Wanita itu berdiri di depan pagar besi yang masih dihiasi rangkaian bunga ucapan selamat.
Matanya memerah.
Tubuhnya kurus.
Pakaian yang dikenakannya sudah lusuh, seolah benar-benar telah melalui hidup yang keras.
Namun bagi Sari…
Wajah itu bukan hanya wajah seorang ibu.
Melainkan wajah yang pernah menutup pintu rumah tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Selama dua puluh tahun.

Sunyi.
Tak ada surat.
Tak ada telepon.
Tak ada kabar.
Tak ada ucapan ulang tahun.
Tak ada pertanyaan sederhana:
“Kalian sudah makan?”
…
Para tamu mulai berbisik.
“Itu ibunya?”
“Yang dulu meninggalkan anak-anaknya?”
“Astaga… baru muncul sekarang?”
Wanita itu sengaja menangis semakin keras.
“Aku memang salah…”
“Aku memang ibu yang buruk…”
“Tapi darah kalian mengalir dari tubuhku…”
“Aku mempertaruhkan nyawaku saat melahirkan kalian.”
“Kalau bukan karena aku… kalian tidak akan lahir.”
Ia mengeluarkan beberapa lembar hasil pemeriksaan rumah sakit.
“Dokter bilang aku harus operasi.”
“Biayanya hampir dua miliar.”
Ia memandang dua putranya yang kini mengenakan jas dokter.
“Kalian dokter.”
“Kalian kaya.”
“Kalau kalian tidak menolong ibu sendiri, siapa lagi?”
Tangisnya semakin menjadi.
Beberapa tamu yang tidak mengetahui cerita sebenarnya mulai merasa iba.
“Iya juga…”
“Bagaimanapun itu ibu kandung.”
“Jangan sampai durhaka.”
Kalimat itu menusuk dada Sari.
Selalu begitu.
Orang hanya melihat perempuan yang menangis hari ini.
Tak seorang pun melihat gadis delapan belas tahun yang pernah menangis sendirian dua puluh tahun lalu.
…
Adik bungsu, Dimas, mengepalkan tangan.
“Kak…”
Namun Sari menahan lengannya.
“Jangan.”
Matanya tetap tenang.
Sementara adik tengahnya, Rangga, justru mengeluarkan ponsel.
Ia mengetik sesuatu.
Tidak lama kemudian…
Ia berkata pelan.
“Bu.”
“Kami akan menjawab permintaan Ibu.”
Wanita itu langsung mengangkat kepala.
Matanya berbinar.
Dalam hati ia berpikir:
Akhirnya…
Usahaku berhasil…
Namun Rangga hanya berkata,
“Tunggu sebentar.”
Lima belas menit kemudian…
Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.
Keluar tiga orang.
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun.
Seorang wanita paruh baya.
Dan seorang pengacara.
Semua tamu bingung.
Wanita tua itu pun kebingungan.
“Siapa mereka?”
Pria tua itu menatap wajah wanita tersebut beberapa detik.
Lalu berkata pelan.
“Masih ingat saya?”
Wanita itu mengernyit.
Kemudian wajahnya berubah pucat.
“Pak… Pak Yusuf?”
Pak Yusuf mengangguk.
“Akhirnya kita bertemu lagi.”
Sari memandang para tamu.
“Lima tahun lalu kami mulai mencari keberadaan ibu.”
Semua orang terkejut.
“Iya.”
“Kami mencarinya.”
“Bukan karena ingin balas dendam.”
“Tetapi karena kami ingin tahu…”
“…mengapa seorang ibu bisa meninggalkan tiga anaknya.”
Pak Yusuf menarik napas panjang.
“Saya pemilik pabrik tempat ayah kalian dulu bekerja.”
Semua tamu langsung diam.
Pak Yusuf membuka map.
“Dua puluh tahun lalu…”
“…setelah ayah kalian meninggal…”
“…perusahaan memberikan santunan kecelakaan kerja.”
Wanita itu mulai gelisah.
Pak Yusuf melanjutkan.
“Jumlahnya…”
“…dua miliar rupiah.”
Suasana seketika membeku.
Semua mata langsung tertuju kepada wanita itu.
Pak Yusuf mengeluarkan salinan dokumen lama.
“Ayah kalian meninggal sebagai karyawan teladan.”
“Perusahaan membayar penuh santunan.”
“Uang itu langsung diserahkan kepada istrinya.”
Beliau menunjuk wanita di depan mereka.
“Yaitu ibu kalian.”
Semua tamu serentak menarik napas.
“Apa?”
“Sudah pernah menerima dua miliar?”
“Tapi katanya hidup susah…”
Wanita itu mulai mundur selangkah.
“Waktu itu…”
“Aku…”
Pak Yusuf belum selesai.
“Selain uang dua miliar…”
“…rumah dinas juga diberikan selama satu tahun.”
“…serta beasiswa untuk ketiga anak.”
“Tetapi…”
“…ibu kalian menolak seluruh fasilitas itu.”
Semua orang membisu.
Sari memejamkan mata.
Ia memang baru mengetahui semuanya lima tahun lalu.
Saat itu…
Ia menangis semalaman.
Bukan karena uang.
Tetapi karena baru sadar…
Mereka sebenarnya tidak perlu hidup seberat itu.
Tidak perlu putus kuliah.
Tidak perlu kelaparan.
Tidak perlu tidur bertiga beralaskan tikar robek.
Tidak perlu mengumpulkan nasi sisa dari warung.
Semua penderitaan itu…
Bukan karena takdir.
Melainkan karena pilihan seseorang.
…
Pak Yusuf kembali membuka dokumen.
“Menurut catatan bank…”
“…seluruh uang itu habis dalam waktu kurang dari tiga tahun.”
Wanita itu langsung berteriak.
“Itu urusanku!”
“Itu uang suamiku!”
Pengacara yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Benar.”
“Itu memang hak Ibu.”
“Tidak ada yang menggugat penggunaan uang tersebut.”
“Lalu mengapa hari ini Ibu datang meminta dua miliar lagi sebagai balas jasa melahirkan?”
Wanita itu tak mampu menjawab.
…
Saat itulah…
Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun maju dari kerumunan.
Ia mengenakan seragam sederhana.
Sari langsung mengenalinya.
“Bu Rina…”
Itu adalah pemilik warung makan tempat Sari bekerja sejak usia delapan belas tahun.
Bu Rina berkata sambil menangis,
“Dulu Sari pernah pingsan karena tiga hari hanya minum air putih.”
“Tapi setiap kali kuberi makan…”
“…dia selalu membungkus separuhnya.”
“Aku kira dia pelit.”
“Ternyata…”
“…dia membawa pulang untuk dua adiknya.”
Tangis tamu mulai pecah.
Lalu muncul pria lain.
Pak Budi.
Mandor kebersihan.
“Saya masih ingat.”
“Sari membersihkan kantor pukul dua dini hari.”
“Pukul lima pagi dia lanjut bekerja mencuci piring.”
“Pukul tujuh mengantar adiknya sekolah.”
“Tidak pernah sekali pun dia mengeluh.”
Kemudian seorang satpam tua maju.
“Saya pernah melihat dia duduk menangis di halte.”
“Sepatunya robek.”
“Tapi uang yang ia pegang dipakai membeli buku pelajaran adiknya.”
Satu demi satu orang bermunculan.
Ada bekas tetangga.
Ada guru.
Ada penjual sayur.
Semuanya memiliki cerita yang sama.
Tentang seorang gadis yang mengorbankan hidupnya.
Bukan demi dirinya.
Melainkan demi dua anak yang bahkan bukan tanggung jawabnya.
…
Kini semua tamu memandang wanita tua itu.
Tak ada lagi rasa iba.
Yang tersisa hanya keheningan.
Wanita itu gemetar.
“Aku…”
“Aku juga menderita…”
Sari akhirnya berbicara.
Suaranya lembut.
Tidak tinggi.
Tidak marah.
“Ibu.”
“Aku memaafkan Ibu.”
Semua orang menoleh.
“Tapi memaafkan…”
“…tidak berarti menghapus kenyataan.”
“Ibu tidak pernah hadir ketika Dimas demam empat puluh derajat.”
“Ibu tidak ada saat Rangga hampir putus sekolah.”
“Ibu tidak ada ketika aku menjahit bajuku sendiri karena tak mampu membeli yang baru.”
“Ibu juga tidak ada…”
“…ketika aku menangis diam-diam karena mengubur mimpiku menjadi dokter.”
Air mata mulai mengalir di pipi Sari.
“Aku kehilangan masa mudaku.”
“Tapi aku tidak pernah menyesal.”
Ia menoleh kepada kedua adiknya.
“Karena hari ini…”
“…aku melihat dua dokter yang selama ini menjadi alasan aku bertahan hidup.”
Dimas dan Rangga tak mampu lagi menahan air mata.
Mereka berlutut di hadapan kakaknya.
Lalu mencium kedua tangan yang mulai dipenuhi keriput.
Di depan seluruh tamu.
Dimas berkata dengan suara bergetar,
“Orang yang melahirkan kami memang ibu.”
“Tetapi…”
“…orang yang membesarkan kami…”
“…orang yang memberi kami makan…”
“…orang yang menjaga kami tetap hidup…”
“…orang yang menjadi ayah sekaligus ibu…”
“…adalah Kak Sari.”
Rangga mengeluarkan sebuah map merah.
“Kak…”
“Sebenarnya hari ini belum selesai.”
Sari tampak bingung.
Rangga menyerahkan map itu.
Saat dibuka…
Tangannya langsung gemetar.
Di dalamnya terdapat sertifikat sebuah gedung tiga lantai.
Di bagian depan tertulis:
“KLINIK KELUARGA HARAPAN SARI.”
Di bawahnya terdapat akta pendirian yayasan beasiswa.
Namanya membuat seluruh tamu terdiam.
YAYASAN MIMPI SARI.
Dimas tersenyum sambil menangis.
“Kak…”
“Selama ini Kakak selalu berkata…”
“…tidak apa-apa mimpimu menjadi dokter tidak tercapai.”
“Tapi bagi kami…”
“…Kakak tetap penyembuh.”
“Kakak menyembuhkan hidup kami.”
“Mulai hari ini…”
“…klinik ini memakai nama Kakak.”
“Dan setiap tahun…”
“…seratus anak yatim akan mendapatkan beasiswa penuh.”
“Supaya…”
“…tidak ada lagi seorang kakak yang harus mengorbankan masa depannya seperti Kak Sari.”
Seluruh halaman rumah bergemuruh oleh tepuk tangan.
Banyak tamu yang menangis tanpa malu.
Sementara wanita yang datang menagih dua miliar itu…
Hanya mampu terduduk lemas di atas tanah.
Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun…
Ia benar-benar memahami satu hal yang terlambat disadarinya.
Seorang ibu tidak dihormati karena telah melahirkan.
Seorang ibu dihormati karena memilih tetap tinggal, ketika hidup menjadi paling sulit.
