MALAM ITU TEMAN KULIAHKU MEMAKSA MASUK KE APARTEMENKU. KONTRAK PALSU

Aku tidak akan pernah melupakan senyum kecil Selma malam itu. Senyum yang muncul hanya sepersekian detik ketika dia mendengar Bu Ratih memintaku datang ke fakultas. Seolah-olah seluruh kejadian di lobi apartemen memang sudah disusun dengan rapi, dan aku baru saja masuk ke dalam perangkapnya.

Namun ada satu hal yang tidak diperhitungkan Selma.

Aku memang mudah percaya kepada orang lain, tetapi aku tidak pernah mengabaikan bukti ketika seseorang mulai mengancam masa depanku.

“Pak Arman,” kataku kepada petugas keamanan, “tolong simpan rekaman CCTV malam ini. Saya akan membuat laporan resmi.”

Wajah Selma langsung berubah.

“Dir, kamu berlebihan banget! Ini cuma salah paham!”

Aku menatapnya.

“Kalau cuma salah paham, kenapa kamu memakai tanda tanganku tanpa izin?”

“Aku enggak memalsukan apa-apa!”

“Bagus. Berarti kamu enggak keberatan kalau semuanya diperiksa.”

Selma terdiam.

Keisha yang sejak tadi berdiri sambil memegang ponsel akhirnya menangis.

“Kak, uang itu tabunganku selama dua tahun. Aku kerja paruh waktu di toko roti buat ngumpulinnya.”

Dadaku terasa sesak.

Aku mendekatinya.

“Keisha, aku memang tidak menerima uangmu. Tapi aku akan membantumu mencari tahu siapa yang bertanggung jawab.”

Selma tiba-tiba menyambar lengan Keisha.

“Jangan percaya dia! Nadira cuma takut ketahuan!”

Keisha menarik tangannya.

“Kalau Kak Selma benar, kenapa rekening penerimanya bukan atas nama Kak Nadira?”

Pertanyaan sederhana itu membuat Selma kehilangan kata-kata.

Malam itu, setelah mencatat identitas pihak yang hadir dan meminta pengelola menjaga rekaman CCTV, aku kembali ke apartemen. Aku tidak bisa tidur.

Aku membuka laptop dan mulai mengumpulkan semua bukti.

Percakapan WhatsApp dengan Selma, foto unggahan Instagram, salinan perjanjian palsu, hingga bukti bahwa aku tidak pernah mengizinkan siapa pun menyewakan kamar apartemenku.

Ketika membuka folder tugas kelompok, aku menemukan sesuatu yang membuat jantungku berdegup kencang.

Dua minggu sebelumnya, Selma pernah meminta salinan KTP-ku untuk pendaftaran lomba proposal bisnis antaruniversitas.

Saat itu aku mengirimkannya melalui WhatsApp.

Aku juga pernah mengirim contoh tanda tangan digital untuk lembar persetujuan tugas kelompok.

Selma memiliki keduanya.

Aku menutup laptop perlahan.

Sekarang aku tahu bagaimana dia mendapatkan data pribadiku.

Keesokan paginya, aku tiba di fakultas pukul delapan.

Di ruang rapat kecil, Bu Ratih sudah menunggu bersama Pak Surya, wakil dekan bidang kemahasiswaan, dan seorang staf administrasi.

Selma duduk di ujung meja.

Matanya sembap, seolah semalaman dia menangis.

Begitu melihatku, dia langsung menunduk.

“Nadira,” kata Pak Surya, “kami menerima pengaduan bahwa kamu menggunakan nama universitas untuk menghimpun dana kegiatan tanpa izin.”

Aku duduk dengan punggung tegak.

“Pak, saya tidak pernah melakukan itu.”

Selma langsung menyela.

“Pak, sebenarnya Nadira yang mengajak saya mengurus dana tersebut. Tapi setelah terjadi masalah, dia bilang tidak tahu apa-apa.”

Aku menatapnya.

“Selma, kamu yakin mau mengatakan itu?”

Air matanya langsung mengalir.

“Dir, kenapa kamu tega banget? Aku cuma bantu kamu!”

Bu Ratih mengangkat tangan.

“Cukup. Semua pihak akan diberi kesempatan menjelaskan.”

Pak Surya memperlihatkan surat kerja sama senilai seratus empat puluh delapan juta rupiah.

Menurut dokumen tersebut, aku ditunjuk sebagai penanggung jawab penggalangan dana sebuah seminar bisnis nasional.

Masalahnya, seminar itu memang pernah direncanakan oleh kelompok mahasiswa kami, tetapi proposalnya belum disetujui fakultas.

“Dari mana surat ini berasal?” tanyaku.

Selma menjawab cepat.

“Dari kamu.”

Aku menggeleng.

“Pak, saya meminta waktu untuk memperlihatkan bukti.”

Aku membuka laptop dan menunjukkan riwayat percakapan serta dokumen proposal asli.

Dalam proposal yang kususun, tidak ada rekening penerimaan dana, tidak ada kontrak penyewaan apartemen, dan tidak ada nama CV Lentera Acara.

Pak Surya memeriksa kedua dokumen.

“Formatnya berbeda,” gumamnya.

Aku mengangguk.

“Dan tanda tangan di dokumen yang dilaporkan tidak pernah saya berikan untuk keperluan tersebut.”

Selma tiba-tiba berdiri.

“Itu bohong! Nadira sengaja menghapus percakapannya!”

Aku menatapnya dengan tenang.

“Kalau begitu, kita minta pemeriksaan dokumen digital dan riwayat komunikasi yang bisa diverifikasi.”

Wajah Selma memucat.

Bu Ratih menatap kami bergantian.

“Untuk sementara, fakultas belum akan mengambil keputusan disipliner terhadap siapa pun sebelum bukti diperiksa.”

Aku akhirnya bisa bernapas sedikit lega.

Namun tepat ketika rapat hampir selesai, pintu diketuk.

Seorang perempuan paruh baya masuk dengan wajah panik.

Dia memperkenalkan diri sebagai Bu Wulan, ibu Keisha.

“Saya minta maaf datang mendadak,” katanya. “Tapi saya baru mengetahui uang anak saya hilang karena dokumen yang memakai nama kampus.”

Di belakangnya, Keisha berdiri dengan mata merah.

Bu Wulan menatapku.

“Kamu Nadira?”

“Iya, Bu.”

“Anak saya percaya kepada kalian karena mengira kegiatan itu resmi.”

Aku berdiri.

“Saya memahami kemarahan Ibu. Tapi saya tidak pernah menerima uang tersebut.”

Bu Wulan menangis.

“Sembilan juta itu bukan uang kecil buat keluarga kami.”

Aku merasakan tenggorokanku tercekat.

Sebelum aku sempat menjawab, Keisha maju.

“Ma, Kak Nadira sudah menunjukkan bukti kalau uangnya masuk ke perusahaan lain.”

Selma menunduk semakin dalam.

Tiba-tiba Pak Surya bertanya kepada staf administrasi.

“CV Lentera Acara ini sebenarnya perusahaan apa?”

Staf itu mulai mencari informasi dari dokumen yang tersedia.

Beberapa menit kemudian, dia mengangkat wajah.

“Pak, perusahaan ini tercatat menggunakan alamat kantor virtual di Sleman. Nama pengurus yang tercantum adalah Rendra Pratama.”

Selma langsung mengangkat kepala.

Aku mengenal nama itu.

Rendra adalah kakak laki-laki Selma.

Dia pernah datang menjemput Selma di kampus menggunakan mobil hitam dan memperkenalkan diri sebagai pengusaha event organizer.

Aku menatap Selma.

“Rendra Pratama itu kakakmu, kan?”

Seluruh ruangan mendadak sunyi.

Selma membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.

Pak Surya mengulang pertanyaanku.

“Selma, apakah benar?”

Akhirnya dia mengangguk pelan.

“Iya, Pak.”

“Kenapa tidak kamu jelaskan sejak awal?”

Selma mulai menangis lebih keras.

“Aku takut!”

Namun ketakutannya belum menjelaskan mengapa namaku dipakai dalam dokumen palsu.

Sore itu, aku pergi bersama Keisha ke kantor polisi untuk membuat laporan. Kami membawa bukti transfer, dokumen, percakapan, serta informasi mengenai perusahaan penerima uang.

Penyidik menjelaskan bahwa semua bukti perlu diperiksa sebelum siapa pun dapat dinyatakan bertanggung jawab.

Aku menyetujui proses tersebut.

Dua hari kemudian, seorang teman kuliah bernama Fani menghubungiku.

“Dir, kamu harus lihat ini.”

Dia mengirimkan tangkapan layar dari grup mahasiswa universitas lain.

Dalam grup itu, seseorang menawarkan kerja sama acara dan penginapan mahasiswa dengan menggunakan nama Nadira Ayuningtyas.

Nominal pembayaran bervariasi.

Ada yang tiga juta.

Ada yang lima juta.

Bahkan ada pembayaran dua belas juta rupiah.

Aku menatap layar dengan tangan dingin.

“Fan, dari mana kamu dapat ini?”

“Sepupuku kuliah di kampus lain. Dia hampir ikut transfer.”

Aku langsung menghubungi penyidik dan menyerahkan informasi baru tersebut.

Ternyata Keisha mungkin bukan satu-satunya korban.

Seminggu kemudian, Selma tidak masuk kuliah.

Nomor teleponnya tidak aktif.

Akunnya di Instagram mendadak menghilang.

Kabar mengenai kasus kami mulai menyebar di kampus.

Beberapa mahasiswa mendukungku, tetapi sebagian lain masih menuduhku sedang mencari kambing hitam.

Aku berusaha tidak membaca semua komentar.

Namun malam itu, ketika sedang menyelesaikan desain untuk klien, ponselku berdering.

Nomor tidak dikenal.

“Halo?”

“Nadira?”

Suara laki-laki.

“Iya. Dengan siapa?”

“Saya Rendra. Kakaknya Selma.”

Aku langsung menegakkan punggung.

“Ada keperluan apa?”

“Saya ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.”

Aku terdiam.

Rendra melanjutkan.

“Adik saya sedang tertekan. Dia masih muda, Nadira. Jangan hancurkan masa depannya.”

Aku tertawa pahit.

“Lalu bagaimana dengan masa depan saya yang hampir hancur karena dokumen palsu itu?”

“Kamu kan tidak benar-benar dikeluarkan dari kampus.”

“Karena saya membawa bukti.”

Nada suara Rendra berubah dingin.

“Dengar. Saya bisa mengembalikan uang Keisha. Tapi kamu harus mencabut laporan.”

Aku menarik napas panjang.

“Saya tidak bisa membuat keputusan seperti itu lewat telepon. Kalau ingin mengembalikan uang, lakukan melalui mekanisme yang tercatat. Soal laporan, biarkan proses hukum berjalan.”

Telepon langsung terputus.

Keesokan harinya, Keisha mengabariku bahwa Rendra juga menghubunginya.

Dia menawarkan pengembalian sembilan juta rupiah dengan syarat Keisha menandatangani surat pernyataan bahwa tidak pernah terjadi penipuan.

Keisha menolak.

“Aku mau uangku kembali, Kak,” katanya melalui telepon, “tapi aku enggak mau berbohong.”

Aku tersenyum sedih.

“Kamu sudah melakukan hal yang benar.”

Dua minggu kemudian, penyelidikan menghasilkan perkembangan penting.

Beberapa korban lain memberikan keterangan dan bukti pembayaran. Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa penawaran kamar dan kerja sama acara menggunakan identitas mahasiswa serta dokumen kampus yang diduga dipalsukan.

Rendra kemudian dipanggil untuk memberikan keterangan.

Selma juga akhirnya datang memenuhi panggilan.

Aku tidak mengetahui seluruh isi pemeriksaan mereka.

Namun suatu sore, Selma tiba-tiba menungguku di depan gedung fakultas.

Tubuhnya terlihat lebih kurus.

Matanya sembap.

“Dir, boleh bicara sebentar?”

Aku berhenti beberapa langkah darinya.

“Katakan di sini.”

Selma menunduk.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

Dia mulai menangis.

“Aku iri sama kamu.”

Aku menatapnya.

“Iri karena apa?”

“Karena hidupmu kelihatan gampang. Kamu punya apartemen, mobil, pekerjaan, keluarga yang mendukung. Sementara aku harus terus membuktikan bahwa aku bukan anak miskin yang cuma bisa dikasihani.”

Aku menarik napas panjang.

“Selma, kamu tahu aku bekerja sampai jam dua pagi untuk membayar kebutuhanku sendiri?”

Dia mengangguk.

“Aku tahu sekarang.”

“Dan kamu tahu betapa malunya aku ketika dituduh mencuri uang Keisha?”

Air matanya jatuh.

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu melakukannya?”

Selma menutup wajahnya.

Awalnya dia hanya mengaku membantu kakaknya mencari calon peserta acara.

Namun kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.

“Rendra bilang kalau aku bisa mendapatkan uang dari penyewaan kamar, kami bisa menutup utang usahanya. Aku pikir nanti uangnya dikembalikan sebelum ketahuan.”

“Kenapa harus memakai namaku?”

“Karena orang percaya sama kamu.”

Jawaban itu terasa lebih menyakitkan daripada semua kebohongannya.

Selma melanjutkan dengan suara gemetar.

“Aku enggak pernah menyangka masalahnya sampai ke kampus. Waktu kamu menolak aku tinggal di apartemenmu, aku marah. Jadi aku pakai dokumen yang sudah kubuat seolah-olah kamu memang menyetujui semuanya.”

Aku menatap perempuan yang dulu sering kubelikan makan malam karena mengira dia sedang kesulitan.

“Aku pernah menganggapmu sahabat.”

Selma menangis semakin keras.

“Aku tahu, Dir.”

“Justru itu yang membuat semuanya lebih menyakitkan.”

Aku meninggalkannya tanpa mengatakan bahwa aku memaafkannya.

Karena saat itu aku memang belum mampu.

Sebulan kemudian, fakultas menyelesaikan pemeriksaan internal.

Tidak ditemukan bukti bahwa aku menyetujui perjanjian penyewaan kamar atau penggalangan dana tersebut.

Namaku dinyatakan tidak terlibat dalam kegiatan yang dilaporkan.

Status akademikku dipulihkan sepenuhnya, termasuk kelayakanku mengikuti program magang.

Bu Ratih memanggilku ke ruangannya.

“Nadira, Ibu minta maaf kalau proses ini membuatmu merasa tidak dipercaya.”

Aku menggeleng.

“Saya mengerti kampus harus memeriksa laporan, Bu. Saya cuma berharap mahasiswa tidak langsung dianggap bersalah sebelum bukti diperiksa.”

Bu Ratih mengangguk.

“Kamu benar.”

Sementara itu, Selma dikenai sanksi akademik sesuai hasil pemeriksaan dan diberi kesempatan menggunakan mekanisme keberatan yang berlaku. Proses hukum terhadap dugaan pemalsuan dokumen dan penipuan masih berlanjut.

Melalui pendampingan hukum, Keisha akhirnya menerima pengembalian uangnya secara penuh. Pengembalian itu dicatat sebagai bagian dari penyelesaian kerugian, tanpa menghapus fakta yang telah dilaporkan.

Beberapa minggu kemudian, aku menerima sebuah amplop kecil.

Pengirimnya Selma.

Di dalamnya terdapat selembar surat tulisan tangan.

Nadira, dulu aku pikir hidupmu sempurna karena kamu punya semua yang kuinginkan. Sekarang aku sadar, yang membuatmu kuat bukan apartemen atau mobilmu, melainkan keberanianmu berkata tidak. Aku menghancurkan persahabatan kita karena ingin terlihat seperti dirimu, padahal aku bahkan tidak berani menjadi diriku sendiri.

Aku membaca surat itu dua kali.

Kemudian menyimpannya di dalam laci.

Aku belum siap memaafkan Selma sepenuhnya, tetapi aku berharap suatu hari dia benar-benar berubah.

Tiga bulan setelah malam dua koper merah itu muncul di lobi, aku kembali duduk di balkon apartemenku.

Angin malam Seturan membawa suara kendaraan dari kejauhan.

Laptopku terbuka.

Di layar terdapat email penerimaan magang dari sebuah perusahaan desain komunikasi ternama di Jakarta.

Aku membacanya sambil tersenyum.

Perjuanganku selama beberapa bulan terakhir akhirnya membuahkan hasil.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Keisha.

Kak Dira, aku diterima jadi asisten laboratorium semester depan. Terima kasih karena dulu Kakak mau membantuku, padahal Kakak sendiri sedang kesulitan.

Aku membalasnya.

Selamat, Kei. Uang bisa dicari lagi, tapi jangan pernah menyerahkan kepercayaanmu kepada orang yang belum terbukti layak menerimanya.

Beberapa saat kemudian, Keisha mengirim foto dua cangkir kopi.

Kapan kita nongkrong lagi, Kak? Kali ini aku yang traktir.

Aku tertawa kecil.

Bukan semua orang yang datang ke hidup kita membawa niat buruk.

Tetapi kebaikan juga tidak berarti kita harus membuka seluruh pintu kehidupan pribadi kepada siapa pun.

Aku menatap kamar kedua yang selama ini kugunakan sebagai ruang kerja.

Kamar yang pernah ingin direbut Selma dengan kebohongan.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi melihatnya sebagai tempat yang hampir membuat masa depanku hancur.

Aku melihatnya sebagai pengingat.

Bahwa mengatakan tidak bukanlah tindakan kejam.

Bahwa membantu orang lain tidak berarti menyerahkan kendali atas hidup sendiri.

Dan bahwa persahabatan sejati tidak pernah membutuhkan tanda tangan palsu, ancaman, atau air mata untuk membuktikan ketulusan.

Aku menutup laptop, mematikan lampu balkon, lalu berjalan masuk.

Dua koper merah yang dulu membuatku hampir kehilangan segalanya sudah lama tidak ada.

Namun pelajaran yang ditinggalkannya akan selalu kuingat.

Jangan pernah merasa bersalah karena melindungi batasan diri sendiri.

Sebab orang yang benar-benar menghargaimu tidak akan memaksa masuk melalui pintu yang sudah kamu tutup dengan baik.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang