AKU BARU SAJA MENGETAHUI DIRIKU HAMIL KETIKA SUAMIKU MENELEPON

Aku menatap pesan dari Ibu dengan tangan gemetar. Di depanku, Galang dan Raline saling berpandangan. Keduanya tampak jauh lebih takut mendengar nama Ratih Wibisono daripada ketika aku menemukan video pemalsuan identitasku.

“Kenapa kalian takut sekali kalau aku bicara dengan Ibu?” tanyaku.

Galang mengusap wajahnya.

“Nadira, masalah ini nggak sesederhana yang kamu pikirkan.”

“Kalau begitu, jelaskan kenapa ada pengajuan kredit Rp2,85 miliar menggunakan identitasku!”

Tidak ada jawaban.

Aku kembali memperhatikan berkas yang masih berada di tanganku.

Semakin teliti kubaca, semakin jelas bahwa dokumen itu bukan perjanjian pinjaman pribadi seperti yang semula kukira.

Debitur utamanya adalah PT Langit Karya Sentosa, perusahaan milik Galang yang bergerak di bidang penyediaan material konstruksi.

Plafon fasilitas kredit yang disetujui sebesar Rp2,85 miliar.

Namun, namaku tercantum sebagai penjamin pribadi, sementara sebuah ruko milikku di kawasan Antapani, Bandung, disebut sebagai agunan tambahan yang masih memerlukan pemeriksaan dokumen kepemilikan.

Ruko tersebut merupakan warisan almarhum ayahku sebelum aku menikah dengan Galang.

Saat ini bangunan itu disewakan kepada sebuah apotek. Uang sewanya kugunakan untuk membantu biaya program kehamilan kami.

Aku tidak pernah memberikan persetujuan menjaminkan ruko itu.

Yang membuatku semakin marah, dalam map tersebut terdapat surat pernyataan bahwa aku telah memahami risiko penjaminan dan bersedia menanggung kewajiban tertentu apabila perusahaan gagal membayar pinjaman.

“Aku nggak pernah datang ke bank untuk menandatangani dokumen ini,” kataku.

Staf legal bernama Deni mengangguk dengan wajah gelisah.

“Bu Nadira, saya perlu menjelaskan. Dokumen video ini sebenarnya belum cukup untuk membuktikan persetujuan penjaminan secara sah. Masih ada proses verifikasi identitas dan dokumen asli yang harus diperiksa.”

Aku langsung menoleh.

“Jadi pinjamannya sudah cair atau belum?”

Deni memandang Galang sebelum menjawab.

“Berdasarkan salinan yang kami terima, sebagian fasilitas kredit perusahaan sudah dicairkan menggunakan jaminan perusahaan yang lain. Tetapi kelengkapan penjaminan atas nama Ibu masih dipersoalkan.”

Aku menarik napas panjang.

Berarti utang Rp2,85 miliar adalah kewajiban perusahaan Galang, bukan otomatis utang pribadiku.

Namun, seseorang sedang berusaha membuatku terikat pada kewajiban tersebut melalui dokumen yang tidak pernah kusetujui.

Sekarang aku mengerti mengapa Galang begitu mendesak agar aku menandatangani perjanjian perpisahan.

Dia ingin aku mengakui kewajiban yang masih bermasalah itu sebelum kami berpisah.

“Aku nggak akan tanda tangan apa pun,” kataku.

Galang segera mendekat.

“Dir, kalau kamu menolak, perusahaan bisa hancur.”

Aku menatapnya tajam.

“Perusahaanmu, Mas. Bukan alasan untuk memalsukan persetujuanku.”

Raline tiba-tiba berdiri.

“Kita sebaiknya hentikan pembicaraan ini.”

Aku langsung menoleh.

“Kenapa? Karena ibuku menyimpan dokumen asli?”

Wajah Raline berubah pucat.

Aku mengangkat ponsel dan menelepon Ibu sekali lagi.

Kali ini panggilannya dijawab.

“Nadira, kamu sekarang di mana?”

“Aku di kantor konsultan hukum bersama Galang.”

“Keluar dari sana. Jangan tanda tangani dokumen apa pun.”

“Bu, Ibu tahu soal pinjaman ini sejak kapan?”

Ibu terdiam.

“Enam bulan lalu.”

Dadaku langsung terasa sesak.

“Enam bulan, Bu? Kenapa Ibu nggak bilang?”

“Nanti Ibu jelaskan semuanya. Sekarang datang ke rumah. Ibu sudah menghubungi pengacara.”

Aku menutup telepon.

Kemudian aku memandang Galang.

“Mas, aku akan pulang ke rumah Ibu.”

Galang mencoba menghalangiku.

“Nadira, kita belum selesai!”

Aku mundur.

“Justru sekarang aku tahu apa yang harus kuselesaikan.”

Aku mengambil map biru, tetapi Deni menjelaskan bahwa dokumen asli milik kantor tidak boleh dibawa tanpa prosedur.

Aku meminta salinan dokumen yang berkaitan denganku, mencatat nomor referensi, lalu menyimpan foto halaman yang telah diperlihatkan.

Setelah itu, aku meninggalkan ruangan.

Di dalam mobil, tanganku masih gemetar.

Aku membuka kembali foto USG yang kuambil pagi tadi.

Selama tiga tahun, aku dan Galang menantikan seorang anak.

Aku bahkan sudah membayangkan bagaimana kami akan menyiapkan kamar bayi bersama.

Namun, hari ketika aku mengetahui diriku hamil justru menjadi hari ketika pernikahanku mulai runtuh.

Aku pergi ke kantor konsultan sendirian karena Galang meminta datang segera, sementara semua orang masih kuanggap bisa diajak berbicara baik-baik. Aku tidak ingin mengajak Ibu yang memiliki tekanan darah tinggi, dan aku belum sempat menceritakan persoalan rumah tanggaku kepada sahabat mana pun.

Sekarang aku menyadari betapa berbahayanya menghadapi persoalan hukum yang tidak kupahami seorang diri.

Aku segera menelepon sahabatku, Vina, dan meminta dia menemaniku ke rumah Ibu.

Ketika kami tiba, Ibu sudah menunggu bersama seorang pengacara bernama Pak Arif.

Begitu melihatku, Ibu langsung memelukku.

“Maafkan Ibu, Nak.”

Aku tidak membalas pelukannya.

“Bu, kenapa Ibu diam selama enam bulan?”

Ibu menangis.

“Karena Ibu takut kamu kehilangan anak yang selama ini kamu harapkan.”

Aku mengerutkan kening.

“Apa hubungannya dengan program kehamilanku?”

Ibu mempersilakanku duduk.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah map cokelat dari lemari.

“Enam bulan lalu, ada kurir mengantarkan dokumen ini ke rumah Ibu. Namanya ditujukan kepada Ratih Wibisono.”

Aku membuka map tersebut.

Di dalamnya terdapat salinan dokumen penjaminan, surat pengantar, dan formulir pengiriman.

Pada halaman pertama, tercantum permintaan agar Ibu menyerahkan dokumen kepemilikan ruko yang sebelumnya pernah kutitipkan kepadanya.

Aku menatapnya.

“Jadi mereka meminta sertifikat rukoku?”

“Iya.”

“Lalu Ibu berikan?”

Ibu menggeleng.

“Nggak. Ibu justru curiga karena kamu tidak pernah membicarakan urusan itu.”

Ibu kemudian menghubungi nomor yang tercantum pada surat pengantar.

Orang yang menjawab mengaku sebagai staf administrasi konsultan bisnis Galang.

Dia mengatakan bahwa penjaminan tersebut sudah disetujui olehku dan hanya menunggu kelengkapan dokumen asli.

“Tapi Ibu tahu kamu sedang menjalani perawatan di Yogyakarta saat tanggal penandatanganan itu,” kata Ibu.

Aku memejamkan mata.

“Lalu?”

“Ibu meminta mereka mengirimkan bukti persetujuanmu.”

Beberapa hari kemudian, Ibu menerima tautan menuju video perempuan bermasker yang mengaku sebagai diriku.

Ibu langsung menyadari bahwa perempuan itu bukan aku.

“Dari suaranya saja Ibu tahu,” katanya sambil menangis.

Aku menatapnya.

“Kenapa Ibu nggak langsung memberitahuku?”

Ibu menunduk.

“Karena Galang datang ke rumah setelah itu.”

Jantungku berdegup semakin cepat.

“Dia bilang apa?”

“Dia mengaku perusahaan sedang kesulitan. Katanya ada kesalahan administrasi dan dia akan memperbaiki semuanya tanpa melibatkan kamu.”

Aku tertawa getir.

“Dan Ibu percaya?”

“Awalnya tidak. Tapi dia mengatakan kamu sedang sangat tertekan karena program kehamilan. Dia takut kalau kamu tahu soal masalah keuangan, kamu akan menghentikan pengobatan.”

Aku memandang Ibu dengan kecewa.

“Bu, aku memang sedang berjuang untuk hamil. Tapi itu bukan berarti aku nggak mampu menghadapi kenyataan.”

Air mata Ibu jatuh.

“Ibu salah, Nadira. Ibu pikir dengan menyimpan dokumen asli dan menolak menyerahkan sertifikat, Ibu sudah cukup melindungimu.”

Pak Arif kemudian menjelaskan bahwa Ibu sebenarnya telah berkonsultasi dengannya beberapa minggu sebelumnya setelah menerima surat permintaan dokumen lanjutan.

Dia menyarankan agar seluruh bukti disimpan dan proses penjaminan diperiksa langsung melalui bank.

“Bu Ratih sempat meminta waktu karena ingin berbicara dengan menantunya sekali lagi,” katanya.

Aku menatap Ibu.

“Jadi Ibu sudah mulai curiga dia nggak akan menyelesaikan masalah ini?”

Ibu mengangguk.

“Tiga minggu lalu, Galang datang meminta sertifikat rukomu lagi. Kali ini dia marah ketika Ibu menolak.”

Aku membuka map cokelat itu sekali lagi.

Di bagian paling belakang terdapat salinan email dari Galang kepada seseorang bernama Raline.

Isinya membuat darahku terasa dingin.

Pastikan dokumen penjaminan Nadira selesai sebelum pembicaraan perpisahan. Kalau tidak, semua kewajiban perusahaan akan kembali menjadi masalah kita.

Aku membaca kalimat tersebut berulang kali.

Galang ternyata sudah merencanakan perpisahan sebelum meneleponku pagi tadi.

Dan selama itu pula dia berusaha memastikan namaku tetap terikat pada pinjaman perusahaannya.

Namun, kejutan terbesar belum berakhir.

Pak Arif mengeluarkan dokumen tambahan.

“Bu Nadira, kami menemukan kejanggalan lain.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“PT Langit Karya Sentosa ternyata melakukan beberapa pembayaran kepada perusahaan milik Raline.”

Aku langsung mengangkat kepala.

“Perusahaan apa?”

“PT Raline Prima Konsultan.”

Pak Arif menunjukkan salinan laporan transaksi yang diperoleh Ibu dari dokumen yang pernah ditinggalkan Galang.

Ada lima pembayaran dengan total Rp620 juta.

Keterangan transaksinya adalah biaya konsultasi pemasaran dan pengembangan bisnis.

Namun, beberapa tanggal pembayaran terjadi ketika perusahaan Galang sedang mengalami kesulitan arus kas.

Aku mengerutkan kening.

“Jadi uang pinjaman digunakan untuk membayar perusahaan Raline?”

“Itu salah satu dugaan yang perlu diaudit. Kita belum bisa menyimpulkannya hanya dari dokumen ini.”

Aku terdiam.

Selama ini Galang selalu mengatakan bahwa Raline hanyalah rekan bisnis yang membantu memperluas jaringan pelanggan.

Ternyata hubungan mereka tidak hanya melibatkan perselingkuhan.

Ada transaksi keuangan yang juga perlu dipertanggungjawabkan.

Keesokan paginya, aku datang ke kantor cabang bank bersama Pak Arif dan Vina.

Aku menyerahkan keberatan tertulis atas dugaan pemalsuan identitas dan persetujuan penjaminan.

Aku juga membawa bukti bahwa pada tanggal video persetujuan dibuat, aku sedang menjalani tindakan medis di Yogyakarta.

Pihak bank menerima laporan tersebut dan menjelaskan bahwa proses verifikasi serta pemeriksaan dokumen akan dilakukan.

Aku meminta agar tidak ada tindakan terhadap aset atas namaku berdasarkan dokumen yang sedang disengketakan sebelum persoalan itu diperiksa sesuai prosedur.

Setelah dari bank, kami membuat laporan polisi terkait dugaan penggunaan identitas dan pemalsuan dokumen.

Aku tidak ingin hanya mengandalkan janji Galang bahwa semuanya akan diselesaikan.

Beberapa hari kemudian, Galang datang ke rumah Ibu.

Dia terlihat sangat lelah.

Begitu melihatku, dia langsung berlutut.

“Dir, aku minta maaf.”

Aku tidak bergerak.

“Untuk apa, Mas?”

“Untuk semuanya.”

Aku menatapnya lama.

“Sejak kapan hubunganmu dengan Raline?”

Galang menunduk.

“Hampir setahun.”

Aku menggenggam ujung kursi.

“Sejak kapan kalian merencanakan menggunakan namaku sebagai penjamin?”

Dia tidak langsung menjawab.

“Enam bulan lalu.”

Air mataku jatuh.

“Jadi saat aku menjalani program kehamilan, kamu sedang menyiapkan dokumen palsu?”

Galang mengangguk.

“Aku panik. Perusahaan hampir bangkrut. Raline bilang kalau kita mendapat tambahan jaminan, bank mungkin mau mempertimbangkan restrukturisasi.”

“Lalu kamu memilih mengorbankanku?”

“Aku pikir bisa menyelesaikannya sebelum kamu tahu.”

Aku menggeleng.

“Mas, aku bukan cuma istri yang kamu bohongi. Aku juga orang yang hampir kamu tinggalkan dengan risiko utang miliaran rupiah.”

Galang menangis.

“Aku masih sayang kamu, Dir.”

Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kalau kamu sayang, kenapa kamu membawa Raline ke kantor mediator dan memintaku menandatangani semua itu?”

Dia terdiam.

Aku mengeluarkan foto USG dari tas.

“Dan anak ini, Mas? Kamu bahkan nggak mau percaya ketika aku bilang sedang hamil.”

Galang menatap foto tersebut.

Tangannya bergerak hendak mengambilnya.

Namun, aku menariknya kembali.

“Jangan gunakan anak kita sebagai alasan untuk meminta aku melupakan semuanya.”

Dia menunduk.

Aku menarik napas panjang.

“Aku akan mempertahankan hakku dan melindungi anak ini. Tapi aku nggak akan menutupi kesalahanmu.”

Galang mengangguk sambil menangis.

Proses pemeriksaan terhadap dokumen kredit kemudian berlanjut.

Pihak bank menemukan ketidaksesuaian antara video persetujuan, catatan identifikasi, dan dokumen penjaminan yang diajukan.

Penjaminan atas namaku tidak dapat diperlakukan sebagai persetujuan yang sah tanpa penyelesaian sengketa dan pemeriksaan lebih lanjut.

Sementara itu, transaksi antara perusahaan Galang dan perusahaan Raline menjadi bagian dari audit keuangan terpisah.

Aku tidak mengetahui seluruh hasilnya.

Namun, untuk pertama kalinya, aku merasa mampu menghadapi persoalan itu tanpa harus mengikuti keputusan Galang.

Beberapa bulan kemudian, aku mengajukan proses perceraian melalui pengadilan.

Aku juga meminta pendampingan hukum untuk memastikan hak-hakku sebagai ibu dan hak anak yang sedang kukandung tetap terlindungi.

Ibu terus mendampingiku selama kehamilan.

Suatu sore, ketika kami duduk di teras, dia menggenggam tanganku.

“Nadira, Ibu minta maaf karena terlalu lama diam.”

Aku menatapnya.

“Bu, aku tahu Ibu ingin melindungiku. Tapi lain kali, jangan anggap aku terlalu lemah untuk mendengar kebenaran.”

Ibu mengangguk sambil menangis.

“Ibu mengerti.”

Aku mengusap perutku yang mulai membesar.

“Sekarang aku harus belajar menjadi ibu juga. Dan aku nggak mau anakku tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta berarti harus menyembunyikan sesuatu yang menyakitkan.”

Ibu tersenyum sedih.

Beberapa bulan setelah itu, aku melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat.

Aku menamainya Kirana.

Cahaya.

Ketika pertama kali menggendongnya, aku menangis.

Bukan karena teringat Galang.

Melainkan karena aku akhirnya memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk yang pernah kita bayangkan.

Dulu aku mengira hari ketika mengetahui diriku hamil akan menjadi hari paling indah dalam pernikahanku.

Ternyata hari itu justru membuka serangkaian kebohongan yang hampir menghancurkan hidupku.

Namun, dari peristiwa tersebut aku juga menemukan sesuatu yang tidak pernah kusangka.

Keberanian untuk melindungi diriku sendiri.

Suatu malam, ketika Kirana sudah tertidur, aku membuka kembali kotak kecil yang dulu kusiapkan untuk memberi kejutan kepada Galang.

Di dalamnya masih tersimpan foto USG pertama.

Aku mengambilnya dan meletakkannya di album bayi Kirana.

Di halaman pertama, aku menulis sebuah kalimat.

Kamu datang bukan untuk menyelamatkan pernikahan Mama. Kamu datang untuk mengingatkan Mama bahwa hidup masih memiliki masa depan yang pantas diperjuangkan.

Aku menutup album itu perlahan.

Kemudian aku memandang putriku yang tertidur damai.

Aku tidak tahu bagaimana semua proses hukum akan berakhir.

Aku juga tidak tahu seperti apa hubungan Kirana dengan ayahnya kelak.

Namun, ada satu hal yang sudah kupastikan.

Aku tidak akan membiarkan ketakutan kehilangan seseorang membuatku kehilangan diriku sendiri.

Karena cinta yang benar tidak pernah membutuhkan kebohongan, pemalsuan, atau pengorbanan sepihak untuk bertahan.

Dan ketika seseorang memilih meninggalkan kita pada saat paling rapuh, bukan berarti hidup kita ikut berakhir.

Terkadang, justru pada saat itulah kita mulai membangun kehidupan yang benar-benar menjadi milik kita sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang