“Mas, bukakan pintunya. Aku kedinginan.”
Suara itu terdengar begitu jelas dari luar rumah. Persis suara Hanah, istriku. Bahkan cara perempuan itu memanggilku sama seperti ketika Hanah sedang meminta bantuan.
Padahal, beberapa langkah di belakangku, Hanah masih terbaring lemah di atas dipan, dengan bayi kami tertidur di sampingnya.
Aku menoleh untuk memastikan. Hanah membuka mata dan menatapku kebingungan.
“Mas, siapa yang datang malam-malam begini?”
Sebelum aku menjawab, Mbah dukun sudah mencengkeram lenganku.
“Jangan dijawab. Apa pun yang kamu dengar, jangan sekali-kali membuka pintu!”

Ketukan itu terdengar lagi.
Kali ini lebih keras.
“Mas! Ini aku, Hanah! Kenapa malah dikunci?”
Tenggorokanku terasa kering. Runi yang sejak tadi berdiri di dekat pintu mendadak bersembunyi di balik kakiku. Tubuh kecilnya gemetar.
Mbah dukun segera menggendong Runi dan membawanya menjauh.
“Dengarkan saya baik-baik,” bisiknya. “Kalau dia memanggil namamu tiga kali, jangan sampai kamu menyahut.”
Aku mengangguk, meskipun tidak memahami maksudnya.
“Mas Arif…”
Suara dari luar kembali terdengar.
“Mas Arif…”
Aku menghitung dalam hati. Dua kali.
Lalu terdengar suara tangisan bayi.
Aku langsung menoleh ke arah dipan. Bayi kami masih tertidur. Hanah bahkan sedang mengelus pipinya.
“Mas Arif!”
Panggilan ketiga terdengar begitu keras hingga lampu minyak di sudut ruangan bergetar.
Aku hampir menjawab karena terkejut, tetapi Mbah dukun segera menutup mulutku.
Beberapa detik kemudian, semuanya sunyi.
Lalu terdengar suara langkah menyeret di halaman, perlahan menjauh menuju belakang rumah.
Mbah dukun melepaskan tangannya.
“Alhamdulillah,” gumamnya.
Aku terduduk di lantai.
“Mbah, sebenarnya siapa yang ada di luar?”
Perempuan tua itu tidak langsung menjawab. Ia mengambil segelas air, membacakan doa dengan suara pelan, lalu memberikannya kepadaku.
“Minum dulu. Kamu harus tetap tenang. Istrimu membutuhkanmu.”
Namun, rasa takutku telah berubah menjadi kemarahan.
“Bagaimana saya bisa tenang? Anak saya hampir hilang, istri saya melahirkan di tempat asing, sekarang ada orang meniru suaranya! Saya harus tahu apa yang sebenarnya terjadi!”
Mbah dukun menatapku lama.
“Kalau begitu, ceritakan lagi tentang penjaga makam yang menyerahkan Runi kepadamu.”
Aku mengernyit.
“Laki-laki tua itu? Kenapa?”
“Bagaimana wajahnya?”
“Kurus. Rambutnya putih. Dia memakai baju lurik dan sarung cokelat.”
Tangan Mbah dukun mendadak gemetar.
“Apakah ada bekas luka di pelipis kirinya?”
Aku terdiam.
Aku mengingat kembali wajah laki-laki tersebut. Dalam cahaya petromaks yang redup, aku memang melihat garis kehitaman di dekat pelipisnya.
“Ada, Mbah.”
Perempuan itu memejamkan mata.
“Ya Allah, Kang Wiryo…”
“Siapa Kang Wiryo?”
“Penjaga makam sebelah utara.”
“Iya, orang itulah yang menolong Runi.”
Mbah dukun menggeleng perlahan.
“Kang Wiryo sudah meninggal tujuh tahun lalu.”
Aku merasa seluruh darah di tubuhku turun ke kaki.
“Tidak mungkin! Saya bicara langsung dengannya. Dia menggandeng anak saya!”
“Justru itu yang membuat saya khawatir.”
Hanah yang mendengar percakapan kami mulai menangis.
“Mas, kita pulang saja. Aku takut.”
Aku menghampirinya dan menggenggam tangannya.
“Kita pasti pulang, Han. Aku janji.”
Namun, jauh di dalam hati, aku mulai meragukan janjiku sendiri.
Menjelang tengah malam, hujan turun dengan deras. Atap genting tua berbunyi gaduh, sementara angin menyusup melalui celah dinding bambu.
Runi akhirnya tertidur di dekat Hanah. Akan tetapi, sesekali bibirnya bergerak seperti sedang berbicara dalam mimpi.
Aku duduk tidak jauh darinya.
Tiba-tiba, anak itu mengigau.
“Adik… jangan dibawa…”
Aku mendekat.
“Runi?”
Matanya tetap tertutup.
“Adik punya Ibu…”
Mbah dukun yang sedang menyiapkan air hangat langsung berhenti bergerak.
“Apa yang dikatakannya?”
Aku mengulangi perkataan Runi.
Perempuan tua itu segera memeriksa bayi kami. Setelah memastikan napasnya teratur, ia membungkus tubuhnya dengan kain bersih dan meletakkannya lebih dekat kepada Hanah.
“Malam ini jangan biarkan bayi terpisah dari ibunya,” katanya.
Aku mengangguk.
Namun, sebuah pertanyaan terus mengusik pikiranku.
Bagaimana Runi tahu bahwa adiknya laki-laki, padahal sejak kami tiba di rumah ini dia sudah menghilang?
Aku membangunkannya perlahan.
“Run, Nak. Ayah mau tanya.”
Runi membuka mata dengan wajah mengantuk.
“Tadi waktu di makam, Runi sama siapa?”
Anak itu menatapku.
“Sama Mbah.”
“Mbah yang menggandeng Runi?”
Ia mengangguk.
“Mbah bilang tunggu Ayah.”
Aku mengelus rambutnya.
“Terus, Runi melihat apa?”
Runi menunjuk ke arah adiknya.
“Adek.”
Aku terkejut.
“Adik ada di makam?”
Runi menggeleng.
“Adek nangis. Ada ibu yang mau ambil.”
Hanah langsung memeluk bayi kami lebih erat.
“Ibu siapa, Run?” tanyaku hati-hati.
Runi menunjuk ke pintu.
“Ibu yang di luar.”
Seketika, udara di ruangan terasa semakin dingin.
Mbah dukun mendekat dan mengusap kepala Runi.
“Sudah, Le. Tidur lagi. Tidak apa-apa.”
Setelah anakku kembali terlelap, Mbah dukun mengajakku ke dapur.
Di sana, ia akhirnya menceritakan sesuatu yang membuatku semakin sulit bernapas.
Menurutnya, puluhan tahun sebelumnya, seorang perempuan bernama Lasmi meninggal ketika hendak melahirkan. Ia tinggal di sebuah dusun yang dahulu berdiri tidak jauh dari pemakaman sebelah utara.
Suaminya sedang bekerja di luar kota. Ketika rasa sakit datang, Lasmi berusaha mencari pertolongan, tetapi hujan membuat jalan menuju rumah bidan tidak bisa dilewati.
Saat pertolongan tiba, Lasmi dan bayinya sudah tidak tertolong.
“Sejak itu muncul macam-macam cerita,” ujar Mbah dukun. “Katanya, setiap magrib, ada yang mendengar perempuan menangis mencari bayinya.”
Aku menelan ludah.
“Mbah percaya cerita itu?”
“Saya tidak tahu apa yang sebenarnya didengar orang-orang. Tapi malam ini ada sesuatu yang belum kita pahami.”
“Lalu kenapa kami bisa tersesat?”
Mbah dukun menatapku serius.
“Kamu bilang motormu melindas sesuatu. Bisa jadi di situlah awal semua kejadian.”
Aku teringat benturan kecil di jalan sebelum memasuki desa.
Saat itu Hanah sudah kesakitan. Aku sama sekali tidak berhenti.
Tiba-tiba aku merasa bersalah.
“Bagaimana kalau saya benar-benar menabrak seseorang, Mbah?”
“Kalau begitu, kita harus memeriksanya. Tapi sekarang jangan tinggalkan keluargamu.”
Hujan baru reda menjelang pukul tiga dini hari.
Aku belum tidur sedikit pun.
Saat memeriksa jendela, mataku menangkap sesuatu yang bergerak di halaman.
Sosok perempuan berdiri di bawah pohon pisang.
Rambutnya panjang dan basah. Ia mengenakan kain putih kusam serta menggendong sesuatu yang terbungkus kain.
Aku membeku.
Perempuan itu perlahan mengangkat wajah.
Walaupun jaraknya cukup jauh, aku bisa melihat gerakan bibirnya.
“Bayiku…”
Tiba-tiba Runi berdiri di belakangku.
“Ayah, itu ibu yang tadi.”
Aku segera menariknya menjauh dari jendela.
Namun, sebelum aku sempat menutup daun jendela, sosok perempuan tersebut mengangkat bungkusan dalam pelukannya.
Kainnya terbuka sedikit.
Di dalamnya tidak ada bayi.
Hanya sebuah boneka kain yang sudah lusuh.
Aku menutup jendela dengan keras.
Mbah dukun datang setelah mendengar suara itu.
“Ada apa?”
“Perempuan itu, Mbah! Dia ada di halaman!”
Mbah dukun segera membawa kami menjauh dari jendela dan duduk bersama membaca doa sampai azan subuh terdengar dari kejauhan.
Anehnya, begitu azan berkumandang, suara tangisan di halaman berhenti.
Pagi harinya, aku bersikeras mencari jalan pulang.
Mbah dukun akhirnya mengizinkan, dengan syarat Hanah dan bayi kami tetap tinggal sampai tenaga medis memastikan kondisi mereka aman untuk bepergian.
Seorang warga bernama Pak Karto datang membawa sepeda motor untuk mengantar bidan dari kecamatan.
Aku hampir menangis lega ketika melihat seorang bidan muda memasuki rumah.
Setelah memeriksa Hanah dan bayi kami, bidan menyarankan agar keduanya segera dibawa ke puskesmas untuk pemeriksaan lanjutan. Kondisi Hanah masih lemah setelah persalinan.
Pak Karto kemudian mengatur kendaraan untuk membawa mereka.
Sebelum berangkat, aku bertanya kepadanya mengenai pemakaman sebelah utara.
“Pak, benar penjaga makam di sana bernama Kang Wiryo?”
Pak Karto mengangguk.
“Dulu memang begitu.”
“Beliau sudah meninggal?”
“Sudah lama. Kenapa?”
Aku menceritakan bagaimana seorang laki-laki tua menyerahkan Runi kepadaku.
Wajah Pak Karto berubah.
“Bapak yakin itu Kang Wiryo?”
“Saya tidak tahu namanya waktu itu. Tapi ciri-cirinya sama.”
Pak Karto berpikir sejenak.
“Pak Wiryo dulu memang punya bekas luka di pelipis. Tapi saya tidak bisa menjelaskan siapa yang Bapak temui.”
Aku tidak berkata apa-apa lagi.
Ketika kendaraan datang, kami segera bersiap meninggalkan rumah Mbah dukun.
Sebelum naik, aku menyalami perempuan tua itu.
“Mbah, terima kasih sudah menolong istri dan anak saya.”
Ia tersenyum lelah.
“Jaga mereka baik-baik. Jangan menunda mencari pertolongan kalau ada keadaan darurat.”
Aku mengangguk.
Namun, ketika hendak berbalik, Mbah dukun memanggilku lagi.
“Arif.”
“Iya, Mbah?”
“Bungkusan beras kuning yang saya berikan semalam masih ada?”
Aku merogoh saku celana.
Bungkusan kain hitam itu masih tersimpan di sana.
“Ada.”
“Coba buka.”
Aku mengurai benangnya.
Seketika aku terdiam.
Di dalamnya bukan beras kuning.
Ada sebuah gelang bayi dari benang merah dan selembar kertas kecil yang sudah menguning.
Pada kertas tersebut tertulis nama seseorang.
Lasmi.
Di bawahnya terdapat tanggal yang hampir tidak terbaca.
Mbah dukun terlihat sama terkejutnya denganku.
“Ini bukan bungkusan yang saya siapkan,” katanya.
Aku menatapnya bingung.
“Tapi Mbah sendiri yang menyerahkannya kepada saya.”
Ia mengangguk pelan.
“Saya memasukkan beras kuning. Saya yakin.”
Tanganku gemetar ketika membalik kertas itu.
Di sisi belakang, terdapat tulisan lain.
Tolong cari anakku.
Aku merasa lututku melemas.
Pak Karto yang sejak tadi memperhatikan akhirnya mendekat.
“Boleh saya lihat?”
Kuserahkan kertas tersebut.
Begitu membaca nama Lasmi, wajahnya berubah pucat.
“Dari mana Bapak mendapat ini?”
Aku menjelaskan semuanya.
Pak Karto menatap gelang merah itu cukup lama.
“Bapak harus ikut saya ke suatu tempat setelah mengantar keluarga ke puskesmas.”
“Ke mana?”
“Rumah seorang perempuan tua. Dia mungkin tahu asal benda ini.”
Beberapa jam kemudian, setelah memastikan Hanah dan bayi kami mendapatkan perawatan, aku pergi bersama Pak Karto.
Kami tiba di sebuah rumah sederhana di pinggir desa.
Seorang perempuan berusia sekitar delapan puluh tahun menyambut kami. Namanya Mbah Sarmi.
Begitu melihat gelang merah itu, tangannya langsung bergetar.
“Ya Allah… dari mana kalian menemukan ini?”
Aku menceritakan kejadian semalam.
Mbah Sarmi menangis.
“Ini gelang yang saya buat untuk cucu saya. Anaknya Lasmi.”
Aku terkejut.
“Jadi bayi Lasmi benar-benar meninggal?”
Perempuan itu menggeleng.
“Tidak. Itu yang salah dari cerita orang-orang.”
Aku dan Pak Karto saling berpandangan.
“Lasmi meninggal setelah melahirkan,” lanjutnya. “Tapi bayinya selamat. Anak itu dibawa ke rumah saudaranya karena keluarga kami tidak sanggup merawatnya.”
“Lalu kenapa orang-orang bilang bayinya ikut meninggal?”
“Karena tidak semua orang tahu. Setelah pemakaman, keluarga yang merawat bayi itu pindah jauh. Lama-lama cerita yang beredar berubah.”
Aku kembali memperhatikan gelang merah tersebut.
“Sekarang anak itu di mana?”
Mbah Sarmi mengusap air mata.
“Dia tumbuh besar dan akhirnya kembali ke daerah ini. Tapi hubungan kami sudah lama terputus.”
“Siapa namanya?”
Perempuan tua itu mengambil napas panjang.
“Namanya Sumirah.”
Aku merasa nama itu tidak asing.
“Mbah Sumirah?”
“Iya.”
“Apakah dia bekerja membantu persalinan?”
Mbah Sarmi menatapku heran.
“Dulu memang begitu. Kenapa?”
Jantungku berdebar semakin cepat.
Nama lengkap Mbah dukun yang menolong Hanah ternyata Sumirah.
Aku langsung teringat wajah perempuan tua itu ketika pertama kali mendengar cerita tentang Lasmi.
Pantas saja ia terlihat begitu terguncang.
Aku meminta Pak Karto mengantarku kembali.
Namun, ketika kami tiba di rumah Mbah dukun, pintunya sudah terkunci.
Aku mengetuk berkali-kali.
Tidak ada jawaban.
Seorang tetangga datang menghampiri.
“Mencari siapa, Pak?”
“Mbah Sumirah. Tadi pagi beliau masih di sini.”
Perempuan itu menatap kami dengan bingung.
“Sumirah yang mana?”
“Dukun bayi yang tinggal di rumah ini.”
Tetangga tersebut terdiam.
Kemudian ia berkata pelan, “Rumah ini sudah kosong hampir sepuluh tahun, Pak.”
Aku membeku.
“Tidak mungkin! Istri saya baru saja melahirkan di sini tadi malam!”
Tetangga itu menggeleng.
“Pemilik terakhirnya memang Mbah Sumirah. Tapi beliau sudah meninggal waktu saya masih muda.”
Pak Karto mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci rapat.
Di dalamnya, tidak ada dipan bersih, lampu minyak, atau perlengkapan persalinan seperti yang kulihat semalam.
Hanya ruangan kosong penuh debu, sarang laba-laba, dan perabotan tua yang rusak.
Aku berjalan perlahan menuju dapur.
Di sudut ruangan, tergeletak sapu lidi yang patah.
Persis sapu lidi yang dilemparkan Mbah dukun ke arah pintu.
Di sampingnya terdapat sehelai kain jarik bermotif bunga, masih terlipat rapi dan bersih, seolah baru saja diletakkan seseorang.
Aku mengambilnya dengan tangan gemetar.
Lalu dari belakang rumah terdengar suara Runi.
“Ayah!”
Aku menoleh dengan terkejut. Rupanya Pak Karto telah meminta seorang warga menjemput Runi dari puskesmas karena anak itu terus menangis ingin menyusulku.
Runi berlari masuk dan langsung menunjuk kain jarik di tanganku.
“Itu punya Mbah.”
Aku berlutut di hadapannya.
“Runi, Mbah yang mana?”
Anak itu menatap sudut dapur yang kosong.
“Mbah yang gendong adik.”
Aku memeluknya erat.
Bertahun-tahun kemudian, aku masih tidak mampu menjelaskan semua kejadian malam itu.
Aku tidak tahu siapa sebenarnya yang kami temui, bagaimana kami bisa sampai di rumah kosong tersebut, ataupun mengapa gelang milik anak Lasmi muncul di dalam bungkusanku.
Namun, ada sesuatu yang selalu kuingat.
Malam ketika Hanah melahirkan, seseorang telah menolong keluarga kami saat kami berada dalam keadaan paling tidak berdaya.
Dan sebelum meninggalkan rumah itu, Mbah Sumirah sempat berbisik kepadaku ketika Hanah sedang tertidur.
“Arif, jangan takut pada semua hal yang tidak kamu pahami. Kadang-kadang, orang yang pernah kehilangan justru paling mengerti bagaimana caranya menjaga agar orang lain tidak mengalami kehilangan yang sama.”
Saat itu aku menganggapnya sekadar nasihat seorang perempuan tua.
Sekarang, setiap mengingat perkataannya, dadaku selalu terasa sesak.
Terlebih ketika Runi, yang kini sudah dewasa, suatu hari mengatakan sesuatu yang belum pernah diceritakannya sebelumnya.
“Ayah masih ingat malam Adik lahir?”
“Tentu, Run.”
“Ayah tahu kenapa dulu aku pergi ke makam?”
Aku menggeleng.
Runi menatapku serius.
“Karena waktu itu ada seorang nenek yang memintaku mengantarkan gelang merah kepada ibunya.”
Aku terdiam.
“Lalu?”
“Nenek itu bilang, ibunya sudah lama menunggu untuk mengetahui bahwa anaknya selamat.”
Darahku terasa dingin.
“Siapa nenek itu?”
Runi menunduk sejenak.
“Wajahnya mirip Mbah dukun. Tapi jauh lebih muda.”
Aku tidak mampu menjawab.
Runi kemudian mengeluarkan sebuah foto lama yang diperolehnya dari keluarga Mbah Sarmi.
Foto itu memperlihatkan seorang perempuan muda menggendong bayi, berdiri di samping laki-laki tua berpakaian lurik.
Di belakang foto tertulis nama Lasmi dan Wiryo.
Laki-laki dalam foto tersebut adalah penjaga makam yang menyerahkan Runi kepadaku.
Dan perempuan yang menggendong bayi itu memiliki wajah yang sama dengan sosok berambut panjang yang kulihat berdiri di halaman rumah.
Aku menatap foto tersebut lama sekali.
Selama puluhan tahun, aku mengira sosok perempuan itu datang untuk mengambil bayi kami.
Namun, mungkin selama ini aku telah salah memahami segalanya.
Mungkin ia bukan sedang mencari bayi orang lain.
Mungkin ia hanya ingin memastikan bahwa anak yang pernah dilahirkannya benar-benar tumbuh besar, hidup, dan akhirnya menjadi seseorang yang mampu menyelamatkan ibu serta bayi lain.
Aku tidak tahu apakah penjelasan itu benar.
Tetapi sejak hari itu, setiap kali mendengar azan magrib, aku selalu teringat suara tangisan bayi kami pada malam tersebut.
Dan aku selalu berdoa untuk Lasmi, Wiryo, serta Mbah Sumirah.
Sebab malam yang dahulu kuanggap sebagai malam paling menakutkan dalam hidupku, ternyata juga menjadi malam ketika keluargaku menerima pertolongan yang tidak akan pernah mampu kami balas.
