
“Alya, Ibu bisa jelaskan semuanya!”
Suara ibu mertuaku terdengar gemetar di tengah dekorasi mawar merah yang beberapa menit sebelumnya disiapkan untuk lamaran suamiku dengan perempuan lain.
Aku menatap Bu Ratna tanpa berkedip. Di sampingnya berdiri Pak Hendra, ayah mertua yang selama ini kuanggap seperti ayah kandung sendiri.
Keduanya menundukkan kepala.
Sementara itu, Raka masih berdiri dengan kotak cincin di tangannya. Wajahnya pucat. Maya, adik iparku, terlihat seperti ingin menghilang dari tempat itu.
Hanya Kirana yang belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi.
“Raka, bilang kalau perempuan ini bohong,” pintanya sambil menangis. “Bilang kalau dia bukan istrimu!”
Raka membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto pernikahan kami tujuh tahun lalu.
“Ini foto akad nikah kami, Kirana. Kalau kamu masih ragu, aku punya buku nikahnya di rumah.”
Kirana memandangi foto itu. Tangannya gemetar hebat.
“Tapi kamu bilang sudah bercerai,” bisiknya kepada Raka.
Aku langsung menoleh.
“Bercerai?”
Kirana mengangguk sambil menghapus air mata.
“Raka bilang pernikahan pertamanya sudah berakhir hampir tiga tahun lalu. Katanya mantan istrinya meninggalkan dia karena enggak mau punya anak.”
Darahku terasa mendidih.
Selama tujuh tahun, aku menemani Raka dari masa ketika perusahaannya nyaris bangkrut sampai akhirnya berhasil mendapatkan investor. Aku tidak pernah meninggalkannya, bahkan ketika kami harus menjual mobil untuk membayar gaji karyawannya.
Dan sekarang dia mengatakan kepada perempuan lain bahwa akulah yang pergi.
“Mas, jadi selama ini kamu menceritakan kebohongan seperti itu tentang aku?”
Raka mengulurkan tangan.
“Alya, kita bicara berdua dulu.”
“Jawab di sini. Kamu sudah mengaku duda atau belum?”
Dia terdiam.
Kirana melepaskan gelang yang dikenakannya, lalu melemparkannya ke lantai.
“Dua tahun, Raka! Aku percaya sama kamu selama dua tahun!”
Beberapa tamu mulai berbisik. Fotografer menurunkan kameranya, sementara petugas dekorasi memilih menjauh.
Maya mendekatiku.
“Kak, tolong jangan bikin keributan. Kita pulang dulu, ya.”
Aku menatapnya tajam.
“Pagi tadi kamu bilang sedang lembur di kantor. Sekarang kamu menyuruhku diam?”
Maya menangis.
“Aku cuma ingin Kak Raka bahagia.”
“Dengan menghancurkan rumah tanggaku?”
Dia tidak menjawab.
Bu Ratna akhirnya mendekat.
“Alya, Ibu tahu kamu terluka. Tapi dengarkan Ibu sebentar.”
Aku tertawa getir.
“Ibu juga tahu tentang Kirana?”
Bu Ratna mengangguk perlahan.
“Sejak enam bulan lalu.”
Aku merasa kakiku kehilangan tenaga.
Enam bulan.
Selama enam bulan, perempuan yang kupanggil Ibu mengetahui bahwa anak laki-lakinya memiliki calon istri lain.
Padahal dua minggu sebelumnya, aku baru saja mengantarnya kontrol ke rumah sakit.
“Ibu pernah bilang aku menantu yang paling Ibu sayangi.”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Kenapa Ibu membiarkan ini terjadi?”
Bu Ratna menangis.
“Raka bilang kalian sudah lama tidak bahagia. Dia bilang kalian sedang mempersiapkan perceraian.”
Aku menoleh kepada suamiku.
“Jadi kamu berbohong kepada semua orang?”
Pak Hendra tiba-tiba bersuara.
“Tidak semua orang, Alya.”
Kami menoleh kepadanya.
Pria berusia enam puluh tahun itu menatap Raka dengan wajah mengeras.
“Saya baru tahu rencana lamaran ini tadi sore. Ratna bilang kami diundang menghadiri acara keluarga. Saya tidak tahu acara ini untuk melamar perempuan lain.”
“Papa!” bentak Raka.
“Diam!”
Suara Pak Hendra membuat semua orang terkejut.
“Kamu masih berani membentak setelah mempermalukan istrimu seperti ini?”
Raka menunduk.
Aku tidak ingin mendengar pertengkaran mereka lebih lama. Kepalaku mulai berputar, sementara rasa mual yang sejak tadi kutahan semakin kuat.
Aku menggenggam tas.
“Aku pulang.”
Raka langsung mendekat.
“Alya, aku antar.”
“Jangan sentuh aku.”
Aku berjalan menuju pintu keluar.
Namun baru beberapa langkah, pandanganku mendadak kabur.
Suara orang-orang terdengar semakin jauh.
Lalu tubuhku kehilangan keseimbangan.
Ketika membuka mata, aku sudah berada di ruang pemeriksaan sebuah rumah sakit di Jakarta.
Seorang dokter perempuan sedang memeriksa tekanan darahku. Bu Ratna duduk di sudut ruangan, sementara Kirana berdiri dekat pintu.
Raka tidak terlihat.
“Bu Alya, Ibu mengalami kelelahan dan tekanan emosional yang cukup berat,” kata dokter. “Untuk sementara, kondisi Ibu stabil. Kami akan memastikan kondisi kehamilannya melalui pemeriksaan lanjutan.”
Aku langsung menyentuh perut.
“Bayi saya bagaimana, Dok?”
Dokter tersenyum menenangkan.
“Dari pemeriksaan awal tidak tampak keluhan darurat, tetapi tetap perlu pemantauan. Ibu harus cukup istirahat.”
Aku mengangguk sambil menangis lega.
Namun ketika menoleh, aku melihat Kirana berdiri membeku.
“Kak… Kak Alya hamil?”
Aku terdiam.
Bu Ratna menutup mulut.
Kirana berjalan mendekat.
“Anaknya Raka?”
Aku mengangguk.
“Usianya sekitar enam minggu.”
Air mata Kirana langsung mengalir.
Dia duduk di kursi sebelah tempat tidurku.
“Ya Allah…”
Aku menatapnya.
“Kirana, kamu enggak perlu merasa bersalah kalau memang kamu tidak tahu.”
Dia menggeleng.
“Aku benar-benar enggak tahu, Kak. Kalau tahu, aku enggak akan pernah dekat sama dia.”
Untuk pertama kalinya sejak bertemu di pesawat, kami menangis bersama tanpa perlu menyembunyikan apa pun.
Setelah dokter meninggalkan ruangan, Kirana mengeluarkan ponselnya.
“Kak, ada sesuatu yang harus Kakak lihat.”
Dia membuka percakapannya dengan Maya.
Dalam pesan-pesan itu, Maya berulang kali meyakinkan Kirana bahwa Raka sudah bercerai dan sedang mempersiapkan pernikahan baru.
Namun satu pesan membuatku terdiam.
“Mbak, Kak Raka bilang urusan pembagian aset dengan mantan istrinya akan selesai bulan depan. Setelah itu kalian bisa menikah tanpa masalah.”
Aku membaca kalimat tersebut berulang kali.
Pembagian aset?
Selama ini Raka tidak pernah membicarakan perceraian denganku.
Mengapa keluarganya justru sudah membahas pembagian harta?
Keesokan paginya, setelah mendapat izin pulang, aku memutuskan tinggal sementara di rumah sahabatku, Nisa.
Raka menelepon puluhan kali.
Aku tidak mengangkatnya.
Namun satu pesan darinya membuatku semakin curiga.
“Alya, jangan mengambil keputusan apa pun tentang rumah dan saham perusahaan sebelum kita bicara.”
Aku membaca pesan itu dengan hati-hati.
Mengapa dia tiba-tiba menyebut saham?
Perusahaan teknologi Raka memang didirikan menggunakan tabungan kami bersama. Ketika awal usaha, aku ikut menyetor modal dan namaku tercatat sebagai salah satu pemegang saham.
Beberapa tahun terakhir, aku tidak terlibat langsung dalam operasional karena fokus pada pekerjaanku sendiri.
Namun hak kepemilikanku tetap ada.
Aku segera menghubungi pengacara yang pernah membantu kami memeriksa dokumen perusahaan.
Namanya Pak Damar.
Setelah mendengar ceritaku, dia meminta salinan dokumen kepemilikan saham dan catatan perubahan perusahaan terbaru.
Dua hari kemudian, dia menghubungiku.
“Bu Alya, sebaiknya Ibu datang ke kantor saya.”
Nada suaranya membuatku gelisah.
“Ada masalah, Pak?”
“Ada usulan transaksi saham yang perlu kita periksa. Nama Ibu tercantum dalam dokumen persetujuan awal.”
Jantungku berdebar.
“Persetujuan apa?”
“Persetujuan rencana pengalihan sebagian saham Ibu kepada pihak lain.”
Aku membeku.
“Pak, saya enggak pernah menyetujui pengalihan saham.”
“Itulah yang harus kita pastikan.”
Ketika tiba di kantornya, Pak Damar menunjukkan salinan dokumen tersebut.
Nama calon penerima saham tertera jelas.
Maya Adiputra.
Adik iparku sendiri.
Aku menatap tulisan itu cukup lama.
“Kenapa Maya?”
Pak Damar menjelaskan bahwa dokumen tersebut belum membuktikan adanya pengalihan yang sah. Namun terdapat tanda tangan elektronik yang diklaim sebagai persetujuanku.
Aku langsung teringat kejadian tiga minggu sebelumnya.
Maya datang ke rumah membawa laptop.
Dia mengatakan Raka membutuhkan bantuanku untuk memperbarui data administrasi perusahaan.
Saat itu, aku sedang menyiapkan presentasi kantor.
Maya meminta kode verifikasi yang masuk ke ponselku, katanya untuk menyelesaikan pembaruan akun perusahaan.
Aku memberikannya tanpa curiga.
Sekarang aku menyadari betapa cerobohnya tindakanku.
Aku meminta Pak Damar membantu memeriksa riwayat akses dan mengamankan seluruh dokumen perusahaan.
Sore harinya, Raka akhirnya datang ke rumah Nisa.
Aku menerimanya di ruang tamu dengan didampingi sahabatku.
“Alya, aku menyesal,” katanya.
Aku meletakkan salinan dokumen saham di meja.
“Mas, jelaskan ini.”
Raka langsung membeku.
“Dari mana kamu dapat?”
“Jawab pertanyaanku.”
Dia mengusap wajah.
“Maya cuma membantu mengurus administrasi.”
“Administrasi apa yang membutuhkan pengalihan saham milikku?”
Raka tidak menjawab.
Aku menatapnya.
“Apakah kamu mau menceraikanku setelah memastikan sahamku berpindah?”
Air matanya mulai jatuh.
“Aku terjebak, Alya.”
“Terjebak oleh siapa?”
Raka menunduk.
“Perusahaanku sedang menghadapi masalah keuangan. Investor baru meminta perubahan struktur kepemilikan. Maya bersedia membantu memegang saham sementara.”
Aku menggeleng.
“Kalau memang begitu, kenapa harus menggunakan persetujuanku tanpa sepengetahuanku?”
Raka menangis semakin keras.
“Aku takut kamu menolak.”
Aku memandang laki-laki yang pernah menjadi pusat kehidupanku.
Dulu, setiap kali menghadapi kesulitan, dia selalu menggenggam tanganku dan mengatakan bahwa kami akan menyelesaikannya bersama.
Sekarang, setiap kali menghadapi masalah, dia justru memilih berbohong.
“Apa Kirana juga bagian dari rencanamu menyelamatkan perusahaan?”
Raka mengangkat wajah.
“Tidak. Aku memang punya perasaan sama dia.”
Kalimat itu menyakitkan.
Namun anehnya, aku tidak lagi merasa perlu meminta dia memilih.
“Kalau begitu, kamu harus menerima konsekuensinya.”
Dua minggu berikutnya, aku menyerahkan persoalan dokumen saham kepada penasihat hukum dan mengajukan langkah perlindungan atas hak kepemilikanku.
Aku juga memutuskan memulai proses perceraian melalui jalur hukum yang berlaku.
Bu Ratna berkali-kali datang meminta maaf.
Maya mengirim pesan panjang, mengaku hanya mengikuti arahan kakaknya dan tidak memahami akibat tindakannya.
Aku tidak membalas dengan kemarahan.
Aku hanya meminta semua pihak memberikan keterangan yang benar ketika dokumen diperiksa.
Sementara itu, Kirana membuat keputusan yang tidak kuduga.
Dia memutuskan hubungannya dengan Raka dan bersedia memberikan salinan pesan yang berkaitan dengan kebohongan tentang status pernikahan Raka.
Suatu sore, dia datang mengunjungiku.
Perutku belum terlihat membesar, tetapi aku sudah mulai terbiasa berbicara kepada bayi kecil di dalamnya.
Kirana membawa sekotak buah.
“Kak, boleh aku tanya sesuatu?”
Aku tersenyum.
“Tentu.”
“Kakak masih mencintai Raka?”
Aku terdiam cukup lama.
“Mungkin masih ada bagian dari diriku yang mencintai laki-laki yang dulu kukenal.”
“Lalu kenapa Kakak memilih pergi?”
Aku mengusap perutku perlahan.
“Karena cinta tidak cukup kalau seseorang terus-menerus menghancurkan kepercayaan kita.”
Kirana menunduk.
“Aku pikir Kakak akan membenciku.”
Aku menggeleng.
“Kamu juga dibohongi.”
Dia tersenyum sedih.
“Kak, waktu di pesawat, Kakak tahu semuanya tapi tetap menolongku ketika aku kesulitan membawa koper.”
Aku tertawa kecil.
“Waktu itu aku belum tahu harus melakukan apa.”
“Kakak bahkan bilang aku cantik.”
Aku menatapnya.
“Memang kamu cantik. Kesalahan Raka tidak mengubah hal itu.”
Kirana kembali menangis.
Beberapa bulan kemudian, proses hukum mengenai perkawinan dan dokumen perusahaan masih berjalan. Namun aku mulai membangun kehidupan baru.
Aku tetap bekerja dan menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin.
Raka beberapa kali meminta kesempatan memperbaiki hubungan kami.
Aku tidak melarangnya bertanggung jawab sebagai calon ayah, tetapi aku menetapkan batasan yang jelas.
Suatu pagi, sebuah paket tiba di rumah Nisa.
Pengirimnya Kirana.
Di dalamnya ada sepasang sepatu bayi berwarna putih dan sepucuk surat.
Aku membacanya perlahan.
“Kak Alya, dulu kita bertemu di pesawat ketika sama-sama membawa kejutan untuk orang yang kita cintai. Kakak membawa kabar kehidupan baru, sementara aku membawa harapan tentang pernikahan. Kita sama-sama pulang dengan hati hancur. Tapi sekarang aku mengerti bahwa kehilangan orang yang salah bukan berarti kehilangan masa depan. Semoga bayi Kakak tumbuh dikelilingi cinta yang jujur.”
Aku menangis sambil menggenggam sepatu kecil itu.
Lalu aku teringat kotak sepatu bayi yang kubeli di Labuan Bajo.
Kotak yang semula ingin kuberikan kepada Raka.
Aku mengambilnya dari lemari.
Meletakkan kedua pasang sepatu berdampingan.
Satu pasang kubeli ketika masih percaya hidupku sempurna.
Satu pasang diberikan oleh perempuan yang awalnya kukira telah merebut kebahagiaanku.
Aku tersenyum di tengah air mata.
Hari itu aku menyadari bahwa pengkhianatan memang bisa menghancurkan rencana hidup seseorang, tetapi tidak harus menghancurkan masa depannya.
Dan ketika bayi kecil di dalam perutku bergerak untuk pertama kalinya beberapa minggu kemudian, aku tidak lagi memikirkan lamaran mewah, cincin berlian, ataupun janji Raka yang telah hancur.
Aku hanya berbisik sambil mengusap perutku.
“Nak, Mama mungkin tidak bisa memberimu keluarga seperti yang dulu Mama impikan. Tapi Mama berjanji, kamu akan tumbuh dengan mengetahui bahwa cinta yang sesungguhnya tidak pernah membutuhkan kebohongan untuk bertahan.”
