
Aku menjemput Arga sebelum jam pelajaran terakhir selesai. Ketika keluar dari ruang guru, anakku menggenggam perekam kecil itu seperti benda yang bisa meledak kapan saja.
“Papa bakal marah?” tanyanya.
Aku berjongkok perlahan, menahan berat perutku.
“Biar Ibu yang bicara dengan Papa. Kamu tidak perlu mendengarkan rekamannya lagi.”
“Aku cuma mau mengerjakan tugas.”
“Ibu tahu, Sayang.”
Ia akhirnya menangis di bahuku.
Ayah membawa kami ke rumahnya, lalu menjemput Naya dari tempat les. Sore itu, setelah kedua anakku beristirahat, aku mendengarkan rekaman bersama Ayah.
Awalnya terdengar suara mesin mobil, gesekan benda, kemudian suara Damar.
“Maya belum mau tanda tangan.”
“Makanya jangan dibawa pulang terus berkasnya,” jawab Rani. “Nanti dia baca.”
“Salinan persetujuan sudah masuk. Tinggal dokumen asli dan proses berikutnya.”
Aku menekan ujung jariku ke telapak tangan.
“Kalau rumahnya sudah atas namamu, dia tidak punya pilihan selain pergi,” lanjut Damar.
Rani menghela napas.
“Kamu yakin dia akan membawa anak-anak?”
“Dia tidak akan meninggalkan mereka.”
Mataku panas. Mereka bukan sekadar merencanakan pengusiranku. Mereka mengandalkan kasih sayangku kepada anak-anak untuk membereskan hidup yang dianggap menghalangi mereka.
Lalu suara Rani kembali terdengar.
“Kita harus cepat sebelum bayinya lahir. Sesudah itu, kamu akan lebih sulit menjelaskan kenapa uang habis.”
“Aku akan bilang hasil penjualannya dipakai menutup utang.”
“Utangmu yang mana?”
“Pokoknya dia tidak tahu semuanya.”
Ayah menghentikan rekaman.
“Cukup dulu.”
Aku menggeleng.
“Putar sampai selesai, Yah.”
Ada jeda panjang sebelum terdengar ucapan yang membuat kami saling memandang.
“Dan jangan mengaku sepupu lagi kalau keluargamu datang,” kata Rani. “Aku capek mengingat kebohonganmu.”
Malam itu juga, Ayah menghubungi pengacara bernama Bu Sinta. Kami menyerahkan salinan dokumen dan perekamnya untuk diperiksa, lalu menyimpan berkas asli tanpa mengubah isinya.
Bu Sinta memintaku tidak menemui Damar sendirian.
“Untuk sekarang, pastikan Ibu dan anak-anak punya tempat aman. Urusan dokumen kita tangani satu per satu.”
Aku mengirim pesan kepada Damar bahwa kami menginap di rumah Ayah.
Teleponnya langsung masuk.
“Kenapa tidak bilang dari tadi?”
“Aku sedang bilang sekarang.”
“Besok pulang. Ada berkas yang harus diselesaikan.”
“Berkas rumah?”
Ia diam sesaat.
“Jangan mulai lagi, Maya.”
“Aku sudah ke kantor notaris.”
Keheningan di seberang begitu panjang sampai kudengar napasnya berubah.
“Kamu salah paham.”
“Prosesnya sudah ditunda. Selanjutnya, pembicaraan tentang rumah melalui pengacaraku.”
“Maya, kamu hamil. Jangan mengambil keputusan gegabah.”
Tanganku berhenti gemetar.
“Aku hamil, Damar. Aku tetap bisa membaca.”
Keesokan paginya, ia datang bersama Rani.
Aku menemui mereka di ruang tamu dengan Ayah dan Bu Sinta mendampingiku. Kedua anakku berada di rumah kakakku. Aku tidak ingin Arga merasa harus menyelamatkanku sekali lagi.
Damar menatap Bu Sinta, lalu beralih kepada Ayah.
“Ini masalah suami istri.”
“Pemalsuan tanda tangan saya bukan sekadar pertengkaran rumah tangga,” kataku.
Rani meletakkan tas di pangkuan.
“Saya cuma calon pembeli. Kalau ada masalah, saya bisa mundur.”
Aku mengeluarkan salinan foto USG dan meletakkannya di meja.
“Lalu ini?”
Wajah Damar menegang.
Rani menatapnya dengan mata membesar.
“Kamu menyimpan itu di rumah?”
Bukan bantahan yang keluar dari mulutnya.
Aku hampir tertawa, tetapi tenggorokanku terasa sakit.
“Sejak kapan?”
Damar mengusap wajah.
“Maya, aku bisa jelaskan.”
“Sejak kapan kalian berhubungan?”
“Delapan bulan,” jawab Rani pelan.
Damar menoleh tajam kepadanya.
“Jangan bohong lagi,” katanya, kali ini kepada Damar. “Aku juga tidak tahu rumah itu milik Maya dari sebelum menikah. Kamu bilang kalian membelinya bersama.”
Bu Sinta mencatat tanpa menyela.
“Dan kamu bilang Maya sudah setuju menjual,” lanjut Rani.
Aku memandang perempuan itu.
“Tapi kamu tahu aku belum mau tanda tangan.”
Rani terdiam.
Aku menyalakan rekaman.
Suaranya sendiri memenuhi ruang tamu. Kalimat tentang mengusirku, membawa anak-anak, dan mempercepat rencana sebelum persalinanku terdengar begitu jelas.
Damar bergerak hendak meraih alat itu.
Ayah berdiri.
“Duduk.”
Rekaman selesai. Tak seorang pun berbicara.
Damar akhirnya menatapku.
“Aku punya utang. Aku panik.”
“Kamu bisa bilang.”
“Aku malu.”
“Tapi kamu tidak malu merencanakan agar aku dan anak-anak kehilangan tempat tinggal?”
Ia menunduk.
Aku tidak mendapatkan jawaban yang membuat semuanya terasa masuk akal. Hanya pengakuan bertahap bahwa ia memakai uang untuk usaha sampingan yang gagal, membayar kebutuhan Rani, lalu berharap rumahku bisa menutup akibatnya.
Rani memang memiliki uang dari penjualan aset keluarga. Damar bermaksud memakai sebagian untuk membayar utang, sementara pengalihan rumah membuatnya bisa tinggal bersama Rani tanpa bergantung kepadaku.
Mereka menyebutnya jalan keluar.
Aku menyebutnya rencana yang tidak akan kutandatangani.
Proses setelah itu panjang. Bu Sinta mendampingiku mengurus perlindungan dokumen dan laporan atas dugaan pemalsuan. Permohonan perceraian berjalan terpisah. Rani menyerahkan percakapan serta bukti transfer yang dimilikinya, tetapi itu tidak membuat keterlibatannya lenyap.
Aku tidak perlu menentukan siapa di antara mereka yang paling bersalah untuk tahu bahwa aku harus pergi dari pernikahan itu.
Sebulan kemudian, aku kembali ke rumah bersama anak-anak setelah Damar pindah. Ayah tinggal sementara untuk membantu. Aku memindahkan dokumen penting dan mengganti akses rumah dengan pendampingan yang diperlukan.
Malam pertama, Arga berdiri di depan kamar kerjaku.
“Bu, kalau aku nggak mengambil perekam itu, rumah kita hilang?”
Aku menutup buku pesanan.
“Belum tentu. Ibu sudah mencari bantuan sebelum mendengar rekamannya.”
“Tapi aku membantu?”
Aku meraih tangannya.
“Iya. Tapi menjaga rumah ini bukan tugasmu.”
Ia mengangguk, meski aku tahu butuh waktu sampai ia benar-benar percaya.
Bayi kami lahir beberapa minggu kemudian. Damar mendapat kabar dan datang sesuai waktu yang kami sepakati. Aku tidak menghalanginya menjadi ayah, tetapi aku berhenti menjadikannya penentu keselamatanku.
Pada hari ulang tahun Arga, aku memberinya perekam baru untuk tugas sekolah. Ia memutarnya di depan keluarga setelah kue dipotong.
Terdengar suara Naya tertawa, bunyi loyang dari dapur, tangisan adik bayinya, lalu suaraku memanggil mereka makan.
“Itu apa, Nak?” tanya Ayah.
Arga tersenyum.
“Tugas wawancara. Kata Bu Guru, rekam sesuatu yang ingin diingat.”
Aku menatapnya.
“Kenapa tidak ada pertanyaannya?”
Ia mengangkat bahu.
“Aku mau ingat suara rumah kita waktu Ibu sudah nggak takut lagi.”
