SEORANG ISTRI MENEMUKAN SUAMINYA SERING DIAM-DIAM PERGI KE BELAKANG RUMAH TENGAH MALAM. SUATU MALAM IA

Pak Bima sedang memeluk erat… seorang perempuan tua yang pakaiannya compang-camping.

Perempuan itu kurus sekali. Rambutnya memutih, wajahnya dipenuhi lumpur, dan tubuhnya menggigil menahan dingin malam.

Begitu Bu Hani melihat pemandangan itu, kepalanya langsung dipenuhi berbagai prasangka.

“Pak Bima! Apa yang sedang Bapak lakukan?” teriaknya sambil menangis.

Pak Bima tersentak. Wajahnya langsung pucat.

“Bu… dengarkan dulu…”

“Apa lagi yang harus dijelaskan? Tengah malam… di balik semak… memeluk perempuan lain!”

Tangisan Bu Hani membelah kesunyian desa.

Beberapa tetangga yang rumahnya berdekatan segera keluar membawa senter.

“Ada apa? Ada maling?”

Suara orang-orang semakin ramai. Dalam hitungan menit, belasan warga sudah memenuhi belakang rumah.

Pak RT yang datang paling depan mengangkat lampu petromaks.

Saat cahaya menerangi wajah perempuan tua itu, semua orang saling berpandangan.

“Tunggu…”

“Sepertinya aku pernah melihat beliau…”

Namun tak seorang pun bisa langsung mengenalinya.

Pak Bima menunduk dalam.

“Aku memang sengaja merahasiakan semuanya.”

Bu Hani masih menangis.

“Rahasia apa? Sampai harus sembunyi-sembunyi begini?”

Pak Bima menarik napas panjang.

“Tiga bulan lalu, saat aku pulang dari sawah, aku menemukan beliau pingsan di pinggir hutan.”

“Beliau tidak ingat siapa dirinya.”

“Beliau hanya bisa menyebut satu kata berulang-ulang…”

“Ibu…”

Semua orang mulai diam.

“Aku membawa beliau ke puskesmas.”

“Dokter bilang beliau mengalami benturan di kepala. Ingatannya hilang.”

“Lalu kenapa tidak dibawa pulang?” tanya Pak RT.

Pak Bima menatap istrinya.

“Karena aku takut.”

“Takut apa?”

“Aku takut desa salah paham.”

“Kalau tiba-tiba ada perempuan asing tinggal di rumahku, aku tahu gosip akan menyebar.”

“Jadi aku membuat gubuk kecil di balik semak pisang.”

“Aku mengantar makanan setiap malam supaya tidak ada yang melihat.”

Bu Hani terdiam.

Ia memandang perempuan tua itu.

Di sudut gubuk sederhana memang ada tikar, selimut tua, obat-obatan, termos air hangat, dan beberapa bungkus makanan.

Semuanya tampak rapi.

Bukan tempat persembunyian seorang selingkuhan.

Melainkan tempat berlindung seseorang yang terlantar.

Bu Hani mulai merasa bersalah.

Namun sebelum sempat meminta maaf, salah seorang warga tiba-tiba berteriak.

“Tunggu!”

Ia mendekati perempuan tua itu.

Matanya membelalak.

“Kalau tidak salah… ini Bu Sulastri!”

Semua orang menoleh.

“Bu Sulastri?”

“Yang dulu tinggal di desa sebelah?”

“Itu yang anaknya merantau ke Jakarta?”

Pak Bima mengangguk pelan.

“Itulah yang berhasil kuingat dari ucapan beliau selama ini.”

Keesokan paginya kabar itu langsung menyebar ke seluruh desa.

Pak RT menghubungi aparat desa sebelah.

Foto perempuan tua itu dikirim ke berbagai grup warga.

Belum sampai siang…

Sebuah mobil berhenti mendadak di depan rumah Pak Bima.

Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun turun sambil berlari.

Begitu melihat perempuan tua itu, ia langsung berlutut.

“Ibu…”

Tangisnya pecah.

Perempuan tua itu memandang lama.

Tangannya perlahan menyentuh wajah pria tersebut.

Air matanya ikut mengalir.

“R… Rendi…”

Nama itu keluar pelan dari bibirnya.

Semua orang ikut menangis.

Ternyata benar.

Perempuan itu adalah Bu Sulastri yang hilang hampir empat bulan lalu.

Selama ini keluarganya mencari ke berbagai kota.

Mereka bahkan mengira Bu Sulastri sudah meninggal karena hanyut saat banjir besar.

Rendi memeluk ibunya erat.

“Lihat, Bu…”

“Aku datang.”

“Aku tidak berhenti mencarimu.”

Tangisan haru memenuhi halaman rumah.

Warga desa yang sejak pagi berdatangan ikut menyaksikan pertemuan itu.

Namun rasa haru itu berubah menjadi keheningan ketika Rendi tiba-tiba berdiri menghadap Pak Bima.

Ia lalu…

…bersujud.

Semua orang kaget.

“Pak…”

“Saya tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan Bapak.”

“Bapak menjaga ibu saya selama berbulan-bulan.”

“Bapak memberi makan.”

“Memandikan.”

“Mengobati.”

“Bahkan membuat tempat tinggal.”

“Sementara saya… sebagai anak kandung… gagal menemukannya.”

Pak Bima buru-buru mengangkat tubuh Rendi.

“Jangan begitu.”

“Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan manusia.”

Rendi menggeleng.

“Tidak semua orang mau melakukan itu.”

“Saya sudah menawarkan imbalan kepada siapa pun yang menemukan ibu saya.”

“Ratusan juta rupiah.”

“Tidak ada satu pun yang berhasil.”

“Tapi Bapak…”

“…malah merahasiakan semuanya.”

Pak Bima tersenyum tipis.

“Kalau sejak awal aku tahu beliau punya keluarga kaya, mungkin orang akan mengira aku menolong karena uang.”

“Aku tidak ingin niat baik berubah menjadi bahan fitnah.”

Ucapan itu membuat seluruh warga menundukkan kepala.

Beberapa orang mulai teringat bagaimana semalam mereka ikut menuduh dan memandang rendah Pak Bima.

Bu Hani yang sejak tadi hanya diam akhirnya melangkah mendekati suaminya.

Dengan mata sembab ia menggenggam tangan Pak Bima.

“Maafkan aku.”

“Aku bahkan tidak memberimu kesempatan menjelaskan.”

Pak Bima hanya mengusap kepala istrinya.

“Kau tidak salah.”

“Aku juga salah karena memilih memikul semuanya sendirian.”

Pak RT kemudian berdiri di depan warga.

“Hari ini kita semua belajar.”

“Jangan pernah menjatuhkan vonis hanya karena melihat sepotong kejadian.”

“Apa yang terlihat memalukan semalam…”

“…ternyata adalah perbuatan paling mulia yang pernah dilakukan seseorang.”

Sejak hari itu, nama Pak Bima menjadi buah bibir di seluruh kecamatan.

Bukan karena skandal seperti yang sempat disangka.

Melainkan karena ketulusan yang nyaris dikubur oleh prasangka.

Beberapa minggu kemudian, pemerintah kabupaten memberikan penghargaan kepadanya sebagai warga teladan atas aksi kemanusiaannya.

Namun ketika wartawan bertanya mengapa ia mau merawat orang asing tanpa pamrih, Pak Bima hanya tersenyum sederhana.

“Dulu ibu saya pernah berkata…”

“Kalau suatu hari kau melihat seseorang terlantar, jangan tanya siapa dia.”

“Tanya saja…”

“‘Kalau itu ibuku sendiri, apa yang akan kulakukan?'”

Kalimat sederhana itu membuat seluruh ruangan hening.

Dan sejak saat itu, setiap kali warga desa melewati rumpun pohon pisang di belakang rumah Pak Bima, mereka tidak lagi mengingat malam penuh prasangka itu.

Mereka mengingat bahwa di tempat yang sama, seorang lelaki sederhana telah membuktikan bahwa kebaikan sejati sering kali dilakukan dalam diam—tanpa tepuk tangan, tanpa pujian, dan bahkan dengan risiko difitnah oleh orang-orang yang paling ia cintai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang