Aku Bertukar Kehidupan dengan Teman yang Selalu Diejek karena Tubuhnya, tetapi Pesan

Pagi pertama di rumah Mira, aku menangis di depan sepiring nasi.

Ibu Mira mengira masakannya terlalu pedas. Beliau buru-buru mengambilkan air, sedangkan aku menggeleng sambil menyeka pipi.

“Enak, Bu. Saya cuma belum terbiasa sarapan.”

Beliau tidak tahu bahwa di rumahku, makan harus didahului izin dari timbangan.

Namaku Nadira. Di kampus, orang mengenalku dari foto yang pernah viral, pakaian mahal, dan mobil yang menjemputku. Mira, sebaliknya, lebih sering dikenal melalui ejekan tentang tubuhnya.

Ketika kami bertukar tempat tinggal selama beberapa hari, dia tertawa melihat foto kamarku.

“Kalau punya hidupmu, aku nggak akan pernah mengeluh.”

Aku membiarkannya percaya sampai pesan Mama muncul sore itu.

“Besok pulang sebelum jam tujuh. Jangan sarapan sebelum ditimbang. Ukuran pinggangmu

bertambah.”

Mira yang berdiri di sebelahku ikut membacanya. Sebelum dia sempat bertanya, pesan Papa menyusul.

“Keluarga Raka sudah setuju. Pertunangan diumumkan setelah kamu lulus. Keputusan ini final.”

“Kamu mau menikah dengan Raka?” tanya Mira.

Aku menggeleng.

Dari dapur, ibunya memanggil kami makan. Ada suara sendok beradu dengan piring, aroma sup, dan pertanyaan sederhana tentang siapa yang ingin tambah nasi.

Mira menatap layar ponselku lagi.

“Selama ini mereka memperlakukanmu seperti apa?”

Aku ingin menjawab dengan tenang. Namun, yang keluar justru cerita tentang makanan yang diambil dari piringku, tubuh yang diperiksa sebelum acara keluarga, dan pintu kamar yang tidak boleh kukunci.

Mira duduk perlahan.

“Aku pernah lihat kamu nggak makan seharian,” katanya. “Kupikir kamu cuma menjaga bentuk tubuh.”

“Aku memang selalu bilang begitu.”

Dia menggenggam kedua tangannya.

“Aku juga bilang aku nggak peduli kalau diejek. Padahal kadang aku nunggu koridor kosong dulu baru keluar kelas.”

Aku teringat unggahan anonim yang kulihat di laptopnya pagi tadi. Foto Mira dari belakang, disertai ratusan komentar kejam.

“Aku pernah diam waktu teman-teman menertawakanmu,” kataku.

“Aku tahu.”

Dua kata itu lebih menyakitkan daripada kemarahan.

“Maaf.”

Mira mengangguk kecil. Dia belum tersenyum, dan aku tidak memaksanya.

Malam itu kami membatalkan pertukaran tempat tinggal. Aku menjelaskan kepada ibunya bahwa aku belum sanggup pulang.

Beliau mendengarkan tanpa memotong.

“Kamu boleh tinggal beberapa hari,” katanya. “Tapi kabari orang tuamu bahwa kamu aman. Besok kita pikirkan langkah berikutnya.”

Untuk pertama kalinya, aku menulis pesan kepada Mama tanpa meminta maaf.

“Aku aman di rumah Mira. Besok aku tidak ikut fitting. Aku juga tidak menyetujui pertunangan dengan Raka.”

Balasannya datang kurang dari semenit.

“Jangan mempermalukan keluarga.”

Tanganku mulai gemetar. Mira mengambilkan air, lalu duduk di dekatku tanpa membaca pesan berikutnya.

Pagi harinya, Mama datang.

Beliau berdiri di ruang tamu dengan tas mahal dan senyum kaku. Aku spontan merapikan baju, kebiasaan yang bahkan tidak kusadari sampai Mira menyentuh lenganku.

“Ayo pulang,” kata Mama. “Tante Ratih sudah menunggu.”

“Aku nggak ikut.”

“Nadira.”

Suara itu cukup untuk membuat perutku mual.

Ibu Mira menawarkan kursi. Mama menolak, lalu menatapku dari kepala sampai kaki.

“Kamu sudah makan?”

Aku mengangguk.

Mama menghela napas panjang, seolah aku baru melakukan kesalahan besar.

“Lihat? Baru sehari di sini sudah tidak disiplin.”

“Dia sarapan bersama kami,” ujar Ibu Mira tenang.

“Maaf, Bu. Anak saya memang harus diawasi.”

Aku hampir berdiri mengikuti Mama. Tubuhku sudah lebih dahulu bergerak sebelum pikiranku menyusul.

Lalu kulihat piring sarapan yang belum sempat dibawa ke dapur.

“Aku mau bicara dengan psikolog kampus dulu,” kataku.

Mama tertawa pendek.

“Kamu cuma terlalu banyak membaca cerita di internet.”

“Aku tetap mau bicara.”

Wajah beliau mengeras. Sebelum pergi, beliau mengatakan bahwa Papa akan memblokir kartu tambahanku.

Ancaman itu membuatku takut. Namun, setelah mobilnya menghilang, aku masih duduk di kursi yang sama.

Aku tidak pulang.

Siangnya, Mira menghadiri makan malam dengan Raka lebih awal di sebuah restoran. Dia sudah telanjur berjanji, dan ingin menanyakan langsung alasan namanya dibawa dalam rencana pertunangan.

Aku menunggu di rumah, sampai dia menelepon.

“Nad, aku mau menunjukkan sesuatu. Boleh aku pulang sekarang?”

Dia datang membawa ponsel dengan wajah pucat.

Raka rupanya menganggap Mira bisa membujukku.

“Dia bilang keluargamu sedang menyiapkan kerja sama distribusi dengan keluarganya,” kata Mira. “Pertunangan kalian akan membuat hubungan bisnis lebih kuat.”

Aku merasa dingin.

“Apa lagi?”

Mira ragu, kemudian memperlihatkan percakapan mereka setelah makan malam.

“Tolong nasihati Nadira. Dia tinggal mengikuti jadwal dan menjaga penampilan. Banyak perempuan ingin ada di posisinya.”

Di bawahnya ada pesan lain.

“Kamu juga bisa ikut program pelangsingan klinik tanteku. Nanti aku bantu dapat diskon.”

Mira tertawa sekali, hambar.

“Bahkan waktu minta bantuan pun dia masih merasa berhak mengomentari tubuhku.”

Aku menelepon Raka malam itu.

“Aku tidak menyetujui pertunangan ini.”

Dia menghela napas.

“Kamu lagi dipengaruhi siapa?”

“Aku sedang menjawab untuk diriku sendiri.”

Setelah menutup telepon, aku menangis lama. Mira tidak mengatakan bahwa aku seharusnya lega. Dia hanya menemaniku sampai napasku kembali teratur.

Minggu berikutnya, aku mulai menemui psikolog kampus dan mencari pekerjaan paruh waktu. Tabunganku cukup untuk menyewa kamar kecil dekat kampus, tetapi aku belum tahu bagaimana membayar semester berikutnya tanpa bantuan Papa.

Tidak semuanya langsung membaik. Aku masih merasa bersalah setelah makan. Bunyi notifikasi dari Mama masih membuat dadaku berdebar.

Mira pun tetap terluka saat unggahan tentang dirinya muncul lagi.

Kali ini, dengan persetujuannya, aku membantu menyimpan bukti dan melaporkannya ke pihak kampus. Aku juga mengakui kepada teman-teman bahwa selama ini aku ikut membiarkan ejekan itu berlangsung.

Sebulan kemudian, Mama datang ke kamar sewaku.

Beliau membawa kotak makan.

Aku memperhatikan tasnya, menunggu timbangan atau meteran dikeluarkan.

Namun, Mama hanya meletakkan kotak itu di meja.

“Sup ayam,” katanya.

Kami duduk canggung cukup lama sebelum beliau membuka ponsel dan menunjukkan sebuah foto lama. Mama remaja berdiri di samping nenek, mengenakan gaun dengan pita penghargaan di dada.

“Dulu Nenek juga mencatat berat badan Mama,” ujarnya.

Aku menatapnya. Baru kali itu beliau menceritakan masa kecil tanpa menyebut prestasi.

“Mama pikir kalau kamu selalu tampil sempurna, orang nggak akan menyakitimu.”

“Tapi aku terluka di rumah, Ma.”

Mama menunduk. Air matanya jatuh sebelum beliau sempat menghapusnya.

“Apa yang bisa Mama lakukan sekarang?”

Aku menggeser satu kursi ke dekat meja.

“Makan sama aku. Jangan bahas berat badanku.”

Beliau mengangguk.

Malamnya, Mira mengirim foto makan malam keluarganya. Ibunya tampak mengomel karena ayahnya mengambil gorengan sebelum semua orang duduk.

“Rumahku berisik banget,” tulisnya.

Aku tersenyum, lalu membalas dengan foto dua mangkuk sup di meja kecilku.

Dulu kami sama-sama ingin bertukar kehidupan.

Sekarang, untuk pertama kalinya, kami sedang belajar mempertahankan bagian hidup kami yang layak dicintai, dan mengubah bagian yang selama ini menyakitkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang