AKU PULANG UNTUK MEMBAWA IBUKU KE JAKARTA, TAPI JUSTRU

“JANGAN BIARKAN NAYA MEMBUKA FLASHDISK ITU!”

Teriakan Ratih membuat kedua laki-laki yang dibawanya langsung bergerak ke arahku.

Aku mundur sambil menggenggam flashdisk hitam itu erat-erat.

“Jangan mendekat!” bentakku.

Salah seorang pria mencoba meraih tanganku, tetapi Dimas yang masih terbaring di lantai segera mencengkeram pergelangan kakinya.

“Lari, Naya! Simpan flashdisk itu!”

Pria tersebut menendang tangan Dimas hingga mantan suamiku mengerang kesakitan.

“BERHENTI!” teriakku.

Ibu yang sejak tadi duduk di ruang tamu tiba-tiba menangis histeris.

“Ratih! Kamu sudah mengambil rumah saya! Jangan sakiti anak-anak saya lagi!”

Semua orang mendadak terdiam.

Aku menoleh kepada Ibu.

“Apa maksud Ibu?”

Ratih langsung membentak.

“Tante, diam!”

Namun, kali ini Ibu tidak menurut.

Dengan tangan gemetar, beliau berdiri sambil berpegangan pada tongkat putihnya.

“Naya, rumah peninggalan ayahmu sudah dijual Ratih. Ibu tidak pernah menerima uangnya. Bahkan Ibu diusir dari rumah itu.”

Dadaku terasa seperti dihantam sesuatu.

“Kenapa Ibu tidak pernah memberitahuku?”

“Ibu mencoba, Nak. Tapi setiap kali Ibu menelepon, Ratih selalu bilang kamu sedang sibuk.”

Aku menatap sepupuku dengan amarah yang sulit ditahan.

“Rp65 juta setiap bulan itu kamu gunakan untuk apa?”

Ratih mengatupkan rahangnya.

“Itu bukan urusanmu.”

“ITU UANGKU!”

Aku menunjukkan dokumen penjualan rumah.

“Dan tanda tangan ini juga bukan milikku!”

Ratih tersenyum sinis.

“Kamu boleh menuduh apa saja. Tapi tanpa bukti, siapa yang akan percaya?”

Aku mengangkat flashdisk di tanganku.

“Kalau begitu, kenapa kamu begitu takut dengan benda ini?”

Senyumnya langsung menghilang.

Sebelum Ratih sempat menjawab, terdengar suara klakson panjang dari halaman.

Sopirku, Pak Joko, muncul bersama dua warga yang sebelumnya mendengar keributan.

“Mbak Naya, saya sudah menghubungi polisi!”

Wajah kedua pria yang dibawa Ratih berubah tegang.

Salah seorang segera melepaskan Dimas.

Ratih menoleh tajam kepada mereka.

“Kalian dibayar untuk membantu saya!”

Namun, kedua pria itu justru mundur menuju pintu.

“Kami tidak mau terlibat urusan pidana, Bu.”

Mereka meninggalkan rumah dengan tergesa-gesa.

Ratih berusaha mengikuti, tetapi aku menghadang jalannya.

“Kamu tidak boleh pergi sebelum menjelaskan semuanya.”

Ia menatapku penuh kebencian.

“Kamu pikir karena punya uang, kamu bisa mengatur hidup semua orang?”

Aku hampir tertawa mendengar tuduhan itu.

“Justru kamu yang mengambil uangku dan membuat ibuku hidup seperti ini.”

Ratih tidak menjawab.

Beberapa menit kemudian, petugas kepolisian tiba. Setelah mendengar penjelasan awal dan melihat kondisi Dimas, mereka meminta Ratih ikut memberikan keterangan.

Aku menyerahkan salinan dokumen yang ditemukan di bawah kasur, sementara flashdisk tetap kusimpan untuk diserahkan sebagai barang bukti.

Namun, sebelum dibawa pergi, Ratih tiba-tiba menoleh kepada Dimas.

“Kamu pikir Naya akan memaafkanmu setelah melihat semua isinya?”

Dimas menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak aku datang, wajahnya memperlihatkan ketakutan yang berbeda.

Bukan takut kepada Ratih.

Melainkan takut kepadaku.

Setelah keadaan tenang, aku membawa Dimas ke rumah sakit untuk memeriksa kaki kirinya.

Dokter mengatakan tidak ada patah tulang baru, tetapi ia mengalami cedera jaringan lunak dan membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Sementara Ibu beristirahat di ruang perawatan, aku duduk berhadapan dengan Dimas.

“Sekarang jelaskan semuanya.”

Ia memandang kedua tangannya.

“Naya, aku memang menyimpan flashdisk itu karena takut kamu terluka.”

“Aku sudah terluka sejak tiga tahun lalu, Dimas.”

Ia terdiam.

Aku mengeluarkan laptop dari tas kerja.

“Aku akan membuka isinya.”

Dimas tidak lagi mencegahku.

Di dalam flashdisk terdapat beberapa folder.

Dokumen perusahaan.

Rekaman percakapan.

Foto sertifikat tanah.

Dan sebuah folder bernama NAYA.

Aku membukanya.

Video pertama memperlihatkan sebuah ruang kantor dengan meja kayu besar.

Aku mengenali ruangan itu.

Ruang kerja Ratih di Sleman.

Tanggal rekamannya menunjukkan sebelas bulan lalu.

Dalam video, Ratih duduk bersama seorang laki-laki berkemeja putih.

Aku mengenali wajah pria tersebut.

Bambang Prasetyo.

Mantan manajer legal perusahaanku di Jakarta.

Pria yang mengundurkan diri setahun lalu dengan alasan kesehatan keluarga.

Ratih terdengar berkata, “Tanda tangan Naya sudah berhasil ditiru?”

Bambang mengangguk.

“Sudah. Dokumen persetujuan akan terlihat asli. Tapi kita masih perlu membereskan tanda tangan Bu Sulastri dan proses administrasi tanahnya.”

Aku menutup mulut.

Ratih melanjutkan, “Kalau rumah itu berhasil dijual, kita bisa menutup utang perusahaan properti.”

Bambang tertawa.

“Dan bagaimana dengan Dimas?”

“Dia sudah terlalu banyak tahu. Kalau masih ikut campur, kita buat dia menyesal.”

Video berakhir.

Tanganku gemetar.

Aku membuka rekaman berikutnya.

Kali ini, sebuah kamera pengawas memperlihatkan area parkir sebuah gudang di Yogyakarta.

Tanggalnya hampir dua tahun lalu.

Dimas terlihat berjalan menuju mobilnya.

Beberapa detik kemudian, sebuah kendaraan melaju cepat dan menghantam tubuhnya ketika ia hendak membuka pintu.

Aku refleks menjerit.

Dalam video itu, Dimas terjatuh dan tidak bergerak.

Sementara mobil penabrak langsung melarikan diri.

Aku menatap Dimas.

“Jadi kecelakaan yang membuat kakimu seperti ini bukan kecelakaan biasa?”

Dimas menggeleng perlahan.

“Waktu itu aku mulai menyelidiki Ratih. Aku menemukan bahwa uang yang kamu kirim tidak sampai kepada Ibu.”

Air mataku mengalir.

“Kenapa kamu tidak menghubungiku?”

Dimas menghela napas panjang.

“Karena kamu sudah memblokir semua nomorku. Dan aku tahu kamu masih membenciku.”

Aku terdiam.

Memang benar.

Setelah perceraian kami, aku menghapus semua cara untuk menghubunginya.

“Tapi kamu bisa datang ke kantorku.”

“Aku pernah datang.”

Aku mengangkat wajah.

“Dua tahun lalu. Aku menunggu hampir empat jam di lobi gedungmu. Bambang yang menemuiku. Dia bilang kamu tidak mau bertemu denganku.”

Aku langsung teringat sesuatu.

Pada waktu itu, Bambang pernah mengatakan bahwa seorang pria mengaku sebagai mantan suamiku datang untuk meminta uang.

Aku begitu marah hingga memerintahkan petugas keamanan agar tidak membiarkannya masuk lagi.

Ternyata sekali lagi, aku mempercayai orang yang salah.

“Kenapa kamu tetap merawat Ibu setelah semua itu?” tanyaku.

Dimas menatapku.

“Karena beliau tidak punya siapa-siapa di sini.”

“Tapi kita sudah bercerai.”

“Iya. Tapi perceraian kita tidak membuatku berhenti menganggap beliau sebagai ibu.”

Aku tidak mampu menjawab.

Selama bertahun-tahun, aku membayangkan Dimas hidup bahagia setelah meninggalkanku.

Ternyata ia justru kehilangan bengkelnya, mengalami kecelakaan, lalu merawat ibuku dengan uang hasil memperbaiki motor dari rumah.

Aku membuka folder terakhir.

Di dalamnya terdapat sebuah rekaman suara bertanggal tiga tahun lalu.

Aku menekan tombol putar.

Suara Ratih terdengar jelas.

“Kalau kamu tidak menceraikan Naya, aku akan menyerahkan bukti bahwa bengkelmu menerima uang hasil penggelapan perusahaan.”

Kemudian terdengar suara Dimas.

“Aku tidak pernah menerima uang haram!”

Ratih tertawa.

“Kamu pikir polisi akan percaya? Semua dokumen sudah atas namamu.”

Dimas terdengar membentak.

“Jangan libatkan Naya!”

“Kalau begitu, tinggalkan dia. Buat dia membencimu. Setelah itu, aku akan menghapus semua tuduhan.”

Rekaman terputus.

Aku menatap layar laptop tanpa bergerak.

“Jadi itu alasan kamu menceraikanku?”

Dimas memejamkan mata.

“Aku takut kamu ikut terseret, Naya. Saat itu bisnis yang kamu bangun sedang membutuhkan pendanaan besar. Ratih mengancam akan menghancurkan semuanya.”

“Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya?”

“Karena aku pengecut.”

Jawaban itu membuatku terdiam.

Dimas mengusap wajahnya.

“Aku pikir dengan meninggalkanmu, semuanya akan selesai. Ternyata aku justru memberikan kesempatan kepada Ratih untuk mengambil lebih banyak.”

Aku menangis.

Bukan hanya karena pengkhianatan Ratih.

Tetapi juga karena menyadari bahwa tiga tahun pernikahanku hancur akibat kebohongan yang tidak pernah kami hadapi bersama.

“Seharusnya kamu percaya padaku, Dimas.”

“Iya.”

“Seharusnya kamu membiarkanku memilih apakah aku mau menghadapi masalah itu bersamamu.”

Dimas mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

“Aku tahu. Dan aku menyesal setiap hari.”

Keesokan paginya, Raka datang dari Jakarta membawa laporan audit awal perusahaan.

Kami bertemu di ruang tunggu rumah sakit.

“Bu Naya, ada perkembangan penting.”

Aku langsung berdiri.

“Bagaimana?”

“PT Arunika Properti Mandiri ternyata memiliki hubungan dengan Bambang. Ratih tercatat sebagai pemegang saham mayoritas melalui perubahan kepemilikan terbaru, tetapi sebelumnya sebagian saham perusahaan itu berada atas nama seseorang yang memakai identitas almarhum ayah Ibu.”

Aku membeku.

“Ayahku sudah meninggal delapan tahun lalu.”

“Benar, Bu. Kami menduga ada penyalahgunaan identitas dalam dokumen perusahaan.”

Raka kemudian memperlihatkan rangkaian transaksi.

Sebagian uang yang kutransfer kepada Ratih digunakan untuk membayar cicilan utang PT Arunika Properti Mandiri.

Sementara dana hasil penjualan rumah Ibu diduga dialirkan ke beberapa rekening yang terkait dengan Bambang dan Ratih.

“Bagaimana dengan rumah Ibu?” tanyaku.

“Proses peralihannya perlu diperiksa melalui PPAT, kantor pertanahan, dan penyidik. Kami sudah menyiapkan seluruh bukti untuk pengacara.”

Aku mengangguk.

“Lakukan semua yang diperlukan melalui jalur hukum.”

Beberapa hari berikutnya, pemeriksaan mulai mengungkap keterlibatan Bambang dalam penyusunan dokumen palsu.

Ratih juga akhirnya mengakui bahwa ia menyalahgunakan uang yang kutitipkan untuk kebutuhan Ibu.

Namun, ada satu hal yang masih belum kupahami.

Mengapa Dimas menyimpan map bertuliskan namaku di bawah kasur?

Mengapa pada bagian luarnya terdapat pesan agar dokumen itu tidak diberikan sebelum aku pulang?

Ketika kutanyakan, Dimas mengeluarkan sebuah amplop putih dari tasnya.

“Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.”

Aku menerimanya dengan perasaan cemas.

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan Ibu.

Tanggal surat itu hampir setahun lalu.

Aku mulai membacanya.

Naya, anakku.

Kalau suatu hari kamu menemukan surat ini, berarti Ibu akhirnya berhasil bertemu denganmu lagi.

Ibu ingin kamu tahu bahwa Dimas bukan orang yang menghancurkan keluarga kita.

Dia justru orang yang datang ketika semua orang meninggalkan Ibu.

Dia menjual sisa peralatan bengkelnya untuk membayar pengobatan mata Ibu.

Dia membawa Ibu ke rumah sakit meskipun berjalan saja masih kesakitan.

Ibu pernah memintanya menghubungimu.

Tetapi dia mengatakan akan mengumpulkan bukti terlebih dahulu supaya kamu tidak lagi menjadi korban kebohongan Ratih.

Ibu tahu kamu pernah sangat membencinya.

Namun, jangan membenci seseorang sebelum mendengar seluruh kebenarannya.

Air mataku membasahi kertas itu.

Di bagian paling bawah terdapat satu kalimat tambahan.

Naya, sebenarnya Ibu sudah tahu tentang rencana Ratih sejak lama. Ibu pernah menandatangani dokumen kosong karena percaya kepada keponakan sendiri. Ibu malu mengakuinya kepadamu. Dimas menyimpan semua berkas itu agar suatu hari kamu bisa menyelamatkan rumah kita.

Aku melipat surat tersebut dengan tangan gemetar.

