“Aku hamil, Bang!” ucap Indira dengan mata berbinar penuh kebahagiaan. Senyum lebar

“Bang, Abang nggak senang aku hamil?”

Pertanyaan Indira membuat dadaku sesak. Istriku masih berdiri di hadapanku sambil memegang test pack, menunggu reaksi yang seharusnya kuberikan sejak tadi.

Aku memaksakan senyum, lalu memeluknya.

“Senang, Sayang. Abang cuma kaget.”

Indira tertawa kecil. Ia membenamkan wajahnya di dadaku.

“Aku juga nggak percaya, Bang. Tadi sampai tiga kali tes. Semuanya positif.”

Aku mengusap rambutnya perlahan. Namun, pikiranku kembali pada amplop putih dari rumah sakit yang masih tersimpan di dalam tas kerja.

Tidak ditemukan sel sperma dalam sampel pemeriksaan.

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.

Malamnya, setelah Indira tertidur, aku duduk sendirian di ruang tamu. Kubuka kembali hasil pemeriksaan tersebut.

Dokter memang menjelaskan bahwa kondisi itu disebut azoospermia dan masih membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Namun, pikiranku sudah terlanjur dipenuhi kemungkinan terburuk.

Bagaimana kalau anak yang dikandung Indira bukan anakku?

Aku teringat perubahan sikapnya selama dua bulan terakhir. Ia lebih sering tersenyum ketika membaca pesan, beberapa kali pergi tanpa mengajakku, bahkan pernah pulang terlambat dengan alasan mengunjungi sahabatnya.

Dulu aku tidak pernah mempermasalahkannya.

Sekarang semuanya terasa mencurigakan.

Keesokan paginya, Indira mengajakku memeriksakan kehamilannya ke dokter kandungan.

“Bang, nanti temani aku, ya?”

Aku mengangguk.

Di ruang pemeriksaan, dokter menjelaskan bahwa kehamilan Indira masih sangat muda. Pemeriksaan awal menunjukkan hasil yang sesuai dengan perkiraan usia kehamilannya, tetapi pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan.

Indira menggenggam tanganku sepanjang konsultasi.

“Terima kasih, Bang,” bisiknya ketika kami keluar.

Aku menoleh.

“Untuk apa?”

“Karena nggak pernah menyerah sama aku.”

Ucapan itu justru membuatku merasa semakin bersalah.

Selama bertahun-tahun, keluargaku menyalahkan Indira karena kami belum mempunyai anak. Namun, aku tidak pernah benar-benar berani membela istriku ketika ibuku mengatakan perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan sebaiknya diceraikan.

Aku hanya diam.

Dan sekarang, setelah mengetahui kemungkinan masalah kesuburan berasal dariku, aku malah mencurigai kesetiaannya.

Beberapa hari kemudian, ibu menelepon.

“Raka, benar Indira hamil?”

“Iya, Bu.”

“Alhamdulillah! Akhirnya dia bisa juga memberikan keturunan.”

Aku memejamkan mata.

“Bu, jangan bicara begitu.”

“Lho, memangnya salah? Sudah hampir enam tahun kalian menikah. Ibu sampai malu ditanya tetangga.”

Aku menarik napas panjang.

“Yang penting Indira sehat, Bu.”

Ibu malah tertawa.

“Kalau begitu, nanti Ibu datang. Mau lihat sendiri hasil pemeriksaannya.”

Telepon kututup dengan perasaan berat.

Malam itu, ketika sedang mengambil air minum, aku mendengar Indira berbicara melalui telepon di balkon.

“Iya, Mas. Untuk sementara jangan bilang siapa-siapa dulu.”

Langkahku terhenti.

“Kalau Bang Raka tahu sekarang, aku takut dia salah paham.”

Jantungku langsung berdebar.

Indira terdiam mendengarkan seseorang di seberang.

“Besok aku datang. Kita selesaikan semuanya.”

Aku mundur perlahan.

Ternyata ada laki-laki lain yang menyimpan rahasia bersama istriku.

Keesokan harinya, aku sengaja mengatakan harus menghadiri rapat di luar kota.

Namun, setelah keluar rumah, aku memarkirkan mobil di sebuah jalan tidak jauh dari kompleks.

Sekitar pukul sepuluh, Indira keluar menggunakan taksi online.

Aku mengikutinya dari kejauhan.

Mobil itu berhenti di depan sebuah kafe di kawasan Jakarta Selatan.

Indira masuk dan duduk bersama seorang laki-laki berkemeja biru.

Usianya sekitar tiga puluh lima tahun.

Aku melihat laki-laki itu menyerahkan amplop cokelat kepada Indira.

Kemudian istriku menangis.

Laki-laki tersebut mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya di atas meja.

Darahku mendidih.

Aku langsung turun dari mobil dan menghampiri mereka.

“INDIRA!”

Istriku tersentak.

“Bang Raka?”

Aku menatap laki-laki di hadapannya.

“Jadi ini yang selama ini kamu sembunyikan?”

“Bang, dengarkan dulu!”

“Sudah berapa lama kalian punya hubungan?”

Wajah Indira langsung pucat.

Laki-laki itu berdiri.

“Maaf, Mas. Sepertinya ada kesalahpahaman.”

Aku menunjuk wajahnya.

“Kamu diam! Saya sedang bicara sama istri saya!”

Air mata Indira jatuh.

“Abang kenapa menuduh aku begitu?”

Aku mengeluarkan hasil pemeriksaan dari dalam tas.

“Karena ini!”

Kulemparkan amplop itu ke meja.

Indira membukanya dengan tangan gemetar.

Ia membaca setiap baris dengan saksama.

Beberapa saat kemudian, wajahnya berubah.

“Bang, ini hasil pemeriksaan Abang?”

Aku mengangguk.

“Dokter bilang nggak ada sperma dalam sampelku. Sekarang jelaskan, kamu hamil dari siapa?”

Indira menatapku seolah tidak mengenali laki-laki yang berdiri di hadapannya.

“Jadi selama ini Abang mengira aku selingkuh?”

Aku tidak menjawab.

Perempuan itu mengusap air matanya, lalu mengembalikan kertas pemeriksaan kepadaku.

“Abang bahkan nggak bertanya baik-baik.”

Laki-laki berkemeja biru akhirnya memperkenalkan diri.

“Nama saya Dimas. Saya kakak sepupu Indira.”

Aku tertegun.

Dimas menjelaskan bahwa ia baru kembali ke Indonesia setelah bertahun-tahun bekerja di Singapura. Ia sedang membantu Indira mengurus dokumen peninggalan almarhum ayahnya.

Amplop cokelat itu berisi surat tanah dan dokumen warisan.

“Ayah Indira menitipkan dokumen ini kepada keluarga saya sebelum meninggal,” jelas Dimas. “Kami baru berhasil menyelesaikan administrasinya bulan lalu.”

Aku menatap Indira.

“Kenapa kamu nggak bilang?”

“Karena aku mau memberi kejutan saat ulang tahun pernikahan kita. Tanah peninggalan Ayah akan kujual sebagian untuk membantu kita membeli rumah.”

Suaranya bergetar.

“Aku pikir Abang bakal senang.”

Aku merasa seluruh wajahku panas karena malu.

Namun, satu pertanyaan masih mengganggu pikiranku.

“Lalu bagaimana dengan kehamilanmu?”

Indira menatap hasil pemeriksaanku.

“Bang, dokter sudah bilang perlu tes lanjutan, kan?”

Aku terdiam.

“Kenapa Abang langsung menyimpulkan semuanya?”

Aku tidak mampu menjawab.

Siang itu, aku pulang sendirian karena Indira memilih tinggal sementara di rumah Dimas dan istrinya.

Sebelum pergi, ia mengatakan sesuatu yang terus terngiang di telingaku.

“Aku bisa menerima kalau Abang punya masalah kesuburan. Tapi aku nggak tahu bagaimana menerima kenyataan bahwa Abang begitu mudah menganggapku perempuan yang nggak setia.”

Malamnya, rumah terasa sangat sepi.

Aku duduk di meja makan, menatap kursi tempat Indira biasa menyiapkan sarapan.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami betapa menyakitkannya dituduh atas sesuatu yang tidak pernah dilakukan.

Selama enam tahun, Indira mengalami perasaan itu setiap kali keluargaku menyebutnya mandul.

Dan aku membiarkannya.

Keesokan harinya, aku kembali menemui dokter spesialis andrologi.

Dokter memeriksa hasil sebelumnya dan menjelaskan bahwa tidak ditemukannya sperma dalam satu sampel belum cukup untuk menetapkan penyebabnya ataupun menyimpulkan bahwa kemungkinan memiliki anak biologis benar-benar tidak ada.

“Pak Raka, kita perlu mengulangi analisis semen dan melakukan pemeriksaan tambahan,” katanya.

Aku menunduk.

“Dok, istri saya sekarang hamil.”

Dokter mengangguk.

“Itu kabar yang perlu kita pahami bersama hasil pemeriksaan lainnya. Kondisi Bapak harus dievaluasi dulu. Jangan menjadikan satu hasil laboratorium sebagai dasar menuduh pasangan.”

Ucapan itu membuatku semakin menyesal.

Aku menjalani pemeriksaan ulang sesuai arahan dokter.

Beberapa hari kemudian, hasilnya menunjukkan bahwa terdapat sejumlah kecil sperma dalam sampel kedua, meskipun jumlah dan kualitasnya jauh di bawah kisaran rujukan.

Dokter menjelaskan bahwa kondisi kesuburanku memang bermasalah, tetapi kehamilan alami masih mungkin terjadi dalam keadaan tertentu.

Aku menangis di ruang konsultasi.

Bukan semata karena kemungkinan menjadi ayah.

Melainkan karena menyadari betapa bodohnya aku telah melukai perempuan yang paling kucintai.

Sore harinya, aku mendatangi rumah Dimas.

Indira duduk di teras bersama istrinya.

Begitu melihatku, wajahnya langsung berubah kaku.

“Ada apa lagi, Bang?”

Aku menyerahkan hasil pemeriksaan terbaru.

“Abang sudah periksa ulang.”

Indira membacanya perlahan.

“Dokter bilang kehamilanmu tetap mungkin berasal dari Abang,” kataku.

Ia mengangguk, tetapi tidak tersenyum.

“Aku tahu Abang sedang takut,” jawabnya. “Tapi kenapa rasa takut itu harus berubah jadi tuduhan?”

Aku berlutut di hadapannya.

“Maafkan Abang.”

Air mataku jatuh.

“Abang malu karena selama ini membiarkan keluarga menyalahkan kamu. Ketika tahu masalahnya mungkin ada pada Abang, bukannya jujur, Abang malah mencari kesalahanmu.”

Indira menangis.

“Selama enam tahun aku berdoa supaya kita punya anak, Bang. Waktu akhirnya hamil, aku ingin melihat Abang bahagia. Tapi yang kudapat justru tuduhan.”

Aku menunduk.

“Abang nggak akan memaksamu langsung memaafkan.”

Indira mengusap wajahnya.

“Aku butuh waktu.”

Aku mengangguk.

Selama beberapa minggu berikutnya, aku berusaha memperbaiki sikapku.

Aku rutin menemani Indira memeriksakan kehamilan setelah ia mengizinkannya. Kami juga menjalani konseling pasangan untuk membicarakan luka yang selama ini kami pendam.

Namun, persoalan belum selesai.

Suatu Minggu, ibu datang ke rumah setelah mendengar Indira tinggal terpisah.

“Raka, benar kalian bertengkar gara-gara anak itu?”

Aku mengangguk.

Ibu langsung berkata dengan nada tinggi.

“Kalau memang anaknya bukan anakmu, ceraikan saja!”

Untuk pertama kalinya, aku tidak tinggal diam.

“Bu, cukup!”

Ibu terkejut.

“Jangan pernah menuduh Indira lagi. Masalah kesuburan selama ini justru ada pada Raka.”

Wajah ibu berubah pucat.

“Jadi kamu…”

“Iya, Bu. Raka yang menjalani pengobatan dan pemeriksaan. Indira selama ini menanggung hinaan yang bahkan bukan tanggung jawabnya.”

Ibu duduk perlahan.

Aku melanjutkan.

“Kalau Ibu ingin tetap menjadi bagian dari keluarga kami, Ibu harus menghormati Indira.”

Ibu menangis.

Untuk pertama kalinya, beliau menyadari bahwa ucapannya selama bertahun-tahun telah melukai menantunya.

Beberapa minggu kemudian, ibu datang menemui Indira untuk meminta maaf.

Indira tidak langsung melupakan semuanya, tetapi ia menerima permintaan maaf tersebut.

Perlahan, hubungan kami mulai membaik.

Pada usia kehamilan tujuh bulan, Indira akhirnya kembali tinggal bersamaku.

Kami menata kamar bayi bersama-sama. Aku memasang tempat tidur kecil, sementara Indira memilih tirai berwarna krem.

Suatu malam, ketika kami sedang melipat pakaian bayi, Indira tiba-tiba menggenggam tanganku.

“Bang, ada sesuatu yang belum aku ceritakan.”

Aku menoleh.

“Apa, Sayang?”

Ia mengambil sebuah map dari laci.

Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan medis yang pernah dijalaninya sebelum menikah denganku.

Aku membaca dokumen itu dengan bingung.

“Ini apa?”

Indira menarik napas panjang.

“Dulu aku pernah mengalami gangguan hormon. Dokter bilang mungkin aku akan kesulitan hamil. Tapi setelah menjalani pengobatan, kondisiku membaik.”

Aku terdiam.

“Kenapa kamu nggak cerita?”

“Karena waktu itu dokter bilang aku sudah sehat. Aku nggak mau membawa ketakutan lama ke pernikahan kita.”

Indira tersenyum getir.

“Selama keluarga Abang menyalahkanku, aku sempat berpikir mungkin memang aku yang bermasalah.”

Aku menggenggam tangannya erat.

“Maafkan Abang karena nggak pernah melindungimu.”

Indira menyandarkan kepala di bahuku.

“Kita sama-sama pernah takut, Bang. Bedanya, aku memilih percaya sama Abang.”

Kalimat itu membuatku terdiam lama.

Dua bulan kemudian, Indira melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat.

Kami menamainya Alesha.

Ketika pertama kali menggendong putri kecil kami, aku menangis tanpa mampu menghentikannya.

Namun, kejutan terbesar datang beberapa hari setelah kelahiran Alesha.

Indira menyerahkan sebuah amplop putih kepadaku.

“Bang, ini hasil tes yang Abang pernah bilang ingin kita lakukan.”

Aku membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan hubungan biologis ayah dan anak yang kami sepakati bersama dan dilakukan setelah Alesha lahir.

Hasilnya menyatakan bahwa aku adalah ayah biologis Alesha dengan tingkat kepastian yang sangat tinggi.

Aku menatap dokumen itu, lalu memandang Indira.

“Kenapa kamu mau menjalani tes ini?”

Ia tersenyum tipis.

“Bukan karena aku harus membuktikan kesetiaanku, Bang. Aku melakukannya karena kita sudah sepakat mencari kejelasan, lalu berhenti hidup dalam kecurigaan.”

Aku langsung memeluknya.

“Abang minta maaf.”

Indira membalas pelukanku.

“Jangan ulangi lagi, ya.”

Aku mengangguk sambil menangis.

Namun, yang paling membekas dalam ingatanku justru bukan hasil tes tersebut.

Melainkan sebuah tulisan kecil yang kutemukan dalam buku harian Indira beberapa minggu kemudian, ketika ia memintaku mengambil catatan jadwal imunisasi Alesha.

Di halaman terakhir, istriku menulis sebuah doa.

“Ya Allah, kalau memang kami belum ditakdirkan memiliki anak, jangan biarkan suamiku merasa dirinya kurang berharga. Aku menikah dengannya karena mencintai dirinya, bukan karena mengharapkan keturunan.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Ternyata, ketika aku sibuk mencurigai istriku, perempuan itu justru sedang berdoa agar aku tidak menyalahkan diriku sendiri.

Aku menutup buku tersebut dengan mata basah.

Malam itu, aku duduk di samping Indira yang sedang menggendong Alesha.

“Sayang,” panggilku.

“Iya, Bang?”

“Terima kasih sudah tetap mau membangun keluarga ini bersama Abang.”

Indira tersenyum.

“Kita sama-sama belajar, Bang.”

Aku memandang putri kecil kami yang tertidur pulas.

Dulu aku mengira menjadi laki-laki berarti harus selalu kuat, tidak boleh menunjukkan kelemahan, dan harus mampu memberikan keturunan.

Namun, perjalanan panjang itu mengajariku sesuatu yang jauh lebih penting.

Seorang suami tidak dinilai dari kemampuannya memiliki anak, melainkan dari caranya memperlakukan perempuan yang telah mempercayakan hidup kepadanya.

Karena rumah tangga tidak hancur hanya akibat sebuah hasil pemeriksaan medis.

Ia bisa hancur ketika rasa takut lebih dipercaya daripada kejujuran, dan kecurigaan dibiarkan mengalahkan cinta.

Aku pernah hampir kehilangan Indira karena satu kesimpulan yang kubuat terlalu cepat.

Dan sejak hari itu, setiap kali melihat Alesha tertidur di pelukan ibunya, aku selalu teringat bahwa keajaiban terbesar dalam hidupku bukan sekadar kelahiran seorang anak.

Melainkan kesempatan kedua untuk menjadi suami yang lebih baik bagi perempuan yang sejak awal tidak pernah berhenti mempercayaiku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang