TUNANGANKU MEMUTUSKAN HUBUNGAN KAMI DI LOBI KANTOR, LALU

“Pak Mahendra, kalau transaksi itu benar-benar diproses besok, siapa yang akan bertanggung jawab?”

Pak Mahendra menatap layar komputernya dengan wajah tegang.

“Kamu, Laras. Karena persetujuan terakhir tercatat menggunakan akunmu.”

Aku merasakan tengkukku dingin.

Selama sebelas bulan aku membangun Proyek Aurora dari nol. Sekarang seseorang bukan hanya berusaha merebut proyek senilai Rp18,4 miliar itu, tetapi juga menyiapkan jejak digital agar aku terlihat sebagai orang yang menyetujui pencairan dana mencurigakan.

“Berapa jumlah yang akan dicairkan?” tanyaku.

Pak Mahendra membuka rincian transaksi.

“Rp3,2 miliar.”

Aku hampir tidak percaya.

“Untuk pembayaran apa?”

“Pengadaan perangkat server tahap kedua.”

Aku langsung menggeleng.

“Nggak mungkin. Pengadaan server tahap kedua baru dijadwalkan bulan depan. Vendor bahkan belum menyelesaikan pengujian perangkat tahap pertama.”

Pak Mahendra memperbesar nama penerima pembayaran.

PT Cakra Digital Persada.

Aku belum pernah mendengar nama perusahaan itu.

Padahal, sebagai pimpinan proyek, aku sendiri yang memimpin proses seleksi vendor.

“Pak, perusahaan ini tidak ada dalam daftar vendor resmi Aurora.”

“Berarti kita harus segera mengamankan sistem.”

Pak Mahendra menghubungi kepala keamanan informasi dan meminta agar seluruh persetujuan pembayaran yang menggunakan akunku ditahan untuk verifikasi.

Dia juga meminta salinan log sistem disimpan dalam arsip audit yang tidak dapat diubah oleh pengguna biasa.

Namun, ketika petugas teknologi informasi mencoba membuka dokumen kontrak PT Cakra Digital Persada, layar tiba-tiba menampilkan pemberitahuan bahwa berkas sedang dipindahkan ke lokasi penyimpanan lain.

Pak Mahendra langsung berdiri.

“Siapa yang sedang mengakses folder ini?”

Petugas menjawab setelah memeriksa sistem.

“Akun administrator proyek, Pak.”

“Administrator siapa?”

“Rangga Pradana.”

Aku menahan napas.

Rangga rupanya sedang berusaha memindahkan dokumen sebelum pemeriksaan selesai.

Pak Mahendra segera meminta tim keamanan informasi membatasi hak perubahan pada folder yang sedang disengketakan, sambil mempertahankan salinan dan catatan aktivitasnya.

Beberapa menit kemudian, ponselku berdering.

Rangga.

Aku mengangkatnya.

“Laras, kamu sedang apa?”

“Bekerja.”

“Jangan pura-pura nggak tahu. Aksesku ke folder Aurora tiba-tiba dibatasi.”

Aku tersenyum getir.

“Kalau kamu merasa nggak melakukan kesalahan, kenapa takut diperiksa?”

Rangga menarik napas kasar.

“Kamu nggak ngerti situasinya. Ayahku bisa marah besar kalau proyek ini terganggu.”

Aku langsung menjawab.

“Kalau begitu, biarkan ayahmu menjelaskan kenapa namanya muncul dalam dokumen pengambilalihan proyek.”

Sambungan mendadak sunyi.

“Laras, jangan bawa-bawa Ayah.”

“Kenapa?”

“Karena kamu nggak tahu siapa yang sebenarnya sedang kamu lawan.”

Telepon terputus.

Aku menatap layar ponsel.

Ancaman itu membuatku semakin yakin bahwa persoalan ini lebih besar daripada perselingkuhan.

Malam itu, aku tidak langsung pulang.

Bersama Pak Mahendra dan tim keamanan informasi, aku memeriksa kembali riwayat akses Proyek Aurora.

Kami menemukan pola yang aneh.

Setiap kali ada perubahan dokumen penting, akun milikku digunakan pada waktu ketika aku sedang berada di luar kantor.

Sebulan lalu, perubahan anggaran dilakukan saat aku menghadiri konferensi di Surabaya.

Dua minggu lalu, hak akses vendor diubah ketika aku sedang cuti.

Dan tadi malam, permintaan pengalihan pimpinan proyek diajukan ketika aku berada di Bandung.

Seolah-olah seseorang sengaja memilih waktu ketika aku tidak mungkin membantah aktivitas tersebut secara langsung.

Namun, bukti paling penting muncul dari catatan perangkat.

“Bu Laras,” kata Dimas dari tim teknologi informasi, “akun Ibu memang digunakan, tetapi autentikasinya berasal dari perangkat yang tidak biasa.”

Aku mendekat.

“Maksudnya?”

“Perangkat itu terdaftar menggunakan nama komputer di ruang administrasi lantai tujuh.”

Aku langsung teringat Nadira.

“Apakah komputer yang biasa dipakai staf baru?”

Dimas mengangguk.

“Iya. Tapi kita masih harus memastikan siapa yang mengoperasikannya.”

Pak Mahendra meminta rekaman CCTV dari tanggal-tanggal terkait.

Ketika rekaman pertama diputar, aku melihat sesuatu yang membuat jantungku berdegup semakin keras.

Nadira masuk ke ruang administrasi pada pukul 22.16.

Dia membawa tas laptop hitam.

Beberapa menit kemudian, Rangga datang.

Namun, ternyata ada orang ketiga.

Seorang pria berkemeja putih masuk melalui pintu samping.

Aku langsung mengenalinya.

Pak Wibowo.

Ayah Rangga.

Aku spontan menoleh kepada Pak Mahendra.

“Bapak lihat itu?”

Dia mengangguk dengan wajah serius.

“Berarti Pak Wibowo memang berada di lokasi ketika akses proyek diubah.”

Aku menggenggam ujung meja.

Namun, Pak Mahendra mengingatkanku.

“Kehadirannya belum membuktikan dia yang memberikan perintah. Kita perlu melihat aktivitas dan dokumen yang berkaitan.”

Aku mengangguk.

Dia benar.

Aku tidak boleh membiarkan kemarahan terhadap Rangga membuatku mengambil kesimpulan tanpa bukti.

Keesokan paginya, sebuah rapat darurat diadakan.

Pak Wibowo datang bersama Rangga dan dua anggota direksi.

Nadira juga hadir sebagai staf administrasi proyek.

Begitu melihatku, Rangga tersenyum tipis.

“Laras, kita sebenarnya bisa menyelesaikan ini tanpa membuat keributan.”

Aku tidak menjawab.

Pak Mahendra membuka rapat.

“Kami menemukan indikasi penggunaan akun tanpa kewenangan, perubahan dokumen proyek, dan pengajuan pembayaran yang perlu diverifikasi.”

Pak Wibowo mengerutkan kening.

“Pembayaran apa?”

“Rp3,2 miliar kepada PT Cakra Digital Persada.”

Wajah Rangga langsung berubah.

Pak Wibowo menoleh kepada putranya.

“Rangga, perusahaan apa itu?”

Rangga terlihat gugup.

“Vendor tambahan, Yah.”

“Siapa yang menyetujuinya?”

“Laras.”

Aku langsung berdiri.

“Itu tidak benar.”

Rangga menunjuk dokumen di layar.

“Persetujuannya memakai akunmu.”

Aku mengeluarkan salinan bukti perjalanan dan catatan aktivitas perangkat.

“Pada waktu persetujuan itu dilakukan, aku berada di Surabaya. Sistem menunjukkan akunku digunakan dari komputer administrasi lantai tujuh.”

Pak Mahendra kemudian menampilkan rekaman CCTV yang memperlihatkan Nadira dan Rangga berada di ruangan tersebut.

Wajah Nadira memucat.

Rangga langsung berkata.

“Itu bukan bukti kami memakai akun Laras!”

Aku mengangguk.

“Benar. Rekaman itu saja belum cukup. Karena itu, aku meminta pemeriksaan seluruh log autentikasi dan dokumen pendukung.”

Pak Wibowo tiba-tiba memukul meja.

“Rangga, apa sebenarnya yang kamu lakukan?”

Rangga menunduk.

Namun, yang membuatku terkejut, Nadira justru berdiri.

“Pak, saya mau menjelaskan.”

Rangga langsung menoleh.

“Nadira, duduk!”

Perempuan itu tidak menurut.

“Saya sudah nggak mau disuruh diam terus.”

Ruangan mendadak sunyi.

Nadira membuka tas dan mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Saya menyimpan salinan instruksi yang diberikan Mas Rangga kepada saya.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Nadira mengusap air mata.

“Awalnya saya diminta membantu mengurus dokumen administrasi. Mas Rangga bilang Bu Laras sudah menyetujui perubahan pimpinan proyek, tapi sedang terlalu sibuk untuk mengurus sistem.”

Dia menunduk.

“Lalu saya diminta memakai kartu akses cadangan dan membuka komputer kantor.”

Aku langsung bertanya.

“Kamu tahu kartu itu milikku?”

Nadira mengangguk pelan.

“Saya baru tahu setelah melihat nama di sistem.”

“Kenapa kamu tetap melanjutkannya?”

“Mas Rangga bilang kalau saya menolak, kontrak kerja saya nggak akan diperpanjang.”

Rangga langsung berdiri.

“Jangan bohong!”

Nadira menangis.

“Mas sendiri yang bilang semua ini aman karena sudah ada persetujuan direktur!”

Aku memperhatikan wajah Pak Wibowo.

Pria itu terlihat semakin marah.

“Persetujuan direktur yang mana?”

Rangga tidak menjawab.

Pak Mahendra mengambil flashdisk tersebut untuk diperiksa oleh tim audit.

Di dalamnya terdapat beberapa salinan percakapan dan instruksi administrasi.

Salah satunya berasal dari Rangga.

Pastikan pengalihan Aurora selesai sebelum Laras kembali. Setelah pembayaran vendor diproses, kita urus pembagian bonus.

Aku merasakan kemarahan menjalar ke seluruh tubuh.

Namun, ada satu pesan yang jauh lebih mengejutkan.

Pesan tersebut dikirim Rangga kepada seseorang dengan nama kontak Ayah.

Semua sudah siap. Aku tinggal menunggu persetujuan terakhir.

Balasannya singkat.

Jangan gunakan namaku dalam dokumen apa pun.

Aku menatap Pak Wibowo.

Wajahnya berubah pucat.

“Rangga, kamu menerima pesan itu dari siapa?”

Rangga menunduk.

“Ayah.”

Pak Wibowo langsung menggeleng.

“Aku nggak pernah menerima pesan itu.”

Pak Mahendra meminta tim teknologi informasi memeriksa sumber percakapan tersebut.

Ternyata nomor pengirim bukan nomor pribadi Pak Wibowo.

Nomor itu hanya disimpan dengan nama kontak Ayah pada ponsel Rangga.

Aku merasa seluruh tubuhku menegang.

Jadi seseorang sengaja menciptakan kesan bahwa direktur utama telah memberikan persetujuan.

Namun, siapa?

Pemeriksaan berikutnya menemukan bahwa nomor tersebut terdaftar sebagai nomor kontak operasional PT Cakra Digital Persada.

Perusahaan yang akan menerima pembayaran Rp3,2 miliar.

Pak Wibowo langsung meminta seluruh aktivitas pembayaran kepada perusahaan tersebut dihentikan sampai pemeriksaan selesai.

Aku mulai mengira persoalan itu akan berakhir dengan pengakuan Rangga.

Namun, kejutan sebenarnya datang ketika Pak Mahendra membuka dokumen kepemilikan PT Cakra Digital Persada.

Nama pemegang saham pengendalinya adalah seseorang yang sama sekali tidak kuduga.

Bukan Rangga.

Bukan Nadira.

Melainkan Surya Pradana.

Adik kandung Pak Wibowo.

Aku menatap layar dengan mata membelalak.

Selama ini Surya menjabat sebagai penasihat bisnis keluarga Pradana.

Dia jarang muncul di kantor, tetapi sering menghadiri rapat strategis.

Dan yang lebih mengejutkan, Surya adalah orang yang merekomendasikan Nadira untuk bekerja di perusahaan.

Pak Wibowo langsung berdiri.

“Panggil Surya sekarang!”

Namun, sekretarisnya kembali beberapa menit kemudian dengan wajah cemas.

“Pak, Pak Surya sedang berada di luar negeri. Nomornya tidak bisa dihubungi.”

Aku menatap Rangga.

“Jadi selama ini kamu bekerja sama dengan pamanmu?”

Rangga akhirnya menangis.

“Aku cuma mau membuktikan bahwa aku bisa memimpin proyek besar tanpa selalu berada di bawah bayang-bayang Laras.”

Aku hampir tertawa mendengar jawabannya.

“Dengan mengambil proyek yang kubangun?”

“Aku nggak menyangka semuanya akan sejauh ini.”

“Lalu hubunganmu dengan Nadira?”

Rangga menunduk.

“Aku memang dekat dengannya. Tapi Paman Surya yang menyuruhku menjadikan dia koordinator administrasi.”

Nadira langsung menoleh.

“Jadi selama ini aku cuma dipakai?”

Rangga tidak menjawab.

Aku memandang keduanya dengan perasaan kosong.

Orang yang pernah kujanjikan masa depan ternyata begitu mudah mengorbankan orang lain demi ambisinya sendiri.

Beberapa hari kemudian, perusahaan membentuk tim pemeriksaan independen.

Pengajuan pembayaran Rp3,2 miliar dibatalkan sebelum dana dicairkan.

Akses proyek yang menggunakan identitasku diperiksa dan diperbaiki.

Rangga dinonaktifkan sementara dari kewenangan pengelolaan proyek.

Nadira diminta memberikan keterangan lengkap mengenai instruksi yang diterimanya.

Sementara itu, transaksi dan hubungan bisnis PT Cakra Digital Persada ditelusuri lebih lanjut.

Aku sendiri diminta mengambil cuti beberapa hari.

Namun, aku menolak.

“Aku mau menyelesaikan Aurora,” kataku kepada Pak Mahendra.

Dia menatapku.

“Laras, kamu baru saja mengalami banyak hal.”

“Aku tahu. Tapi aku nggak mau proyek ini berhenti hanya karena orang lain mencoba mengambilnya.”

Pak Mahendra akhirnya mengangguk.

“Kalau begitu, kita pastikan sistem pengawasannya diperbaiki.”

Sebulan kemudian, Proyek Aurora kembali berjalan dengan struktur persetujuan yang lebih ketat.

Setiap perubahan pimpinan proyek harus melalui persetujuan komite.

Setiap transaksi bernilai besar memerlukan verifikasi berlapis.

Dan seluruh kartu akses cadangan ditinjau ulang.

Aku kembali memimpin tim yang selama ini bekerja bersamaku.

Namun, ada sesuatu yang berubah.

Aku tidak lagi melihat jabatan sebagai bukti bahwa seseorang bisa dipercaya.

Aku belajar bahwa kepercayaan harus dibangun melalui tindakan, bukan hubungan keluarga atau janji manis.

Suatu sore, Rangga menungguku di lobi kantor.

Tempat yang sama ketika dia memutuskan pertunangan kami.

Dia terlihat jauh lebih kurus.

“Laras, boleh bicara?”

Aku berhenti.

“Ada apa?”

Rangga menatap lantai.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

“Aku dulu iri melihat semua orang selalu memuji kamu. Ayah juga sering membandingkan pencapaian kita.”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu memilih menghancurkan pekerjaanku?”

Dia menggeleng sambil menangis.

“Aku ingin membuktikan bahwa aku juga mampu.”

Aku menarik napas panjang.

“Kemampuan nggak dibuktikan dengan mengambil hasil kerja orang lain, Rangga.”

Dia menunduk.

“Aku tahu.”

Aku memandang lelaki yang pernah kucintai selama empat tahun.

Dulu aku membayangkan kami akan menikah, membangun rumah, dan tumbuh bersama.

Sekarang aku hanya melihat seseorang yang terlalu sibuk mengejar pengakuan sampai kehilangan dirinya sendiri.

“Aku berharap kamu belajar dari semua ini,” kataku.

Rangga mengangkat wajah.

“Apakah kita masih bisa mulai lagi?”

Aku menggeleng pelan.

“Nggak.”

Air matanya jatuh.

“Aku nggak bisa kembali kepada orang yang mengkhianatiku secara pribadi sekaligus profesional.”

Dia tidak membantah.

Aku berjalan melewatinya tanpa menoleh.

Tiga bulan kemudian, Proyek Aurora berhasil melewati tahap evaluasi utama.

Dalam rapat direksi, Pak Wibowo menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim.

Namun, ketika dia menyebut namaku, aku berdiri dan berkata.

“Pak, saya ingin menegaskan bahwa keberhasilan Aurora bukan hasil kerja satu orang. Ada puluhan staf yang bekerja siang malam untuk memastikan proyek ini berjalan.”

Pak Wibowo mengangguk.

Aku melanjutkan.

“Dan saya berharap perusahaan tidak lagi membiarkan hubungan pribadi memengaruhi keputusan profesional.”

Ruangan mendadak hening.

Pak Wibowo menatapku cukup lama.

Kemudian dia menjawab.

“Kamu benar, Laras.”

Setelah rapat selesai, aku menerima sebuah email dari tim audit.

Pemeriksaan lanjutan menemukan bahwa sejumlah dokumen menggunakan akun Pak Wibowo tanpa kewenangannya.

Surya diduga memanfaatkan akses administratif yang pernah diberikan kepadanya sebagai penasihat bisnis untuk menyusun proposal pengambilalihan proyek.

Temuan itu telah diserahkan kepada pihak berwenang untuk proses lebih lanjut.

Aku membaca laporan tersebut dengan tenang.

Akhirnya pertanyaan yang selama ini menghantuiku mulai mendapatkan jawaban.

Pak Wibowo bukan satu-satunya orang yang harus diperiksa hanya karena namanya muncul dalam metadata.

Jejak digital harus dilihat bersama bukti lain untuk menentukan siapa yang benar-benar bertindak.

Aku menutup laptop.

Kemudian berjalan menuju jendela ruang kerjaku.

Di luar, lampu-lampu Jakarta mulai menyala.

Aku teringat hari ketika Rangga menggandeng tangan Nadira di lobi.

Saat itu aku mengira kehilangan tunangan adalah hal terburuk yang bisa terjadi.

Ternyata peristiwa tersebut justru membukakan mataku terhadap pengkhianatan yang jauh lebih besar.

Bukan hanya tentang cinta yang berpindah kepada orang lain.

Tetapi juga tentang kepercayaan yang digunakan sebagai jalan untuk mengambil sesuatu yang telah kubangun dengan kerja keras.

Aku menyentuh jari manisku yang kini tidak lagi mengenakan cincin pertunangan.

Anehnya, aku tidak merasa kehilangan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa bebas.

Karena aku akhirnya memahami bahwa orang yang benar-benar mencintai kita tidak akan meminta kita mengecilkan diri agar mereka terlihat lebih besar.

Dan orang yang layak dipercaya tidak akan membutuhkan identitas kita untuk membuktikan kemampuannya sendiri.

Aku mungkin kehilangan seorang tunangan.

Namun, aku berhasil mempertahankan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Nama baikku, hasil pekerjaanku, dan keberanian untuk berdiri di atas kemampuanku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang