“Dua tahun lalu? Apa yang kamu lakukan padaku, Nadine?”
Pertanyaanku membuat seluruh ruangan mendadak sunyi. Nadine berdiri kaku di dekat pintu, sementara Siska buru-buru menyimpan ponselnya. Orang-orang yang beberapa menit lalu tertawa kini saling berpandangan dengan wajah gelisah.
“Aku nggak ngerti maksudmu,” jawab Nadine.

Arga mengangkat ponselnya.
“Kalau begitu, mungkin kamu bisa menjelaskan percakapan ini.”
Wajah Nadine langsung memucat.
“Mas Arga, itu urusan pribadi!”
“Urusan pribadi yang menyebut nama Rani?”
Aku meraih tangan Arga.
“Biar aku yang bicara.”
Dia mengangguk dan berdiri di sampingku.
Aku menatap sepupuku yang selama ini selalu dianggap sebagai perempuan paling sempurna dalam keluarga. Nadine cantik, pandai berbicara, dan selalu berhasil membuat orang lain mempercayainya.
Sejak kecil, aku mengaguminya.
Bahkan ketika dia mengejek tubuhku, aku selalu mencari alasan untuk memaafkannya.
Namun, malam itu aku tidak lagi ingin mencari alasan.
“Jawab, Nadine. Apa yang terjadi dua tahun lalu?”
Nadine menggigit bibir.
Siska akhirnya berdiri.
“Din, lebih baik kamu jujur.”
Nadine langsung menoleh tajam.
“Kamu diam saja!”
Aku memandang Siska.
“Kamu juga tahu?”
Perempuan itu menunduk.
“Aku baru tahu semuanya beberapa bulan lalu, Ran.”
“Apa yang kalian sembunyikan?”
Siska menarik napas panjang.
“Dua tahun lalu, ada akun anonim yang menyebarkan foto dan video lama kamu di media sosial.”
Jantungku langsung berdegup keras.
Aku sangat mengingat kejadian tersebut.
Saat itu, aku baru memulai perubahan pola hidup setelah berkonsultasi dengan dokter. Berat badanku masih cukup tinggi, dan aku sedang belajar membangun kebiasaan yang lebih sehat.
Namun, tiba-tiba sebuah video lama saat aku makan di kantin kampus tersebar.
Video tersebut diberi tulisan yang mempermalukanku.
Dalam beberapa hari, ratusan orang menertawakan tubuhku.
Aku sampai tidak berani masuk kelas selama hampir dua minggu.
“Jangan bilang…” bisikku.
Siska mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
“Akun itu dibuat Nadine.”
Aku merasa kedua kakiku melemas.
“Nadine?”
Sepupuku langsung menggeleng.
“Jangan percaya dia, Ran!”
Namun, Siska mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan beberapa tangkapan layar.
Ada percakapan Nadine dengan seorang teman bernama Vina.
Dalam percakapan tersebut, Nadine mengirimkan foto-foto lamaku yang hanya tersimpan di album keluarga.
Dia bahkan memberikan saran kalimat untuk membuat unggahan itu semakin ramai.
Aku membaca semuanya dengan tangan gemetar.
Salah satu pesan membuat dadaku terasa seperti dihantam benda berat.
“Biar Rani sadar diri. Dia terlalu percaya diri cuma karena nilainya bagus.”
Aku perlahan mengangkat wajah.
“Jadi selama ini kamu yang melakukannya?”
Nadine tidak menjawab.
Aku tertawa kecil, tetapi air mataku mulai jatuh.
“Waktu itu aku meneleponmu sambil menangis. Aku bilang aku takut keluar kamar karena semua orang mengejekku.”
Nadine menunduk.
“Kamu bilang aku harus lebih kuat. Kamu bahkan menyuruhku berhenti memikirkan komentar orang.”
Suaraku mulai bergetar.
“Padahal kamu sendiri yang membuat mereka menertawakanku?”
Arga menggenggam tanganku.
Namun, aku tetap menatap Nadine.
“Kenapa?”
Untuk beberapa saat, sepupuku hanya diam.
Kemudian dia menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Karena aku iri.”
Aku membeku.
“Iri?”
Nadine mengangkat wajah. Air matanya mulai mengalir.
“Sejak kecil, semua orang selalu membandingkan kita. Kamu dapat beasiswa. Kamu lulus dengan nilai terbaik. Kamu diterima di program pascasarjana tanpa bantuan siapa pun.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Tapi kamu selalu punya banyak teman. Semua orang menyukaimu.”
“Karena mereka melihat penampilanku!” bentak Nadine tiba-tiba. “Sementara kamu selalu dipuji karena kemampuanmu!”
Ruangan kembali sunyi.
Nadine menangis semakin keras.
“Aku merasa nggak punya apa-apa selain penampilan. Setiap kali keluarga membicarakan prestasimu, aku merasa semakin kecil.”
Aku menggeleng perlahan.
“Jadi kamu membuatku merasa tidak berharga supaya kamu bisa merasa lebih baik?”
Nadine menutup wajahnya.
Tidak ada jawaban yang mampu memperbaiki apa yang baru saja kudengar.
Aku menarik napas panjang.
“Dua tahun lalu, aku hampir berhenti kuliah karena unggahan itu.”
Siska menunduk semakin dalam.
“Ran, aku minta maaf karena dulu ikut tertawa.”
Aku menoleh kepadanya.
“Kenapa kamu baru bicara sekarang?”
“Karena aku takut dimusuhi Nadine dan teman-teman lainnya.”
Aku mengangguk pelan.
Ternyata selama ini aku dikelilingi orang-orang yang mengetahui kesalahanku bukanlah alasan aku dipermalukan, tetapi mereka tetap memilih diam.
Arga akhirnya berbicara.
“Aku sudah mengetahui sebagian cerita ini sejak kemarin. Ada seseorang yang mengirimkan tangkapan layar percakapan Nadine kepadaku.”
Aku menatapnya.
“Siapa?”
“Vina. Teman Nadine yang dulu membantu mengelola akun anonim itu.”
Nadine langsung terlihat panik.
“Vina yang mengirim?”
Arga mengangguk.
“Dia bilang sudah lama merasa bersalah. Ketika mengetahui kamu berencana menyiarkan pertemuan ini secara langsung, dia memutuskan memberi tahu aku.”
Aku memandang sepupuku.
“Jadi kamu masih ingin mempermalukanku dengan cara yang sama?”
Nadine menangis.
“Aku nggak menyangka kamu sudah berubah sebanyak ini.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Kemudian aku tertawa hambar.
“Nadine, kalau aku masih memiliki berat badan seperti dulu, apa kamu akan merasa lebih puas?”
Dia tidak menjawab.
“Kalau aku datang dengan tubuh yang dulu, apakah kamu berhak mempermalukanku?”
Nadine menggeleng pelan.
Aku mengusap air mata.
“Itulah yang tidak pernah kamu pahami. Kamu pikir masalahnya ada pada tubuhku. Padahal masalahnya ada pada caramu memperlakukan orang lain.”
Arga menatapku dengan wajah penuh perhatian.
“Rani, kita pulang saja kalau kamu mau.”
Aku mengangguk.
Namun, sebelum meninggalkan ruangan, aku menoleh kepada orang-orang yang hadir.
“Aku nggak tahu kalian datang karena ingin bertemu Nadine atau karena ingin melihat seseorang dipermalukan. Tapi aku berharap setelah malam ini kalian paham bahwa kehidupan orang lain bukan tontonan untuk mendapatkan komentar dan penonton.”
Tidak seorang pun menjawab.
Aku kemudian berjalan keluar bersama Arga.
Di luar restoran, udara Bandung terasa dingin. Jalanan masih ramai oleh kendaraan, sementara lampu-lampu toko memantul di aspal yang basah setelah hujan.
Arga mengajakku duduk di sebuah bangku dekat lobi.
“Rani, kamu baik-baik saja?”
Aku tertawa kecil sambil menghapus air mata.
“Nggak sepenuhnya.”
Dia mengangguk.
“Nggak apa-apa.”
Aku memandangnya.
“Mas, kamu kecewa nggak?”
“Kecewa karena apa?”
“Karena ternyata aku pernah punya tubuh yang sangat berbeda dari sekarang.”
Arga mengerutkan kening.
“Rani, aku sudah tahu berat badanmu dulu.”
Aku terkejut.
“Sejak kapan?”
“Sejak kamu cerita tentang pemeriksaan kesehatan dan perjalananmu mengubah pola hidup.”
“Tapi kamu belum pernah lihat foto lamaku.”
“Memangnya harus?”
Aku terdiam.
Arga tersenyum.
“Aku jatuh cinta sama perempuan yang selalu mengoreksi tanda baca di setiap pesan panjangku. Perempuan yang bisa membahas metodologi penelitian sampai dua jam, tapi masih sempat mengingatkan aku makan malam.”
Air mataku kembali menggenang.
“Kalau tubuhmu berubah lagi suatu hari nanti, apa itu membuat semua hal tersebut hilang?”
Aku menggeleng.
“Nggak.”
“Nah, itu jawabanku.”
Untuk pertama kalinya malam itu, aku bisa tersenyum dengan tulus.
Arga kemudian mengeluarkan ponselnya.
“Dan ada satu hal yang ingin kutunjukkan.”
Dia membuka sebuah percakapan lama.
Ternyata beberapa bulan sebelumnya, Nadine pernah menghubunginya melalui media sosial.
Awalnya mereka hanya membicarakan urusan kampus.
Namun, lama-kelamaan Nadine mulai menanyakan hubungannya denganku.
Dalam salah satu pesan, Nadine menulis bahwa aku sering menggunakan foto orang lain karena tidak percaya diri.
Arga membalas bahwa dia tidak membutuhkan penjelasan mengenai penampilanku dari orang ketiga.
Kemudian Nadine mengirimkan foto lama.
Aku menatap layar itu dengan dada sesak.
“Jadi Mas sudah melihatnya?”
Arga mengangguk.
“Sudah.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Karena aku nggak mau membuatmu merasa harus menjelaskan sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahanmu.”
Aku terdiam cukup lama.
Selama ini, aku takut bahwa melihat foto lamaku akan mengubah perasaan Arga.
Ternyata dia telah melihatnya.
Dan tetap memilih mengenalku lebih jauh.
Namun, Arga kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.
“Aku juga ingin minta maaf.”
“Untuk apa?”
“Karena ketika Nadine mengundangku makan malam, aku sebenarnya sudah curiga dia menyiapkan sesuatu. Tapi aku tetap datang tanpa memberitahumu semua yang kutahu.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Aku pikir bisa menghentikannya langsung di sana. Ternyata aku seharusnya memberi tahu kamu lebih dulu.”
Aku mengangguk perlahan.
“Lain kali, jangan membuat keputusan seperti itu sendirian.”
Arga menggenggam tanganku.
“Aku janji.”
Malam itu, kami akhirnya makan malam berdua di sebuah warung kecil tidak jauh dari restoran.
Tidak ada kamera.
Tidak ada orang yang sengaja menunggu reaksiku.
Hanya dua mangkuk mi ayam, dua gelas teh hangat, dan percakapan yang terasa jauh lebih nyaman daripada acara mewah yang baru saja kutinggalkan.
Sebelum pulang, Arga bertanya apakah dia boleh mengantarku menemui orang tuaku keesokan harinya.
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya, aku merasa siap memperkenalkan seseorang kepada keluargaku tanpa harus menyembunyikan bagian dari masa laluku.
Namun, keesokan paginya, sebuah pesan dari ibuku membuatku terkejut.
“Rani, Nadine datang ke rumah semalam. Dia menangis dan mengaku sudah melakukan sesuatu yang buruk kepadamu.”
Aku langsung menelepon Ibu.
“Apa yang dia bilang?”
“Dia mengaku menyebarkan foto-foto lamamu. Dia juga bilang sempat berniat mempermalukanmu lagi.”
Aku terdiam.
Ibu menarik napas panjang.
“Nak, Ibu minta maaf.”
“Kenapa Ibu yang minta maaf?”
“Karena dulu waktu kamu menangis akibat video itu, Ibu malah menyuruhmu jangan terlalu memikirkan omongan orang. Ibu nggak tahu orang yang melakukannya justru keluarga kita sendiri.”
Aku mengusap mata.
“Bu, Ibu nggak salah.”
“Tapi Ibu seharusnya lebih banyak mendengarkanmu.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa luka masa lalu tidak hanya berasal dari ejekan orang lain.
Kadang luka itu bertahan karena kita merasa tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami betapa sakitnya pengalaman tersebut.
Beberapa minggu kemudian, aku memutuskan bertemu Nadine di rumah nenek kami.
Aku datang bersama Ibu.
Nadine duduk di ruang tamu dengan mata sembap.
Begitu melihatku, dia langsung berdiri.
“Rani, maafin aku.”
Aku duduk di hadapannya.
“Aku datang bukan karena semuanya sudah baik-baik saja.”
Nadine mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku ingin kamu menghapus unggahan lama yang masih bisa kamu akses dan berhenti menyebarkan cerita tentang tubuhku.”
“Aku akan lakukan.”
“Kalau ada foto atau video lain yang pernah kamu bagikan, beri tahu aku supaya aku bisa mengambil langkah untuk menghapusnya.”
Nadine kembali mengangguk.
Aku menatapnya lama.
“Aku nggak tahu kapan bisa mempercayaimu lagi.”
Dia mulai menangis.
“Aku ngerti.”
“Dan aku nggak mau hubungan kita dipaksa kembali seperti dulu hanya karena kita sepupu.”
Nadine menunduk.
“Aku benar-benar menyesal.”
Aku menarik napas panjang.
“Kalau kamu menyesal, buktikan dengan berhenti melakukan hal yang sama kepada orang lain.”
Pertemuan itu berakhir tanpa pelukan dramatis.
Kami tidak langsung menjadi dekat kembali.
Namun, untuk pertama kalinya, aku bisa mengatakan dengan jelas batasan yang selama ini sulit kuungkapkan.
Beberapa bulan kemudian, aku mengikuti seminar kampus mengenai kesehatan mental dan citra tubuh.
Salah seorang pembicara membahas bagaimana komentar tentang penampilan dapat memengaruhi rasa percaya diri seseorang selama bertahun-tahun.
Ketika sesi diskusi dibuka, aku memberanikan diri mengangkat tangan.
Aku tidak menceritakan seluruh masalah keluargaku.
Aku hanya mengatakan bahwa dulu aku pernah merasa tidak pantas dicintai karena tubuhku.
Namun, setelah menjalani perjalanan panjang, aku menyadari bahwa perubahan fisik tidak otomatis menyembuhkan luka akibat perundungan.
Beberapa peserta mengangguk.
Seorang mahasiswi bahkan menghampiriku setelah acara.
“Kak, aku juga pernah mengalami hal seperti itu.”
Kami berbicara cukup lama.
Untuk pertama kalinya, pengalaman yang dulu membuatku malu justru membantuku memahami perasaan orang lain.
Setahun setelah pertemuan pertama kami, Arga mengajakku berjalan-jalan ke taman tempat kami biasa mengobrol setelah dia datang ke Bandung.
Dia membawa sebuah kotak kecil.
Aku langsung tertawa gugup.
“Mas, jangan bilang ini kejutan yang bikin aku harus pidato.”
Arga ikut tertawa.
“Nggak. Kamu cukup jawab satu pertanyaan.”
Dia membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat cincin sederhana.
“Rani, aku nggak bisa menjanjikan hidup yang selalu mudah. Tapi aku ingin terus belajar menjadi pasangan yang mendengarkanmu, menghargai pilihanmu, dan berjalan bersamamu.”
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Maukah kamu menikah denganku?”
Aku mengangguk sambil menangis.
“Mau.”
Arga memasangkan cincin di jariku.
Namun, sebelum memeluknya, aku berkata pelan.
“Mas, aku punya satu permintaan.”
“Apa?”
“Kalau suatu hari berat badanku berubah, jangan membuatku merasa harus meminta maaf karena itu.”
Arga tersenyum.
“Kamu nggak perlu meminta maaf karena tubuhmu berubah, Rani.”
Aku memeluknya erat.
Beberapa bulan kemudian, kami mengadakan pernikahan sederhana dengan keluarga dan sahabat terdekat.
Aku mengenakan kebaya putih yang kupilih sendiri.
Bukan karena ingin terlihat lebih kurus.
Bukan karena ingin membuktikan sesuatu kepada siapa pun.
Melainkan karena aku merasa nyaman dan bahagia memakainya.
Nadine tidak hadir.
Aku memilih menjaga jarak sampai hubungan kami benar-benar memiliki dasar kepercayaan yang baru.
Namun, beberapa hari sebelum pernikahan, dia mengirim sebuah surat.
Di dalamnya tertulis bahwa dia mulai mengikuti konseling untuk memahami rasa iri dan kebiasaannya membandingkan diri dengan orang lain.
Aku membacanya tanpa merasa perlu segera membalas.
Aku berharap dia benar-benar berubah.
Tetapi kebahagiaanku tidak lagi bergantung pada apakah Nadine akhirnya mengakuiku atau tidak.
Pada malam pernikahan, ketika para tamu mulai pulang, Arga menggenggam tanganku.
“Capek?”
“Lumayan.”
“Mau duduk?”
Aku mengangguk.
Kami duduk di kursi dekat taman sambil memperhatikan lampu-lampu dekorasi yang mulai dipadamkan.
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
“Mas, dulu aku kira kalau berat badanku turun, semua masalah kepercayaan diriku akan selesai.”
“Terus sekarang?”
“Sekarang aku tahu, angka di timbangan nggak bisa menentukan apakah seseorang layak dihargai.”
Arga mengangguk.
Aku memandang cincin di jariku.
Selama bertahun-tahun, aku berjuang memperbaiki kesehatan dan belajar menerima tubuhku.
Perjalanan itu tidak mudah.
Ada hari ketika aku merasa kuat.
Ada hari ketika komentar lama masih terdengar di kepalaku.
Namun, aku tidak lagi ingin menjalani hidup dengan tujuan membuktikan kepada orang-orang yang pernah mengejekku bahwa mereka salah.
Aku ingin hidup sehat karena tubuhku berhak dirawat.
Aku ingin menyelesaikan pendidikan karena aku mencintai ilmu yang kupelajari.
Dan aku ingin dicintai bukan karena penampilanku memenuhi harapan seseorang, melainkan karena aku bisa menjadi diriku sendiri.
Malam itu, sebelum tidur, aku membuka galeri ponsel dan menemukan foto kelulusan SMA yang dulu sangat kubenci.
Foto yang sama pernah disebarkan untuk mempermalukanku.
Aku memandangnya cukup lama.
Di sana ada seorang gadis muda dengan tubuh besar, senyum canggung, dan mata yang tampak berusaha menyembunyikan ketidaknyamanan.
Dulu aku selalu ingin menghapus foto tersebut.
Namun, kali ini aku justru tersenyum.
Aku tidak lagi melihat seseorang yang memalukan.
Aku melihat seorang gadis yang telah bertahan melewati banyak hal tanpa kehilangan keinginannya untuk belajar, bermimpi, dan dicintai.
Aku menyimpan foto itu dalam album pribadi.
Bukan untuk membandingkannya dengan tubuhku sekarang.
Melainkan untuk mengingat bahwa perempuan dalam foto itu juga layak dicintai sejak awal.
Tidak perlu menunggu berat badannya turun.
Tidak perlu menunggu orang lain mengakui kecantikannya.
Dan tidak perlu memenangkan persaingan apa pun dengan sepupunya.
Aku mematikan layar ponsel dan menoleh kepada Arga yang sedang merapikan barang-barang kami.
“Mas.”
“Iya?”
“Terima kasih sudah datang malam itu.”
Arga tersenyum.
“Ke restoran?”
Aku mengangguk.
“Tapi bukan karena kamu membelaku di depan Nadine.”
“Lalu karena apa?”
“Karena setelah semua orang pergi, kamu tetap mau duduk bersamaku di warung mi ayam dan mendengarkan ceritaku.”
Arga tertawa kecil.
“Kalau begitu, besok kita makan mi ayam lagi.”
Aku ikut tertawa.
Di luar jendela, malam semakin larut.
Aku pernah mengira perubahan terbesar dalam hidupku terjadi ketika berat badanku turun puluhan kilogram.
Namun, kini aku memahami bahwa perubahan paling penting justru terjadi ketika aku berhenti memandang diriku melalui mata orang-orang yang pernah menyakitiku.
Tubuhku mungkin berubah.
Kehidupanku juga berubah.
Tetapi nilai diriku tidak pernah bergantung pada ukuran pakaian, angka timbangan, atau komentar seseorang di media sosial.
Dan pada akhirnya, itulah kebebasan yang selama ini sebenarnya kucari.
