TELLER BANK MENAHAN KARTUKU DAN DIAM-DIAM MEMPERINGATKANKU AGAR TIDAK

“ADA JENAZAH DI BAWAH KAMAR TIDURKU? AYAH, SIAPA YANG DIKUBUR DI SANA?”

Aku tidak sadar telah berteriak sampai Siska menggenggam tanganku.

“Bu Laras, jangan keluar dulu. Kami sedang meminta petugas keamanan mengamankan area.”

Dari balik pintu terdengar suara Arga semakin keras.

“Laras! Buka sekarang!”

Namun, beberapa saat kemudian, suara lain menyahut.

“Jangan sentuh anak saya!”

Aku membeku.

Suara itu.

Lebih berat daripada yang kuingat, tetapi aku mengenalinya.

“Ayah?”

Siska membuka pintu setelah dua petugas keamanan memastikan Arga tidak berada di dekatnya.

Seorang pria tua berdiri beberapa langkah dariku.

Rambutnya hampir seluruhnya putih. Wajahnya dipenuhi kerutan.

Namun, ketika dia melihatku, kedua matanya langsung berkaca-kaca.

“Laras…”

Aku tidak mampu bergerak.

Pria itu perlahan mengangkat tangan kanannya.

Di jari telunjuknya terdapat bekas luka akibat terkena mesin pemotong kayu.

Aku masih ingat kejadian itu.

Waktu kecil, aku menangis karena mengira jari Ayah akan putus.

“Ayah benar-benar masih hidup?”

Dia mengangguk.

Aku langsung memeluknya.

Tangisku pecah begitu keras sampai beberapa pegawai bank menoleh.

Enam belas tahun aku datang ke makamnya.

Enam belas tahun aku merasa bersalah karena tidak sempat mengucapkan selamat tinggal.

Namun, sekarang dia berdiri di hadapanku.

Hidup.

“Ayah pergi ke mana selama ini?”

Ayah mengusap rambutku.

“Ayah akan menjelaskan semuanya. Tapi pertama-tama, kita harus menyelamatkanmu.”

Aku melepaskan pelukannya.

“Dari Arga?”

Ayah mengangguk.

“Dan dari orang yang ada di belakangnya.”

Kami kembali masuk ke ruang nasabah prioritas.

Pak Surya, kepala operasional bank, bergabung bersama seorang petugas kepatuhan.

Ayah meletakkan map biru di atas meja.

“Enam belas tahun lalu, saya menemukan transaksi pengalihan tanah keluarga yang menggunakan dokumen palsu.”

Aku menatapnya.

“Tanah Nenek di Sidoarjo?”

“Iya.”

Ayah membuka halaman pertama.

Di dalamnya terdapat salinan perjanjian kerja sama antara perusahaan milik Dimas dan seorang pengusaha properti bernama Suripto.

Aku tidak mengenal nama tersebut.

Namun, ketika melihat foto yang terlampir, jantungku langsung berdegup kencang.

Itu pria berkemeja hitam yang tadi berdiri bersama Arga di parkiran.

“Siapa dia, Yah?”

“Orang yang dahulu mengurus pembelian tanah menggunakan identitas orang lain.”

Aku mengerutkan kening.

“Lalu apa hubungannya dengan kematian Ayah?”

Ayah menunduk.

“Malam kecelakaan itu, seseorang meminta Ayah membawa dokumen asli ke Batu. Di tengah perjalanan, Ayah menyadari mobilnya sedang diikuti.”

Aku menahan napas.

“Ayah mengalami kecelakaan?”

“Mobil Ayah memang jatuh ke jurang. Tapi Ayah berhasil keluar sebelum api membesar.”

“Kenapa tidak pulang?”

Ayah memejamkan mata.

“Karena setelah kecelakaan, seseorang mendatangi tempat Ayah dirawat dan mengancam akan mencelakaimu kalau Ayah muncul kembali.”

Aku menatapnya dengan air mata mengalir.

“Dan Ayah percaya ancaman itu selama enam belas tahun?”

“Ayah melaporkannya melalui orang yang membantu menyembunyikan keberadaan Ayah. Tapi bukti yang kami miliki saat itu tidak cukup.”

Aku menggeleng.

“Ayah seharusnya memberitahuku.”

“Ayah tahu. Itu kesalahan terbesar Ayah.”

Aku ingin marah.

Namun, satu pertanyaan lain terasa jauh lebih mendesak.

“Siapa jenazah di bawah kamar tidurku?”

Ayah membuka foto sebuah rumah yang sedang direnovasi.

Aku langsung mengenalinya.

Rumahku.

Foto itu diambil ketika bangunannya belum selesai diperbaiki.

Di bagian tengah terlihat sebuah ruang penyimpanan sempit di bawah lantai kamar utama.

“Ayah pernah bekerja sebagai pengawas proyek renovasi rumah itu melalui perusahaan lain,” katanya.

Aku membeku.

“Jadi Ayah sudah mengetahui rumahku sejak awal?”

“Iya. Tapi waktu itu Ayah belum tahu kamu yang akan membelinya.”

Ayah menunjuk bagian bawah lantai.

“Di sana ada ruang bekas penampungan air yang sudah tidak digunakan.”

Aku mendekat.

“Dan di dalamnya ada jenazah?”

“Beberapa minggu lalu, seseorang mengirimkan rekaman lama kepada Ayah. Rekaman itu menunjukkan dua pria membawa benda besar terbungkus terpal menuju ruangan tersebut.”

Aku merasa mual.

“Seseorang?”

“Ayah belum tahu identitas pengirimnya.”

Pak Surya kemudian bertanya, “Apakah Bapak sudah melaporkan dugaan ini?”

Ayah mengangguk.

“Saya sudah menyerahkan informasi kepada pihak kepolisian. Tapi saya ingin Laras tidak kembali ke rumah sebelum lokasi diperiksa.”

Aku menatap foto itu dengan seluruh tubuh gemetar.

Selama delapan tahun, aku tidur tepat di atas ruangan tersebut.

Dan Arga selalu melarangku mengganti lantai kamar.

Sekarang alasannya mulai terlihat mengerikan.

Sore itu, aku memberikan keterangan kepada polisi bersama Ayah.

Aku menyerahkan pesan Arga, informasi transaksi Rp2,4 miliar, serta foto dan dokumen yang dibawa Ayah.

Aku juga menjelaskan bahwa suamiku pernah menolak keras ketika aku ingin merenovasi lantai kamar.

Petugas kemudian melakukan pemeriksaan sesuai prosedur.

Aku tidak ikut masuk ketika tim memeriksa bagian bawah kamar utama.

Aku menunggu di rumah Maya, sahabatku, bersama Ayah.

Pukul sembilan malam, telepon Ayah berdering.

Dia mendengarkan beberapa saat.

Kemudian wajahnya berubah.

“Laras…”

Aku langsung berdiri.

“Ada apa?”

“Mereka menemukan sesuatu.”

Kakiku terasa lemas.

“Apa?”

Ayah menarik napas panjang.

“Kerangka manusia.”

Aku langsung terduduk.

Selama beberapa detik, aku tidak mampu berbicara.

Rumah yang selama ini kuanggap sebagai tempat paling aman ternyata menyimpan rahasia kematian seseorang.

Namun, siapa orang tersebut?

Jawabannya baru mulai terungkap beberapa minggu kemudian.

Pemeriksaan forensik menunjukkan bahwa kerangka itu berasal dari seorang laki-laki dewasa.

Identitasnya belum langsung dapat dipastikan.

Namun, di dekat lokasi ditemukan sebuah cincin dengan ukiran huruf S.

Ayah langsung terdiam ketika mendengar informasi itu.

“Suripto,” bisiknya.

Aku menatapnya.

“Bukankah Suripto tadi pagi ada bersama Arga?”

Ayah menggeleng.

“Bukan pria itu. Suripto yang Ayah kenal enam belas tahun lalu memiliki seorang adik bernama Satrio.”

Aku membeku.

“Jadi siapa pria berkemeja hitam di parkiran?”

“Ayah menduga dia Suripto. Sedangkan cincin itu mungkin milik Satrio.”

Pemeriksaan berikutnya kemudian mengarah kepada seorang pria bernama Satrio yang dilaporkan hilang hampir sembilan tahun sebelumnya.

Dia diketahui pernah bekerja sebagai pengurus transaksi properti.

Setelah pencocokan data keluarga dan pemeriksaan lebih lanjut, identitas kerangka akhirnya dipastikan sebagai Satrio.

Aku menangis ketika mendengar hasilnya.

Bukan karena mengenalnya.

Melainkan karena selama bertahun-tahun, seseorang kehilangan anggota keluarganya sementara aku hidup tanpa mengetahui apa yang tersembunyi di bawah lantai rumahku.

Namun, kejutan terbesar belum selesai.

Tim pemeriksa menemukan bahwa Satrio pernah terlibat dalam pengurusan transaksi tanah di Sidoarjo.

Dia juga tercatat sebagai salah satu pihak yang mengetahui aliran dana dari perusahaan milik Dimas.

Aku langsung teringat tiga transfer ke rekeningku.

Rp900 juta.

Rp700 juta.

Rp800 juta.

Semuanya menggunakan kode H-16.

Ketika unit kepatuhan bank memeriksa dokumen pendukung yang dapat mereka akses, ditemukan bahwa ketiga transfer tersebut berkaitan dengan sebuah perjanjian penyelesaian kewajiban lama.

Namun, aku tidak pernah menjadi pihak dalam perjanjian tersebut.

Nama dan rekeningku ternyata digunakan sebagai calon penerima pembayaran.

Aku menatap Pak Surya dengan bingung.

“Kenapa harus rekening saya?”

Dia menjawab hati-hati.

“Hal itu masih perlu diperiksa. Namun, ada indikasi rekening Ibu digunakan agar aliran dana terlihat sebagai pembayaran yang sah kepada anggota keluarga yang dianggap berhak.”

Aku merasa seluruh tubuh dingin.

Jadi deposito Rp2,4 miliar itu bukan uang hasil penjualan tanah Nenek seperti yang dikatakan Arga.

Uang tersebut mungkin berkaitan dengan transaksi yang sedang diperiksa.

Dan jika aku mencairkannya lalu mengirimkan uang itu ke rekening yang diberikan Arga, namaku akan tercatat sebagai bagian dari aliran dana tersebut.

Aku kembali teringat pesan Siska.

Jangan pulang bersama orang yang menunggu di parkiran.

Ternyata peringatan sederhana itu telah menyelamatkanku dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Beberapa hari kemudian, Arga diminta memberikan keterangan mengenai transaksi tersebut serta hubungannya dengan Dimas dan Suripto.

Aku tidak mengetahui seluruh hasil pemeriksaan.

Namun, dari dokumen yang diperoleh melalui proses resmi, ditemukan bahwa perusahaan Dimas pernah membayar sejumlah uang kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan pengurusan tanah lama.

Beberapa dokumen memiliki identitas dan tanda tangan yang dipersoalkan keasliannya.

Sementara itu, penyelidikan atas kematian Satrio terus berjalan.

Aku tidak ingin menebak siapa pelakunya sebelum ada bukti yang jelas.

Namun, satu hal sudah pasti.

Arga mengetahui jauh lebih banyak tentang rumah kami daripada yang pernah dia ceritakan.

Ketika aku akhirnya bertemu dengannya di kantor pengacara, wajahnya terlihat sangat lelah.

“Laras, aku tidak tahu ada jenazah di sana.”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu, kenapa kamu selalu melarangku merenovasi lantai kamar?”

Dia terdiam.

“Jawab, Arga.”

Dia menunduk.

“Dimas bilang bagian bawah rumah itu menyimpan dokumen penting milik perusahaan. Aku diminta tidak membiarkan siapa pun membongkarnya.”

Dadaku terasa sesak.

“Dan kamu menurut begitu saja?”

Arga mengusap wajah.

“Aku takut kehilangan bantuan keuangan dari Mas Dimas.”

Aku menatapnya dengan kecewa.

“Jadi selama delapan tahun, kamu membiarkan aku tinggal di rumah yang menyimpan ruang rahasia hanya karena takut kehilangan uang?”

Dia menangis.

“Aku tidak tahu ada orang meninggal di sana.”

“Aku tidak tahu apakah kamu mengatakan seluruh kebenaran.”

Arga menunduk semakin dalam.

Aku melanjutkan.

“Dan kenapa kamu memaksaku mencairkan deposito?”

Dia menjawab pelan.

“Dimas bilang uang itu harus segera dipindahkan sebelum pemeriksaan bank selesai.”

Aku menggeleng.

“Jadi kamu bersedia menggunakan rekeningku untuk menyelesaikan masalah orang lain?”

Arga tidak menjawab.

Aku berdiri.

“Mulai sekarang, semua urusan kita melalui pengacara.”

Kami berpisah tanpa pelukan.

Aku kemudian mengajukan gugatan cerai.

Bukan karena aku ingin membalas dendam.

Melainkan karena aku tidak lagi merasa aman hidup bersama seseorang yang selama bertahun-tahun menyembunyikan begitu banyak hal penting dariku.

Sementara itu, Ayah mulai menjalani pemeriksaan dan pemulihan dokumen identitasnya.

Status kematian yang selama ini tercatat atas namanya harus diperbaiki melalui prosedur yang berlaku.

Prosesnya tidak mudah.

Ada banyak pertanyaan mengenai kecelakaan lama dan alasan dia tidak kembali.

Aku pun belum mampu memaafkan keputusannya sepenuhnya.

Suatu sore, kami duduk bersama di sebuah taman di Surabaya.

Ayah membawa dua cangkir teh hangat.

“Laras, kamu masih marah kepada Ayah?”

Aku terdiam cukup lama.

“Iya.”

Ayah mengangguk.

“Ayah mengerti.”

Aku menatapnya.

“Enam belas tahun, Yah. Aku menjalani wisuda tanpa Ayah. Aku menikah tanpa Ayah. Aku menangis di makam Ayah setiap tahun.”

Air mataku jatuh.

“Dan ternyata Ayah masih hidup.”

Ayah menunduk.

“Ayah tidak bisa mengembalikan tahun-tahun itu.”

Aku menggeleng sambil menangis.

“Aku tahu.”

Dia menggenggam tanganku.

“Tapi kalau kamu mengizinkan, Ayah ingin menggunakan waktu yang masih tersisa untuk mengenalmu lagi.”

Aku memandang wajahnya.

Wajah yang telah berubah karena usia.

Namun, matanya masih sama.

Aku akhirnya mengangguk.

“Pelan-pelan saja, Yah.”

Ayah tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Pelan-pelan.”

Beberapa bulan kemudian, rumah yang dulu kutinggali bersama Arga tidak lagi menjadi tempat tinggalku.

Status dan persoalan hukumnya masih ditangani melalui jalur resmi.

Aku memilih menyewa apartemen kecil dekat tempat kerja.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa bisa tidur tanpa takut ada rahasia yang tersembunyi di bawah lantai.

Suatu malam, Ayah datang membawakan sebuah kotak kayu.

“Apa ini?”

“Barang yang Ayah simpan sejak kamu kecil.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat beberapa foto lama.

Foto aku belajar naik sepeda.

Foto ulang tahunku yang ketujuh.

Dan sebuah gantungan kunci kayu berbentuk burung.

Aku langsung membeku.

Bentuknya sama persis dengan gantungan yang kulihat di tangan Ayah ketika dia datang ke bank.

Aku mengangkat wajah.

“Kenapa Ayah punya dua gantungan seperti ini?”

Ayah tersenyum sedih.

“Dulu kamu membuat dua gantungan dari kayu saat mengikuti kegiatan sekolah.”

Aku mencoba mengingat.

Perlahan, sebuah kenangan muncul.

Aku pernah membuat dua burung kayu kecil.

Satu untuk Ayah.

Satu untuk Ibu.

Aku menatap gantungan tersebut dengan mata berkaca-kaca.

“Jadi yang Ayah bawa ke bank…”

“Itu milik Ayah. Kunci rumahmu dipasangkan ke sana setelah seseorang menyerahkan salinan kunci dan informasi mengenai rumah itu kepada Ayah.”

Aku terdiam.

“Siapa orang itu?”

Ayah menarik napas panjang.

“Seseorang yang dulu bekerja untuk Dimas. Dia takut memberikan keterangan secara terbuka, tetapi sudah menyerahkan informasi melalui pihak yang berwenang.”

Aku mengangguk perlahan.

Sekarang aku memahami mengapa Ayah sengaja mengangkat gantungan kunci itu di depan kamera.

Dia ingin memastikan aku mengenalinya.

Bukan hanya sebagai pria tua yang wajahnya menyerupai ayahku.

Melainkan sebagai seseorang yang masih menyimpan bagian kecil dari masa kecil kami.

Aku memeluknya erat.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah enam belas tahun, aku makan malam bersama Ayah.

Kami tidak membicarakan uang Rp2,4 miliar.

Tidak membicarakan Arga.

Tidak membicarakan rumah dengan ruang tersembunyi.

Kami hanya bercerita tentang hal-hal sederhana.

Makanan kesukaanku.

Pekerjaanku.

Kehidupan yang telah kulewati tanpa kehadirannya.

Aku tahu masih banyak pertanyaan yang harus dijawab.

Aku juga tahu proses hukum mengenai kematian Satrio dan transaksi tanah belum selesai.

Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa harus menghadapi semuanya seorang diri.

Aku memandang Ayah yang sedang menuangkan teh ke cangkirku.

Kemudian tersenyum kecil.

Selama enam belas tahun, aku mengira kehilangan Ayah adalah akhir dari sebuah cerita.

Ternyata kisah itu belum benar-benar selesai.

Namun, kepulangannya tidak otomatis menghapus seluruh luka.

Kebenaran tetap harus diperiksa.

Kesalahan tetap harus dipertanggungjawabkan.

Dan kepercayaan harus dibangun kembali melalui tindakan.

Aku menggenggam cangkir teh hangat itu.

Kemudian berkata pelan.

“Ayah, mulai sekarang jangan menghilang lagi.”

Ayah menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Tidak, Laras. Ayah tidak akan pergi tanpa memberitahumu lagi.”

Aku tersenyum.

Karena akhirnya aku memahami bahwa rumah yang aman bukan selalu rumah yang paling besar atau paling mahal.

Rumah yang aman adalah tempat seseorang tidak perlu hidup dalam kebohongan.

Dan setelah bertahun-tahun tidur di atas sebuah rahasia yang mengerikan, aku akhirnya menemukan tempat untuk memulai kehidupan baru.

Bukan di rumah lama yang dipenuhi ketakutan.

Melainkan di tengah orang-orang yang bersedia mengatakan kebenaran, sekalipun kebenaran itu menyakitkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang