“Jangan pulang. Hendra Wijaya masih hidup.”

Aku membaca pesan itu tiga kali. Foto di layar memperlihatkan seorang pria yang selama ini kukenal sebagai mendiang ayah Raka. Wajahnya lebih kurus, rambutnya memutih, tetapi tidak mungkin aku salah mengenalinya.
Yang membuatku semakin takut adalah tanggal pada foto tersebut.
Kemarin malam.
“Ibu,” bisikku, “sebenarnya Ibu mengenal Pak Hendra?”
Ibu tidak langsung menjawab. Jemarinya mencengkeram tongkat putih sampai buku-buku jarinya memutih.
“Dulu, sebelum kamu lahir, Ibu pernah bekerja di perusahaan milik keluarga Wijaya.”
Aku terdiam.
“Kenapa Ibu nggak pernah cerita?”
“Karena Ibu berjanji tidak akan membicarakannya lagi.”
“Berjanji kepada siapa?”
Ibu menarik napas panjang.
“Kepada Hendra sendiri.”
Aku memandang amplop cokelat yang masih berada di tanganku. Di dalamnya terdapat dokumen kepemilikan saham sebesar 31 persen atas nama Ratih Prameswari, nama lengkap ibuku.
“Jadi saham ini benar milik Ibu?”
“Ibu tidak tahu apakah saham itu masih ada, Nak. Sudah lebih dari dua puluh tahun Ibu tidak berurusan dengan perusahaan itu.”
Aku hendak bertanya lagi ketika manajer keamanan hotel menghampiri kami.
“Bu Alya, kami menemukan sesuatu dalam rekaman kamera. Perempuan yang memasukkan amplop ke tas ibu Anda ternyata masuk menggunakan kartu identitas tamu. Dia bukan karyawan hotel.”
“Namanya Karin. Dia sekretaris Bu Marissa.”
Manajer itu mengangguk.
“Masalahnya, Bu, sekitar lima belas menit lalu perempuan tersebut terlihat meninggalkan hotel bersama seorang pria.”
Dia memperlihatkan tangkapan layar CCTV.
Aku langsung mengenali pria itu.
Hendra Wijaya.
Pria yang seharusnya sudah meninggal tiga tahun lalu ternyata baru saja berada di gedung yang sama denganku.
Aku segera menghubungi nomor pengirim pesan misterius tersebut.
Telepon diangkat setelah dering ketiga.
“Siapa kamu?”
Suara perempuan terdengar dari seberang.
“Nama saya Nabila. Saya bekerja sebagai staf administrasi di Sentra Nusantara Tower.”
“Dari mana kamu mendapatkan foto itu?”
“Saya yang mengambilnya. Bu Alya, dengarkan baik-baik. Jangan menemui keluarga Wijaya sendirian. Mereka sedang mencari sebuah dokumen.”
“Dokumen apa?”
“Bukti bahwa kematian Pak Hendra direkayasa.”
Dadaku terasa sesak.
“Kenapa kamu menghubungi saya?”
Nabila terdiam sejenak.
“Karena ayah saya meninggal setelah mencoba mengungkap masalah yang sama.”
Sambungan terputus.
Malam itu aku membawa Ibu ke apartemen sahabatku, Dina, di kawasan Kuningan. Aku tidak berani pulang karena Raka memiliki kunci rumahku.
Dina kemudian menghubungi kakaknya, seorang pengacara bernama Farhan.
Ketika Farhan tiba, aku menceritakan semuanya, mulai dari tuduhan pencurian bros berlian hingga foto Hendra yang masih hidup.
Dia memeriksa dokumen saham milik Ibu dengan teliti.
“Ini salinan dokumen lama. Kita harus memeriksa keabsahannya melalui catatan perusahaan dan dokumen resmi.”
“Kalau benar, apa artinya?”
“Artinya ibumu mungkin masih memiliki hak yang selama ini tidak pernah diberitahukan kepadanya.”
Ibu yang duduk di sofa tiba-tiba berkata pelan.
“Dulu, perusahaan itu hampir bangkrut.”
Kami langsung menoleh.
Ibu mulai bercerita.
Dua puluh enam tahun lalu, sebelum penglihatannya hilang, Ibu bekerja sebagai kepala bagian keuangan di sebuah perusahaan konstruksi kecil yang didirikan Hendra bersama dua rekannya.
Saat perusahaan mengalami krisis, Ibu menggunakan sebagian besar uang warisan dari kakekku untuk membantu menyelamatkan operasionalnya.
Sebagai gantinya, Ibu mendapatkan saham sebesar 31 persen.
“Tapi beberapa tahun kemudian, Hendra menikahi Marissa. Sejak saat itu, keadaan berubah.”
“Berubah bagaimana, Bu?”
“Marissa ingin seluruh perusahaan berada di bawah kendali keluarganya. Hendra meminta Ibu menjual saham, tapi Ibu menolak karena nilainya jauh lebih rendah daripada kesepakatan awal.”
Ibu berhenti sebentar.
“Kemudian terjadi kebakaran di gudang proyek.”
Aku merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungku.
“Kebakaran yang membuat Ibu kehilangan penglihatan?”
Ibu mengangguk.
“Dokter bilang saraf mata Ibu rusak akibat cedera kepala dan komplikasi yang terjadi setelah kecelakaan. Ibu juga kehilangan suamiku, ayahmu, dalam kebakaran itu.”
Aku menggenggam tangan Ibu.
Selama ini aku mengetahui ayahku meninggal dalam kecelakaan kerja. Namun, aku tidak pernah tahu peristiwa itu berhubungan dengan keluarga Wijaya.
“Setelah pemakaman, Hendra datang membawa sejumlah uang. Dia meminta Ibu menjauh dari perusahaan. Ibu menolak uangnya, tapi Ibu tidak sanggup lagi memperjuangkan apa pun.”
“Lalu kenapa sekarang ada orang memasukkan dokumen ini ke tas Ibu?”
Ibu menggeleng.
“Itulah yang Ibu tidak mengerti.”
Farhan menyimpan foto seluruh dokumen sebagai bahan pemeriksaan.
“Besok kita cari Nabila. Dia mungkin tahu siapa yang mengirimkan amplop itu.”
Namun, sebelum kami sempat menyusun rencana lebih lanjut, ponselku kembali berdering.
Raka.
Kali ini aku mengangkatnya dengan pengeras suara.
“Alya, kamu di mana? Mama masuk rumah sakit karena ulahmu!”
Aku menatap Farhan yang memberi isyarat agar aku tetap tenang.
“Kenapa ibumu masuk rumah sakit?”
“Tekanan darahnya naik. Kamu harus datang dan meminta maaf.”
“Raka, ayahmu masih hidup?”
Keheningan panjang terdengar dari seberang.
Kemudian Raka tertawa kaku.
“Kamu ngomong apa?”
“Aku punya fotonya.”
“Alya, jangan percaya orang sembarangan.”
“Jawab pertanyaanku.”
Suara Raka mendadak berubah dingin.
“Kamu sebaiknya berhenti mencari tahu urusan yang bukan hakmu.”
Telepon terputus.
Aku memandang Farhan.
“Dia tahu.”
Farhan mengangguk.
“Dan dia baru saja memberi kita alasan tambahan untuk berhati-hati.”
Keesokan paginya, Nabila bersedia menemui kami di sebuah kedai kopi dekat kantor tempatnya bekerja.
Perempuan itu berusia sekitar dua puluh delapan tahun. Wajahnya terlihat lelah, seolah sudah berhari-hari tidak tidur.
“Ayah saya dulu petugas keamanan di Sentra Nusantara Tower,” katanya.
“Tiga tahun lalu, ayah melihat Pak Hendra masuk ke gedung itu beberapa minggu setelah berita kematiannya diumumkan.”
“Kenapa ayahmu tidak melapor?”
“Dia mencoba. Tapi dua hari setelah menyerahkan laporan kepada atasannya, dia ditemukan meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.”
Nabila mengeluarkan sebuah flashdisk.
“Sebelum meninggal, Ayah menyimpan salinan rekaman CCTV. Saya baru menemukannya ketika membereskan barang-barangnya.”
Farhan menerima flashdisk itu, tetapi tidak langsung membukanya.
“Kenapa kamu menghubungi Alya sekarang?”
Nabila menatapku.
“Karena minggu lalu Pak Hendra kembali ke gedung untuk mengambil dokumen lama. Saya melihat beliau bertengkar dengan Bu Marissa.”
“Apa yang mereka perdebatkan?”
“Nama seorang perempuan.”
Nabila mengeluarkan kertas kecil.
Di sana tertulis nama ibuku.
Ratih Prameswari.
Aku langsung membeku.
“Pak Hendra mengatakan bahwa sebelum semuanya terlambat, saham Ratih harus dikembalikan.”
“Lalu Marissa menjawab apa?”
Nabila menelan ludah.
“Dia bilang kalau Ratih mengetahui kebenarannya, Raka akan kehilangan semua yang dimilikinya.”
Kami kembali ke kantor Farhan untuk memeriksa rekaman tersebut.
Video pertama memperlihatkan Hendra masuk ke gedung menggunakan akses khusus beberapa minggu setelah tanggal kematian resminya.
Video kedua memperlihatkan sebuah ruangan di lantai 38.
Di dalamnya, Hendra duduk berhadapan dengan Bu Marissa dan Raka.
Rekaman tidak memiliki suara.
Namun, Farhan menemukan beberapa dokumen digital lain yang memperlihatkan aliran pembayaran perusahaan kepada sejumlah pihak, termasuk pengeluaran untuk sebuah fasilitas perawatan pribadi di kawasan Bogor.
“Jadi selama ini Hendra bersembunyi di sana?” tanyaku.
“Mungkin. Tapi kita belum tahu apakah dia bersembunyi atas kemauannya sendiri.”
Aku tiba-tiba teringat sesuatu.
“Karin memasukkan dokumen ke tas Ibu. Kalau dia bekerja untuk Marissa, kenapa justru memberikan bukti yang membahayakan majikannya?”
Nabila menatapku.
“Karena mungkin Karin tidak lagi bekerja untuk Marissa.”
Belum sempat kami melanjutkan pembicaraan, sebuah pesan masuk dari nomor Karin.
Bu Alya, saya tahu Anda sudah menemukan amplopnya. Saya ingin bertemu. Pak Hendra sedang dalam bahaya.
Farhan menyarankan agar kami tidak datang sendirian dan segera menyerahkan seluruh informasi kepada pihak berwenang.
Pertemuan akhirnya dilakukan di sebuah kantor hukum dengan pendampingan pengacara.
Karin datang mengenakan pakaian sederhana. Wajahnya pucat.
Begitu melihat Ibu, dia langsung menangis.
“Bu Ratih, maafkan saya.”
Ibu tampak bingung.
“Kamu siapa?”
“Saya anak dari Pak Surya, sopir pribadi Pak Hendra dulu.”
Ibu terdiam.
“Surya? Dia masih hidup?”
Karin menggeleng.
“Bapak meninggal lima tahun lalu.”
Karin kemudian menceritakan bahwa sebelum meninggal, ayahnya menitipkan sejumlah dokumen dan sebuah pesan dari Hendra.
Awalnya Karin bekerja untuk Bu Marissa agar dapat mengetahui keberadaan Hendra. Namun, ketika akhirnya berhasil bertemu dengannya, Karin mengetahui bahwa pria itu selama bertahun-tahun dipaksa bergantung pada keluarganya akibat kondisi kesehatan yang memburuk.
“Pak Hendra memang pernah menyetujui rencana mengumumkan kematian palsunya,” jelas Karin. “Saat itu beliau ingin melindungi diri dari tuntutan atas sejumlah transaksi perusahaan. Tapi setelah kesehatannya menurun, semua dokumen dan rekeningnya dikendalikan Bu Marissa.”
Aku mengepalkan tangan.
“Kenapa kamu memasukkan dokumen ke tas Ibu saat acara makan malam?”
“Karena Pak Hendra meminta saya mengembalikannya. Saya tidak bisa bicara langsung dengan Bu Ratih tanpa dicurigai. Saya juga tidak menyangka Bu Marissa akan menuduh beliau mencuri.”
“Lalu bros berlian itu?”
Karin menunduk.
“Saya melihat Bu Marissa menyimpannya sendiri sebelum acara dimulai. Saya tidak tahu apa tujuannya sampai dia mulai menuduh Bu Ratih.”
Aku menatap Ibu.
Perempuan yang sepanjang hidupnya mengajariku menjaga harga diri telah dipermalukan hanya karena seseorang ingin menutupi rahasia.
“Di mana Hendra sekarang?” tanyaku.
Karin menjawab dengan suara bergetar.
“Beliau meminta dipindahkan ke rumah sakit. Kondisinya memburuk.”
Dengan bantuan Farhan, kami segera melaporkan informasi mengenai keberadaan Hendra dan dugaan tindak pidana yang berkaitan dengan dokumen perusahaan serta identitasnya.
Dua hari kemudian, pihak berwenang mengonfirmasi bahwa Hendra memang masih hidup. Penyelidikan resmi pun dimulai.
Aku akhirnya bertemu Hendra di sebuah rumah sakit di Jakarta.
Pria itu berbaring dengan selang oksigen di hidungnya.
Ketika mendengar suara tongkat Ibu menyentuh lantai, dia langsung membuka mata.
“Ratih?”
Ibu berhenti berjalan.
“Hendra?”
Air mata mengalir dari sudut mata pria itu.
“Maafkan saya.”
Ibu tetap berdiri tanpa bergerak.
“Untuk apa?”
Hendra mengangkat tangannya yang gemetar.
“Untuk kebakaran itu.”
Aku langsung mendekat.
“Apa maksud Bapak?”
Hendra menangis.
“Gudang itu seharusnya kosong malam itu. Saya tahu ada pekerjaan perbaikan instalasi listrik yang belum selesai, tetapi saya tetap mengizinkan gudang digunakan karena proyek harus segera dikirim.”
Aku menatapnya dengan tubuh gemetar.
“Dan ayah saya meninggal karena keputusan Bapak?”
Hendra menunduk.
“Ya. Saya tahu ada kelalaian. Tapi saya membiarkan laporan yang menyatakan kecelakaan itu tidak dapat dicegah tetap digunakan. Saya takut perusahaan bangkrut jika harus menanggung semuanya.”
Ibu menangis tanpa suara.
“Suami saya meninggal, Hendra. Saya kehilangan penglihatan. Dan kamu membiarkan kami hidup dalam kesulitan.”
“Saya tahu.”
“Kamu tidak tahu,” jawab Ibu. “Kamu tidak pernah tahu rasanya mendengar anakmu menangis kelaparan sementara kamu bahkan tidak bisa melihat wajahnya.”
Hendra menutup wajahnya.
Kemudian dia menunjuk sebuah map di samping tempat tidur.
“Saya sudah memberikan keterangan kepada penyidik tentang apa yang saya ketahui. Di situ ada salinan dokumen saham Ratih dan catatan transaksi lama. Saya tidak berharap dimaafkan. Saya hanya ingin berhenti berbohong.”
Beberapa minggu berikutnya, penyelidikan berkembang.
Dugaan pemalsuan dokumen kematian Hendra, transaksi perusahaan yang tidak sah, serta laporan kecelakaan gudang diperiksa kembali. Bu Marissa dan sejumlah pihak lain dimintai keterangan.
Sementara itu, Raka beberapa kali menghubungiku untuk meminta kesempatan memperbaiki hubungan kami.
Aku tidak pernah menjawab.
Bagiku, hubungan itu berakhir ketika dia lebih memilih membela tuduhan ibunya daripada melindungi martabat seorang perempuan yang tidak berdaya di hadapan enam puluh tamu.
Tiga bulan kemudian, Farhan memberitahukan bahwa hak kepemilikan saham Ibu telah mendapatkan dukungan kuat dari dokumen asli dan catatan perusahaan. Proses hukum mengenai penguasaan serta pengelolaan saham masih berlanjut.
Namun, bagi Ibu, kemenangan terbesarnya bukan soal uang.
Suatu sore, kami duduk bersama di taman rumah.
Ibu menggenggam tanganku.
“Alya, kamu tahu apa yang paling membuat Ibu bahagia?”
“Apa, Bu?”
“Kamu tidak jadi menikah dengan Raka.”
Aku tertawa kecil meskipun mataku berkaca-kaca.
“Ibu tidak sedih?”
“Sedih, Nak. Tapi Ibu jauh lebih sedih kalau kamu menghabiskan hidup dengan orang yang tidak menghargaimu.”
Aku memeluknya erat.
Saat itulah ponselku berbunyi.
Sebuah pesan dari Karin.
Bu Alya, saya baru menemukan surat terakhir Pak Hendra. Beliau meminta surat itu diserahkan kepada Ibu Ratih.
Aku membuka foto surat tersebut dan membacakannya perlahan.
Ratih, selama puluhan tahun saya menyimpan satu rahasia yang tidak pernah berani saya ungkapkan. Sebelum meninggal, suamimu menyerahkan sebuah surat kepadaku. Dia tahu gudang itu berbahaya dan sudah meminta pekerjaan dihentikan. Saya menyembunyikan surat tersebut karena isinya membuktikan bahwa saya mengabaikan peringatannya.
Tanganku mulai gemetar.
Aku melanjutkan membaca.
Di dalam surat itu, suamimu menulis bahwa jika sesuatu terjadi kepadanya, dia ingin kamu menggunakan tabungan dan kepemilikan sahammu untuk membesarkan Alya tanpa harus bergantung kepada siapa pun.
Aku berhenti sejenak.
Ibu menangis.
Namun, masih ada satu kalimat terakhir.
Saya tidak pernah membantu kalian karena takut kehilangan kekayaan. Justru suamimu yang berusaha menyelamatkan para pekerja, dan dia meninggal ketika kembali masuk ke gudang untuk menolong seorang penjaga malam.
Ibu menutup wajahnya.
Selama dua puluh enam tahun, dia mengira suaminya hanyalah korban kecelakaan.
Ternyata, pada malam terakhir hidupnya, ayahku telah memilih menyelamatkan orang lain.
Aku memeluk Ibu sambil menangis.
Kini aku mengerti mengapa ayahku dahulu selalu berkata bahwa nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh uang yang dimilikinya.
Dua minggu kemudian, aku mengunjungi makam Ayah bersama Ibu.
Aku meletakkan bunga putih di atas pusaranya.
“Ayah, sekarang Alya tahu semuanya.”
Angin sore berembus lembut.
Ibu menggenggam tanganku.
“Ayahmu pasti bangga kepadamu, Nak.”
Aku tersenyum sambil menghapus air mata.
“Alya cuma melakukan apa yang Ayah dan Ibu ajarkan.”
Aku memandang nama Ayah yang terukir di batu nisan.
Malam ketika calon ibu mertuaku menuduh ibuku mencuri sebuah bros berlian, aku mengira hidupku sedang hancur.
Namun, justru malam itulah kebohongan selama puluhan tahun mulai terbongkar.
Aku kehilangan seorang calon suami, tetapi mendapatkan kembali kebenaran tentang ayahku dan keberanian untuk menentukan masa depanku sendiri.
Dan sejak hari itu, aku tidak lagi mengukur kemewahan dari harga berlian, rumah besar, atau saham perusahaan.
Karena orang paling berharga dalam hidupku adalah seorang ibu tunanetra yang tidak pernah kehilangan arah dalam mengajarkanku mana yang benar.
Serta seorang ayah yang telah meninggal, tetapi meninggalkan keberanian yang tetap hidup di dalam diriku.
