KOK SEPI BANGET?

“Kalau menikah hanya supaya orang lain berhenti bertanya, kalian akan kelelahan sendiri.”

Bu Sulastri memungut wortel yang jatuh, membilasnya, lalu meletakkannya di talenan. Alya menunduk, menunggu teguran berikutnya.

“Maaf, Bu,” bisiknya.

“Yang membuat Ibu sedih itu kalian merasa harus berbohong.” Bu Sulastri menarik kursi. “Soal kapan kalian siap menjadi lebih dekat, bicarakan berdua. Ibu tidak perlu diberi laporan.”

Satya mengembuskan napas lega.

“Jadi Ibu tidak marah?”

“Ibu marah karena air hangat habis setiap pagi gara-gara kalian pura-pura keramas.”

Alya tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak telepon Rima semalam, bahunya terasa lebih ringan.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan sampai ponselnya berdering.

Nama Dewi, adiknya, muncul di layar.

“Mbak, Papa jatuh di kamar mandi. Sekarang di IGD.”

Gagang pisau terlepas dari tangan Alya.

Satya segera mengambil kunci mobil. Bu Sulastri memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas tanpa banyak bertanya.

Mereka tiba di rumah sakit dua jam kemudian. Dewi duduk sendirian di depan ruang tindakan, masih memakai sandal rumah.

“Rima mana?” tanya Alya.

“Katanya sedang mencari Mas Dharma.”

Alya tidak bertanya lagi. Ia menggenggam tangan adiknya sampai dokter keluar.

Papa mengalami perdarahan di otak. Menjelang sore, lelaki yang selalu tampak kuat itu pergi tanpa sempat membuka mata.

Alya berdiri di samping ranjang, membelai jari-jari dinginnya.

Tiga hari sebelumnya, Papa masih mengirim pesan menanyakan apakah Satya memperlakukannya dengan baik. Alya hanya membalas singkat karena sedang menyelesaikan naskah.

Kini, pesan itu dibacanya berulang kali.

Pemakaman berlangsung keesokan paginya. Beberapa tetangga membantu mengangkat keranda, tetapi tidak banyak yang berbicara kepada keluarga.

Alya mengira mereka hanya ikut berduka.

Keanehan itu baru terasa malam harinya.

Tikar sudah digelar. Buku Yasin ditumpuk di dekat pintu. Dari dapur, aroma nasi hangat memenuhi rumah. Satya berkali-kali menengok ke halaman.

Pukul tujuh lewat, hanya Pak Hasyim, guru mengaji Papa, yang datang.

“Biasanya sebentar lagi ramai,” kata Dewi, mencoba tersenyum.

Setengah jam kemudian, halaman tetap kosong.

Rima duduk dekat lemari sambil memainkan ponsel.

“Mungkin orang-orang sudah tahu,” gumamnya.

Alya menoleh.

“Tahu apa?”

“Entahlah. Orang kampung kan cepat dapat kabar.”

Satya menyentuh lengan Alya sebelum ia membalas. Tahlilan tetap dimulai. Suara mereka terdengar kecil di ruang tamu yang luas.

Ketika doa selesai, Alya memandangi puluhan kotak makanan yang tidak tersentuh. Dadanya terasa lebih sakit daripada saat mendengar hinaan Rima.

Papa selalu datang membantu tetangga. Mengapa pada malam untuk mendoakannya, rumah ini justru ditinggalkan?

“Mas, kita antar makanannya,” katanya.

Satya mengangguk.

Rumah pertama yang mereka datangi milik Bu Marni. Perempuan itu membuka pintu dengan wajah terkejut.

“Lho, jadi tahlilannya tetap diadakan?”

Alya mengerutkan kening.

“Iya, Bu. Sejak tadi kami menunggu.”

Bu Marni buru-buru mengambil ponsel.

“Tadi sore ada pesan. Katanya keluarga hanya mengadakan doa tertutup karena sedang ada masalah.”

Ia menunjukkan percakapan di grup warga.

Pesan itu dikirim Rima.

Di bawah pemberitahuan tersebut, ada tambahan yang membuat Alya sulit bernapas.

Mohon jangan menyinggung soal Alya dan mantan pacarnya. Papa meninggal setelah mengetahui mereka masih berhubungan. Kami sedang menjaga kondisi keluarga.

Satya membaca sampai selesai, lalu meminta izin memotret layar.

“Itu tidak benar, Bu,” katanya tenang. “Kami baru mengetahuinya sekarang.”

Bu Marni menutupi mulut.

“Ya Allah. Saya kira keluarga memang meminta tidak didatangi.”

Di rumah berikutnya, jawabannya serupa. Beberapa orang bahkan sudah bersiap berangkat sebelum menerima pesan pembatalan.

Alya menggenggam kotak makanan terakhir terlalu kuat hingga tutupnya penyok.

“Dia membuat orang mengira aku penyebab Papa meninggal.”

Satya mengambil kotak itu dari tangannya.

“Kita pulang. Kita luruskan dengan bukti.”

Di rumah, Rima sedang berdiri di depan laci meja kerja Papa.

“Kenapa kamu mengirim pesan itu?” tanya Alya.

Rima tersentak, kemudian menutup laci.

“Aku cuma tidak mau keluarga dipermalukan.”

“Dengan mengarang cerita?”

“Aku punya foto kamu bertemu Dharma.”

Rima mengangkat ponsel. Dalam foto itu, Alya duduk berhadapan dengan mantan kekasihnya di sebuah kafe.

Satya mengenali tempatnya.

“Foto hari Selasa?”

Rima mengangguk penuh kemenangan.

“Akhirnya tahu juga, kan?”

“Saya yang mengantar Alya.”

Senyum Rima menghilang.

Satya membuka ponselnya sendiri. Ada foto ia dan Alya di meja yang sama, bersama seorang perempuan berkacamata.

“Itu editor Alya. Dharma datang mengembalikan laptop yang masih dibawanya. Kami bertiga menunggu dia.”

“Bisa saja kalian sudah mengatur cerita.”

“Cukup, Rim.”

Suara Dharma membuat semua orang menoleh. Ia berdiri di pintu bersama Dewi.

“Aku sudah bilang pertemuan itu untuk mengembalikan barang,” katanya. “Kenapa kamu masih menyebarkan tuduhan?”

Rima memucat.

Dewi meletakkan map di meja.

“Aku tadi mencari berkas rumah sakit di kamar Papa. Ini ada di atas meja. Amplopnya ditulis untuk kita bertiga.”

Di dalamnya terdapat daftar utang.

Nama Rima tercantum paling banyak.

Ada pula salinan pesan Papa yang meminta pengembalian uang untuk biaya perawatan jantungnya. Rima menjawab akan membayar setelah Dharma menerima bonus.

Alya duduk perlahan. Selama ini Papa selalu mengaku tabungannya cukup.

“Kamu membuka laci karena mencari ini?” tanyanya.

Rima mulai menangis.

“Aku takut kalian menyuruhku membayar sekarang.”

“Jadi kamu membuat tetangga menjauh supaya tidak ada yang mendengar pembicaraan soal uang?”

Rima tidak menjawab.

Dharma mundur selangkah, menatap istrinya dengan kecewa.

Alya menutup map. Tangannya gemetar, tetapi suaranya tegas.

“Malam ini kamu kirim koreksi ke grup yang sama. Setelah itu, kita bicarakan utangmu dengan kepala dingin. Jangan pakai nama Papa untuk menutupi kesalahanmu lagi.”

Menjelang pukul sembilan, bel rumah berbunyi.

Bu Marni berdiri membawa teko teh. Di belakangnya, beberapa tetangga datang dengan sarung dan buku Yasin.

“Maaf kami terlambat,” katanya.

Alya menangis ketika mempersilakan mereka masuk.

Satya kembali menggelar tikar. Bu Sulastri menghangatkan makanan, sementara Dewi mengambil gelas.

Di tengah kesibukan itu, Alya menggenggam tangan suaminya.

“Terima kasih sudah percaya kepadaku.”

Satya menatapnya lembut.

“Kamu memberiku alasan untuk percaya setiap hari.”

Alya menyandarkan kepala sebentar di bahunya.

Malam itu, rumah Papa akhirnya dipenuhi suara doa. Dan untuk pertama kalinya, ketika Alya membayangkan pulang ke Banyuwangi, ia tidak lagi membayangkan tempat asing.

Ia membayangkan Satya membuka pintu dan menunggunya masuk.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang