Aku menatap laporan itu berulang kali, berharap ada kesalahan pada sistem.

Bagas Adiwijaya.
Nama yang selama delapan bulan terakhir hanya kulihat di batu nisan dan dokumen warisan keluarga.
Sekarang namanya muncul sebagai pemberi persetujuan transaksi Rp4,8 miliar yang baru saja terjadi.
“Pak Hendra,” kataku perlahan, “siapa yang masih memiliki akses ke akun Om Bagas?”
Pria itu mengusap keringat di dahinya.
“Seharusnya tidak ada, Bu. Semua akses almarhum sudah dinonaktifkan setelah beliau meninggal.”
“Seharusnya?”
Pak Hendra menunduk.
Aku meletakkan laporan tersebut di atas meja.
“Hubungi tim audit internal dan keamanan informasi kantor pusat. Sekarang.”
Reza tiba-tiba menyela.
“Bu Kirana, mungkin cuma kesalahan sistem. Kita nggak perlu memperbesar masalah ini.”
Aku menatapnya.
“Empat miliar delapan ratus juta rupiah keluar dari rekening perusahaan memakai akun orang meninggal, dan menurutmu itu kesalahan kecil?”
Reza langsung terdiam.
Melisa yang sejak tadi menangis mendadak mengangkat tangan.
“Bu… saya tahu sesuatu.”
Semua orang menoleh.
Dia menatap Reza dengan ketakutan.
“Setiap malam Jumat, Pak Reza selalu menyuruh saya mencetak laporan penjualan tambahan.”
“Melisa!” bentak Reza.
Aku mengangkat tangan untuk menghentikannya.
“Lanjutkan.”
“Laporan itu berbeda dari laporan resmi. Ada transaksi biaya prioritas, deposit pelanggan, dan pembelian jam tangan yang tidak pernah masuk sistem kasir utama.”
“Ke mana uangnya?”
Melisa menggeleng.
“Saya cuma disuruh mencatat. Katanya uang itu masuk ke rekening operasional khusus.”
Aku kembali menatap Reza.
“Rekening siapa?”
Reza tidak menjawab.
Aku meminta Pak Hendra memanggil petugas keamanan untuk mendampingi pemeriksaan dan memastikan tidak ada barang atau dokumen yang dipindahkan sembarangan. Seluruh perangkat tetap harus diamankan melalui prosedur resmi agar bukti digital tidak rusak.
Lima belas menit kemudian, Nadine, kepala audit internal Kalyana Group, tiba bersama dua anggota timnya.
Begitu melihat laporan transaksi, dia langsung mengerutkan kening.
“Bu Kirana, nomor rekening tujuan ini pernah muncul dalam pemeriksaan bulan lalu.”
Aku menoleh cepat.
“Kenapa saya tidak diberi tahu?”
“Waktu itu transaksi masih kecil. Tim kami meminta klarifikasi kepada bagian keuangan, tetapi laporannya dinyatakan sebagai pembayaran vendor.”
“Vendor apa?”
Nadine membuka laptopnya.
“PT Arunika Prima Konsultan.”
Nama itu terasa asing.
Namun, ketika Nadine memperlihatkan data perusahaan, aku langsung mengenali salah satu nama pengurusnya.
Dimas Prasetyo.
Mantan sekretaris pribadi Om Bagas.
Pria yang mengundurkan diri dua minggu setelah pemakaman pamanku.
“Apa hubungan Dimas dengan rekening ini?”
Nadine menatapku serius.
“Dia tercatat sebagai direktur perusahaan penerima dana.”
Dadaku semakin sesak.
“Berarti ada orang yang sengaja mempertahankan akses Om Bagas.”
“Dugaan itu harus diperiksa, Bu. Tapi ada hal lain yang perlu Ibu lihat.”
Nadine membuka catatan autentikasi sistem.
Transaksi Rp4,8 miliar tadi bukan disetujui menggunakan kata sandi biasa.
Persetujuan dilakukan melalui perangkat otorisasi fisik yang seharusnya hanya dimiliki direktur keuangan.
Aku langsung teringat sebuah kotak hitam kecil.
Delapan bulan lalu, setelah pemakaman Om Bagas, aku menyerahkan seluruh perangkat kantor miliknya kepada Pak Hendra untuk dicatat dan disimpan.
Termasuk perangkat otorisasi tersebut.
Aku perlahan menoleh.
“Pak Hendra, perangkat milik Om Bagas sekarang di mana?”
Pria itu membeku.
“Di ruang penyimpanan kantor pusat, Bu.”
“Siapa yang memegang kuncinya?”
“Saya dan kepala bagian administrasi.”
“Kalau begitu, kita periksa sekarang.”
Pak Hendra terlihat semakin gelisah.
Namun, sebelum kami meninggalkan toko, Melisa tiba-tiba menarik ujung lenganku.
“Bu Kirana, boleh saya bicara empat mata?”
Aku mengajaknya ke ruang tunggu yang masih berada dalam pengawasan petugas.
Melisa mengeluarkan ponsel dari sakunya.
“Tiga hari lalu, saya tidak sengaja mendengar Pak Reza menelepon seseorang.”
Dia memutar rekaman suara.
Suara Reza terdengar jelas.
“Tenang saja. Selama akun Pak Bagas masih aktif, semua transaksi bisa dibuat seolah-olah disetujui direktur.”
Kemudian terdengar suara laki-laki lain.
“Jangan terlalu sering. Kirana mulai curiga.”
Aku merasakan jantungku berdetak semakin cepat.
Suara kedua itu sangat kukenal.
Pak Hendra.
Aku menatap Melisa.
“Kenapa kamu merekamnya?”
“Karena mereka mulai meminta saya menerima pembayaran ke rekening pribadi. Saya takut kalau suatu hari ada pemeriksaan, semua kesalahan dibebankan kepada saya.”
Aku mengangguk.
“Rekaman ini penting. Tapi kamu juga harus menjelaskan keterlibatanmu sendiri secara jujur.”
Melisa menangis.
“Saya siap, Bu.”
Aku kembali ke ruang belakang.
Pak Hendra sudah tidak ada.
Petugas keamanan mengatakan dia baru saja keluar dengan alasan mengambil dokumen dari mobilnya.
Aku segera meminta mereka memeriksa rekaman CCTV dan memastikan keselamatannya, tanpa melakukan pengejaran sendiri.
Beberapa menit kemudian, kamera memperlihatkan Pak Hendra memasuki lift layanan menuju area parkir bawah tanah.
Namun, dia tidak menuju mobilnya.
Dia berjalan menuju sebuah van putih yang sudah menunggu.
Pintu van terbuka.
Seorang pria turun.
Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Dimas Prasetyo.
Mantan sekretaris Om Bagas.
Keduanya berbicara singkat, lalu masuk ke dalam van.
Aku langsung meminta Nadine menyiapkan seluruh bukti dan menghubungi penasihat hukum perusahaan.
Malam itu juga, laporan mengenai dugaan penggelapan dana dan penyalahgunaan akses sistem disampaikan kepada pihak berwenang.
Namun, persoalan terbesar belum terjawab.
Bagaimana perangkat otorisasi milik Om Bagas masih bisa digunakan?
Dan mengapa Pak Hendra begitu takut ketika melihat namanya muncul?
Keesokan paginya, aku mendatangi rumah peninggalan Om Bagas di kawasan Citraland, Surabaya.
Istrinya, Tante Laras, menyambutku dengan wajah lelah.
Sejak kematian suaminya, dia jarang menghadiri acara keluarga.
“Kirana, ada apa pagi-pagi begini?”
Aku duduk di ruang tamu.
“Tante, aku perlu bertanya tentang hari-hari terakhir Om Bagas.”
Wajahnya langsung berubah.
“Kenapa tiba-tiba?”
“Ada transaksi perusahaan yang menggunakan akun Om Bagas kemarin.”
Tante Laras menjatuhkan cangkir yang sedang dipegangnya.
Air teh tumpah ke karpet.
“Tidak mungkin.”
Aku menunjukkan laporan tersebut.
Tangannya gemetar ketika membaca nama suaminya.
“Jadi mereka masih menggunakannya…”
Aku menegakkan tubuh.
“Mereka siapa, Tante?”
Tante Laras mulai menangis.
“Bagas pernah bilang ada orang yang memanfaatkan rekening perusahaan untuk memindahkan uang. Dia sedang mengumpulkan bukti sebelum meninggal.”
“Apa Om Bagas menyebut nama?”
“Dimas. Dan seseorang di jajaran pengelola mal.”
Aku menahan napas.
“Pak Hendra?”
Tante Laras mengangguk.
“Tapi Bagas tidak sempat menyerahkan laporan itu.”
Aku menatapnya.
“Bagaimana sebenarnya Om meninggal?”
“Menurut dokter, serangan jantung. Dia memang punya riwayat penyakit jantung. Tapi malam sebelumnya, dia menerima ancaman.”
Aku membeku.
“Ancaman apa?”
Tante Laras berdiri dan membuka lemari kecil.
Dia mengeluarkan sebuah amplop.
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan Om Bagas.
Kirana, kalau suatu hari ada transaksi aneh menggunakan namaku, jangan langsung percaya bahwa aku pelakunya. Ada orang yang sudah lama berusaha mengambil alih sistem keuangan perusahaan.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Di bagian bawahnya terdapat sebuah nomor penyimpanan dokumen.
B-17.
Tante Laras menunjuk tulisan tersebut.
“Bagas pernah menyewa kotak penyimpanan dokumen di bank. Tapi aku tidak pernah tahu apa isinya.”
Dengan bantuan pengacara keluarga dan prosedur resmi bank, kami akhirnya memperoleh akses terhadap dokumen yang ditinggalkan Om Bagas.
Di dalam kotak tersebut terdapat sejumlah salinan kontrak, laporan transaksi, dan satu flashdisk.
Dokumen-dokumen itu memperlihatkan pola transaksi mencurigakan yang sudah berlangsung hampir dua tahun.
Sejumlah pembayaran atas nama vendor ternyata berakhir di perusahaan yang dikendalikan Dimas.
Lebih mengejutkan lagi, ada dokumen yang menunjukkan bahwa biaya prioritas di toko Vallure Watches hanya salah satu dari banyak pungutan tidak resmi yang diterapkan di beberapa gerai milik Kalyana Group.
Aku merasa mual.
Perusahaan yang dibangun keluargaku selama puluhan tahun sedang dimanfaatkan untuk menipu pelanggan dan memindahkan dana.
Namun, ketika Nadine memeriksa isi flashdisk, dia menemukan sebuah folder bernama PESAN UNTUK KIRANA.
Di dalamnya terdapat rekaman video Om Bagas.
Wajahnya tampak pucat, tetapi suaranya masih jelas.
“Kirana, kalau kamu melihat video ini, berarti aku mungkin sudah tidak bisa menjelaskan semuanya secara langsung.”
Air mataku langsung mengalir.
Om Bagas adalah orang yang paling banyak membantuku setelah kedua orang tuaku meninggal.
Dialah yang mengajariku membaca laporan keuangan, memahami bisnis properti, dan menghadapi tekanan sebagai perempuan muda yang memimpin perusahaan besar.
Dalam video itu, dia melanjutkan.
“Aku menemukan bahwa Dimas dan Hendra bekerja sama memanipulasi transaksi perusahaan. Aku sudah berusaha menghentikan mereka, tetapi mereka memiliki akses ke sistem lama yang belum berhasil kututup.”
Aku menahan napas.
“Kalau sesuatu terjadi kepadaku, periksa perangkat otorisasi cadangan yang disimpan di ruang arsip lantai dua puluh enam. Perangkat itu memiliki nomor seri berbeda dari perangkat utamaku.”
Video berakhir.
Aku langsung menghubungi Nadine.
“Periksa ruang arsip lantai dua puluh enam. Tapi lakukan bersama tim keamanan informasi dan petugas yang berwenang.”
Beberapa jam kemudian, perangkat cadangan ditemukan.
Catatan inventaris menunjukkan bahwa perangkat tersebut pernah dipinjam menggunakan persetujuan elektronik atas nama Pak Hendra.
Pemeriksaan forensik digital selanjutnya menemukan bahwa akun Om Bagas tidak benar-benar dinonaktifkan. Statusnya hanya diubah menjadi akun khusus yang tetap dapat melakukan otorisasi melalui sistem lama.
Pengaturan itu dibuat beberapa minggu sebelum Om Bagas meninggal.
Nama administrator yang menyetujui perubahan tersebut adalah Dimas.
Dua hari kemudian, pihak kepolisian memanggil sejumlah pengurus perusahaan untuk diperiksa.
Reza dan Melisa memberikan keterangan.
Pak Hendra serta Dimas akhirnya ditemukan dan dimintai pertanggungjawaban sesuai hasil penyelidikan.
Namun, hal yang paling mengejutkanku justru muncul ketika audit menyeluruh selesai dilakukan.
Total transaksi mencurigakan yang ditemukan bukan hanya Rp4,8 miliar.
Nilainya mencapai Rp27,6 miliar.
Sebagian dana telah dipindahkan melalui perusahaan-perusahaan perantara selama hampir dua tahun.
Aku menyerahkan seluruh bukti kepada pihak berwenang dan bekerja sama dengan tim hukum untuk memulihkan kerugian perusahaan serta mengembalikan pungutan tidak resmi kepada pelanggan yang dapat diidentifikasi.
Sementara itu, penyebab kematian Om Bagas tetap ditangani berdasarkan bukti medis dan hasil pemeriksaan resmi. Tidak ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa kematiannya berkaitan langsung dengan tindak pidana tersebut.
Aku tidak ingin membangun tuduhan hanya berdasarkan kecurigaan.
Tiga bulan kemudian, Vallure Watches kembali dibuka setelah seluruh sistem pembayaran dan prosedur layanan diperbaiki.
Aku datang pada hari pertama pembukaan.
Kali ini aku mengenakan pakaian sederhana yang sama seperti saat pertama kali diusir.
Seorang pegawai baru menyambutku dengan ramah.
“Selamat datang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?”
Aku menunjuk jam tangan edisi terbatas yang dulu tidak boleh kusentuh.
“Boleh saya lihat yang itu?”
“Tentu, Bu.”
Pegawai tersebut mengenakan sarung tangan, membuka etalase dengan hati-hati, lalu memperlihatkan jam tangan itu kepadaku.
Tidak ada pertanyaan mengenai pekerjaanku.
Tidak ada tatapan merendahkan.
Tidak ada biaya prioritas.
Aku tersenyum.
“Terima kasih. Pelayanannya bagus sekali.”
Pegawai itu membalas senyumku.
“Semua pelanggan berhak mendapatkan pelayanan yang sama, Bu.”
Aku mengangguk.
“Itu yang seharusnya.”
Sebelum pulang, aku melewati ruangan kecil yang dahulu digunakan Reza untuk menginterogasi pelanggan.
Sekarang ruangan itu telah diubah menjadi pusat layanan pengaduan.
Di dindingnya terdapat sebuah bingkai sederhana.
Isinya bukan penghargaan bisnis ataupun foto direktur.
Melainkan tulisan tangan Om Bagas yang ditemukan bersama dokumen lamanya.
Jangan pernah mengukur harga diri seseorang dari harga barang yang dikenakannya.
Aku berdiri cukup lama di depan bingkai itu.
Kemudian Nadine menghampiriku.
“Bu Kirana, ada satu dokumen lagi yang baru ditemukan saat kami memeriksa arsip pribadi Pak Bagas.”
Aku menoleh.
“Dokumen apa?”
Dia menyerahkan sebuah amplop putih.
Di dalamnya terdapat surat pengalihan sejumlah saham pribadi Om Bagas kepada sebuah yayasan pendidikan untuk anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah.
Namun, nama yayasan itu membuat mataku berkaca-kaca.
Yayasan Cahaya Adiwijaya.
Nama yang sama dengan yayasan kecil yang dahulu didirikan ibuku untuk membantu anak-anak putus sekolah.
Di bagian bawah surat terdapat pesan singkat.
Kirana, kekayaan tidak akan berarti apa-apa jika kita kehilangan kemampuan melihat manusia sebagai manusia. Jagalah perusahaan ini, tetapi jangan sampai perusahaan membuatmu lupa dari mana kita berasal.
Aku memeluk surat itu.
Selama ini, aku mengira Om Bagas hanya meninggalkan perusahaan yang harus kuselamatkan dari pengkhianatan.
Ternyata dia juga meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Sebuah pengingat tentang tujuan sebenarnya dari kepemimpinan.
Aku menatap toko yang kini dipenuhi pelanggan dari berbagai kalangan.
Ada pengusaha berpakaian mahal.
Ada pasangan muda yang sekadar melihat-lihat.
Ada seorang ayah yang menggandeng putranya sambil bertanya tentang harga jam tangan paling sederhana.
Semuanya disambut dengan senyum yang sama.
Aku akhirnya mengerti mengapa Om Bagas selalu mengatakan bahwa bisnis yang baik bukan hanya bisnis yang menghasilkan keuntungan.
Bisnis yang baik adalah bisnis yang tidak membuat manusia kehilangan martabatnya.
Dan sore itu, ketika aku berjalan keluar dari toko yang pernah mengusirku, aku tidak lagi merasa bangga karena memiliki pusat perbelanjaan mewah ataupun perusahaan bernilai triliunan rupiah.
Aku bangga karena akhirnya mampu memastikan bahwa tidak akan ada lagi orang yang dipermalukan di tempat itu hanya karena pakaian yang mereka kenakan.
Sebab jam tangan semahal apa pun hanya mampu menunjukkan waktu.
Tetapi cara kita memperlakukan orang lainlah yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.
