Hal pertama yang kudengar ketika membuka mata bukanlah suara Arga, melainkan bunyi alat pemantau jantung di samping tempat tidur rumah sakit.
Kepalaku terasa berat. Setiap kali mencoba bergerak, nyeri menjalar dari pelipis hingga leher. Aku mengangkat tangan perlahan dan merasakan perban menutupi sebagian dahiku.
“Nadira?”
Suara itu membuatku menoleh.
Ayah berdiri di samping tempat tidur dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Lelaki yang selama puluhan tahun menghadapi berbagai situasi genting itu kini tampak begitu khawatir.

“Ayah?”
Beliau segera menggenggam tanganku.
“Jangan banyak bergerak. Dokter bilang kamu mengalami gegar otak ringan dan harus diobservasi.”
Aku mencoba mengingat kejadian sebelumnya.
Restoran di Menteng.
Arga dan Larasati.
Truk yang kehilangan kendali.
Benturan keras.
Kemudian punggung Arga yang terus menghadap kepadaku ketika aku memanggil namanya.
Aku memejamkan mata.
“Arga di mana, Yah?”
Rahang Ayah mengeras.
“Dia baru datang menjengukmu setelah memastikan perempuan itu mendapatkan perawatan.”
Aku tersenyum pahit.
“Ternyata dia masih ingat ada aku di mobil itu.”
Ayah tidak menjawab.
Namun, genggamannya pada tanganku semakin erat.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter masuk untuk memeriksa kondisiku. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada perdarahan di dalam kepala yang terdeteksi, tetapi aku tetap membutuhkan pengawasan dan istirahat.
Ketika dokter selesai menjelaskan, Ayah meminta waktu berbicara denganku.
“Nadira, Ayah perlu menanyakan sesuatu.”
Aku menatapnya.
“Apa, Yah?”
“Apakah Arga mengetahui keputusan pengangkatan pangkatmu?”
Aku menggeleng.
“Belum.”
Ayah menarik napas panjang.
“Besok ada pengarahan resmi mengenai penempatanmu. Kita bisa mengatur jadwal kehadiranmu setelah dokter menyatakan kamu cukup sehat.”
Aku mengangguk.
“Aku ingin kembali bertugas secepat mungkin.”
“Jangan memaksakan diri.”
Aku tersenyum kecil.
“Siap, Jenderal.”
Ayah menggeleng sambil tersenyum sedih.
“Kalau sedang di rumah sakit, panggil Ayah saja.”
Malam itu, Arga akhirnya datang.
Aku sedang duduk bersandar ketika pintu kamar terbuka.
Dia masuk membawa sekeranjang buah.
“Nadira.”
Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
Arga meletakkan buah di meja.
“Kondisimu bagaimana?”
“Seperti yang kamu lihat.”
Dia terlihat tidak nyaman.
“Aku benar-benar nggak tahu kamu terluka separah itu.”
Aku menatap wajahnya.
“Karena kamu bahkan nggak menoleh.”
Arga terdiam.
Aku melanjutkan.
“Aku memanggilmu dua kali, Mas.”
Dia mengusap wajah.
“Situasinya kacau. Larasati panik sekali. Aku cuma berusaha menenangkannya.”
Aku mengangguk perlahan.
“Dan kamu lupa ada orang lain di kursi depan?”
“Nadira, jangan membuatku terlihat seperti orang jahat.”
Kalimat itu membuatku tertawa kecil.
Rasa sakit di kepalaku mendadak terasa tidak seberapa dibandingkan kekecewaan yang memenuhi dada.
“Aku hampir kehilangan kesadaran, Mas. Tapi yang kamu khawatirkan justru bagaimana dirimu terlihat.”
Arga menunduk.
Beberapa detik kemudian, dia berkata pelan.
“Maaf.”
Aku memandangnya cukup lama.
Empat tahun lalu, permintaan maaf seperti itu mungkin cukup untuk membuatku kembali memeluknya.
Namun, malam itu semuanya terasa berbeda.
“Mas, aku sudah tahu tentang pernikahanmu.”
Tubuh Arga langsung menegang.
“Apa?”
“Undanganmu dengan Larasati. Aku sudah melihatnya.”
Wajahnya berubah pucat.
“Nadira, aku bisa menjelaskan.”
Aku mengangguk.
“Silakan.”
Arga menarik kursi.
“Ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku hampir tersenyum mendengar kalimat yang begitu mudah ditebak itu.
“Ayah Larasati punya hubungan luas. Pernikahan ini bisa membantu masa depanku.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Jadi kamu memang akan menikahinya?”
Arga mengangguk perlahan.
“Tapi aku masih mencintaimu.”
Aku membeku.
Dia melanjutkan dengan nada yang seolah sedang menawarkan sebuah kesepakatan bisnis.
“Aku nggak ingin kehilangan kamu. Kita masih bisa tetap dekat.”
Aku memandang lelaki di hadapanku dengan rasa asing yang luar biasa.
“Kamu ingin menikahi perempuan lain, tetapi tetap mempertahankanku sebagai kekasihmu?”
“Nadira, kamu harus memahami posisiku.”
Aku menarik napas panjang.
“Justru sekarang aku memahaminya.”
Arga terlihat lega.
Namun, aku melanjutkan.
“Aku memahami bahwa selama ini kamu menganggapku cukup baik untuk menemanimu ketika kesulitan, tetapi tidak cukup penting untuk mendapatkan kejujuran.”
“Nadira…”
“Hubungan kita selesai, Mas.”
Wajahnya langsung mengeras.
“Jangan mengambil keputusan saat sedang emosional.”
Aku menatapnya dengan tenang.
“Aku sudah memutuskan sebelum kecelakaan itu terjadi.”
Arga berdiri.
“Kamu akan menyesal.”
Aku tidak menjawab.
Dia mengambil kunci mobilnya, kemudian berjalan keluar.
Saat pintu tertutup, aku akhirnya menangis.
Bukan karena ingin dia kembali.
Melainkan karena empat tahun kenangan ternyata bisa berakhir dengan begitu menyakitkan.
Tiga hari kemudian, setelah pemeriksaan lanjutan menunjukkan kondisiku membaik, dokter mengizinkanku pulang dengan anjuran beristirahat dan membatasi aktivitas berat.
Aku menghabiskan beberapa hari berikutnya di rumah Ayah.
Sementara itu, kabar mengenai pernikahan Arga dan Larasati semakin ramai dibicarakan di lingkungan sosial mereka.
Rani, teman lamaku, mengirimkan sebuah foto.
Dalam foto tersebut, Arga berdiri bersama Larasati dan ayah perempuan itu, seorang pejabat tinggi militer bernama Letnan Jenderal Wibowo.
Mereka sedang menghadiri acara keluarga.
Di bawah foto terdapat tulisan mengenai pernikahan yang akan segera berlangsung.
Aku memandangnya sebentar, kemudian menghapus percakapan yang tidak lagi ingin kusimpan.
Namun, keesokan harinya, sebuah pesan dari Larasati masuk.
“Nadira, aku harap kamu bisa memahami keadaan. Arga membutuhkan pendamping yang sepadan dengan kedudukannya.”
Aku membaca pesan itu tanpa emosi.
Beberapa detik kemudian, pesan kedua muncul.
“Jangan mempermalukan dirimu dengan terus mengejarnya.”
Aku tidak membalas.
Aku hanya menyimpan pesan tersebut, kemudian kembali membaca berkas penugasan baruku.
Pagi berikutnya, Ayah memanggilku ke ruang kerjanya.
“Kondisimu sudah benar-benar membaik?”
Aku mengangguk.
“Dokter mengizinkan aku kembali melakukan pekerjaan administratif secara bertahap.”
Ayah menyerahkan sebuah jadwal.
“Besok akan ada acara serah terima jabatan dan pengenalan pejabat baru. Kehadiranmu sudah dikonfirmasi melalui jalur kedinasan.”
Aku membaca daftar undangan.
Mataku berhenti pada sebuah nama.
Mayor Jenderal Arga Pratama.
Aku mengangkat wajah.
“Arga juga diundang?”
Ayah mengangguk.
“Dia termasuk pejabat yang terkait dengan bidang koordinasi satuan tempatmu akan bertugas.”
Aku terdiam sebentar.
“Baik, Yah.”
Ayah menatapku serius.
“Nadira, Ayah tidak ingin acara itu berubah menjadi urusan pribadi.”
Aku langsung menjawab.
“Aku juga tidak, Yah.”
Keesokan paginya, aku mengenakan seragam dinas lengkap.
Pangkat mayor jenderal terpasang di pundakku sesuai keputusan resmi yang telah berlaku.
Aku berdiri di depan cermin cukup lama.
Bukan untuk mengagumi pangkat tersebut.
Melainkan untuk mengingat perjalanan panjang yang telah kulewati.
Pendidikan militer.
Penugasan di daerah terpencil.
Malam-malam tanpa tidur.
Rekan-rekan yang pernah terluka ketika menjalankan tugas.
Dan semua tanggung jawab yang kini harus kupikul.
Aku menyentuh bekas luka di dahiku.
Luka itu masih terlihat samar.
Namun, aku tidak ingin menutupinya dengan riasan tebal.
Itu bagian dari perjalanan yang telah kulewati.
Ketika tiba di gedung acara, sejumlah perwira tinggi sudah berkumpul.
Aku memasuki ruangan bersama rombongan pejabat yang bertugas mendampingi prosesi.
Di bagian depan, aku melihat Arga.
Dia mengenakan seragam dinas lengkap dan sedang berbicara dengan Letnan Jenderal Wibowo.
Larasati berdiri tidak jauh dari mereka sebagai tamu undangan.
Aku tidak menghampiri.
Aku hanya mengikuti petugas protokol menuju ruang persiapan.
Beberapa menit kemudian, acara dimulai.
Pembawa acara membacakan susunan kegiatan, dilanjutkan dengan pembacaan keputusan penempatan pejabat baru.
Aku berdiri tegak ketika namaku dipanggil.
“Mayor Jenderal TNI Nadira Mahendra.”
Ruangan mendadak terasa begitu sunyi.
Aku berjalan menuju posisi yang telah ditentukan.
Dari sudut mata, kulihat Arga menegakkan tubuh.
Wajahnya berubah drastis.
Dia menatap pangkat di pundakku, kemudian menatap wajahku seolah tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
Pembawa acara melanjutkan pembacaan riwayat pendidikan dan penugasanku.
Sejumlah penugasan strategis disebutkan secara singkat.
Kemudian Panglima, Jenderal Surya Mahendra, maju untuk melaksanakan bagian acara yang menjadi kewenangannya.
Aku memberikan hormat militer.
Beliau membalas dengan sikap resmi.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada perlakuan istimewa.
Hanya prosedur kedinasan yang berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, setelah acara resmi selesai, Ayah menghampiriku di hadapan sejumlah tamu.
“Nadira, bagaimana kondisi kepalamu?”
Aku tersenyum.
“Sudah jauh lebih baik, Yah.”
Beberapa orang langsung menoleh.
Arga terlihat membeku.
Ayah kemudian memperkenalkanku kepada beberapa pejabat yang belum mengenalku secara pribadi.
“Ini putri saya, Nadira. Dia baru menyelesaikan penugasan sebelumnya dan sekarang menerima tanggung jawab baru.”
Wajah Arga seketika kehilangan warna.
Larasati menatapku dengan mata membesar.
Sementara Letnan Jenderal Wibowo tampak terkejut sebelum segera menyampaikan ucapan selamat secara profesional.
Aku membalas semuanya dengan sopan.
Namun, ketika hendak meninggalkan ruangan, Arga tiba-tiba menghampiriku.
“Nadira!”
Aku berhenti.
Dia menatap kedua pundakku.
“Kamu… mayor jenderal?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Keputusan resminya sudah berlaku sebelum kecelakaan.”
Arga terlihat kesulitan berbicara.
“Lalu Jenderal Surya…”
“Ayah kandungku.”
Dia menatapku dengan wajah pucat.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Aku memandangnya cukup lama.
“Karena aku ingin seseorang mencintaiku tanpa mempertimbangkan pangkat atau nama keluargaku.”
Arga terdiam.
Aku melanjutkan.
“Dan ternyata itu membuatku melihat siapa dirimu sebenarnya.”
Dia menggeleng cepat.
“Nadira, aku nggak tahu.”
“Aku tahu kamu nggak tahu.”
“Aku bisa membatalkan pernikahan itu.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Apa?”
Dia mendekat.
“Aku salah mengambil keputusan. Kita bisa mulai lagi.”
Aku menatap wajahnya.
Lelaki yang beberapa hari lalu mengatakan bahwa menikahi Larasati akan menguntungkan kariernya kini mendadak ingin kembali kepadaku.
Bukan setelah mengetahui aku terluka.
Bukan setelah menyadari penderitaanku.
Melainkan setelah mengetahui pangkat dan siapa ayahku.
Aku tersenyum sedih.
“Mas, kalau hari ini aku datang tanpa pangkat ini, apakah kamu akan mengatakan hal yang sama?”
Arga membuka mulut.
Namun, tidak ada jawaban.
Aku mengangguk perlahan.
“Itu sudah cukup menjelaskan semuanya.”
Tepat saat itu, Larasati menghampiri kami.
“Mas Arga, sebenarnya ada apa?”
Arga menoleh dengan gelisah.
Larasati kemudian menatapku.
“Jadi selama ini kamu sengaja menyembunyikan identitas?”
Aku menjawab tenang.
“Aku tidak pernah mengaku menjadi orang lain. Aku hanya tidak menceritakan seluruh kehidupan pribadiku.”
Wajah Larasati memerah.
“Kenapa harus merahasiakan semuanya?”
Aku menatapnya.
“Karena kedudukan keluargaku bukan ukuran harga diriku.”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan dengan suara pelan.
“Dan aku tidak pernah berniat merebut calon suamimu. Kalian bisa menyelesaikan hubungan kalian sendiri.”
Kemudian aku memberikan hormat seperlunya kepada pejabat yang berada di dekat kami dan berjalan pergi.
Namun, kisah itu ternyata belum selesai.
Dua minggu kemudian, aku menerima sebuah surat resmi yang memintaku memberikan keterangan sebagai saksi dalam pemeriksaan administratif terkait laporan konflik kepentingan pada sebuah proses pengadaan.
Nama Arga tercantum sebagai salah satu pejabat yang keterlibatannya perlu diklarifikasi.
Aku terkejut.
Namun, aku tidak langsung menghubungkannya dengan persoalan pribadi kami.
Dalam pemeriksaan, aku hanya menjelaskan hal-hal yang benar-benar kuketahui dari penugasan sebelumnya.
Aku tidak menambahkan tuduhan.
Tidak menggunakan nama Ayah.
Dan tidak meminta perlakuan khusus terhadap siapa pun.
Beberapa minggu setelahnya, pemeriksaan internal menemukan ketidaksesuaian prosedur dalam salah satu kegiatan pengadaan yang pernah berada di bawah tanggung jawab Arga.
Penyelidikan lanjutan dilakukan oleh pihak berwenang.
Arga sementara dibebastugaskan dari tanggung jawab tertentu selama proses pemeriksaan berlangsung.
Kabar itu membuat rencana pernikahannya dengan Larasati ditunda.
Aku mengetahuinya bukan dari Arga, melainkan dari Rani.
Suatu sore, Arga datang menemuiku di kantor.
Dia terlihat jauh lebih kurus.
Matanya dipenuhi kelelahan.
“Nadira, boleh kita bicara sebentar?”
Aku mengangguk dan mengajaknya ke ruang tamu yang diperuntukkan bagi pertemuan.
Dia duduk di hadapanku.
Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya dia berkata,
“Aku sudah kehilangan Larasati.”
Aku tidak menjawab.
“Keluarganya meminta pernikahan ditunda sampai persoalan pekerjaanku selesai.”
Aku mengangguk.
“Aku turut prihatin.”
Arga menatapku.
“Kamu nggak senang melihat aku seperti ini?”
Aku menggeleng.
“Kenapa aku harus senang?”
“Karena aku sudah menyakitimu.”
Aku menarik napas panjang.
“Mas, aku nggak pernah ingin hidupmu hancur. Aku cuma ingin kamu bertanggung jawab atas pilihanmu.”
Arga menunduk.
Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Kalung kecil dari selongsong peluru yang dulu pernah diberikannya kepadaku.
“Aku menemukan ini di antara barang-barang yang kamu tinggalkan.”
Aku memandang kalung tersebut.
“Benda itu dulu berarti banyak buatku.”
Arga mengangkat wajah.
“Sekarang?”
Aku tersenyum kecil.
“Sekarang itu hanya pengingat bahwa seseorang bisa menyelamatkan hidup kita sekali, tetapi tetap menyakiti kita di kemudian hari.”
Air mata mulai menggenang di mata Arga.
“Nadira, aku benar-benar menyesal.”
Aku mengangguk.
“Aku percaya kamu menyesal.”
Dia terlihat sedikit berharap.
Namun, aku melanjutkan.
“Tapi penyesalanmu tidak berarti aku harus kembali.”
Arga menunduk.
Untuk pertama kalinya, dia tidak mencoba membantah.
Beberapa bulan kemudian, aku mendapatkan penugasan baru yang membawaku ke sejumlah wilayah untuk mengoordinasikan program bantuan kemanusiaan dan kesiapsiagaan bencana.
Dalam salah satu perjalanan, aku mengunjungi sebuah desa yang baru saja mengalami banjir besar.
Seorang perempuan tua menghampiriku ketika tim kami sedang menyerahkan bantuan.
Beliau menggenggam tanganku erat.
“Terima kasih, Bu. Anak-anak kami sekarang punya tempat berlindung.”
Aku tersenyum.
“Itu tugas kami, Bu.”
Perempuan itu memperhatikan pangkat di pundakku.
“Pangkat Ibu tinggi sekali, ya?”
Aku mengangguk.
Beliau kemudian bertanya dengan polos.
“Kalau begitu, Ibu pasti orang yang sangat hebat?”
Aku terdiam sebentar.
Kemudian menjawab,
“Belum tentu, Bu. Pangkat hanya menunjukkan tanggung jawab yang harus saya jalankan.”
Beliau tersenyum.
“Yang penting Ibu datang membantu kami.”
Kalimat itu membuat dadaku menghangat.
Malam harinya, ketika kembali ke penginapan, aku menerima pesan dari Ayah.
“Nadira, Ayah bangga padamu.”
Aku tersenyum.
Kemudian membalas.
“Karena pangkatku, Yah?”
Jawaban Ayah datang beberapa detik kemudian.
“Bukan. Karena kamu tidak menggunakan pangkat itu untuk membalas luka pribadimu.”
Aku membaca pesan tersebut cukup lama.
Di luar jendela, hujan turun perlahan.
Aku teringat kecelakaan beberapa bulan sebelumnya.
Teringat bagaimana aku duduk terluka di kursi depan sementara Arga memilih melindungi perempuan lain.
Dulu, kenangan itu membuatku merasa tidak berharga.
Sekarang, aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.
Nilai seorang perempuan tidak ditentukan oleh siapa yang memilihnya.
Bukan pula oleh pangkat, kekayaan, atau nama besar keluarganya.
Nilainya terlihat dari bagaimana dia menjaga kehormatan, menepati tanggung jawab, dan tetap berdiri tegak ketika orang lain meremehkannya.
Arga pernah menganggapku perempuan biasa yang beruntung mendapatkan cintanya.
Namun, akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak membutuhkan pengakuannya untuk mengetahui siapa diriku.
Aku adalah Nadira Mahendra.
Seorang prajurit.
Seorang perempuan yang pernah dikhianati.
Dan seseorang yang tetap memilih menjalankan tugasnya dengan kehormatan.
Ketika hujan berhenti, aku menutup jendela dan mempersiapkan berkas penugasan untuk esok hari.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi memikirkan apakah Arga menyesal telah kehilanganku.
Karena kemenangan terbesarku bukanlah melihat lelaki itu berlutut meminta kesempatan kedua.
Melainkan menyadari bahwa aku mampu melanjutkan hidup tanpa membutuhkan permintaan maafnya untuk merasa utuh.
