Profesor Haryono menatap sekeliling ruangan yang hening dengan dahi berkerut, heran melihat atmosfer kaku yang menyelimuti kami. Keheningan itu begitu pekat, seolah suara jatuhnya sebatang jarum pun akan terdengar membahana. Tatapan Dion yang tadi penuh dengan nada meremehkan kini tertuju pada lengannya sendiri, sementara Laras menggigit bibir bawahnya, wajah cantiknya pucat pasi kehilangan warna. Arga berdiri terpaku, dadanya naik turun dengan napas yang terasa berat, memandangku dengan tatapan yang bercampur antara syok, penyesalan, dan ketidakberdayaan.

“Ada apa dengan kalian semua?” tanya Profesor Haryono lagi, memecah keheningan yang mencecek. “Kondisi Pak Darmawan kritis. Kita tidak punya banyak waktu. Dokter Nadira, kita harus segera kembali ke rumah sakit utama sekarang.”
Aku membetulkan letak posisi berdiri Kirana yang masih memeluk pinggangku rapat-rapat. Bima menepuk bahuku perlahan, memberikan dorongan moral yang tak ternilai harganya. “Pergilah, Nad. Bima dan Kirana tunggu di hotel. Jangan khawatirkan kami,” bisiknya lembut dengan nada suara yang menenangkan.
Aku mengangguk, lalu menatap Profesor Haryono tegak. “Baik, Prof. Saya siap.”
Sebelum melangkah pergi, aku memutar badan dan menatap Arga serta kerabat keluarganya yang masih membisu. Tidak ada rasa dendam di mataku, tidak ada keinginan untuk membalas ejekan mereka. Yang tersisa hanyalah profesionalisme seorang dokter yang memegang teguh sumpah medisnya. “Saya permisi dulu. Sebagai tim medis utama, tugas saya adalah menyelamatkan nyawa pasien, siapapun dia.”
Langkah kaki kami bergema cepat di koridor rumah sakit saat kami tiba beberapa menit kemudian. Hujan deras yang membasahi Jakarta malam itu seolah mengiringi ketegangan di ruang ICU. Berkas-berkas rekam medis kakek Arga dibeberkan di atas meja diskusi. Sebagai kepala tim spesialis bedah toraks dan kardiovaskular yang dipanggil khusus dari Singapura, aku memimpin evaluasi cepat bersama tim dokter senior.
“Tekanan darahnya anjlok, ada indikasi kebocoran katup yang memburuk secara signifikan,” jelas salah satu dokter jaga dengan nada cemas.
Aku menatap layar monitor yang menampilkan grafik detak jantung Pak Darmawan yang melambat. Dua belas tahun lalu, kakek tua inilah satu-satunya anggota keluarga Mahendra yang pernah bersikap baik padaku, yang pernah mengelus kepalaku dan memujiku sebagai gadis yang tekun. Wajah renjanamu tak boleh terhapus begitu saja oleh takdir yang pahit.
“Siapkan ruang operasi nomor tiga sekarang juga. Kita tidak bisa menunggu sampai besok pagi. Kita lakukan tindakan darurat malam ini,” perintahku tegas tanpa ragu.
Di luar ruang operasi, seluruh keluarga besar Mahendra telah berkumpul. Ketika aku berjalan keluar mengenakan pakaian bedah hijau dan masker yang menggantung di leher untuk memberikan penjelasan pra-operasi, suasana mendadak senyap. Paman Arga, yang tadinya memandang rendah diriku, kini melangkah maju dengan tangan gemetar.
“Dokter… tolong selamatkan ayah saya,” bisiknya lirih, suaranya parau oleh ketakutan yang nyata.
“Kami akan melakukan yang terbaik,” jawabku singkat.
Mataku sempat beradu dengan mata Arga. Dia berdiri menyender di dinding koridor, tampak begitu rapuh dalam balutan seragam militernya yang gagah. Bayangan pria percaya diri yang dulu mencampakkanku di depan umum seolah menguap tanpa bekas. Yang ada di hadapanku hanyalah seorang cucu yang ketakutan kehilangan sosok panutannya.
Prosedur operasi berlangsung selama lima jam yang sangat menegangkan. Di dalam ruang operasi yang dingin, jemariku bergerak presisi, memotong, menjahit, dan memperbaiki bagian jantung yang rusak dengan ketelitian tanpa celah. Setiap detik terasa begitu berharga, garis antara hidup dan mati teramat tipis. Profesor Haryono yang mendampingiku hanya bisa mengangguk-angguk kagum melihat ketenangan dan keahlian yang kumiliki. Pengalaman bertahun-tahun menangani kasus-kasus rumit di rumah sakit ternama luar negeri telah membentukku menjadi sosok yang jauh berbeda dari Nadira yang ringkih di masa lalu.
Tepat pukul empat pagi, monitor menunjukkan ritme jantung yang stabil. Katup jantung baru terpasang sempurna dan mengalirkan darah dengan lancar.
“Selesai. Operasi berhasil,” ucapku sambil melepas sarung tangan bedah. Suara napas lega terdengar memenuhiruangan.
Ketika pintu ruang operasi terbuka, seluruh keluarga Mahendra langsung menyergapku dengan tatapan penuh kecemasan. Saat aku mengumumkan bahwa operasi berjalan sukses dan kondisi Pak Darmawan telah stabil, tangis haru pecah di koridor tersebut. Ibu Arga bahkan menangkupkan kedua tangannya, memohon maaf secara tersirat atas sikap dinginnya selama ini.
Aku melangkah menuju ruang istirahat dokter untuk membersihkan diri dan mengambil barang-barangku. Namun, baru beberapa langkah menyusuri lorong yang sepi, sebuah bayangan tinggi menghalangi jalanku.
Arga berdiri di sana. Matanya sembap dan kemerahan.
“Nadira,” panggilnya pelan, suara pahlawan militer itu kini terdengar begitu bergetar.
Aku menghentikan langkah. “Kondisi kakekmu sudah stabil, Kolonel. Dia akan dipindahkan ke ruang pemulihan sebentar lagi.”
“Aku tidak ingin membicarakan Kakek,” potongnya cepat. Dia melangkah mendekat, tatapannya penuh dengan penyesalan yang mendalam. “Aku… aku ingin minta maaf. Untuk malam ini, dan untuk dua belas tahun yang lalu. Aku tidak pernah tahu kamu berkembang sejauh ini. Aku tidak tahu kamu telah melewati semuanya…”
Aku menatapnya datar, menyilangkan kedua tangan di dada. “Kamu tidak perlu minta maaf, Arga. Masa lalu itu sudah lama selesai.”
“Aku bodoh, Nadira,” lanjutnya dengan nada menyalahkan diri sendiri. “Dulu aku penakut. Aku menyerah pada tekanan keluarga dan memilih Laras hanya karena gengsi. Tapi melihatmu malam ini, berdiri bersama suamimu dan anakmu… aku sadar betapa besarnya kesalahanku melepasmu.”
Aku menaikkan alis, lalu sebuah sunggingan senyum tipis tanpa beban terukir di bibirku.
“Suami?” tanyaku pelan.
Arga menatapku bingung. “Pria yang datang menjemputmu tadi… Bima…”
Aku menggelengkan kepala perlahan. Ada rasa lucu yang menggelitik dada melihat betapa prasangka telah membutakan mata mereka sejak awal.
“Bima bukan suamiku, Arga,” ucapku tenang. “Bima adalah kakak kandungku. Kakak tertuaku yang selama ini membiayai dan mendukung sekolahku di luar negeri setelah malam kelam itu.”
Arga melotot, napasnya tertahan di tenggorokan. “Apa? Tapi… anak itu? Kirana?”
“Kirana memang putriku,” jawabku tegas. Mataku memancarkan kejujuran yang menembus langsung ke relung jiwanya. “Aku mengadopsinya lima tahun lalu dari sebuah panti asuhan di tempat tugasku. Dia adalah malaikat kecil yang melengkapi hidupku sebagai seorang ibu tunggal. Aku tidak pernah menikah dengan siapapun hingga hari ini.”
Kata-kataku menghantam Arga bagaikan petir di siang bolong. Kakinya tampak lemas, seolah seluruh tumpuan hidupnya baru saja diruntuhkan. Dia menyadari satu hal yang paling menyakitkan: bukan karena aku telah dimiliki pria lain yang membuatnya kehilangan kesempatan, melainkan karena dirikulah yang telah terbang terlalu tinggi, meninggalkan dirinya dan masa lalu rapuh yang tak pernah lagi kuingat.
“Kamu… kamu tidak pernah menikah?” bisiknya lirih, ada sisa harapan semu yang mencoba merayap di wajahnya.
Aku melangkah maju, memangkas jarak di antara kami, lalu menepuk pundaknya pelan—sebuah tepukan formalis antara seorang dokter dan keluarga pasien.
“Aku memaafkanmu dan keluargamu sejak hari pertama aku melangkah naik ke pesawat dua belas tahun lalu. Bukan karena kalian pantas dimaafkan saat itu, tapi karena aku berhak bahagia tanpa membawa beban rasa benci,” ucapku lembut namun sangat menghujam. “Terima kasih sudah membuangku dulu. Tanpa rasa sakit malam itu, aku tidak akan pernah berdiri di sini sebagai wanita yang mandiri dan utuh.”
Aku berjalan melewatinya tanpa memutar kepala lagi. Arga berdiri mematung di koridor yang dingin, meratapi kenyataan bahwa mutiara yang pernah dia lempar ke lumpur kini telah bersinar begitu menyilaukan di tempat yang tak akan pernah bisa dia raih kembali.
Di luar rumah sakit, matahari pagi mulai terbit memancarkan sinar keemasan, menembus sisa-sisa air hujan di dedaunan. Bima dan Kirana sudah menunggu di dalam mobil di area parkir. Kirana melambaikan tangan kecilnya dari jendela sambil tersenyum lebar. Aku melangkah menyongsong masa depanku dengan dada lapang dan kepala tegak, siap menyambut hari baru yang penuh harapan.
