AKU SEPAKAT MENGAMBIL ALIH HUTANG 750 JUTA RUPIAH ADIKKU. TAPI IBU LUPA MEMATIKAN TELEPON DAN TERTAWA MENGATAKAN RUMAH MEWAHKU HANYA HADIAH HIBURAN UNTUK WANITA LAJANG!

Maya tidak membuka gerbang malam itu.

Di balik monitor interkom, ia melihat ayah dan ibunya berdiri di bawah cahaya lampu jalan. Bambang beberapa kali menekan bel dengan kasar, sementara Ratna terus menelepon hingga layar ponsel Maya dipenuhi panggilan tak terjawab.

“Maya, jangan kekanak-kanakan!” suara Bambang terdengar dari interkom. “Buka pintunya. Masalah keluarga jangan dibesar-besarkan.”

Maya hampir tertawa.

Selama bertahun-tahun, kalimat “masalah keluarga” selalu berarti satu hal.

Masalah mereka.

Uang Maya.

“Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dibicarakan malam ini,” jawab Maya.

Ratna mendekati kamera.

“Kamu mau Dewa masuk penjara?”

“Kalau Dewa melakukan sesuatu yang membuatnya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, itu bukan tanggung jawabku.”

Wajah Ratna berubah.

“Kamu kakaknya!”

“Dan aku sudah menjadi kakaknya selama empat puluh satu tahun. Bukan banknya.”

Maya mematikan interkom.

Tangannya gemetar setelah itu.

Bukan karena takut, melainkan karena untuk pertama kalinya ia mengucapkan sesuatu yang selama bertahun-tahun hanya berani ia pikirkan.

Malam itu ia hampir tidak tidur.

Pukul enam pagi, pengacaranya, Adrian, mengirim pesan.

Ia sudah memeriksa dokumen yang Maya kirimkan semalam.

Ada sesuatu yang aneh.

Dewa ternyata tidak sekadar memiliki utang kepada kontraktor.

Tiga tahun sebelumnya, Maya pernah menandatangani surat izin penggunaan alamat rumahnya untuk keperluan korespondensi perusahaan Dewa. Saat itu Dewa mengatakan kantornya sedang direnovasi dan ia membutuhkan alamat tetap selama beberapa bulan.

Maya tidak pernah memikirkannya lagi.

Namun menurut Adrian, alamat rumah Maya masih tercatat dalam sejumlah dokumen perusahaan.

Lebih buruk lagi, terdapat salinan sertifikat rumah Maya dalam berkas pengajuan pinjaman perusahaan Dewa.

Maya langsung menelepon.

“Bagaimana dia bisa mendapatkan salinan sertifikat?”

“Itu yang perlu kita cari tahu,” jawab Adrian. “Tapi jangan tanda tangani apa pun dan jangan transfer uang satu rupiah pun.”

Maya menatap lemari kecil di ruang kerja.

Di dalamnya terdapat dokumen properti yang selama ini ia simpan.

Ia membukanya.

Sertifikat asli masih ada.

Namun sebuah map berisi fotokopi legalisir telah hilang.

Maya langsung teringat sesuatu.

Enam bulan lalu Ratna menginap selama hampir dua minggu di rumahnya setelah bertengkar dengan Bambang.

Saat itu Maya sedang sangat sibuk memimpin proyek transformasi digital sebuah perusahaan besar.

Ratna sering berada sendirian di rumah.

Dada Maya terasa sesak.

Belum sempat ia menyusun pikirannya, telepon dari Dewa masuk.

Kali ini Maya mengangkatnya.

“Mbak, aku cuma butuh waktu lima menit.”

“Bicara.”

Suara Dewa terdengar berbeda. Tidak ada lagi tawa santai seperti kemarin.

“Utangnya memang ada. Tapi aku tidak menipu Mbak.”

“Lalu kenapa salinan sertifikat rumahku ada di dokumen perusahaanmu?”

Hening.

Tiga detik.

Lima detik.

Sepuluh detik.

“Dewa?”

“Aku bisa jelaskan.”

“Datang ke kantor Adrian jam sebelas. Bawa semua dokumen perusahaanmu.”

“Mbak, jangan libatkan pengacara.”

“Jam sebelas.”

Maya memutus sambungan.

Dewa datang terlambat dua puluh menit.

Ia mengenakan kemeja kusut dan wajahnya tampak seperti orang yang tidak tidur semalaman.

Begitu duduk di hadapan Maya dan Adrian, ia langsung berkata, “Aku tidak pernah menjaminkan rumah Mbak.”

Adrian mendorong beberapa lembar dokumen ke arahnya.

“Tapi Anda menggunakan nilai aset rumah ini untuk memperkuat profil finansial perusahaan.”

Wajah Dewa pucat.

“Itu cuma dokumen pendukung.”

“Tanpa izin pemilik?”

Dewa menelan ludah.

Maya tidak berkata apa-apa.

Ia hanya menatap adiknya.

Dewa akhirnya menunduk.

“Aku mengambil fotokopinya.”

“Kapan?”

“Waktu Ibu menginap di rumah Mbak.”

Maya merasakan ujung jarinya dingin.

“Ibu tahu?”

Dewa tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Maya bangkit.

Namun Dewa tiba-tiba berkata, “Mbak, tunggu. Ada yang belum Mbak tahu.”

Maya berhenti.

“Utang tujuh ratus lima puluh juta itu bukan seluruh masalahnya.”

Dewa mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan percakapan dengan seorang kontraktor.

Nilai kewajiban bisnisnya ternyata hampir dua miliar rupiah.

Tujuh ratus lima puluh juta hanyalah pembayaran pertama yang harus dilakukan agar kasus tersebut tidak segera dibawa ke jalur hukum.

“Kenapa Ibu hanya bilang tujuh ratus lima puluh?”

“Karena kalau minta dua miliar, Mbak pasti curiga.”

Maya menatap adiknya seolah baru pertama kali mengenal lelaki itu.

“Jadi kalian merencanakannya?”

Dewa mengusap wajah.

“Ibu bilang minta sedikit dulu. Setelah Mbak transfer, bulan depan kita bilang ada utang lain.”

Maya terdiam.

Dewa kemudian mengatakan sesuatu yang lebih menyakitkan.

“Ini bukan pertama kalinya.”

Ia membuka riwayat transfer.

Selama tujuh tahun terakhir, berbagai “keadaan darurat keluarga” ternyata mengalir ke bisnisnya.

Biaya rumah sakit Bambang sebesar delapan puluh juta rupiah dua tahun lalu hanya membutuhkan sekitar tiga puluh juta.

Sisanya diberikan kepada Dewa.

Uang seratus dua puluh juta yang katanya untuk memperbaiki rumah orang tua mereka juga sebagian digunakan sebagai modal proyek.

Bahkan uang yang Maya kirim untuk biaya pengobatan Ratna pernah dipakai membayar cicilan mobil Dewa.

Maya tidak menangis.

Anehnya, ia justru merasa sangat tenang.

“Berapa total uangku yang masuk ke hidupmu selama tujuh tahun?”

Dewa menatap layar.

“Kurang lebih dua koma tiga miliar.”

Ruangan itu menjadi sangat sunyi.

Maya teringat berapa banyak malam yang ia habiskan di kantor.

Berapa banyak ulang tahun yang ia lewatkan.

Berapa kali ia makan sendirian di depan laptop.

Dua koma tiga miliar rupiah itu bukan sekadar angka.

Itu adalah waktu hidupnya.

Maya berdiri.

“Aku tidak akan membayar utangmu.”

Dewa langsung panik.

“Mbak, kontraktor bisa melaporkan aku.”

“Cari pengacara.”

“Dengan uang apa?”

“Jual mobilmu.”

Dewa terpaku.

“Jual apartemen investasimu. Tutup kantor yang terlalu besar. Jual barang yang tidak kamu perlukan. Negosiasikan utangmu dan mulai dari nol.”

Dewa mengepalkan tangan.

“Mudah buat Mbak ngomong begitu. Mbak punya semuanya.”

Maya menatapnya lurus.

“Aku punya semuanya karena selama dua puluh tahun aku membayar harga untuk semuanya.”

Maya meninggalkan ruangan.

Namun masalah belum selesai.

Dua hari kemudian, saat pulang dari kantor, Maya menemukan sebuah truk kecil berhenti di depan rumahnya.

Ratna dan Bambang berdiri di sana bersama dua orang pekerja.

Mereka membawa koper.

“Apa ini?” tanya Maya.

Ratna menjawab tanpa rasa bersalah, “Kami tinggal di sini sementara.”

Maya menatap koper-koper itu.

“Tidak.”

Bambang langsung marah.

“Rumah sebesar ini kamu tempati sendiri. Orang tuamu sedang punya masalah, tapi kamu tega menutup pintu?”

Maya hampir menjawab ketika salah satu pekerja membuka bak truk.

Di dalamnya ada kardus-kardus milik Dewa.

Maya akhirnya memahami.

Mereka bukan datang untuk berdamai.

Mereka datang untuk merebut kembali akses.

“Ibu ingin tinggal di sini atau ingin menjaga barang Dewa?”

Wajah Ratna berubah.

“Kamu sekarang curiga pada ibu sendiri?”

“Ya.”

Satu kata itu membuat Ratna terdiam.

Maya mengeluarkan ponselnya.

“Aku sudah menyewa gudang. Semua barang Dewa yang ada di garasiku sudah dipindahkan ke sana. Biaya bulan pertama sudah kubayar. Setelah itu tanggung jawab Dewa.”

Ratna membelalak.

“Kamu membuang barang adikmu?”

“Aku mengembalikan barangnya.”

Bambang maju satu langkah.

“Kamu berubah sejak punya uang.”

Maya menatap ayahnya.

“Tidak, Yah. Aku berubah sejak tahu bagaimana kalian melihatku.”

Ratna mulai menangis.

Kali ini tangisnya terdengar jauh lebih nyata daripada tangisan di telepon beberapa hari sebelumnya.

“Kami membesarkanmu.”

“Aku tahu.”

“Kami menyekolahkanmu.”

“Aku tahu.”

“Lalu begini balasanmu?”

Maya menghela napas.

“Berapa harga membesarkan seorang anak, Bu?”

Ratna terdiam.

“Seratus juta? Lima ratus juta? Dua miliar? Lima belas miliar? Sebutkan angkanya. Kalau hubungan kita memang transaksi, katakan berapa utangku sebagai anak.”

Ratna menatapnya dengan wajah terluka.

“Kok kamu bisa bicara seperti itu?”

“Karena selama ini setiap kali aku mengatakan tidak, Ibu mengingatkanku bahwa aku anak pertama. Bahwa keluarga membutuhkan aku. Bahwa Dewa adikku. Tapi anehnya, tidak pernah ada yang mengingatkan Dewa bahwa aku kakaknya dan dia tidak boleh memanfaatkanku.”

Tidak ada yang menjawab.

Maya meminta mereka pulang.

Selama dua minggu berikutnya, keluarganya tidak menghubunginya.

Rumah enam kamar itu mendadak sangat sunyi.

Awalnya Maya mengira kesunyian akan menyakitinya.

Ternyata tidak.

Untuk pertama kalinya, ia bisa pulang tanpa menemukan barang orang lain memenuhi ruangnya.

Ia memasak hanya untuk dirinya sendiri.

Duduk di sofa yang selama ini selalu dikuasai Bambang.

Membuka pintu kamar tamu yang penuh pakaian Ratna dan memasukkannya ke dalam kardus untuk dikirim ke rumah orang tuanya.

Di kamar terakhir, Maya menemukan sebuah kotak lama.

Di dalamnya ada buku tabungan pertamanya.

Saldo awalnya hanya tiga ratus lima puluh ribu rupiah.

Maya tersenyum.

Ia masih ingat dirinya pada usia dua puluh dua tahun, naik bus setiap pagi dengan sepatu yang solnya mulai lepas.

Perempuan itu tidak bekerja keras agar suatu hari dianggap sebagai ATM keluarga.

Sebulan kemudian, Adrian menelepon.

Dewa akhirnya menjual mobilnya, melepas apartemen investasinya, dan menutup kantor mewahnya. Ia berhasil membayar sebagian utang dan menyepakati restrukturisasi sisanya.

Namun ada satu kabar lain.

“Orang tua Anda menjual rumah mereka.”

Maya terkejut.

“Kenapa?”

“Untuk membantu Dewa.”

Maya menutup mata.

Sore itu Ratna datang seorang diri.

Tidak membawa koper.

Tidak menangis.

Ia berdiri di depan gerbang dan berkata melalui interkom, “Ibu cuma ingin bicara lima menit.”

Maya membukakan gerbang.

Mereka duduk berhadapan di ruang makan.

Ratna tampak lebih tua.

“Kami jual rumah,” katanya.

“Aku tahu.”

“Ibu pikir setelah semua yang terjadi, kamu akan menelepon.”

“Untuk menawarkan uang?”

Ratna terdiam.

Maya tersenyum pahit.

“Bahkan sekarang Ibu masih menunggu itu.”

Ratna menunduk.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam hidup Maya, ibunya berkata sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.

“Ibu iri padamu.”

Maya tertegun.

Ratna mengusap matanya.

“Sejak kecil kamu tidak pernah merepotkan. Nilaimu bagus. Kuliah dapat beasiswa. Cari kerja sendiri. Beli rumah sendiri. Kamu tidak pernah benar-benar membutuhkan Ibu.”

Suaranya pecah.

“Sedangkan Dewa selalu membutuhkan kami. Mungkin karena itu Ibu terus menolong dia. Rasanya seperti… kalau dia masih butuh Ibu, berarti Ibu masih berguna.”

Maya akhirnya memahami sesuatu.

Mereka ternyata sama.

Maya selama bertahun-tahun memberi uang agar merasa dibutuhkan.

Ratna selama bertahun-tahun menyelamatkan Dewa agar merasa menjadi ibu.

Dan Dewa belajar bahwa cinta berarti selalu ada orang yang membereskan kesalahannya.

“Kita semua salah memahami kasih sayang,” kata Maya pelan.

Ratna menangis.

Kali ini Maya tidak langsung memeluknya.

Ia membiarkan ibunya menangis.

Karena memaafkan bukan berarti menghapus batas.

Enam bulan berlalu.

Dewa pindah ke rumah kontrakan sederhana di Bekasi dan mulai bekerja sebagai manajer proyek di perusahaan konstruksi milik orang lain. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menerima gaji tetap dan membayar utangnya setiap bulan.

Bambang dan Ratna menyewa rumah kecil tidak jauh dari tempat Dewa tinggal.

Maya tidak membayar sewa mereka.

Ia hanya membantu biaya asuransi kesehatan orang tuanya secara langsung kepada penyedia layanan, bukan memberikan uang tunai.

Hubungan mereka perlahan membaik.

Tidak kembali seperti dulu.

Justru menjadi lebih jujur.

Suatu Minggu sore, Ratna dan Bambang datang ke rumah Maya untuk makan.

Dewa ikut bersama mereka.

Saat melihat garasi yang dulu dipenuhi barang-barangnya kini berubah menjadi studio kecil dengan rak buku, tanaman, dan meja panjang, Dewa tersenyum canggung.

“Bagus juga sekarang.”

“Memang.”

“Mbak…”

Maya menoleh.

Dewa mengeluarkan amplop.

Di dalamnya ada bukti transfer lima juta rupiah.

“Apa ini?”

“Cicilan pertama buat Mbak.”

Maya mengerutkan kening.

“Utangmu ke kontraktor belum lunas.”

“Aku tahu. Tapi aku juga punya utang ke Mbak.”

Maya hendak menolak.

Dewa menggeleng.

“Bukan soal uangnya. Aku perlu belajar mengembalikan sesuatu yang bukan hakku.”

Maya menerima amplop itu.

Mereka kemudian makan bersama.

Tidak ada meja penuh makanan mahal.

Tidak ada pembicaraan tentang investasi atau bantuan finansial.

Untuk pertama kalinya, mereka berbicara seperti empat orang dewasa yang masing-masing bertanggung jawab atas hidupnya.

Menjelang malam, setelah semuanya pulang, Maya berdiri sendirian di teras.

Rumah lima belas miliar itu masih memiliki enam kamar.

Masih terlalu besar untuk satu orang menurut ukuran banyak orang.

Maya berjalan melewati ruang makan, ruang keluarga, lalu naik ke lantai dua.

Di sana ia berhenti di depan kamar yang selama bertahun-tahun disebut Ratna sebagai “kamar Ibu”.

Maya telah mengubahnya menjadi ruang baca.

Di dinding tergantung sebuah bingkai kecil.

Bukan foto keluarga.

Melainkan fotokopi slip gaji pertama Maya dua puluh tahun lalu.

Di bawahnya tertulis satu kalimat sederhana yang ia tulis sendiri.

Aku tidak harus dibutuhkan untuk menjadi berharga.

Maya memandang kalimat itu lama.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Ratna.

Terima kasih untuk makan malamnya. Ibu senang bisa datang sebagai tamu, bukan sebagai orang yang merasa memiliki rumahmu.

Maya tersenyum.

Ia mengetik balasan singkat.

Datang lagi minggu depan, Bu.

Kemudian ia meletakkan ponsel dan membuka jendela.

Dari sana terlihat lampu-lampu kota memantul di permukaan air.

Dulu Maya membeli rumah besar itu karena diam-diam membayangkan suatu hari setiap kamar akan dipenuhi orang-orang yang mencintainya.

Ia baru menyadari sesuatu setelah berusia empat puluh satu tahun.

Rumah yang penuh belum tentu membuat seseorang tidak kesepian.

Dan rumah yang sunyi tidak berarti hidup seseorang kosong.

Rumah itu bukan hadiah hiburan karena ia gagal berkeluarga.

Rumah itu adalah bukti bahwa seorang perempuan pernah bekerja keras, jatuh berkali-kali, bangkit sendiri, dan membangun kehidupan yang ia inginkan.

Jika suatu hari ia memilih membaginya dengan seseorang, itu karena cinta.

Bukan rasa bersalah.

Dan untuk pertama kalinya, Maya merasa rumah itu benar-benar miliknya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang