“Aku pernah berjanji akan menikah dengan Wira.”
Ucapan Citra membuat Jelita membeku di tengah jalan. Suara sepeda motor yang melintas bahkan terasa begitu jauh. Dia menatap perempuan di hadapannya, berharap apa yang baru saja didengarnya hanyalah kesalahpahaman.
“Maksudmu, kamu dan Wira pernah berpacaran?”

Citra mengangguk perlahan.
“Bukan cuma berpacaran, Jel. Dulu keluarga kami sudah membicarakan pernikahan.”
Jelita merasa dadanya sesak. Baru beberapa menit lalu dia tersenyum sepanjang perjalanan karena teringat wajah malu-malu suaminya ketika menerima rantang makanan. Kini perasaan hangat itu mendadak berubah menjadi kebingungan.
“Tapi kenapa kamu akan menikah dengan sepupunya?”
Citra menunduk. Jemarinya meremas ujung undangan yang dibawanya.
“Karena aku pernah melakukan kesalahan besar. Aku meninggalkan Wira ketika keluarganya sedang mengalami kesulitan.”
Jelita tidak langsung menjawab.
Citra kemudian menceritakan bahwa empat tahun lalu, Wira bekerja sebagai mandor bangunan di Semarang. Penghasilannya cukup baik hingga ayahnya meninggal dan meninggalkan sejumlah utang akibat usaha yang bangkrut. Wira menjual sepeda motor dan sebagian tanah warisan untuk melunasi kewajiban ayahnya.
Saat itulah kehidupan mereka berubah.
“Aku takut hidup susah,” aku Citra dengan mata berkaca-kaca. “Ibuku terus mengatakan bahwa cinta saja tidak cukup untuk membangun rumah tangga. Lalu Bagas datang menawarkan kehidupan yang lebih mapan.”
“Bagas itu sepupu Wira?”
“Iya.”
Jelita mengembuskan napas panjang.
“Jadi kamu meninggalkan Wira untuk Bagas?”
Citra mengangguk.
“Aku tahu perbuatanku menyakitinya. Tetapi sekarang aku benar-benar ingin meminta maaf.”
“Kenapa tidak kamu katakan sendiri?”
“Aku sudah mencoba. Wira selalu menghindar. Aku tidak ingin pernikahanku nanti menjadi alasan hubungan keluarga mereka semakin buruk.”
Jelita menatap undangan berwarna krem di tangan Citra.
Ada sesuatu yang terasa ganjil. Jika benar Citra telah meninggalkan Wira demi Bagas, mengapa perempuan itu terlihat begitu gelisah menjelang pernikahannya?
Namun, Jelita memutuskan tidak bertanya lebih jauh.
“Aku akan menyampaikan permintaan maafmu. Tapi aku tidak bisa menjanjikan bagaimana tanggapannya.”
“Terima kasih, Jelita.”
Citra menyerahkan sebuah undangan, kemudian berjalan pergi.
Jelita melanjutkan perjalanan pulang dengan pikiran kacau.
Sesampainya di rumah, dia mendapati Murni sedang memilah kacang panjang di teras.
“Sudah ketemu Wira, Neng?”
“Sudah, Bu.”
“Kok wajahmu murung? Ada masalah?”
Jelita duduk di samping ibu mertuanya.
“Bu, dulu Mas Wira pernah hampir menikah dengan Citra, ya?”
Gerakan tangan Murni langsung terhenti.
Perempuan tua itu menatap menantunya dengan wajah berubah.
“Kamu bertemu Citra?”
“Iya. Dia sedang membagikan undangan.”
Murni menarik napas panjang.
“Berarti kamu sudah tahu.”
“Kenapa Ibu tidak pernah cerita?”
“Karena itu masa lalu Wira, Neng. Ibu tidak ingin membuka luka yang sudah susah payah dia sembuhkan.”
Jelita terdiam.
Murni kemudian menceritakan bagaimana Wira pernah bekerja siang malam untuk mengumpulkan biaya pernikahan. Ketika Citra membatalkan pertunangan mereka, Wira tidak marah. Dia hanya mengembalikan semua barang pemberian keluarga Citra, lalu pergi bekerja ke luar kota selama hampir setahun.
“Wira itu orangnya tidak banyak bicara,” ujar Murni lirih. “Kalau sedang terluka, dia lebih suka menyimpannya sendiri.”
Jelita menunduk memandangi cincin peninggalan ibunya.
“Kalau begitu, kenapa Mas Wira mau menikah denganku?”
Murni tersenyum tipis.
“Pertanyaan itu sebaiknya kamu tanyakan langsung kepada suamimu.”
Malam harinya, Wira pulang ketika Jelita sedang menyiapkan makan malam.
Laki-laki itu tampak kelelahan. Debu semen masih menempel di ujung celananya, sementara telapak tangannya terlihat kasar akibat bekerja seharian.
Jelita diam-diam memperhatikan suaminya.
Dulu, dia merasa malu ketika mengetahui laki-laki yang dinikahinya bekerja sebagai tukang bangunan. Dia bahkan pernah menganggap Wira tidak memiliki masa depan.
Namun, siang tadi, ketika melihat suaminya bekerja di bawah terik matahari, untuk pertama kalinya Jelita menyadari betapa berat perjuangan laki-laki itu.
“Mas, aku mau tanya sesuatu.”
Wira mengangkat wajah.
“Tanya apa?”
“Tadi aku bertemu Citra.”
Sendok di tangan Wira berhenti bergerak.
“Oh.”
“Dia bilang pernah hampir menikah denganmu.”
Wira meletakkan sendoknya.
“Benar.”
“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”
“Karena menurutku tidak ada yang perlu diceritakan. Semuanya sudah selesai.”
Jelita menatapnya lekat-lekat.
“Dia meminta maaf.”
Wira terdiam beberapa saat.
“Aku sudah memaafkannya sejak lama.”
“Kalau begitu, kenapa kamu menghindarinya?”
“Karena memaafkan seseorang tidak berarti kita harus kembali dekat dengannya.”
Jawaban itu membuat Jelita kehilangan kata-kata.
Wira kemudian menatap istrinya.
“Kamu marah?”
“Tidak. Aku cuma merasa ada banyak hal tentang kamu yang belum kuketahui.”
Wira tersenyum kecil.
“Kita memang belum lama saling mengenal, Jel. Masih banyak waktu kalau kamu mau.”
Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat hati Jelita menghangat.
Keesokan paginya, seseorang datang mengetuk pintu rumah mereka dengan tergesa-gesa.
Ketika Murni membukanya, ternyata yang datang adalah Citra.
Wajah perempuan itu pucat. Matanya sembap seperti habis menangis semalaman.
“Bu Murni, Wira ada?”
“Ada apa, Citra?”
Citra tidak menjawab. Dia justru menangis.
“Bagas membatalkan pernikahan kami!”
Jelita yang mendengar keributan segera keluar dari dapur.
“Apa?”
Citra mengusap air matanya.
“Tadi malam keluarga Bagas datang. Mereka bilang pernikahan harus ditunda karena ada masalah keuangan.”
Murni terlihat terkejut.
“Masalah keuangan apa?”
Citra menggeleng.
“Aku tidak tahu. Tapi aku mendengar Bagas menyebut nama Wira.”
Jelita langsung menoleh kepada suaminya yang baru keluar dari kamar.
Wira tampak tenang, seolah sudah menduga sesuatu akan terjadi.
“Ada apa sebenarnya, Mas?” tanya Jelita.
Wira tidak langsung menjawab.
“Citra, sebaiknya kamu pulang dulu. Masalah ini akan kubicarakan dengan Bagas.”
Namun, Citra justru menangis semakin keras.
“Aku tahu kamu masih membenciku, Wir. Tapi tolong jangan libatkan pernikahanku!”
Wira mengernyit.
“Aku tidak pernah berniat mengganggu pernikahanmu.”
“Lalu kenapa Bagas bilang semua ini gara-gara kamu?”
Sebelum Wira menjawab, suara sepeda motor terdengar berhenti di halaman.
Seorang laki-laki berjaket hitam turun dengan wajah tegang.
Bagas.
Dia berjalan cepat menghampiri Wira.
“Jadi kamu sengaja mempermalukanku di depan keluarga Citra?”
Wira menatap sepupunya.
“Aku cuma meminta uang yang menjadi hak para pekerja.”
Jelita langsung memperhatikan mereka.
“Uang apa?”
Bagas terlihat gugup.
Wira menjelaskan bahwa enam bulan sebelumnya, Bagas mendapat proyek renovasi sebuah gedung perkantoran di Semarang. Karena kekurangan modal, dia meminta bantuan Wira untuk menyediakan tenaga kerja.
Wira menyetujui permintaan itu dengan syarat seluruh pekerja mendapat bayaran tepat waktu.
Namun, setelah proyek selesai, Bagas menahan pembayaran upah puluhan pekerja.
“Uangnya sudah cair dari pemilik proyek,” ujar Wira. “Tapi kamu malah menggunakannya untuk membayar uang muka mobil dan biaya pesta pernikahan.”
Wajah Citra seketika berubah.
“Bagas, benar begitu?”
Bagas mengalihkan pandangan.
“Jangan ikut campur!”
Wira melanjutkan dengan suara tegas.
“Aku sudah menunggu tiga bulan. Para pekerja itu punya keluarga. Ada yang harus membayar sekolah anak, ada yang istrinya sedang sakit. Aku tidak bisa terus menyuruh mereka bersabar.”
Bagas mengepalkan tangan.
“Jadi kamu melaporkanku kepada pemilik proyek?”
“Aku meminta mereka memeriksa aliran pembayaran. Aku juga sudah menunjukkan bukti bahwa para pekerja belum menerima upah.”
“Dasar munafik!”
Bagas melangkah maju, tetapi Wira tidak bergeming.
“Kamu boleh marah kepadaku. Tapi jangan mengambil hak orang lain.”
Jelita memandang suaminya dengan perasaan campur aduk.
Ternyata selama ini Wira bukan sekadar pekerja bangunan seperti yang dibayangkannya. Dia dipercaya mengoordinasikan pekerjaan dan berani memperjuangkan hak orang-orang yang bekerja bersamanya.
Citra menatap Bagas dengan mata berkaca-kaca.
“Jadi selama ini kamu berbohong kepadaku?”
Bagas terdiam.
“Katamu mobil itu hasil keuntungan usahamu. Katamu kamu sudah punya tabungan untuk membeli rumah.”
“Citra, dengarkan aku.”
“Jawab dulu!”
Bagas mengembuskan napas kasar.
“Aku hanya meminjam uang proyek sebentar. Nanti juga kukembalikan!”
Citra mundur selangkah.
“Dengan uang sebanyak itu, kamu masih tega menahan gaji pekerja?”
Bagas tidak menjawab.
Citra akhirnya melepaskan cincin pertunangannya.
“Aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang membangun kebahagiaannya dari penderitaan orang lain.”
Semua orang terdiam.
Bagas menatap cincin yang diletakkan Citra di atas meja teras.
“Kamu serius?”
Citra mengangguk sambil menangis.
“Aku pernah meninggalkan orang baik karena takut hidup miskin. Aku tidak mau mengulangi kesalahan dengan menikahi orang yang kaya hanya karena mengambil hak orang lain.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Citra pergi.
Bagas menyusul dengan wajah kalut.
Halaman rumah kembali sunyi.
Murni menghela napas panjang.
“Ya Allah, ada-ada saja masalah keluarga ini.”
Jelita menoleh kepada Wira.
“Mas, kenapa kamu tidak pernah cerita soal proyek itu?”
“Tidak ada gunanya membuat kamu ikut pusing.”
“Tapi kamu pasti memikirkan masalah ini setiap hari.”
Wira mengangguk kecil.
“Yang penting sekarang ada jalan untuk menyelesaikannya.”
Beberapa hari kemudian, Bagas akhirnya menandatangani kesepakatan pembayaran setelah pemeriksaan dokumen memperjelas kewajibannya. Sebagian uang yang masih berada dalam rekening usaha digunakan untuk membayar tunggakan upah pekerja, sementara sisanya diselesaikan melalui jadwal pembayaran tertulis.
Wira kembali bekerja seperti biasa.
Namun, bagi Jelita, ada sesuatu yang berubah.
Kini setiap kali melihat suaminya berangkat membawa kotak perkakas, dia tidak lagi merasa rendah diri.
Sebaliknya, dia merasakan kebanggaan yang sulit dijelaskan.
Suatu sore, Jelita sedang membantu Murni menyiapkan gorengan ketika sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah.
Dari dalamnya turun seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun mengenakan kemeja putih rapi.
Dia menghampiri Wira yang baru pulang bekerja.
“Pak Wira, akhirnya saya menemukan Bapak!”
Jelita terkejut mendengar panggilan itu.
Wira segera menyalami laki-laki tersebut.
“Pak Hendra? Ada perlu apa sampai datang ke sini?”
“Saya mau membicarakan penawaran kerja sama yang kemarin. Direksi sudah menyetujuinya.”
Laki-laki itu mengeluarkan map tebal.
“Kami ingin Bapak menjadi mitra pelaksana pembangunan proyek perumahan di Solo. Nilai kontraknya cukup besar, dan tim Bapak punya rekam jejak yang kami butuhkan.”
Jelita membelalak.
Dia memandang Wira yang tampak berpikir serius.
“Pak, saya harus memeriksa perhitungannya dulu. Saya tidak mau mengambil pekerjaan kalau belum yakin mampu membayar semua pekerja tepat waktu.”
Pak Hendra tertawa puas.
“Itulah alasan kami memilih Bapak.”
Setelah tamu tersebut pergi, Jelita segera mendekati suaminya.
“Mas, sebenarnya kamu ini siapa?”
Wira tertawa kecil.
“Ya suamimu.”
“Bukan itu maksudku! Tadi orang itu menawarkan proyek besar. Kenapa kamu tidak pernah bilang punya usaha?”
Wira mengajaknya duduk di teras.
“Aku memang punya usaha jasa konstruksi kecil bersama beberapa teman. Tapi setelah Ayah meninggal, sebagian besar modalnya habis untuk melunasi utang keluarga. Aku mulai lagi dari bawah.”
“Jadi selama ini kamu sengaja bekerja sebagai tukang?”
“Aku memang tukang, Jel. Aku belajar memasang batu bata, mengecor lantai, sampai menghitung kebutuhan material. Aku tidak malu dengan pekerjaan itu.”
Jelita menunduk.
Dia teringat semua perkataan kasarnya dulu.
“Mas, maafkan aku.”
Wira menatapnya bingung.
“Untuk apa?”
“Karena aku pernah merendahkan pekerjaanmu. Aku terlalu sibuk menilai seseorang dari pakaian dan hartanya sampai lupa melihat bagaimana dia memperlakukan orang lain.”
Wira menggenggam tangan istrinya.
“Aku juga bukan orang sempurna. Kita sama-sama belajar saja.”
Air mata Jelita mengalir.
Untuk pertama kalinya, dia bersandar di bahu suaminya tanpa merasa canggung.
Namun, kejutan belum berakhir.
Murni tiba-tiba keluar membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Neng, sebenarnya Ibu sudah lama ingin memberikan ini.”
Jelita menerima kotak tersebut dengan heran.
Ketika membukanya, dia menemukan sebuah foto lama.
Dalam foto itu, ibunya yang sudah meninggal berdiri di samping seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi.
Perempuan itu adalah Murni.
Jelita langsung membeku.
“Bu, kenapa Ibu punya foto bersama ibu kandung saya?”
Murni duduk perlahan.
“Karena ibumu dulu sahabat terbaik Ibu.”
Jelita menatapnya tidak percaya.
“Jadi Ibu sudah mengenal keluarga saya?”
Murni mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
“Dulu, ketika Wira masih bayi, dia sakit keras. Ibu tidak punya cukup uang untuk membawanya berobat. Ibumulah yang membantu membayar biaya rumah sakit.”
Jelita menutup mulutnya.
“Beliau tidak pernah menceritakannya.”
“Karena ibumu tidak ingin kebaikannya dianggap utang.”
Murni mengusap air mata.
“Beberapa tahun lalu, sebelum ibumu meninggal, kami sempat bertemu lagi. Dia hanya meminta satu hal. Kalau suatu hari kamu mengalami kesulitan, dia berharap Ibu tidak membiarkanmu sendirian.”
Jelita menangis semakin keras.
“Jadi karena itu Ibu selalu sabar menghadapi sikap burukku?”
Murni mengangguk pelan.
“Awalnya Ibu memang ingin menepati janji kepada ibumu. Tapi setelah mengenalmu, Ibu menyayangimu karena kamu adalah Jelita, bukan semata-mata karena kamu anak sahabat Ibu.”
Wira kemudian mengeluarkan sebuah amplop tua dari dalam kotak.
“Ini surat dari ibumu. Ibu menyimpannya untukmu.”
Dengan tangan gemetar, Jelita membuka amplop tersebut.
Tulisan tangan ibunya masih sangat dikenalnya.
Dalam surat itu, sang ibu berpesan agar Jelita tidak memilih pasangan hidup hanya berdasarkan kekayaan, jabatan, atau penampilan.
Ada satu kalimat yang membuat tangisnya pecah.
“Anakku, jika suatu hari kamu bertemu orang yang tetap menggenggam tanganmu ketika semua orang merendahkanmu, jangan lepaskan dia hanya karena dunia menganggapnya tidak cukup berharga.”
Jelita menatap Wira.
Laki-laki itu sedang duduk di sampingnya dengan pakaian kerja sederhana dan telapak tangan kasar.
Tangan yang tadi siang memegang batu bata itu kini dengan lembut mengusap air matanya.
Saat itulah Jelita benar-benar memahami sesuatu.
Ibunya tidak pernah meninggalkan petunjuk tentang siapa yang harus dinikahinya. Sang ibu hanya mengajarkannya cara mengenali ketulusan.
Dan Wira telah membuktikan ketulusan itu jauh sebelum Jelita mampu menghargainya.
Jelita menggenggam tangan suaminya erat-erat.
“Mas, mulai besok aku mau belajar membantumu mengurus usaha. Aku memang belum tahu banyak soal konstruksi, tapi aku bisa belajar administrasi dan pembukuan.”
Wira tersenyum lebar.
“Yakin? Nanti kamu harus menghadapi banyak kuitansi, nota semen, dan tagihan material.”
Jelita tertawa di tengah air matanya.
“Tidak apa-apa. Asalkan kita mengerjakannya bersama.”
Murni tersenyum melihat mereka.
Sore itu, rumah sederhana yang selama ini sering menjadi sasaran hinaan justru terasa lebih hangat daripada rumah mewah mana pun.
Jelita kembali mengenakan cincin peninggalan ibunya. Kilau berlian kecil di jarinya mengingatkannya pada masa lalu, tetapi genggaman tangan Wira membuatnya yakin menghadapi masa depan.
Dia pernah mengira membalas penghinaan berarti membuat semua orang yang merendahkan keluarganya merasa malu.
Kini dia memahami bahwa pembalasan terbaik bukanlah mempermalukan orang lain, melainkan membangun kehidupan yang baik tanpa kehilangan harga diri dan kejujuran.
Sebab kekayaan bisa hilang, kecantikan bisa memudar, dan pujian manusia bisa berubah menjadi hinaan dalam sekejap.
Namun, ketulusan seseorang yang tetap berdiri di sisimu ketika dunia berpaling adalah harta yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.
