa sekarang.
Aku menutup kotak tersebut dan menyimpannya bersama barang-barang lama.
Kemudian aku berjalan menuju jendela.
Langit Jakarta mulai berubah jingga.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor Arga.
“Nadira, aku akhirnya mengerti. Selama ini aku terlalu sibuk mengejar kedudukan sampai tidak menyadari bahwa aku sudah kehilangan orang yang benar-benar mencintaiku.”
Aku membaca pesan itu sekali.
Lalu menghapusnya.
Bukan karena membencinya.
Melainkan karena aku tidak lagi membutuhkan penyesalannya untuk melanjutkan hidup.
Beberapa menit kemudian, Ayah menelepon.
“Nadira, sudah selesai bekerja?”
“Sebentar lagi, Yah.”
“Malam ini makan bersama, ya. Ayah sudah pesan makanan kesukaanmu.”
Aku tertawa kecil.
“Ayah kan selalu bilang jangan terlalu memanjakan anak.”
Beliau tertawa.
“Kamu sudah terlalu lama menghadapi banyak hal sendirian. Sesekali biarkan Ayah memanjakanmu.”
Aku tersenyum.
“Baik, Yah.”
Setelah menutup telepon, aku mengambil topi dinasku dan berjalan keluar.
Di sepanjang koridor, beberapa prajurit memberikan hormat.
Aku membalasnya dengan tenang.
Mereka menghormatiku bukan karena aku pernah menjadi kekasih Arga.
Bukan pula semata-mata karena aku putri seorang panglima.
Melainkan karena tanggung jawab yang kini kuemban dan perjalanan panjang yang telah kulalui.
Dan pada akhirnya, itulah hal yang paling ingin kupertahankan.
Bukan seorang lelaki yang baru menyadari nilaiku setelah mengetahui pangkat serta keluargaku.
Tetapi kehormatan, kejujuran, dan harga diri yang sejak awal tidak pernah seharusnya kutukar demi cinta.
Karena perempuan yang benar-benar kuat bukanlah perempuan yang tidak pernah disakiti.
Melainkan perempuan yang tetap mampu berdiri tegak setelah dikhianati, tanpa harus menghancurkan orang lain untuk membuktikan bahwa dirinya berharga.
