Pak Damar mencengkeram pergelangan tanganku begitu kuat hingga jemariku hampir terlepas dari touchpad.
“Jangan dibuka di sini.”
Aku menatapnya tajam.
“Kenapa? Karena Bapak ada di dalam foto itu?”
Wajah Pak Damar berubah. Bukan marah, melainkan takut.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, laki-laki yang selalu berbicara tenang itu tampak seperti seseorang yang sedang menunggu sebuah bencana.
“Raka, dengarkan saya. Kalau kamu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nisa, ikut saya sekarang.”
Aku menarik tanganku.
“Tidak. Saya buka sekarang.”
Aku mengklik foto itu.
Gambar memenuhi layar laptop.
Napas Alya tercekat.
Aku sendiri tidak bisa berkata apa-apa.
Foto tersebut ternyata bukan foto biasa. Itu tangkapan layar dari rekaman kamera keamanan. Di sana terlihat Pak Hadi berdiri di sebuah ruangan kecil bersama seorang laki-laki muda yang tidak kukenal.
Di sudut gambar tercantum tanggal hampir setahun sebelumnya.
Alya berbisik.
“Itu Fajar.”
Aku memperbesar foto.
Fajar tampak menyerahkan sebuah map kepada Pak Hadi.
Namun sesuatu di belakang mereka membuatku semakin bingung.
Ada rak berisi beberapa kotak dokumen dan sebuah papan putih bertuliskan daftar nama santri.
Nama Fajar berada di sana.
Di bawahnya ada nama Nisa.
“Apa maksudnya ini?”
Pak Damar menutup pintu kamar.
“Fajar bukan santri yang kabur.”
Aku menatapnya.
“Lalu?”
“Dia menemukan sesuatu.”
Setahun sebelumnya, Fajar membantu bagian administrasi pesantren karena kemampuan komputernya cukup baik. Suatu malam, ia diminta memperbaiki komputer lama di kantor belakang.
Di situlah Fajar menemukan arsip pembayaran yang tidak pernah masuk dalam laporan resmi.
Selama hampir tiga tahun, sejumlah uang bantuan pendidikan untuk santri dari keluarga kurang mampu dialihkan ke rekening sebuah yayasan lain.
Jumlahnya tidak sedikit.
Ratusan juta rupiah.
“Siapa yang melakukannya?” tanyaku.
Pak Damar tidak langsung menjawab.
Tatapannya mengarah pada foto di layar.
“Pak Hadi mengetahui soal itu.”
Darahku terasa mendidih.
“Jadi dia?”
“Bukan.”
Jawaban itu membuatku terdiam.
Pak Damar melanjutkan bahwa Fajar awalnya mengira Pak Hadi terlibat. Karena itu ia diam-diam mengikuti penjaga tersebut.
Namun semakin dalam Fajar mencari, semakin jelas bahwa Pak Hadi hanyalah orang yang diperintahkan memindahkan dokumen.
Fajar kemudian menyimpan salinan data.
Kesalahan terbesarnya adalah mengatakan kepada seseorang bahwa ia memiliki bukti.
Beberapa hari kemudian, Fajar dipanggil ke jembatan gantung.
Setelah malam itu, ia tidak pernah kembali ke pesantren.
Secara resmi, keluarganya diberi tahu bahwa Fajar memilih berhenti dan pulang karena masalah pribadi.
“Dan semua orang percaya?” tanyaku.
“Tidak semua.”
Pak Damar memandang Alya.
“Nisa tidak percaya.”
Ternyata beberapa bulan lalu Nisa menemukan buku lama milik Fajar di perpustakaan. Di antara halaman-halamannya terselip kartu memori.
Isinya sebagian bukti transaksi dan satu rekaman percakapan.
Sejak saat itu Nisa mulai mencari tahu.
Aku mengepalkan tangan.
“Kenapa tidak ada yang menghentikannya?”
“Aku sudah mencoba.”
Pak Damar menunjuk jam tangannya.
“Termasuk malam itu.”
Aku menatap jam tersebut.
“Jadi pria di video memang Bapak.”
“Iya.”
Pengakuannya membuat ruangan mendadak terasa sempit.
Pak Damar mengatakan ia datang ke jembatan pukul 19.42 setelah menerima pesan anonim yang berbunyi, “Kalau ingin Nisa selamat, datang sendiri.”
Dia menunggu sekitar sepuluh menit.
Tidak ada siapa-siapa.
Kemudian terdengar suara langkah dari arah pesantren.
Pak Damar mengira orang yang datang adalah pengirim pesan.
Ternyata Nisa.
“Dia juga mendapat pesan?” tanyaku.
Pak Damar mengangguk.
“Seseorang mengirim foto Fajar kepadanya dan mengatakan bukti terakhir ada di bawah jembatan.”
“Lalu apa yang terjadi?”
Pak Damar terdiam lama.
“Nisa menyuruh saya pergi.”
“Tapi Bapak tidak pergi.”
“Saya menjauh. Saya berdiri di balik pepohonan karena saya merasa ada yang aneh.”
Sekitar pukul delapan, Pak Damar melihat seseorang muncul dari arah jalan kecil di belakang jembatan.
Nisa mengenal orang itu.
Mereka berbicara.
Awalnya tenang.
Kemudian terjadi pertengkaran.
Pak Damar hendak mendekat ketika seseorang memukulnya dari belakang.
Saat sadar, ia sudah berada beberapa meter dari jembatan.
Nisa tidak ada.
Kerudungnya tersangkut di pagar.
Tasnya tergeletak di dekat pintu masuk.
“Kenapa Bapak tidak mengatakan ini kepada polisi?”
“Karena ketika saya sadar, seseorang sudah berdiri di sana.”
“Siapa?”
Pak Damar menatapku.
“Pak Hadi.”
Aku langsung berdiri.
“Berarti dia memang terlibat.”
“Raka, tunggu.”
Aku tidak mendengarnya lagi.
Aku keluar mencari Pak Hadi.
Dia tidak berada di pos penjagaan.
Motornya juga hilang.
Aku menelepon berkali-kali, tetapi nomor itu tidak aktif.
Ketika kembali ke kamar, Alya sedang memeriksa daftar tanggal dalam USB.
“Mas, lihat ini.”
Tanggal-tanggal itu ternyata bukan tanggal transaksi.
Semua adalah tanggal ketika Nisa menelepon Ibu.
Aku membandingkannya dengan riwayat panggilan di ponsel Ibu.
Ada satu pola aneh.
Setiap tanggal dalam daftar, Nisa menelepon pada pukul yang hampir sama, sekitar pukul 21.15.
Kecuali malam terakhir.
Di samping tanggal itu tertulis dua kata.
Sandal biru.
Aku langsung teringat sesuatu.
Sandal Nisa.
Malam ketika ia ditemukan, sandal itu tersusun rapi hampir dua puluh meter dari jembatan.
Kalau Nisa benar-benar berjalan ke jembatan, kenapa ia melepas sandalnya sejauh itu?
Aku kembali ke lokasi.
Siang itu jembatan terlihat jauh berbeda dibanding malam sebelumnya.
Aku berdiri di tempat sandal ditemukan.
Lalu melihat sekeliling.
Di sebelah kanan terdapat semak lebat.
Di baliknya ada jalan setapak kecil menuju sebuah bangunan lama.
Gudang.
Pintunya terkunci.
Namun tanah di depannya masih berlumpur.
Ada jejak ban.
Aku memanggil Alya dan Pak Damar.
Kami membuka pintu dengan bantuan pengurus.
Gudang itu kosong.
Hampir kosong.
Di sudut ruangan terdapat kursi plastik, beberapa botol air dan kabel pengisi daya.
Lalu Alya menemukan sesuatu di bawah meja.
Ponsel.
Ponsel Nisa.
Layarnya retak, tetapi masih bisa menyala.
Ada puluhan panggilan tak terjawab.
Dan satu rekaman video yang belum sempat dikirim.
Aku memutarnya.
Wajah Nisa muncul dalam keadaan gelap.
Napasnya cepat.
“Mas, kalau video ini sampai ke kamu, berarti rencanaku berhasil.”
Aku membeku.
Rencanaku?
Nisa menatap kamera.
“Aku sengaja meninggalkan kerudung dan tas di dekat jembatan. Aku juga sengaja meninggalkan sandal di tempat yang jauh dari sana supaya Mas sadar bahwa ceritanya tidak masuk akal.”
Aku menatap Pak Damar.
Dia juga tampak terkejut.
Nisa melanjutkan.
“Fajar masih hidup.”
Alya menutup mulutnya.
“Setahun lalu dia tidak hilang karena sesuatu terjadi di jembatan. Dia melarikan diri setelah menemukan bukti penggelapan. Pak Hadi membantunya keluar dari pesantren karena ada orang yang ingin mengambil data itu.”
Semua yang kuketahui seketika berbalik.
Pak Hadi bukan orang yang membungkam Fajar.
Dia menyelamatkannya.
Video berlanjut.
“Beberapa minggu lalu Fajar menghubungiku. Dia bilang orang yang selama ini kami curigai sudah tahu aku memiliki salinan arsip. Kami sepakat membuat seolah-olah sesuatu terjadi padaku agar orang itu panik dan mencari bukti yang kusimpan.”
Aku hampir marah pada Nisa sekaligus lega mendengar suaranya.
Namun kemudian ekspresinya berubah.
“Aku salah memperhitungkan satu hal. Orang itu ternyata tahu tentang rencana kami.”
Suara dari luar ruangan terdengar dalam video.
Nisa menoleh.
Lalu rekaman berhenti.
Pada saat yang sama terdengar suara kendaraan berhenti di depan gudang.
Kami bertiga saling menatap.
Pak Damar memberi isyarat agar diam.
Pintu terbuka.
Pak Hadi masuk.
Di belakangnya berdiri seorang pemuda kurus berusia sekitar dua puluhan.
Alya langsung mengenalinya.
“Fajar?”
Pemuda itu mengangguk.
Aku tidak menunggu penjelasan.
“Di mana adikku?”
Pak Hadi mengeluarkan ponselnya.
“Nisa aman.”
“Di mana?”
“Di rumah keluarga Fajar di Bantul.”
Kakiku hampir kehilangan tenaga.
Namun rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik.
“Kalau dia aman, kenapa tidak menghubungi kami?”
“Karena kami belum tahu siapa yang bisa dipercaya.”
Fajar kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah laptop.
“Ada satu orang yang punya akses untuk menghapus nama saya dari arsip, memindahkan dana yayasan, mengubah laporan dan mengetahui jadwal semua santri.”
Aku menatap Pak Hadi.
“Siapa?”
Fajar membuka sebuah dokumen.
Nama yang muncul membuat Alya mundur satu langkah.
Bukan Pak Hadi.
Bukan Pak Damar.
Nama itu milik kepala administrasi pesantren, Bu Ratna.
Perempuan yang sejak malam pertama selalu berada di dekat keluarga kami.
Orang yang menenangkan Ibu.
Orang yang mengatakan kepada polisi bahwa Nisa sedang mengalami tekanan karena terlalu banyak belajar.
Dan orang yang bahkan membawakan makanan untuk kami pagi tadi.
“Dia tahu Nisa menyelidiki semuanya,” kata Fajar.
“Tapi kenapa Nisa harus membuat semua orang percaya sesuatu terjadi padanya?”
“Karena kami membutuhkan satu hal yang tidak bisa kami dapatkan selama setahun.”
“Apa?”
“Bukti asli.”
Selama ini Bu Ratna menyimpan buku rekening dan dokumen utama di tempat yang tidak diketahui siapa pun.
Fajar menduga jika Nisa dianggap hilang dan bukti salinan tersebar, Bu Ratna akan panik lalu memindahkan dokumen asli.
Dan ternyata benar.
Malam sebelumnya, sebuah kamera kecil yang dipasang Pak Hadi merekam Bu Ratna memasuki ruang penyimpanan di rumah dinasnya dan membawa dua kotak arsip.
Semua bukti kini sudah diserahkan kepada pihak berwenang.
Aku menatap Pak Hadi.
“Kenapa Bapak yang menelepon saya malam itu?”
“Karena Nisa meminta saya melakukannya.”
“Dan foto Bapak bersama Fajar?”
“Itu malam ketika saya membantu Fajar keluar.”
Tiba-tiba ponsel Pak Hadi berbunyi.
Dia melihat layar lalu menyerahkannya kepadaku.
Panggilan video.
Wajah Nisa muncul.
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa selama beberapa detik.
“Mas?”
Suaranya membuat seluruh kemarahan yang kutahan runtuh.
“Kamu gila, Nis.”
Dia tersenyum tipis, lalu matanya berkaca-kaca.
“Maaf.”
“Kamu tahu Ibu hampir tidak tidur?”
“Aku tahu.”
“Kenapa kamu tidak percaya padaku?”
Nisa terdiam.
“Bukan karena aku tidak percaya Mas.”
“Lalu?”
“Karena semakin sedikit orang yang tahu, semakin kecil kemungkinan rencana ini bocor.”
Aku ingin memarahinya lagi.
Namun sebelum sempat bicara, Nisa berkata sesuatu yang membuatku terdiam.
“Mas, masih ada satu hal yang belum kamu tahu.”
“Apa lagi?”
Nisa memandang seseorang di luar layar.
Kemudian kamera bergeser.
Seorang perempuan paruh baya duduk di sampingnya.
Aku mengenal wajah itu.
Bu Ratna.
Aku refleks berdiri.
“Kenapa dia ada di sana?”
Nisa menjawab pelan.
“Karena Bu Ratna bukan orang di balik semuanya.”
Fajar langsung mendekati layar.
“Nisa, kamu bilang apa?”
Bu Ratna menatap kamera.
Wajahnya pucat.
“Saya memang memindahkan uang itu. Saya juga menghapus nama Fajar. Tapi saya melakukan semuanya atas perintah seseorang.”
“Siapa?”
Bu Ratna menangis.
“Seseorang yang punya wewenang jauh lebih besar daripada saya.”
Kemudian Nisa mengangkat selembar dokumen ke kamera.
Di bagian bawah terdapat tanda tangan.
Aku tidak mengenal namanya.
Tetapi Pak Damar mengenalnya.
Wajahnya langsung kehilangan warna.
“Itu tidak mungkin.”
Aku menatapnya.
“Siapa?”
Pak Damar tidak menjawab.
Fajar yang akhirnya berkata.
“Itu nama ketua yayasan yang menaungi pesantren.”
Aku masih belum mengerti mengapa semuanya mendadak diam.
Sampai Pak Hadi berkata pelan.
“Ketua yayasan itu adalah ayah Alya.”
Aku menoleh.
Alya berdiri kaku.
Air mata mengalir di pipinya.
Namun reaksinya bukan seperti orang yang baru mengetahui ayahnya terlibat.
Ia justru memejamkan mata.
Seolah rahasia yang paling ia takutkan akhirnya terbuka.
“Alya?”
Dia membuka tasnya.
Mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
“Aku tahu.”
Ruangan itu kembali sunyi.
“Aku tahu sejak tiga bulan lalu.”
Dia menyerahkan amplop itu kepadaku.
Di dalamnya terdapat salinan transaksi, foto dan surat tulisan tangan.
“Ayahku yang memulai semuanya. Bu Ratna hanya menjalankan perintah. Waktu Fajar mengetahuinya, Ayah memerintahkan agar namanya dihapus supaya kalau dia bicara, orang-orang menganggap dia bukan lagi bagian dari pesantren.”
“Kenapa kamu tidak mengatakan sejak awal?”
“Karena aku takut.”
Suaranya pecah.
“Tapi Nisa tidak pernah memaksaku. Dia cuma bilang satu hal kepadaku.”
Alya mengusap air matanya.
“Kalau kita diam karena pelakunya keluarga sendiri, kita bukan sedang melindungi keluarga. Kita cuma membiarkan orang lain menjadi korban berikutnya.”
Beberapa hari kemudian Nisa pulang.
Ibu memeluknya lama sekali sebelum akhirnya memarahinya hampir satu jam penuh.
Kasus itu kemudian ditangani pihak berwenang. Sejumlah dokumen keuangan diperiksa, beberapa orang dimintai keterangan, dan pengelolaan yayasan mulai diaudit.
Namun bagiku, bagian paling aneh dari semuanya justru tetap sandal biru Nisa.
Dua benda sederhana yang diletakkannya hampir dua puluh meter dari jembatan.
Kalau malam itu aku mengabaikannya, mungkin aku akan menerima cerita pertama yang diberikan kepadaku.
Mungkin nama Fajar akan tetap dianggap sebagai santri yang pergi tanpa alasan.
Mungkin rahasia itu tidak pernah terbuka.
Beberapa minggu kemudian aku kembali ke jembatan bersama Nisa.
Dia berdiri di tempat kerudungnya dulu ditemukan.
“Mas masih marah?”
“Masih.”
Dia tertawa kecil.
“Berapa lama?”
“Mungkin sampai kamu umur lima puluh.”
Kami terdiam sambil melihat sungai di bawah.
Kemudian aku bertanya sesuatu yang sejak lama menggangguku.
“Nis, kenapa kamu memilih sandal sebagai petunjuk?”
Nisa tersenyum.
“Karena Mas selalu cerewet kalau aku menaruh sandal berantakan.”
Aku menatapnya.
“Serius?”
“Iya.”
“Semua kekacauan ini bermula dari kebiasaan Mas menyuruhmu merapikan sandal?”
Nisa tertawa.
Namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah serius.
“Bukan, Mas.”
Dia menatap jembatan.
“Semua ini bermula karena terlalu banyak orang melihat sesuatu yang tidak benar, lalu memilih menganggapnya biasa.”
Aku tidak menjawab.
Nisa menggenggam lenganku.
Hari itu aku akhirnya memahami sesuatu.
Rahasia besar tidak selalu terbongkar karena bukti yang paling mencolok.
Kadang kebenaran justru dimulai dari satu hal kecil yang berada di tempat yang salah.
Sepasang sandal yang terlalu rapi.
Sebuah nama yang tiba-tiba hilang dari arsip.
Atau keberanian seseorang untuk mengatakan bahwa cerita yang dipercaya semua orang selama ini sebenarnya tidak pernah masuk akal.
