Aku menatap nama dr. Mahendra Prakoso yang tercantum di bagian akhir dokumen itu.

Dadaku terasa sesak.
Mahendra adalah psikiater yang pernah kutemui dua kali setelah melahirkan Aluna. Saat itu aku mengalami kesulitan tidur dan kecemasan karena harus menyesuaikan diri dengan pekerjaan sekaligus merawat bayi.
Namun, setelah beberapa kali konsultasi, kondisiku membaik.
Tidak pernah ada diagnosis yang menyatakan aku tidak mampu merawat anak.
Lalu mengapa namanya muncul sebagai saksi dalam dokumen perceraian yang bahkan belum pernah kubicarakan dengan Bagas?
Aku segera memperbesar halaman tersebut.
Di bagian bawah terdapat kalimat yang membuat tanganku gemetar.
Istri menunjukkan ketidakstabilan emosi yang berpotensi memengaruhi pengasuhan anak.
Aku menutup laptop.
Selama bertahun-tahun, Bagas selalu mengatakan bahwa dia bangga memiliki istri yang mandiri.
Dia tidak pernah melarangku bekerja.
Bahkan ketika aku harus bepergian ke luar kota, dia selalu mengatakan akan menjaga Aluna.
Sekarang aku mulai memahami mengapa selama beberapa bulan terakhir dia begitu sering bertanya kapan aku akan kembali melakukan perjalanan dinas.
Ternyata jadwal pekerjaanku mungkin sedang dikumpulkan untuk digunakan melawanku.
Aku segera menghubungi Dinda, sahabatku yang bekerja sebagai pengacara keluarga.
“Nggak peduli jam berapa sekarang, Din. Aku butuh bantuan.”
Dinda mendengarkan penjelasanku tanpa menyela.
Setelah melihat salinan dokumen dan rekaman yang kukirim, suaranya langsung berubah serius.
“Rena, pertama-tama pastikan Aluna aman. Besok bawa dia diperiksa dokter. Kita juga perlu membuat laporan mengenai kejadian di balkon.”
Aku mengangguk.
“Bagaimana dengan tanda tangan palsu itu?”
“Jangan panik. File PDF yang kamu temukan belum tentu merupakan dokumen yang telah diajukan atau diterima pengadilan. Kita harus memeriksa sumbernya dan memastikan apakah ada proses hukum yang benar-benar berjalan.”
Aku menarik napas panjang.
Dinda melanjutkan.
“Dan kondisi psikologismu tidak bisa dibuktikan hanya dengan pernyataan sepihak. Kalau dokter itu benar-benar membuat keterangan tanpa pemeriksaan yang sah, kita akan meminta klarifikasi.”
Malam itu aku tidak tidur.
Aku duduk di samping Aluna sambil memperhatikan napasnya.
Beberapa kali putriku terbangun dan memanggil namaku.
“Bunda jangan pergi lagi.”
Aku memeluknya erat.
“Bunda di sini, Sayang.”
Dia menggenggam ujung bajuku.
“Nenek bilang kalau Aluna nakal, nanti Bunda nggak boleh pulang.”
Air mataku langsung jatuh.
“Sejak kapan Nenek bilang begitu?”
Aluna menunduk.
“Sudah lama.”
Aku mengusap rambutnya.
“Dengar Bunda baik-baik. Nggak ada yang boleh mengunci kamu di balkon atau membuat kamu takut supaya mengaku melakukan sesuatu.”
Aluna mengangguk.
Kemudian dia berbisik.
“Bunda, aku benar-benar nggak merusak baju Nenek.”
“Aku percaya kamu.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Aluna tersenyum kecil.
Keesokan paginya, aku membawa putriku ke dokter anak.
Dokter mencatat kondisi fisiknya, memeriksa bekas tekanan tali karton di leher, serta menanyakan keluhan setelah kehujanan.
Aku juga meminta pendampingan psikolog anak karena Aluna tampak sangat ketakutan setiap kali mendengar suara orang membentak.
Setelah itu, bersama Dinda, aku melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang dan meminta petunjuk mengenai perlindungan bagi Aluna.
Rekaman jam tangan kusimpan dalam bentuk asli, lengkap dengan waktu perekaman dan data yang masih tersedia di aplikasi.
Namun, ketika kami memeriksa isi rekaman lebih teliti, Dinda menemukan sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatianku.
“Ren, dengarkan bagian ini.”
Dia memutar rekaman ketiga.
Suara Fina terdengar jelas.
“Kalau Rena percaya sama Aluna, bagaimana?”
Kemudian suara Bagas menjawab.
“Bukan Rena yang harus percaya. Orang pengadilan.”
Dinda menghentikan rekaman.
“Kamu sadar apa artinya?”
Aku mengangguk.
“Mereka sengaja menciptakan kejadian untuk dijadikan bukti.”
“Setidaknya rekaman itu mengarah pada dugaan tersebut. Tapi kita harus memastikan siapa yang berada di rumah dan bagaimana rangkaian kejadiannya.”
Aku terdiam.
Bagas seharusnya sedang berada di kantor saat Aluna dikunci di balkon.
Namun, suaranya terdengar sangat dekat dalam rekaman.
Aku langsung membuka aplikasi kamera keamanan rumah yang masih terhubung dengan ponselku.
Rekaman lorong menunjukkan Bagas masuk melalui pintu samping pukul 15.42.
Dia berada di dalam rumah selama hampir empat puluh menit.
Kemudian keluar sebelum aku tiba.
Aku merasa darahku mendidih.
Berarti suamiku bukan sekadar mengetahui kejadian itu dari ibunya.
Dia datang langsung ke rumah ketika putrinya sedang dipermalukan.
Aku segera mengirimkan catatan waktu tersebut kepada Dinda.
Siang harinya, Bagas akhirnya menelepon.
“Rena, kamu bawa Aluna ke mana?”
Aku menjawab tenang.
“Tempat yang aman.”
“Kamu nggak boleh membawa anak kita pergi tanpa memberitahuku!”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
“Mas, kemarin Aluna dikunci di balkon saat hujan. Kamu tahu?”
Bagas terdiam.
“Sudah kubilang, itu urusan disiplin.”
“Disiplin dengan membuat anak lima tahun kehujanan dan memakai papan bertuliskan aku perusak?”
“Rena, jangan dramatis!”
Aku menarik napas panjang.
“Mas, aku sudah mendengar rekamannya.”
Sambungan mendadak sunyi.
Aku melanjutkan.
“Termasuk suaramu yang membicarakan pengadilan.”
Bagas tidak menjawab.
“Dan aku sudah menemukan dokumen perceraian yang menggunakan tanda tanganku.”
Akhirnya dia berkata pelan.
“Kamu membuka folder pribadiku?”
Aku memejamkan mata.
Bukan pertanyaan tentang Aluna.
Bukan permintaan maaf.
Dia justru ingin mengetahui bagaimana aku menemukan dokumen tersebut.
“Mas, siapa yang membuat tanda tangan palsu itu?”
Bagas menarik napas tajam.
“Kita bicarakan di rumah.”
“Tidak. Kalau mau bicara, kita bertemu dengan pendamping.”
Dia langsung menutup telepon.
Sore itu, Dinda membantuku menghubungi klinik tempat dr. Mahendra pernah praktik.
Aku meminta klarifikasi mengenai surat keterangan yang mencantumkan namanya.
Dua hari kemudian, setelah memeriksa dokumen yang kami tunjukkan, pihak klinik menyampaikan bahwa mereka tidak menemukan surat keterangan resmi dengan nomor dan format yang sama dalam catatan penerbitan mereka.
Kami kemudian bertemu dr. Mahendra secara langsung.
Pria itu tampak terkejut ketika membaca dokumen tersebut.
“Bu Rena, saya tidak pernah membuat pernyataan seperti ini.”
Aku menatapnya.
“Dokter yakin?”
“Sangat yakin. Saya pernah menangani konsultasi Ibu beberapa tahun lalu, tetapi tidak pernah melakukan evaluasi untuk menilai kemampuan pengasuhan Ibu dalam perkara keluarga.”
Dinda menunjuk bagian tanda tangan.
“Apakah ini tanda tangan Dokter?”
Mahendra menggeleng.
“Bentuknya menyerupai tanda tangan saya, tetapi saya tidak pernah menandatangani dokumen ini.”
Aku merasa kedua kakiku melemas.
Jadi Bagas dan keluarganya diduga bukan hanya memalsukan tanda tanganku.
Mereka juga menggunakan nama seorang dokter untuk menciptakan kesan bahwa aku tidak mampu merawat Aluna.
Namun, pertanyaan terbesar masih belum terjawab.
Mengapa Bagas begitu ingin mengambil pengasuhan Aluna?
Jawabannya mulai terlihat ketika Dinda memperoleh informasi mengenai rencana perkara yang sedang dipersiapkan pihak Bagas.
Ternyata suamiku telah berkonsultasi dengan pengacara keluarga hampir dua bulan sebelumnya.
Dalam rancangan yang belum diajukan itu, Bagas meminta pengasuhan utama Aluna dengan alasan pekerjaanku membuatku sering bepergian.
Namun, ada satu lampiran yang membuatku terdiam.
Sebuah rencana pemindahan tempat tinggal Aluna.
Lokasinya bukan rumah kami di Surabaya.
Melainkan sebuah apartemen di Jakarta.
Aku mengerutkan kening.
“Kenapa Aluna mau dibawa ke Jakarta?”
Dinda menunjukkan nama pihak yang menandatangani perjanjian sewa apartemen tersebut.
Fina.
Adik kandung Bagas.
Aku langsung teringat percakapan dalam rekaman.
Fina yang menyuruh seseorang menuangkan cairan ke kebaya.
Fina yang membaca dokumen pengasuhan.
Dan sekarang Fina pula yang mengurus tempat tinggal Aluna.
Aku mulai curiga ada sesuatu yang lebih besar daripada perceraian.
Malam harinya, aku memeriksa dokumen keluarga dan keuangan bersama yang masih menjadi hak aksesku.
Di dalam folder administrasi terdapat salinan rencana pendirian sebuah usaha pendidikan anak.
Nama perusahaannya PT Lentera Tumbuh Bersama.
Pemegang sahamnya Bagas dan Fina.
Namun, ada sebuah proposal yang membuatku membeku.
Mereka sedang menyiapkan kerja sama dengan sebuah lembaga investasi untuk membuka pusat pendidikan anak di Jakarta.
Nilai kebutuhan modal awalnya hampir Rp12 miliar.
Aku tidak melihat hubungan langsung antara bisnis itu dengan Aluna.
Sampai membaca lampiran terakhir.
Di dalamnya tercantum sebuah apartemen yang dahulu dibeli menggunakan dana bersama selama perkawinan kami.
Apartemen itu direncanakan menjadi bagian dari jaminan pembiayaan usaha.
Aku langsung menghubungi Dinda.
“Din, aku menemukan alasan lain kenapa Bagas mau bercerai.”
Dinda memeriksa dokumen tersebut.
Dia kemudian menjelaskan bahwa persoalan pengasuhan anak dan pembagian harta perkawinan merupakan dua urusan hukum yang berbeda.
“Bagas tidak otomatis mendapatkan apartemen hanya karena memperoleh pengasuhan Aluna,” katanya. “Tetapi kita perlu melihat apakah dia sedang mencoba menggunakan posisi tawarnya dalam perceraian untuk memperoleh persetujuanmu atas pengaturan aset.”
Aku menatapnya.
“Jadi semua ini mungkin untuk menekan aku?”
“Itu kemungkinan yang perlu kita buktikan.”
Keesokan harinya, Bagas mengirimkan pesan.
Kalau kamu setuju Aluna tinggal bersamaku, urusan pembagian aset bisa kita selesaikan baik-baik.
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Kemudian membalas.
Aluna bukan alat tawar-menawar untuk bisnis atau pembagian harta.
Tidak ada jawaban.
Namun, malam itu sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Pengirimnya Fina.
Mbak Rena, aku mau bicara. Ada sesuatu yang belum kamu tahu.
Aku tidak langsung menjawab.
Setelah berkonsultasi dengan Dinda, kami menyepakati pertemuan di sebuah kafe dengan pendamping.
Fina datang mengenakan kemeja putih.
Wajahnya terlihat pucat.
Begitu duduk, dia langsung menangis.
“Mbak, aku salah.”
Aku menatapnya tanpa ekspresi.
“Kamu yang merusak kebaya Bu Siska?”
Fina mengangguk.
Aku merasa dadaku semakin sesak.
“Dan kamu yang menyalahkan Aluna?”
Dia kembali mengangguk.
“Kenapa?”
Fina mengusap air mata.
“Bagas bilang kami perlu menunjukkan bahwa Mbak sering meninggalkan Aluna tanpa pengawasan.”
Aku menggeleng.
“Dengan menyakiti anak lima tahun?”
Fina menangis semakin keras.
“Aku nggak menyangka Mama akan menguncinya di balkon selama itu.”
Aku menatapnya tajam.
“Tapi kamu tetap ikut membuat kebohongan.”
Dia menunduk.
Kemudian mengeluarkan sebuah amplop.
“Ini sebenarnya alasan Bagas ingin cepat-cepat menyelesaikan perceraian.”
Aku membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat surat penawaran pembiayaan untuk usaha pendidikan yang sedang disiapkan Bagas dan Fina.
Namun, ada satu klausul yang membuatku terdiam.
Pencairan dana mensyaratkan kepastian kepemilikan atau persetujuan pemilik atas apartemen yang akan dijadikan agunan.
Aku menatap Fina.
“Jadi Bagas membutuhkan persetujuanku untuk menggunakan apartemen itu?”
Fina mengangguk.
“Dia bilang kalau Mbak takut kehilangan Aluna, Mbak mungkin akan lebih mudah menyetujui pembagian aset sesuai usulnya.”
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
Sekarang semuanya mulai terhubung.
Kebaya yang sengaja dirusak.
Aluna yang dituduh bersalah.
Rekaman tentang pengasuhan anak.
Surat keterangan dokter yang diduga palsu.
Dan dokumen perceraian dengan tanda tangan atas namaku.
Semua itu diduga disiapkan untuk menciptakan tekanan agar aku menyetujui pengaturan yang menguntungkan Bagas.
Namun, ada satu hal yang membuatku jauh lebih marah.
Mereka menggunakan Aluna.
Anak kecil yang belum memahami apa pun tentang perceraian atau harta.
Aku menatap Fina.
“Kenapa kamu baru bicara sekarang?”
Dia menangis.
“Karena kemarin aku mendengar Aluna memanggil Bunda sambil menangis di balkon. Aku nggak bisa tidur sejak itu.”
Aku menarik napas panjang.
“Rasa bersalahmu tidak menghapus apa yang kamu lakukan.”
Fina mengangguk.
“Aku tahu. Aku bersedia memberikan keterangan.”
Beberapa minggu berikutnya, pemeriksaan terhadap dugaan pemalsuan dokumen dan perlakuan terhadap Aluna terus berjalan.
Aku memberikan seluruh bukti melalui jalur yang sesuai.
Rekaman jam tangan.
Foto kondisi balkon.
Catatan pemeriksaan dokter.
Dokumen yang mencantumkan tanda tangan palsu.
Serta pesan-pesan mengenai rencana pembagian aset.
Aku juga mengajukan proses perceraian dan pengaturan pengasuhan dengan pendampingan hukum.
Namun, aku tidak meminta Aluna memilih antara ayah dan ibunya.
Aku hanya ingin memastikan setiap keputusan dibuat berdasarkan keselamatan dan kepentingan terbaiknya.
Bu Siska beberapa kali mencoba menghubungiku.
Aku belum bersedia bertemu.
Sementara Bagas akhirnya datang ke kantor pengacara untuk memberikan penjelasan.
Dia duduk di hadapanku dengan wajah lelah.
“Rena, aku menyesal.”
Aku menatapnya.
“Menyesal karena semuanya terbongkar atau karena Aluna terluka?”
Bagas terdiam.
Aku melanjutkan.
“Mas, kamu boleh tidak lagi mencintaiku. Kamu boleh ingin bercerai. Tapi kenapa harus membuat anak kita merasa dirinya anak nakal?”
Air mata Bagas jatuh.
“Aku panik. Bisnisku hampir gagal sebelum dimulai.”
Aku menggeleng.
“Dan kamu pikir pengasuhan Aluna bisa dijadikan alat untuk menyelamatkannya?”
Dia menunduk.
“Aku salah.”
Aku menarik napas panjang.
“Masalahnya, Aluna sekarang takut kalau membuat kesalahan kecil, dia akan dikunci di luar rumah lagi.”
Bagas menangis semakin keras.
Aku tidak merasa puas melihatnya menangis.
Aku justru merasa sedih karena pria yang seharusnya menjadi tempat aman bagi putri kami telah ikut menciptakan ketakutan terbesar dalam hidupnya.
Beberapa bulan kemudian, kondisi Aluna mulai membaik setelah mendapat pendampingan.
Dia kembali ceria.
Mulai berani bermain bersama teman-temannya.
Dan tidak lagi menangis setiap kali hujan turun.
Namun, ada satu kebiasaan yang belum hilang.
Setiap malam sebelum tidur, dia selalu memastikan pintu balkon kamar terkunci dari dalam.
Suatu malam, aku duduk di samping tempat tidurnya.
“Aluna, Bunda mau tanya sesuatu.”
Dia menoleh.
“Apa, Bun?”
“Kalau kamu melakukan kesalahan, menurut kamu apa yang harus Bunda lakukan?”
Aluna berpikir beberapa saat.
Kemudian menjawab pelan.
“Marah?”
Aku menggeleng.
“Bunda boleh menegur dan membantu kamu memperbaiki kesalahan. Tapi Bunda nggak akan mengunci kamu di luar rumah atau membuat kamu memakai tulisan yang mempermalukanmu.”
Aluna menatapku.
“Walaupun aku nggak sengaja merusak barang?”
Aku tersenyum.
“Walaupun begitu.”
Dia langsung memelukku.
“Aku sayang Bunda.”
Aku mencium keningnya.
“Bunda juga sayang Aluna.”
Beberapa waktu kemudian, Dinda menghubungiku.
Ada perkembangan baru dalam pemeriksaan dokumen perceraian yang sebelumnya kutemukan di folder keluarga.
Ternyata file PDF tersebut belum pernah diajukan secara resmi kepada pengadilan.
Namun, data pemeriksaan menunjukkan bahwa dokumen itu disusun menggunakan salinan tanda tanganku dari sebuah formulir lama.
Sementara keterangan atas nama dr. Mahendra tidak memiliki dasar penerbitan yang sah.
Aku mengembuskan napas.
Setidaknya sekarang ada kejelasan bahwa dokumen tersebut tidak otomatis membuktikan aku menyetujui perceraian atau dianggap tidak layak mengasuh Aluna.
Namun, aku masih harus menghadapi persoalan hubungan keluargaku.
Suatu sore, Aluna bertanya ketika kami sedang menggambar bersama.
“Bun, Ayah masih sayang Aluna?”
Aku terdiam.
Kemudian menjawab dengan hati-hati.
“Ayah punya tanggung jawab untuk menyayangi dan menjaga Aluna. Tapi Ayah juga pernah melakukan kesalahan besar.”
Aluna menunduk.
“Aku salah nggak?”
Aku langsung memeluknya.
“Nggak, Sayang. Kamu nggak salah.”
Dia mengangguk.
Kemudian menunjuk gambar rumah yang baru dibuatnya.
Di dalam gambar itu ada dua orang.
Aku dan Aluna.
Namun, di bagian kanan halaman terdapat sebuah pintu kecil.
Aku mengerutkan kening.
“Itu pintu apa?”
Aluna tersenyum.
“Pintu balkon.”
Aku merasa dadaku sesak.
“Kenapa digambar di situ?”
Dia menjawab polos.
“Biar kalau ada yang dikunci, Bunda bisa buka.”
Air mataku langsung jatuh.
Aku menggenggam tangannya.
“Aluna, mulai sekarang rumah kita nggak akan punya tempat untuk menghukum orang dengan cara begitu.”
Dia tersenyum.
Kemudian mengambil pensil warna biru.
“Kalau begitu, aku gambar jendela yang besar saja, Bun.”
Aku memperhatikan anakku menggambar.
Untuk pertama kalinya, dia tidak lagi menggambarkan balkon sebagai tempat menakutkan.
Dia menggambarnya sebagai bagian dari rumah yang bisa dilihat dari dalam, dengan pintu yang terbuka.
Malam itu, setelah Aluna tertidur, aku membuka kembali rekaman jam tangan merah mudanya.
Aku mendengarkan suara tangisnya.
Suara Fina.
Suara Bu Siska.
Dan suara Bagas yang membicarakan pengadilan.
Namun, kali ini aku tidak hanya mengingat rasa marah.
Aku juga mengingat satu hal.
Seandainya Aluna tidak menekan tombol SOS, mungkin aku tidak akan pernah mengetahui bagaimana rencana itu disusun.
Aku mungkin hanya menerima penjelasan bahwa putriku merusak kebaya.
Aku mungkin akan diminta meminta maaf kepada keluarga suamiku.
Dan aku mungkin tidak pernah mengetahui bahwa seseorang telah menyiapkan dokumen palsu untuk menekan hakku sebagai ibu.
Aku menutup aplikasi tersebut.
Kemudian meletakkan jam tangan Aluna di samping tempat tidurnya.
Benda kecil berwarna merah muda itu telah menyimpan suara yang tidak mampu diucapkan anakku ketika sedang ketakutan.
Namun, aku berharap suatu hari nanti Aluna tidak lagi membutuhkan jam tersebut untuk merasa aman.
Karena anak kecil seharusnya bisa meminta pertolongan tanpa takut tidak dipercaya.
Dan seorang ibu tidak seharusnya harus membuktikan dengan rekaman bahwa putrinya berhak diperlakukan dengan kasih sayang.
Aku mematikan lampu kamar.
Dari tempat tidurnya, Aluna tiba-tiba memanggil pelan.
“Bunda?”
Aku menoleh.
“Iya, Sayang?”
“Besok Bunda masih di sini?”
Aku berjalan kembali dan menggenggam tangannya.
“Iya. Besok Bunda masih di sini.”
Aluna tersenyum, lalu memejamkan mata.
Aku duduk di sampingnya sampai napasnya kembali teratur.
Hari ketika aku pulang lebih cepat dari Makassar, aku mengira kejutan terbesarku adalah menemukan anakku dikunci di balkon.
Namun, ternyata yang jauh lebih mengerikan adalah mengetahui bahwa orang-orang yang seharusnya melindunginya justru menggunakan rasa takut dan penderitaannya untuk kepentingan mereka sendiri.
Aku mungkin tidak bisa menghapus seluruh kenangan buruk itu.
Tetapi aku bisa memastikan bahwa Aluna tidak lagi harus menghadapi ketakutannya sendirian.
Karena tidak ada bisnis, harta, atau kemenangan dalam perceraian yang lebih berharga daripada rasa aman seorang anak.
Dan apa pun yang terjadi pada masa depan pernikahanku, satu hal tidak akan pernah berubah.
Aluna tidak perlu menjadi anak yang sempurna untuk pantas dicintai.
Dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