Selama ini, aku terlalu sibuk mengirimkan uang.

Aku merasa sudah menjadi anak yang berbakti karena mampu membiayai kehidupan Ibu dari jauh.

Padahal, aku tidak pernah benar-benar memeriksa bagaimana beliau hidup.

Aku memercayai foto-foto yang dikirim Ratih.

Aku memercayai laporan pengeluaran yang tampak rapi.

Dan aku lupa bahwa perhatian tidak selalu bisa digantikan dengan transfer bank.

Dua bulan kemudian, proses hukum terhadap Ratih dan Bambang masih berjalan. Pengacara kami sedang mengupayakan pembatalan transaksi rumah berdasarkan bukti dugaan pemalsuan dokumen.

Aku tidak menunggu semuanya selesai untuk membawa Ibu ke Jakarta.

Beliau menjalani pemeriksaan mata menyeluruh dan mulai mendapatkan perawatan yang sebelumnya tertunda.

Sementara itu, Dimas menjalani fisioterapi secara rutin.

Aku juga membantunya membuka kembali usaha servis motor kecil-kecilan.

Namun, ketika aku menawarkan modal tambahan, ia menolak dengan halus.

“Naya, aku ingin membangun hidupku lagi dengan kemampuanku sendiri.”

Aku tersenyum.

“Kalau begitu, anggap saja aku pelanggan pertamamu.”

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, Dimas tertawa.

Suatu sore, kami duduk bersama di halaman rumah baruku di Jakarta.

Ibu sedang menyiram tanaman dengan perlahan. Dimas duduk di kursi kayu sambil mengistirahatkan kaki kirinya.

Aku membawa tiga cangkir teh hangat.

“Dimas,” panggilku.

Ia menoleh.

“Aku mau bertanya sesuatu.”

“Apa?”

“Kalau waktu bisa diputar kembali, apakah kamu tetap akan menceraikanku demi melindungiku?”

Dimas terdiam cukup lama.

Kemudian ia menggeleng.

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Aku akan mengatakan semuanya sejak awal,” lanjutnya. “Karena sekarang aku tahu, melindungi seseorang dengan kebohongan hanya akan menciptakan luka yang lebih besar.”

Aku tersenyum di antara air mata.

Aku belum tahu apakah kami akan menikah lagi.

Tiga tahun perpisahan tidak mungkin disembuhkan hanya dengan beberapa percakapan.

Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi memandang Dimas sebagai laki-laki yang pernah menghancurkan hidupku.

Aku melihatnya sebagai manusia yang pernah membuat keputusan salah, menanggung akibatnya, tetapi tetap memilih melakukan hal yang benar ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.

Tiba-tiba Ibu memanggil dari halaman.

“Naya, Dimas, sini sebentar!”

Kami menghampirinya.

Di tangannya terdapat sebuah kotak kecil yang selama ini disimpan di dalam tas kainnya.

Ibu membukanya.

Di dalamnya terdapat dua cincin pernikahan lama.

Cincinku dan cincin Dimas.

Aku terkejut.

“Bu, kenapa masih disimpan?”

Ibu tersenyum.

“Dulu setelah kalian bercerai, Dimas menitipkan cincin ini kepada Ibu.”

Aku menatap mantan suamiku.

Dimas terlihat salah tingkah.

“Ibu bilang jangan dibuang,” gumamnya.

Ibu menggeleng sambil tersenyum.

“Bukan begitu. Dimas bilang, kalau suatu hari kalian bertemu lagi, dia ingin mengembalikannya langsung kepadamu.”

Aku mengambil cincin itu.

Di bagian dalamnya masih terdapat ukiran kecil yang kami buat ketika menikah.

Rumah adalah tempat kita saling pulang.

Air mataku kembali mengalir.

Tiga tahun lalu, aku mengira telah kehilangan rumah tanggaku untuk selamanya.

Tetapi ternyata, ketika aku sibuk mencari kesuksesan di Jakarta, seorang laki-laki yang pernah kusebut suami justru menjaga satu-satunya rumah yang seharusnya tidak pernah kulupakan.

Bukan rumah senilai Rp8,7 miliar.

Bukan bangunan mewah atau tanah warisan.

Melainkan seorang ibu yang setiap hari menungguku pulang.

Aku menggenggam tangan Ibu, lalu menatap Dimas.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa tidak perlu lagi mencari siapa yang harus disalahkan atas masa lalu.

Yang perlu kulakukan sekarang adalah memastikan bahwa orang-orang yang masih mencintaiku tidak harus menunggu sampai kehilangan segalanya hanya untuk mendapatkan perhatianku.

Karena terkadang, keluarga bukanlah orang yang paling sering mengatakan bahwa mereka menyayangi kita.

Melainkan mereka yang tetap tinggal, bahkan ketika tidak ada lagi keuntungan yang bisa mereka dapatkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang