ANAKKU TIBA-TIBA BERBISIK: “BU, AYAH PUNYA WANITA LAIN…

Ardi memanggil dari ruang tamu dengan suara setenang biasanya.

“Sayang? Kamu di rumah?”

Jantungku berdegup begitu keras hingga rasanya ia pasti bisa mendengarnya dari lantai bawah.

Aku segera mencabut flashdisk kecil yang kutemukan di laci meja kerjanya. Semua dokumen yang sempat kubuka sudah kusalin dengan cepat. Lalu aku menutup komputer persis seperti semula.

“Sebentar!” jawabku sambil berusaha terdengar santai.

Aku turun membawa setumpuk pakaian seolah-olah memang sedang membereskan koper.

Ardi menatapku beberapa detik.

“Bukannya kamu sudah berangkat?”

“Aku kurang enak badan. Perjalanan dinasnya kutunda besok.”

Tatapan Ardi berubah sesaat. Sangat singkat. Tetapi cukup untuk membuatku yakin ia panik.

“Oh… begitu.”

Ia langsung masuk ke ruang kerjanya.

Aku berpura-pura kembali ke kamar, tetapi diam-diam memperhatikan dari balik celah pintu.

Tak sampai dua menit kemudian terdengar suara laci dibuka dengan tergesa-gesa.

Beberapa saat setelah itu, Ardi keluar sambil menggenggam ponselnya.

“Aku keluar sebentar.”

“Ke mana?”

“Ketemu klien.”

Padahal hari itu hari Minggu.


Begitu mobilnya menghilang dari halaman, aku langsung menemui Pak Budi Santoso.

Di ruang kantornya, aku menyerahkan seluruh salinan dokumen.

Beliau membaca satu per satu tanpa berbicara.

Semakin lama wajahnya semakin serius.

“Astaga…”

“Ada apa, Pak?”

Beliau mengangkat sebuah berkas.

“Ini bukan sekadar perselingkuhan.”

“Lalu?”

“Suami Ibu sedang berusaha mengalihkan kepemilikan beberapa aset dengan menggunakan surat kuasa yang diduga dipalsukan.”

Aku membeku.

“Maksud Bapak… tanda tanganku?”

Pak Budi mengangguk pelan.

“Tanda tangan di sini memang mirip sekali. Tetapi saya yakin ini bukan tanda tangan asli Ibu.”

Tanganku langsung gemetar.

“Kalau saya jadi menandatangani perjalanan dinas itu…”

Beliau memotong.

“Justru itu yang saya curigai. Saat Ibu berada di luar kota, proses administrasi bisa berjalan lebih mudah. Ketika semuanya selesai, aset mungkin sudah berpindah tangan.”

Aku langsung teringat ucapan Rafi.

“Tinggal tanda tangani saja atas nama dia…”

Anak kecil itu ternyata tanpa sadar telah menyelamatkanku.


Pak Budi segera menyarankan tiga langkah.

Pertama, memblokir sementara seluruh proses pengalihan aset melalui notaris.

Kedua, meminta bank membekukan transaksi besar yang mencurigakan.

Ketiga, mengajukan permohonan pencatatan sengketa agar rumah tidak dapat dijual sebelum semuanya jelas.

Semua dilakukan hari itu juga.


Malamnya Ardi pulang dengan wajah jauh lebih santai.

Ia bahkan membawakan kue kesukaanku.

“Aku merasa akhir-akhir ini terlalu sibuk. Kita harus mulai memperbaiki hubungan.”

Aku hampir tertawa.

Baru beberapa jam lalu ia hampir mengambil seluruh hartaku.

Aku hanya tersenyum tipis.

“Iya.”

“Besok kamu tetap berangkat?”

“Ya.”

Padahal sebenarnya tidak.

Aku sengaja membuatnya percaya bahwa rumah akan kosong.


Keesokan harinya pukul sembilan pagi.

Aku meninggalkan rumah bersama koper.

Namun bukan menuju bandara.

Aku menuju apartemen milik sahabatku yang letaknya hanya lima belas menit dari rumah.

Dari sana, bersama Pak Budi dan dua penyidik swasta, kami memantau seluruh aktivitas.

Pukul sebelas siang.

Sebuah mobil putih berhenti di depan rumah.

Seorang wanita turun.

Usianya sekitar tiga puluh tahun.

Cantik.

Berpakaian sangat rapi.

Ardi menyambutnya dengan pelukan.

Dadaku tetap terasa sesak meski sebenarnya sudah siap melihat kenyataan itu.

Wanita itu pasti Nadia.

Tak lama kemudian datang seorang pria membawa map dokumen.

Seorang notaris.

Pak Budi langsung mengernyit.

“Cepat sekali mereka bergerak.”


Di dalam rumah, kamera yang sebelumnya kupasang secara diam-diam memperlihatkan semuanya.

Ardi mengeluarkan beberapa berkas.

Notaris mulai membuka map.

Nadia tersenyum puas.

“Akhirnya selesai juga.”

Ardi ikut tersenyum.

“Setelah rumah ini beres, tinggal rekening investasi. Semua akan pindah.”

Nadia tertawa kecil.

“Istrimu memang terlalu percaya sama kamu.”

Aku menggenggam tangan hingga kuku menancap ke kulit.

Namun Pak Budi justru berkata tenang.

“Tunggu.”

“Kenapa?”

“Biarkan mereka benar-benar mulai.”


Beberapa menit kemudian.

Terdengar bel pintu.

Ardi membukanya.

Yang berdiri di depan bukan kurir.

Melainkan dua polisi bersama petugas dari kantor pertanahan.

“Selamat siang.”

“Ada apa ini?”

“Kami menerima laporan dugaan pemalsuan dokumen kepemilikan serta percobaan pengalihan aset secara melawan hukum.”

Wajah Ardi langsung pucat.

Nadia berdiri membeku.

Notaris ikut terkejut.

“Maaf… saya tidak tahu kalau ada sengketa.”

Pak Budi masuk bersama aku.

Untuk pertama kalinya Ardi melihatku sejak pagi.

“Kamu… bukannya di bandara?”

Aku menatapnya lurus.

“Kalau aku benar-benar berangkat, mungkin sekarang rumah ini sudah bukan milikku lagi.”

Rafi yang berada di belakangku menggenggam tanganku erat.

Ia menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

“Ayah… kenapa bohong sama Ibu?”

Pertanyaan polos itu membuat suasana mendadak sunyi.


Penyelidikan berlangsung beberapa minggu.

Fakta demi fakta mulai terungkap.

Nadia ternyata bukan rekan bisnis.

Ia adalah kekasih Ardi selama hampir dua tahun.

Sebagian uang keluarga telah digunakan untuk membiayai apartemen mewah, mobil, dan berbagai investasi atas nama Nadia.

Yang lebih mengejutkan lagi, penyidik menemukan beberapa dokumen dengan tanda tangan palsu atas namaku.

Beruntung seluruh proses belum sempat disahkan karena lebih dulu diblokir.


Persidangan perceraian berlangsung cukup panjang.

Ardi beberapa kali mencoba berdamai.

“Aku khilaf.”

“Aku masih sayang kalian.”

“Aku cuma takut kehilangan semuanya.”

Aku hanya menjawab satu kalimat.

“Orang yang takut kehilangan keluarga tidak akan mencoba mengambil rumah tempat keluarganya tinggal.”

Hakim akhirnya memutuskan bahwa rumah tetap menjadi bagian harta bersama dan segala transaksi yang menggunakan dokumen palsu dinyatakan batal.

Ardi juga diwajibkan mengembalikan seluruh dana keluarga yang terbukti dialihkan secara tidak sah.


Tiga bulan kemudian.

Aku dan Rafi mulai menata hidup baru.

Rumah memang terasa lebih sepi.

Namun tidak lagi dipenuhi kebohongan.

Suatu malam, saat kami makan bersama, Rafi tiba-tiba bertanya.

“Bu… aku waktu itu salah ya sudah cerita?”

Aku langsung memeluknya.

“Justru karena keberanianmu berkata jujur, Ibu bisa menyelamatkan rumah kita.”

Rafi tersenyum kecil.

“Berarti anak kecil juga boleh menjaga ibunya?”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Tentu saja. Tapi mulai sekarang biar Ibu yang menjaga Rafi.”

Sejak hari itu aku belajar satu hal yang tak pernah kulupakan.

Kadang-kadang, peringatan paling penting bukan datang dari penyelidik, pengacara, atau teknologi yang canggih.

Melainkan dari bisikan jujur seorang anak yang hanya ingin melindungi ibunya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang