Perempuan dalam foto itu adalah Laras, adik kandungku sendiri.

Aku menatap foto pada lembar pembukaan rekening itu berkali-kali, berharap mataku salah mengenali wajahnya.
Namun, tahi lalat kecil di dekat alis kirinya tidak mungkin tertukar.
Laras adalah adik yang kubiayai kuliahnya setelah ayah meninggal. Perempuan yang menangis di pelukanku ketika gagal mendapatkan pekerjaan. Bahkan enam bulan lalu, aku masih membantunya membayar uang muka sebuah apartemen kecil di Semarang.
Sekarang fotonya terpampang pada dokumen rekening yang digunakan untuk menerima uang Rp1,4 miliar atas namaku.
“Ini adik saya,” ucapku lirih.
Pak Hendrawan mengernyit.
“Adik Ibu?”
Aku mengangguk.
“Namanya Laras. Tapi kenapa rekening ini menggunakan identitas saya?”
Fikri tiba-tiba maju.
“Nadira, jangan libatkan Laras. Dia nggak tahu apa-apa.”
Aku menoleh perlahan.
“Aku bahkan belum menuduh siapa pun. Kenapa kamu langsung membelanya?”
Fikri terdiam.
Salsa berdiri dari kursinya. Riasan wajahnya mulai luntur oleh air mata.
“Fikri, sebenarnya kamu mau menikahiku atau cuma memanfaatkan ayahku?”
“Sal, aku benar-benar sayang kamu.”
“Kalau begitu, kenapa kamu membohongiku soal perceraian?”
Tidak ada jawaban.
Pak Hendrawan mengambil kembali dokumen tersebut.
“Saya akan melaporkan masalah ini. Uang yang saya transfer itu dana perusahaan, bukan uang pribadi yang bisa hilang begitu saja.”
Aku mengangkat tangan.
“Tunggu, Pak. Saya juga korban. Saya perlu salinan semua dokumen itu.”
Pak Hendrawan menatapku beberapa detik, lalu mengangguk.
“Akan saya berikan melalui pengacara.”
Aku mengeluarkan ponsel dan menelepon Laras.
Tidak diangkat.
Panggilan kedua langsung ditolak.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.
Kak, jangan percaya semua yang Fikri bilang. Aku bisa jelaskan. Tapi jangan pulang sendirian malam ini.
Dadaku semakin sesak.
Aku mengetik dengan cepat.
Kamu ada di mana?
Balasan Laras membuatku terpaku.
Aku di rumah sakit. Ibu masuk IGD sejak tadi pagi. Fikri melarangku memberitahumu.
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
Ibu kami memiliki riwayat penyakit jantung. Pagi tadi aku bahkan sempat mengirim pesan kepadanya, tetapi tidak mendapat balasan.
Tanpa menunggu lagi, aku mengambil koper dan bergegas keluar.
“Nadira!” Fikri mengejarku.
Aku berhenti di ambang pintu.
“Kalau kamu masih punya sedikit rasa hormat kepadaku, jangan ikuti aku.”
Untuk pertama kalinya, dia menurut.
Sesampainya di rumah sakit, aku menemukan Laras duduk di depan ruang observasi. Matanya sembap, rambutnya berantakan, dan kedua tangannya terus meremas ujung jaket.
Begitu melihatku, dia langsung berdiri.
“Kak Nadira!”
Aku tidak memeluknya.
“Kenapa fotomu ada di rekening atas namaku?”
Laras menangis.
“Aku dijebak, Kak.”
“Jelaskan.”
Tiga bulan sebelumnya, Fikri mendatangi Laras dan mengatakan bahwa aku sedang mengurus pembukaan rekening bisnis baru. Dia meminta Laras membantu proses verifikasi karena aku sering bepergian untuk bekerja.
“Mas Fikri bilang rekening itu untuk menerima pembayaran proyek hotelmu. Dia minta aku melakukan verifikasi wajah lewat aplikasi di ponselnya.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kamu menggunakan KTP siapa?”
“KTP-ku sendiri, Kak. Tapi setelah itu Mas Fikri minta fotokopi KTP Kakak juga. Katanya untuk administrasi perusahaan.”
Aku menarik napas panjang.
“Lalu uang Rp1,4 miliar itu?”
“Aku baru tahu dua hari lalu.”
Laras mengeluarkan beberapa tangkapan layar percakapan.
Salah satunya berisi pesan Fikri yang meminta Laras merahasiakan transaksi besar yang akan masuk ke rekening tersebut.
Pada pesan berikutnya, Fikri mengancam akan menyebarkan dokumen pinjaman online atas nama Laras jika dia membuka mulut.
“Aku pernah meminjam uang untuk biaya perawatan Ibu,” katanya sambil terisak. “Mas Fikri membantu melunasinya. Aku nggak tahu dia menyimpan semua dataku.”
Aku memejamkan mata.
Adikku memang ceroboh. Namun, kebodohannya tidak membenarkan apa yang dilakukan Fikri.
“Uangnya sekarang di mana?”
Laras menyerahkan ponselnya.
“Rekening itu diblokir sementara oleh bank setelah aku melaporkan transaksi mencurigakan kemarin. Tapi sebagian uang sudah dipindahkan sebelum aku mengetahuinya.”
Aku memeriksa mutasinya.
Ada beberapa transfer besar menuju rekening perusahaan bernama PT Cakra Properti Mandiri.
Nama perusahaan itu terasa asing.
Namun, ketika melihat nama direkturnya, aku kembali membeku.
Ratih Wulandari.
Ibu mertuaku.
Jadi Bu Ratih bukan sekadar membantu menyiapkan pernikahan diam-diam. Dia turut menerima aliran dana dari transaksi yang menggunakan rumahku.
Aku segera menghubungi Mira, sahabatku yang berprofesi sebagai pengacara.
Malam itu, Mira datang ke rumah sakit membawa laptop.
Kami memeriksa setiap dokumen yang berhasil kusimpan.
Setelah hampir dua jam, Mira menemukan sesuatu yang janggal.
“Nadira, surat kuasa menjual ini mencantumkan tanggal dua belas September.”
“Iya. Kenapa?”
“Pada tanggal itu kamu berada di mana?”
Aku membuka kalender pekerjaan.
“Balikpapan. Ada inspeksi proyek selama lima hari.”
“Bagus. Simpan tiket pesawat, catatan hotel, dan dokumen perjalananmu.”
Mira kemudian memperbesar bagian tanda tangan.
“Selain dugaan pemalsuan, ada kejanggalan pada identitas penandatangan. Kita perlu meminta verifikasi kepada pihak yang namanya tercantum dalam dokumen.”
Keesokan paginya, kami mendatangi kantor notaris di Ungaran.
Notaris bernama Bu Ratna memeriksa nomor dokumen yang kami bawa.
Wajahnya berubah serius.
“Nomor ini memang berasal dari kantor kami, tetapi bukan untuk surat kuasa menjual.”
Aku terdiam.
“Lalu untuk apa?”
“Akta pendirian sebuah perusahaan pada tahun lalu.”
Mira langsung meminta keterangan tertulis mengenai ketidaksesuaian tersebut.
Bu Ratna juga menjelaskan bahwa dokumen yang kami bawa tidak tercatat sebagai akta yang dibuatnya.
Dari kantor notaris, kami menuju bank bersama Laras.
Setelah menyerahkan laporan dan bukti identitas, Laras meminta pemeriksaan atas rekening yang diduga disalahgunakan. Pihak bank menerima pengaduan dan menyatakan perlu melakukan investigasi terhadap pembukaan rekening serta transaksi terkait.
Sementara itu, Mira membantuku mengajukan laporan polisi mengenai dugaan pemalsuan dokumen, penipuan, dan penggunaan identitas tanpa izin.
Aku juga menyerahkan rekaman kamera pengawas yang memperlihatkan Fikri mengaku telah bercerai.
Dua hari kemudian, Pak Hendrawan menelepon.
“Bu Nadira, saya sudah memeriksa rekening perusahaan yang menerima uang itu.”
“Ada apa, Pak?”
“PT Cakra Properti Mandiri ternyata baru didirikan enam bulan lalu. Perusahaan itu tidak memiliki proyek properti yang jelas.”
Aku merasa ada batu besar menekan dada.
“Jadi uang Bapak digunakan untuk apa?”
“Sebagian diduga dipindahkan ke beberapa rekening lain. Saya sudah menyerahkan informasi itu kepada penyidik.”
Aku mengucapkan terima kasih.
Namun, sebelum menutup telepon, Pak Hendrawan mengatakan sesuatu yang membuatku kembali terdiam.
“Bu Nadira, saya rasa pernikahan tadi bukan tujuan utama Fikri.”
“Maksud Bapak?”
“Dia berusaha masuk ke keluarga saya untuk memperoleh pendanaan tambahan. Rumah Ibu hanya dijadikan alat untuk membangun kepercayaan.”
Aku akhirnya memahami semuanya.
Fikri tidak sekadar ingin menikahi perempuan lain.
Dia ingin menggunakan rumahku, identitasku, dan nama keluarganya sendiri untuk memperoleh uang sebanyak mungkin sebelum kebohongannya terbongkar.
Seminggu kemudian, penyidik memanggil Fikri, Bu Ratih, dan sejumlah pihak yang terlibat untuk dimintai keterangan.
Aku tidak mengetahui seluruh hasil pemeriksaan. Namun, Mira memberitahuku bahwa beberapa dokumen dan transaksi sedang ditelusuri.
Pada saat yang sama, aku mulai mengurus perceraian melalui jalur hukum.
Fikri berkali-kali menelepon.
Aku tidak menjawab.
Hingga suatu malam, dia datang ke rumah Ibu membawa sebuah amplop.
Aku menerimanya di teras dengan Mira sebagai pendamping.
“Aku cuma mau bicara lima menit,” katanya.
“Apa lagi yang ingin kamu jelaskan?”
Fikri terlihat jauh lebih kurus.
“Aku salah, Nadira. Bisnis pusat kebugaranku bangkrut. Aku punya utang besar. Ibu bilang kalau aku menikahi Salsa, keluarganya bisa membantu.”
“Lalu kenapa harus memalsukan surat cerai dan surat kuasa rumahku?”
Dia menunduk.
“Aku takut kamu menolak.”
Aku tertawa pahit.
“Jadi menurutmu, karena aku mungkin menolak, kamu boleh mengambil hakku diam-diam?”
Air matanya jatuh.
“Aku sebenarnya nggak pernah berniat kehilangan kamu.”
“Tapi kamu sudah merencanakan kehidupan baru dengan perempuan lain di ruang tamuku sendiri.”
Fikri tidak mampu menjawab.
Dia menyerahkan amplop itu.
“Ini surat pernyataan tentang apa yang kulakukan. Aku sudah menuliskan semuanya.”
Mira mengambil amplop tersebut untuk diperiksa.
Sebelum pergi, Fikri memandangku sekali lagi.
“Kalau suatu hari semuanya selesai, apa kamu bisa memaafkanku?”
Aku menatap lelaki yang pernah begitu kucintai.
“Mungkin suatu hari aku bisa memaafkanmu. Tapi aku tidak akan kembali menjadi istrimu.”
Fikri mengangguk perlahan, lalu meninggalkan teras.
Tiga bulan berlalu.
Proses hukum masih berjalan. Sejumlah dana berhasil ditahan untuk kepentingan pemeriksaan, sementara sisanya masih ditelusuri. Status rumahku tetap tercatat atas namaku dan tidak pernah beralih kepemilikan.
Aku kembali bekerja seperti biasa.
Ibu sudah pulih dan tinggal bersamaku sementara waktu. Laras juga mulai menata hidupnya kembali setelah menyadari betapa berbahayanya menyerahkan data pribadi kepada orang lain, sekalipun anggota keluarga sendiri.
Suatu sore, ketika sedang membersihkan ruang kerja, aku menemukan sebuah kotak kecil di belakang lemari.
Kotak itu berisi foto-foto lama pernikahanku dengan Fikri.
Di bawahnya terselip sepucuk surat dari almarhum ayah.
Tulisan tangannya masih sangat kukenal.
Nadira, Ayah tahu kamu bekerja keras untuk memiliki rumah sendiri. Jangan pernah merasa bersalah karena menjaga sesuatu yang kamu bangun dengan jujur. Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan meminta kamu kehilangan harga diri demi membuktikan cinta.
Aku duduk di lantai sambil menangis.
Bertahun-tahun aku mengira menjadi istri yang baik berarti harus selalu memahami kesulitan suami, membantu usahanya, dan mengalah demi menjaga rumah tangga.
Namun, ternyata ada perbedaan besar antara mendukung seseorang dan membiarkan diri dimanfaatkan.
Malam itu, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kusimpan.
Pengirimnya Salsa.
Kak Nadira, aku mau mengucapkan terima kasih karena Kakak datang hari itu. Kalau tidak, mungkin sekarang aku sudah menikah dengan laki-laki yang membohongi kita berdua.
Aku membaca pesannya perlahan.
Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.
Ayah sedang bekerja sama dengan pengacara untuk menyelesaikan masalah uang itu. Aku juga sudah memutuskan tidak melanjutkan hubungan dengan Fikri.
Aku membalas singkat.
Semoga kamu menemukan kebahagiaan yang tidak dibangun di atas kebohongan orang lain.
Setelah mengirim pesan, aku meletakkan ponsel dan berjalan menuju jendela.
Lampu-lampu rumah mulai menyala. Dari dapur terdengar suara Ibu dan Laras bercakap sambil menyiapkan makan malam.
Rumah itu masih berdiri seperti sebelumnya.
Dindingnya sama. Halamannya sama. Bahkan bunga melati yang dulu kutanam bersama Fikri masih tumbuh di dekat pagar.
Tetapi aku bukan lagi perempuan yang sama.
Dulu aku pulang lebih cepat karena ingin memberi kejutan kepada suamiku.
Aku justru menemukan pengkhianatan yang hampir merenggut rumah dan seluruh hasil kerja kerasku.
Namun, ada satu kenyataan yang akhirnya kupahami.
Hari ketika aku memergoki akad nikah itu bukanlah hari ketika hidupku hancur.
Hari itu justru menjadi awal ketika aku berhenti mempercayakan masa depanku kepada orang yang diam-diam sedang menghancurkannya.
Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun menikah, aku menutup pintu rumah pada malam hari tanpa takut ada seseorang di dalamnya yang sedang merencanakan pengkhianatan berikutnya.
