Suamiku Menyuruhku Pergi Setelah Cinta Pertamanya Kembali. Aku Hanya Membawa

“Tante Laras yang waktu itu menangis di klinik, Ma.”

Kalimat Dimas membuat tanganku membeku di atas ponsel. Dari seberang telepon, Arga terus memanggil namaku, tetapi suaranya terdengar seperti datang dari tempat yang sangat jauh.

“Kirana, kamu masih dengar aku?”

Aku menarik napas panjang.

“Dengar, Arga. Sekarang jawab satu pertanyaanku. Apa yang kamu lakukan bersama Laras di klinik itu?”

“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Aku tertawa hambar.

“Lucu sekali. Bahkan sebelum aku berpikir macam-macam, kamu sudah punya pembelaan.”

“Kirana, tolong jangan bahas ini di depan Dimas.”

“Kalau begitu, kirimkan foto surat yang ditinggalkan anak kita.”

Arga terdiam.

“Sekarang, Arga.”

Beberapa detik kemudian, sebuah foto masuk melalui WhatsApp.

Aku memperbesarnya.

Di atas selembar kertas gambar terdapat empat sosok manusia. Seorang laki-laki tinggi, perempuan berambut panjang, anak kecil, dan seorang bayi yang digambar terbaring di tempat tidur.

Di bawahnya ada tulisan dengan huruf besar yang tidak beraturan.

PAPA JANGAN TINGGALIN ADEK.

Tulisan itu jelas milik Dimas.

Namun, di balik kertas tersebut terdapat sesuatu yang lebih mengejutkan.

Sebuah nomor telepon dan tulisan Klinik Bunda Sehat.

Aku mengenali nomor tersebut.

Itu nomor yang pernah muncul berkali-kali di ponsel Arga ketika aku sedang hamil anak kembar.

Saat itu Arga mengatakan nomor tersebut milik rekan bisnisnya.

“Kirana?” panggil Arga.

Aku menatap gambar itu dengan dada sesak.

“Siapa bayi dalam gambar Dimas?”

Tidak ada jawaban.

“Arga, siapa bayi itu?”

Akhirnya terdengar suara suamiku yang gemetar.

“Anak Laras.”

Aku memejamkan mata.

“Anak siapa?”

“Kirana, aku akan menjelaskan semuanya kalau kita bertemu.”

“Kalau kamu masih ingin bicara denganku, mulailah dengan mengatakan yang sebenarnya.”

Keheningan berlangsung begitu lama hingga aku mengira sambungan terputus.

Lalu Arga berbisik.

“Anak itu juga anakku.”

Dunia seolah berhenti bergerak.

Aku memandang Raka dan Rafi yang tertidur di kursi bayi masing-masing. Dua anak yang selama ini kuurus hampir sendirian, sementara ayah mereka sering pulang larut malam dengan alasan pekerjaan.

Ternyata di tempat lain, ada seorang anak lagi yang juga memanggil Arga sebagai ayah.

“Sudah berapa lama?” tanyaku.

“Laras melahirkan sekitar setahun lalu.”

Aku menghitung cepat dalam kepala.

Berarti ketika aku sedang mengandung Raka dan Rafi, Arga sudah mengetahui bahwa Laras juga sedang mengandung anaknya.

“Jadi selama aku hamil anak kembar, kamu menjalin hubungan dengan Laras?”

“Aku melakukan kesalahan, Kirana.”

“Kesalahan?”

Suaraku meninggi hingga Dimas menoleh.

Aku segera menurunkan nada bicara.

“Anak kita pernah demam tinggi. Aku meneleponmu sebelas kali. Kamu tahu aku sendirian membawa Dimas ke IGD sambil menahan sakit bekas operasi?”

“Aku tahu.”

“Dan malam itu kamu bersama Laras?”

Arga tidak menjawab.

Aku menutup mata.

Jawabannya sudah jelas.

“Mulai sekarang, hubungi aku hanya untuk urusan anak-anak. Soal perceraian, kita selesaikan melalui pengacara.”

Aku memutus sambungan telepon.

Dimas memandangku dengan mata bulat.

“Mama marah sama Dimas?”

Pertanyaan itu membuat hatiku hancur.

Aku langsung memeluknya.

“Nggak, Sayang. Mama nggak marah sama Dimas.”

“Tapi Dimas sudah janji sama Papa nggak boleh cerita.”

Aku mengusap pipinya.

“Dimas nggak salah. Rahasia orang dewasa bukan tanggung jawab Dimas.”

Anak kecil itu terdiam.

Kemudian dia bertanya pelan.

“Kalau adek yang di klinik itu nangis, nanti siapa yang gendong, Ma?”

Aku menatap putraku dengan mata berkaca-kaca.

Bahkan setelah ditinggalkan ayahnya, Dimas masih memikirkan seorang bayi yang baru sekali ditemuinya.

Hari itu, untuk pertama kalinya, aku memahami mengapa Dimas menggambar bayi tersebut.

Bukan untuk menghukum ayahnya.

Melainkan karena dia takut seorang anak lain akan mengalami kesepian yang sama dengannya.

Sesampainya di rumah kontrakan baru di kawasan Depok, aku segera mengurus ketiga anakku. Rumah itu hanya memiliki dua kamar, ruang tamu kecil, dan dapur sederhana. Tidak ada taman luas seperti rumah lama kami.

Namun, ketika Dimas melihat dinding kamarnya yang kutempelkan gambar dinosaurus, dia langsung tersenyum.

“Ma, ini kamar Dimas?”

“Iya, Sayang.”

“Papa nggak tinggal di sini?”

Aku berjongkok di hadapannya.

“Papa tinggal di rumah lain. Tapi Papa tetap ayah Dimas, Raka, dan Rafi.”

Dimas mengangguk.

Lalu dia memelukku erat.

“Kalau begitu Dimas jagain Mama.”

Aku menangis diam-diam di balik bahunya.

Malam itu, setelah anak-anak tidur, aku membuka laptop dan memeriksa seluruh dokumen keuangan yang selama ini kusimpan.

Selama delapan bulan terakhir, aku memang sudah mempersiapkan diri untuk berpisah.

Aku memiliki penghasilan tetap dari pekerjaan desain dan tabungan darurat yang cukup untuk beberapa bulan.

Namun, aku juga tahu bahwa menanggung kebutuhan tiga anak bukan sesuatu yang bisa kuhadapi hanya dengan keberanian.

Keesokan paginya, aku menghubungi seorang pengacara keluarga bernama Bu Ratna.

Aku menjelaskan keadaan rumah tangga kami, termasuk dokumen perceraian yang diberikan Arga dan pengakuannya mengenai anak Laras.

Bu Ratna mendengarkan dengan saksama.

“Kirana, kamu boleh memilih mengakhiri pernikahan. Tetapi jangan melepaskan hak anak-anak hanya karena sedang kecewa kepada suamimu.”

“Aku nggak mau uangnya, Bu.”

“Itu keputusanmu untuk kebutuhan pribadi. Tapi nafkah anak adalah tanggung jawab kedua orang tua. Hak mereka berbeda dengan perasaanmu terhadap Arga.”

Aku terdiam.

Selama ini aku terlalu sibuk membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa Arga.

Sampai hampir melupakan bahwa anak-anak tidak seharusnya kehilangan hak mereka karena kesalahan ayahnya.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Kita mulai dengan menyusun kebutuhan anak-anak dan meninjau rancangan kesepakatan yang diberikan Arga. Jangan menandatangani apa pun sebelum kamu memahami akibat hukumnya.”

Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, pikiranku terasa sedikit lebih jernih.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Tiga hari kemudian, Laras datang ke rumah kontrakanku.

Aku sedang menjemur pakaian si kembar ketika bel berbunyi.

Begitu membuka pintu, aku melihat perempuan berambut panjang mengenakan blus krem dan celana hitam berdiri sambil menggendong seorang bayi perempuan.

“Kirana?”

Aku langsung mengenalinya dari foto.

“Laras.”

Perempuan itu menunduk.

“Maaf datang tanpa memberi tahu. Aku cuma ingin bicara.”

Aku memandang bayi dalam gendongannya.

Usianya sekitar satu tahun. Wajahnya mungil, matanya bulat, dan rambutnya diikat menggunakan jepit kecil berwarna merah muda.

“Arga menyuruhmu datang?”

Laras menggeleng.

“Nggak. Dia bahkan nggak tahu aku ke sini.”

Aku mempersilahkannya duduk setelah memastikan anak-anak berada di tempat yang aman.

Laras meletakkan tasnya di sofa.

“Aku tahu kamu pasti membenciku.”

“Aku bahkan belum punya waktu untuk membencimu,” jawabku. “Aku terlalu sibuk mengurus tiga anak.”

Wajahnya memerah.

“Aku pantas mendengar itu.”

Aku duduk berhadapan dengannya.

“Jadi, apa yang kamu inginkan?”

Laras menarik napas panjang.

“Aku ingin menjelaskan sesuatu tentang klinik itu.”

Aku terdiam.

“Waktu Dimas datang bersama Arga, putriku sedang menjalani pemeriksaan karena demam. Namanya Alina.”

Laras memandang bayi dalam pelukannya.

“Aku baru tahu Arga sudah menikah setelah aku hamil.”

Aku mengerutkan kening.

“Apa?”

“Arga bilang kalian sudah berpisah rumah dan sedang mengurus perceraian. Dia bilang hubungan kalian hanya tinggal urusan administrasi.”

Aku tertawa getir.

“Waktu itu aku masih hamil anak kembarnya.”

Laras menangis.

“Aku tahu sekarang.”

“Lalu kenapa kamu tetap bersamanya?”

“Karena aku sudah terlanjur berharap dia akan memilihku.”

Jawaban itu membuatku terdiam.

Laras melanjutkan dengan suara bergetar.

“Waktu Alina lahir, aku mulai menyadari Arga sering berbohong. Dia bilang sedang bekerja, padahal ternyata ada di rumah bersama kalian. Kadang dia bilang pergi menemui keluarganya, padahal sedang bersamaku.”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu juga mengalami hal yang sama?”

Laras mengangguk.

“Tapi itu nggak menghapus kesalahanku. Setelah tahu dia masih hidup bersamamu sebagai suami, aku tetap melanjutkan hubungan ini.”

Untuk beberapa saat, kami sama-sama diam.

Kemudian Laras mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.

“Ada sesuatu yang perlu kamu lihat.”

Di dalamnya terdapat salinan beberapa bukti transfer dari rekening Arga kepada Laras.

Aku memeriksanya satu per satu.

Nominalnya cukup besar.

Sebagian dikirim ketika aku baru melahirkan Raka dan Rafi.

Namun, ada satu transaksi yang membuatku mengerutkan kening.

Transfer sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah.

Keterangan transaksinya berbunyi pelunasan kewajiban.

“Uang apa ini?”

Laras menunduk.

“Arga bilang itu uang pinjaman dari perusahaan untuk biaya pengobatan Alina.”

Aku menggeleng.

“Alina sakit apa sampai membutuhkan uang sebanyak itu?”

“Dia pernah dirawat beberapa hari, tetapi biayanya tidak sebesar itu.”

Dadaku mulai berdebar.

“Kenapa kamu menunjukkan ini kepadaku?”

“Karena dua minggu lalu ada seseorang datang mencariku. Dia mengaku dari bagian audit perusahaan Arga.”

Aku menatapnya semakin serius.

“Lalu?”

“Dia menanyakan apakah aku pernah menerima pembayaran untuk proyek desain produk atas nama perusahaanmu.”

Aku membeku.

“Perusahaanku?”

Laras mengangguk.

“Dia menyebut nama Kirana Studio.”

Aku langsung berdiri.

Kirana Studio adalah usaha desain yang kurintis setelah berhenti bekerja kantoran. Seluruh klienku berasal dari perusahaan kecil dan toko daring.

Aku tidak pernah menerima proyek dari perusahaan Arga.

“Laras, kamu yakin?”

“Yakin. Itu sebabnya aku datang.”

Aku segera menghubungi Bu Ratna.

Sore harinya, kami bertemu di kantornya bersama seorang konsultan akuntansi yang direkomendasikan pengacara tersebut.

Setelah memeriksa dokumen yang tersedia, kami menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Selama hampir setahun, terdapat sejumlah faktur jasa desain menggunakan nama usaha dan contoh portofolioku.

Namun, rekening tujuan pembayarannya bukan rekeningku.

Nomor rekening itu terhubung dengan sebuah badan usaha lain yang menggunakan alamat korespondensi milik Arga.

Aku merasa kepalaku berputar.

“Jadi selama ini dia menggunakan nama usahaku?”

Konsultan itu menjawab hati-hati.

“Ada indikasi penyalahgunaan identitas usaha. Tapi kita perlu verifikasi dokumen asli dan aliran dana sebelum menyimpulkan apa yang terjadi.”

Bu Ratna menatapku.

“Kirana, mulai sekarang simpan seluruh bukti. Jangan menghadapi Arga sendirian.”

Malam itu, aku hampir tidak bisa tidur.

Aku datang ke rumah baru dengan keyakinan bahwa masalah terbesarku hanyalah perceraian.

Ternyata kebohongan Arga mungkin sudah merambah ke pekerjaan dan keuanganku.

Dua hari kemudian, Arga akhirnya datang.

Dia berdiri di depan pagar rumah kontrakan dengan wajah kusut.

“Aku cuma ingin melihat anak-anak.”

Aku mempersilahkannya masuk setelah memastikan percakapan kami tidak mengganggu mereka.

Dimas langsung berlari menghampirinya.

“Papa!”

Arga berjongkok dan memeluk putra sulung kami.

Aku melihat matanya berkaca-kaca.

Untuk pertama kalinya, dia benar-benar memperhatikan betapa cepat ketiga anak kami tumbuh.

Setelah bermain bersama mereka, Arga menghampiriku di dapur.

“Kirana, aku mau minta maaf.”

Aku tetap mencuci botol susu.

“Untuk yang mana?”

Dia terdiam.

“Untuk semuanya.”

Aku meletakkan botol di rak.

“Kalau begitu, aku juga punya pertanyaan.”

Aku menunjukkan salinan salah satu faktur.

Wajah Arga langsung berubah.

“Dari mana kamu dapat ini?”

“Jawab saja. Kenapa nama usahaku digunakan untuk transaksi perusahaanmu?”

Arga mengusap wajahnya.

“Kirana, itu rumit.”

“Jangan bilang rumit kalau maksudmu aku nggak perlu tahu.”

Dia menarik kursi dan duduk.

Beberapa saat kemudian, Arga akhirnya mengaku.

Perusahaannya mengalami masalah keuangan akibat investasi yang gagal. Untuk menutupi sebagian pengeluaran, dia membuat beberapa transaksi jasa melalui pihak ketiga.

Dia menggunakan nama Kirana Studio karena menganggap usaha itu milik keluarga sendiri.

“Aku berniat mengembalikan semuanya setelah keadaan membaik,” katanya.

Aku memandangnya tidak percaya.

“Kamu bahkan nggak pernah meminta izinku.”

“Aku tahu.”

“Kalau ada masalah pajak atau hukum, namaku yang akan ikut terseret!”

Arga menunduk.

“Aku akan bertanggung jawab.”

Aku menggeleng pelan.

“Aku sudah terlalu sering mendengar janji itu.”

Arga menatapku dengan mata merah.

“Kirana, tolong jangan laporkan masalah ini dulu. Aku bisa kehilangan pekerjaanku.”

Aku terdiam.

Di ruang sebelah, terdengar suara Dimas tertawa bersama adik-adiknya.

Aku memandang Arga.

“Waktu kamu menyuruhku pergi, apa kamu pernah berpikir aku bisa kehilangan segalanya?”

Dia tidak menjawab.

“Sekarang kamu takut kehilangan pekerjaan. Aku takut anak-anak kehilangan masa depan karena keputusanmu.”

Arga menutup wajahnya.

Aku mengambil map dari meja.

“Semua persoalan keuangan ini akan ditangani melalui jalur hukum yang sesuai. Aku nggak mau ada lagi kebohongan.”

Beberapa bulan berikutnya menjadi masa paling berat dalam hidupku.

Proses perceraian berjalan. Persoalan penggunaan nama usahaku juga diperiksa dengan bantuan penasihat hukum dan pihak-pihak terkait.

Arga akhirnya harus menyerahkan dokumen serta menjelaskan transaksi yang dilakukannya.

Aku tidak mengetahui seluruh akibat yang akan dihadapinya, tetapi setidaknya namaku tidak lagi digunakan tanpa persetujuan.

Sementara itu, usahaku justru mulai berkembang.

Seorang klien lama merekomendasikan desainku kepada sebuah perusahaan perlengkapan anak. Aku mendapatkan kontrak baru yang memungkinkan penghasilanku meningkat secara bertahap.

Aku juga mempekerjakan satu ilustrator lepas untuk membantu mengerjakan proyek.

Rumah kontrakan kecil kami mulai terasa lebih nyaman.

Raka dan Rafi sudah belajar berjalan. Dimas masuk taman kanak-kanak dan semakin sering membawa pulang gambar keluarga.

Namun, ada sesuatu yang berubah dari gambar-gambarnya.

Dulu dia selalu menggambar Papa, Mama, dan ketiga anak dalam satu rumah besar.

Sekarang dia menggambar dua rumah kecil.

Di rumah pertama ada Mama, Dimas, Raka, dan Rafi.

Di rumah kedua ada Papa.

Kedua rumah itu dihubungkan sebuah jalan panjang.

Suatu sore, aku bertanya kepadanya.

“Kenapa gambarnya ada dua rumah, Sayang?”

Dimas menjawab polos.

“Karena Papa tinggal jauh. Tapi kalau Papa mau ketemu Dimas, kan masih ada jalannya.”

Aku memeluknya erat.

Anak berusia empat tahun itu memahami sesuatu yang bahkan sulit diterima banyak orang dewasa.

Bahwa sebuah keluarga bisa berubah bentuk tanpa harus kehilangan seluruh kasih sayangnya.

Beberapa waktu kemudian, Arga datang membawa sebuah kotak kecil.

“Aku menemukan ini waktu membersihkan rumah lama.”

Dia menyerahkannya kepadaku.

Di dalamnya terdapat mobil-mobilan Dimas yang rusak, mainan yang dahulu selalu dibawanya ke mana-mana.

Namun, kali ini roda yang hilang sudah terpasang kembali.

“Dimas pernah bilang dia nggak mau membuangnya karena ini hadiah pertamaku,” kata Arga.

Aku terdiam.

“Dia bilang walaupun rodanya rusak, mobil ini tetap miliknya.”

Arga mengusap matanya.

“Selama ini aku pikir kalau sesuatu rusak, aku bisa menggantinya dengan yang baru. Ternyata ada hal-hal yang nggak bisa diganti begitu saja.”

Aku menerima kotak itu.

“Arga, kamu masih bisa menjadi ayah yang baik. Tapi itu membutuhkan tindakan, bukan sekadar penyesalan.”

Dia mengangguk.

“Aku tahu.”

Sore itu, setelah Arga pulang, aku memberikan mobil-mobilan tersebut kepada Dimas.

Matanya langsung berbinar.

“Mama! Mobil Dimas sudah sembuh!”

Aku tersenyum.

“Iya. Papa yang memperbaikinya.”

Dimas memeluk mainan itu erat-erat.

Kemudian dia berlari mengambil selembar kertas dan mulai menggambar.

Aku memperhatikannya dari meja kerja.

Kali ini dia menggambar sebuah mobil kecil yang melintas di antara dua rumah.

Ketika selesai, dia menyerahkannya kepadaku.

“Ma, Dimas sudah tahu mau jadi apa kalau besar nanti.”

“Apa, Sayang?”

“Dimas mau jadi orang yang bisa benerin barang rusak.”

Aku tertawa kecil.

“Mau jadi montir?”

Dimas mengangguk.

“Tapi bukan cuma mobil.”

“Terus apa lagi?”

Dia berpikir beberapa saat.

“Kalau orang sedih, Dimas juga mau bantu supaya nggak sedih lagi.”

Air mataku langsung menggenang.

Aku memeluk putraku.

“Nak, kamu nggak harus memperbaiki semua kesedihan orang dewasa. Kamu cukup tumbuh bahagia.”

Dimas mengangguk, lalu kembali bermain bersama adik-adiknya.

Malam itu, setelah ketiga anak tertidur, aku membuka laptop dan menyelesaikan proyek desain terakhir untuk minggu tersebut.

Di samping meja kerja terdapat sebuah foto keluarga yang baru kami ambil.

Aku duduk di tengah dengan Raka dan Rafi di pangkuan, sementara Dimas berdiri di sampingku sambil memegang mobil-mobilan kesayangannya.

Kami tersenyum.

Bukan senyum yang dibuat untuk meyakinkan orang lain bahwa semuanya baik-baik saja.

Melainkan senyum yang muncul setelah melewati begitu banyak malam sulit dan akhirnya menemukan ketenangan.

Aku teringat malam ketika Arga meletakkan dokumen perceraian di meja makan.

Saat itu, aku mengira hidupku akan hancur.

Aku takut kehilangan rumah, kehilangan rasa aman, dan kehilangan gambaran keluarga yang selama ini kubangun.

Namun, ternyata yang paling menyakitkan bukanlah pergi dari rumah besar itu.

Melainkan menyadari betapa lama aku bertahan di tempat yang sudah tidak lagi memberiku ketenangan.

Kini aku memahami bahwa keputusan untuk pergi bukan selalu berarti menyerah.

Kadang-kadang, pergi adalah cara seseorang melindungi dirinya dan orang-orang yang paling dicintainya.

Dan amplop kecil yang ditinggalkan Dimas di meja makan hari itu akhirnya mengajarkanku satu hal.

Anak-anak mungkin belum memahami rumitnya pengkhianatan, perceraian, atau masalah orang dewasa.

Tetapi mereka bisa merasakan ketika kasih sayang berubah menjadi ketidakpedulian.

Mereka melihat siapa yang hadir ketika mereka sakit.

Siapa yang menenangkan ketika mereka menangis.

Dan siapa yang tetap menggenggam tangan mereka ketika dunia terasa menakutkan.

Aku menutup laptop, kemudian berjalan menuju kamar anak-anak.

Dimas tertidur sambil memeluk mobil-mobilan yang sudah diperbaiki.

Di sampingnya, Raka dan Rafi terlelap dengan wajah damai.

Aku membenarkan selimut mereka satu per satu.

Lalu berbisik pelan.

“Mama mungkin nggak bisa memberi kalian keluarga yang sempurna. Tapi Mama akan selalu berusaha memberi kalian rumah yang penuh rasa aman.”

Di luar, hujan mulai turun membasahi halaman kecil.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi menunggu suara mobil Arga memasuki garasi.

Aku tidak lagi memeriksa jam.

Tidak lagi bertanya-tanya apakah suamiku sedang bersama perempuan lain.

Aku hanya duduk di samping ketiga anakku, mendengarkan napas mereka yang teratur.

Dan malam itu, aku akhirnya menyadari bahwa rumah bukanlah bangunan besar dengan perabotan mahal atau halaman luas.

Rumah adalah tempat di mana seseorang tidak perlu takut ditinggalkan hanya karena dirinya tidak lagi menjadi pilihan utama.

Tempat di mana kasih sayang tidak digunakan sebagai alasan untuk menyakiti.

Dan tempat di mana tiga anak kecil bisa tidur dengan tenang, mengetahui bahwa ketika mereka terbangun esok pagi, ada seseorang yang akan tetap berada di sana.

Aku pernah pergi hanya dengan tiga anak dan sebuah koper.

Namun, ternyata aku tidak pergi dengan tangan kosong.

Aku membawa masa depan yang masih bisa kubangun kembali.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang