BANGGA MEMAMERKAN SELINGKUHAN SUAMIKU DARI BALKON. NAMUN,

“Pak Surya, saya sendiri yang mengurus pemakaman ibu saya. Saya melihat jenazahnya. Bagaimana mungkin ada perempuan yang datang ke kantor Bapak menggunakan identitas beliau?”

Suaraku bergetar. Tanganku mencengkeram amplop cokelat itu begitu kuat hingga sudutnya terlipat.

Di seberang telepon, Pak Surya terdiam beberapa detik.

“Bu Maya, saya tidak mengatakan ibu Ibu masih hidup. Justru karena identitas itu digunakan oleh seseorang yang mengaku masih hidup, saya mencurigai adanya pemalsuan dokumen.”

Aku memejamkan mata.

“Jadi Bapak tahu perempuan itu bukan ibu saya?”

“Awalnya saya belum tahu. Pak Raka mengatakan ibu mertua beliau baru kembali dari luar negeri setelah bertahun-tahun menjalani pengobatan. Tetapi ketika staf saya memeriksa data pendukung, ditemukan ketidaksesuaian yang serius.”

“Ketidaksesuaian apa?”

“Nomor NIK dalam KTP tersebut memang sama dengan identitas lama Sri Handayani Pradipta. Namun, foto yang tercantum berbeda dari dokumen keluarga yang kami temukan. Selain itu, tanda tangan pada surat persetujuan tidak cocok dengan arsip sebelumnya.”

Aku menatap rumah di seberang jalan.

Lampu lantai dua masih menyala. Dari balik jendela, tampak bayangan Raka sedang berbicara dengan seseorang.

“Kenapa Bapak tidak langsung melapor?”

“Saya menghentikan prosesnya dan meminta verifikasi tambahan. Saya juga sudah menyiapkan laporan mengenai dugaan penggunaan identitas palsu. Dokumen yang saya kirimkan kepada Ibu adalah salinan berkas permohonan, bukan akta perubahan hak yang sudah sah.”

Aku mengembuskan napas panjang.

Setidaknya satu hal mulai jelas.

Ibuku tidak bangkit dari kematian.

Seseorang sedang menggunakan identitasnya untuk melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mungkin dilakukan.

“Tapi kenapa harus memakai nama Ibu?” tanyaku.

Pak Surya menjawab dengan hati-hati.

“Karena aset yang mereka incar bukan sekadar rumah tempat Ibu tinggal sekarang.”

Aku membeku.

“Aset apa?”

“Tanah seluas hampir dua ribu meter persegi di kawasan Citraland, Surabaya Barat. Berdasarkan dokumen yang diajukan, tanah tersebut merupakan bagian dari harta peninggalan ibu Ibu.”

Aku terdiam.

Tanah itu memang pernah dibicarakan Ibu sebelum meninggal.

Namun, beliau selalu mengatakan agar aku tidak terburu-buru menjualnya.

“Maya, tanah boleh berpindah tangan, tapi jangan pernah menyerahkan keputusan hidupmu kepada orang yang hanya melihat harganya,” katanya ketika itu.

Aku dulu menganggapnya sekadar nasihat seorang ibu.

Sekarang, kalimat tersebut terasa seperti peringatan.

“Pak Surya, sebenarnya apa yang ingin mereka lakukan?”

“Mereka mencoba membuat dokumen seolah-olah Sri Handayani masih hidup dan menyetujui pengalihan tanah kepada perusahaan yang dikendalikan Pak Raka. Padahal, apabila beliau sudah meninggal, prosesnya harus mengikuti ketentuan pewarisan yang sah.”

Aku langsung memahami rencananya.

Raka ingin mengambil alih tanah peninggalan Ibu tanpa persetujuanku.

Dan untuk melakukannya, dia menggunakan seorang perempuan yang menyamar sebagai ibuku.

“Pak, saya akan datang ke kantor Bapak besok pagi. Tolong simpan seluruh bukti.”

“Baik, Bu. Dan sebaiknya Ibu didampingi pengacara.”

Aku menutup telepon.

Untuk beberapa saat, aku hanya duduk di kursi pos keamanan.

Pak Harun meletakkan segelas air putih di depanku.

“Bu Maya, Ibu baik-baik saja?”

Aku ingin menjawab iya.

Namun, tenggorokanku terasa tercekat.

Empat tahun lalu, aku kehilangan Ibu akibat penyakit jantung.

Waktu itu, Raka masih menjadi tunanganku.

Dia datang ke rumah sakit, memelukku ketika dokter menyampaikan kabar duka, bahkan membantu mengurus pemakaman.

Aku masih mengingat bagaimana dia menggenggam tanganku di depan makam Ibu.

“Mulai sekarang, aku akan menjaga kamu seperti Ibu menjagamu,” katanya.

Aku mempercayainya.

Aku menikah dengannya setahun kemudian.

Dan selama tiga tahun, aku berusaha menjadi istri yang baik sambil mengembangkan perusahaan konsultan logistik yang kurintis sendiri.

Sekarang, laki-laki yang pernah berjanji melindungiku justru mencoba menggunakan nama ibuku yang sudah meninggal untuk merampas peninggalannya.

Air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena Nadine mengenakan kaus tidurku.

Bukan karena Bu Ratna mempermalukanku di depan tetangga.

Melainkan karena Raka telah menyeret kenangan tentang Ibu ke dalam pengkhianatannya.

Aku mengusap wajah dan menghubungi sahabat lamaku, Laras, seorang pengacara di Surabaya.

Setelah mendengar penjelasanku, Laras langsung meminta seluruh dokumen dikirimkan melalui saluran yang aman.

“Maya, jangan menandatangani apa pun. Jangan menghadapi mereka sendirian. Besok kita periksa berkas notaris dan dokumen pertanahannya.”

Aku mengangguk.

“Aku juga ingin tahu siapa perempuan yang menyamar sebagai Ibu.”

“Kita cari tahu. Tapi malam ini kamu harus berada di tempat aman.”

Aku memutuskan menginap di hotel.

Sebelum meninggalkan kompleks, aku meminta Pak Harun menyimpan rekaman CCTV sesuai prosedur dan mencatat kejadian malam itu.

Keesokan paginya, aku datang ke kantor Pak Surya bersama Laras.

Di ruang pertemuan, Pak Surya memperlihatkan foto perempuan yang datang dua malam sebelumnya.

Aku langsung berdiri.

“Perempuan ini…”

Laras menatapku.

“Kamu mengenalnya?”

Aku mengangguk perlahan.

Namanya Yuliana.

Dulu dia bekerja sebagai pengasuh Bu Ratna sebelum aku menikah dengan Raka.

Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali.

Namun, dua tahun lalu, Yuliana tiba-tiba berhenti bekerja.

Bu Ratna mengatakan perempuan itu pulang ke kampung halamannya di Jember.

“Jadi mereka menggunakan Yuliana untuk berpura-pura menjadi ibuku?”

Pak Surya mengangguk.

“Perempuan itu memperlihatkan KTP yang tampak asli. Tetapi ketika saya meminta bukti identitas tambahan dan dokumen pendukung, Pak Raka mengatakan semuanya tertinggal di rumah.”

Laras membuka salinan surat persetujuan.

“Bu Maya, lihat bagian ini.”

Aku mendekat.

Terdapat tanda tangan atas namaku.

Bentuknya sangat mirip.

Namun, aku langsung mengenali sumber pemalsuannya.

Tanda tangan itu meniru paraf yang biasa kugunakan untuk menyetujui pengeluaran perusahaan, bukan tanda tangan lengkap yang kugunakan dalam dokumen hukum.

Aku menunjuk huruf terakhir.

“Raka pasti mengambil contoh dari dokumen keuanganku.”

Laras mengangguk.

“Ini petunjuk penting. Kita perlu membandingkan dokumen asli dan memeriksa siapa yang membuatnya.”

Pak Surya kemudian menjelaskan bahwa pembayaran Rp86.750.000 yang kulihat di rekening bersama tercatat sebagai pembayaran terkait pengurusan dokumen dan jasa pendukung, tetapi proses pengalihan aset belum diselesaikan. Ia telah meminta penelusuran terhadap dasar pembayaran dan pihak yang menerimanya.

Aku menatap berkas di meja.

“Jadi tanah Ibu belum berpindah tangan?”

“Berdasarkan berkas yang ada di kantor kami, belum. Tetapi status terakhir harus dipastikan melalui kantor pertanahan.”

Untuk pertama kalinya sejak kemarin, aku merasakan sedikit kelegaan.

Namun, Laras belum selesai.

“Ada yang lebih serius, Maya.”

Ia memperlihatkan sebuah lampiran.

Di sana tercantum rencana transaksi senilai Rp18,6 miliar.

Nama calon pembelinya adalah PT Sinar Kencana Properti.

Aku mengenali nama tersebut.

Perusahaan tempat Raka bekerja sebagai direktur pengembangan bisnis.

“Jadi Raka ingin menjual tanah ibuku kepada perusahaan tempat dia bekerja?”

“Bukan cuma itu,” jawab Laras.

Ia menunjuk halaman berikutnya.

“Menurut rancangan perjanjian ini, Raka akan menerima pembayaran pendahuluan melalui perusahaan perantara. Mereka tampaknya berusaha membuat pembeli percaya bahwa urusan kepemilikan tanah sudah beres.”

Aku memejamkan mata.

Kini semuanya masuk akal.

Kehadiran notaris tengah malam.

Kotak dokumen biru yang diambil dari ruang kerjaku.

Tanda tangan palsu.

Perempuan yang menyamar sebagai Ibu.

Bahkan keputusan Raka mengganti kode pagar rumah.

Dia tidak sekadar ingin mengusirku.

Dia ingin mencegahku menemukan dokumen sebelum transaksi itu berlangsung.

Siang harinya, Laras mengatur pertemuan dengan pihak perusahaan calon pembeli untuk memberitahukan adanya sengketa dan dugaan pemalsuan.

Kami juga menyiapkan laporan kepada kepolisian beserta dokumen pendukung.

Namun, ketika aku kembali ke hotel, sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk ke ponselku.

Bu Maya, saya Nadine. Saya perlu bicara. Ada sesuatu yang Bu Ratna sembunyikan dari Raka.

Aku menatap layar cukup lama.

Perempuan yang kemarin tersenyum dari balkon rumahku sekarang meminta bertemu.

Awalnya aku ingin mengabaikannya.

Tetapi pesan berikutnya membuatku berubah pikiran.

Saya memang hamil, Bu. Tapi bukan anak Raka. Mereka menggunakan kehamilan saya untuk memaksa Ibu pergi.

Aku langsung menelepon Laras.

Kami sepakat menemui Nadine di sebuah kafe dekat kantor Laras.

Ketika Nadine datang, wajahnya jauh berbeda dari kemarin.

Tidak ada lagi senyum penuh kemenangan.

Matanya sembap.

Tangannya terus memegangi tas kecil di pangkuannya.

“Bu Maya, saya minta maaf.”

Aku menatapnya dingin.

“Untuk bagian yang mana? Memakai pakaian saya? Tinggal bersama suami saya? Atau ikut mengusir saya dari rumah?”

Nadine menunduk.

“Semuanya.”

Aku tidak menjawab.

Nadine kemudian mengeluarkan sebuah amplop putih.

Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan kehamilan serta beberapa tangkapan layar percakapan.

“Saya memang memiliki hubungan dengan Raka,” katanya. “Tapi saya baru tahu dirinya masih menikah ketika sudah telanjur dekat.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Setelah tahu, kamu tetap datang ke rumahku.”

Nadine menangis.

“Iya. Saya salah.”

Ia mengusap pipinya.

“Dua bulan lalu, saya sudah ingin mengakhiri hubungan itu. Tapi kemudian Bu Ratna menawarkan uang agar saya tetap bersama Raka sampai urusan tanah selesai.”

Aku menoleh kepada Laras.

“Jadi Bu Ratna ikut merencanakan semuanya?”

Nadine mengangguk.

“Beliau bilang kalau Bu Maya melihat saya hamil, Ibu pasti langsung pergi dan tidak akan mau berurusan lagi dengan Raka.”

“Lalu anak yang kamu kandung?”

Nadine menunduk.

“Ayahnya adalah mantan tunangan saya. Kami berpisah sebelum saya mengenal Raka.”

Aku menarik napas panjang.

Nadine kemudian menyerahkan ponselnya.

Di sana terdapat rekaman pesan suara Bu Ratna.

“Nadine, kamu tinggal diam saja. Biar Maya mengira anak itu cucuku. Kalau dia sudah pergi, Raka bisa mengurus tanah peninggalan ibunya tanpa gangguan.”

Aku merasakan seluruh tubuhku gemetar.

Bukan karena marah semata.

Tetapi karena akhirnya aku memahami betapa terencananya penghinaan yang kualami kemarin.

Bu Ratna tidak sedang membela kebahagiaan anaknya.

Dia sedang membantu Raka menyingkirkanku demi harta.

“Kenapa sekarang kamu memberitahuku?” tanyaku.

Nadine menatapku dengan mata merah.

“Karena tadi malam saya mendengar mereka membicarakan cara membuat Ibu menandatangani surat perceraian dan pernyataan pelepasan hak. Saya takut mereka akan memaksa Ibu.”

Aku menatap perempuan di hadapanku.

Untuk sesaat, aku melihat seseorang yang juga terjebak dalam kebohongannya sendiri.

Namun, aku tidak bisa langsung memaafkannya.

“Terima kasih sudah memberikan bukti. Tapi apa yang kamu lakukan tetap salah.”

Nadine mengangguk sambil menangis.

“Saya tahu.”

Dua hari kemudian, aku datang kembali ke rumah bersama Laras dan petugas kepolisian yang menindaklanjuti laporan kami.

Ketika Raka membuka pintu, wajahnya langsung berubah.

“Maya? Kamu membawa polisi?”

Aku menatapnya tenang.

“Aku datang mengambil barang pribadiku dan menindaklanjuti laporan tentang dokumen yang diduga dipalsukan.”

Bu Ratna muncul dari ruang keluarga.

“Perempuan tidak tahu malu! Kamu mau menghancurkan keluarga sendiri?”

Aku memandangnya.

“Bu, keluarga kami sudah dihancurkan ketika Ibu membantu Raka menggunakan nama ibu saya yang meninggal untuk mengambil tanah peninggalannya.”

Bu Ratna terdiam.

Raka berusaha membela diri.

“Itu cuma urusan administrasi. Aku bermaksud menjelaskan semuanya setelah transaksi selesai.”

Aku tertawa getir.

“Menjelaskan setelah tanahnya berpindah tangan?”

Raka tidak menjawab.

Aku mengeluarkan salinan dokumen.

“Kamu menggunakan tanda tanganku tanpa izin. Kamu membawa perempuan lain ke rumah kita. Kamu bahkan meminta seseorang berpura-pura menjadi ibuku.”

Wajah Raka semakin pucat.

“Yuliana yang mengusulkan itu,” katanya tiba-tiba.

Bu Ratna langsung menoleh.

“Raka!”

Namun, sudah terlambat.

Raka menyadari bahwa ucapannya justru membenarkan adanya penyamaran.

Laras meminta mereka menyampaikan seluruh keterangan melalui proses hukum.

Aku kemudian masuk ke ruang kerja.

Lemari tempat kotak biru kusimpan sudah terbuka.

Beberapa dokumen berserakan.

Namun, ada satu benda yang masih berada di tempatnya.

Sebuah kotak kayu kecil peninggalan Ibu.

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat surat terakhir yang ditulis Ibu sebelum meninggal.

Aku pernah membacanya berkali-kali.

Namun, entah mengapa, hari itu aku ingin membacanya sekali lagi.

Maya, anakku.

Ibu tidak tahu seperti apa kehidupanmu nanti.

Mungkin kamu akan menikah, memiliki rumah besar, atau menjadi perempuan yang sangat berhasil.

Tapi Ibu ingin kamu mengingat satu hal.

Jangan pernah mempertahankan sesuatu hanya karena kamu takut kehilangan.

Kalau suatu hari ada orang yang membuatmu merasa tidak berharga, ingatlah bahwa sebelum mengenal siapa pun, kamu sudah berharga bagi Ibu.

Air mataku jatuh membasahi surat itu.

Selama tiga tahun, aku terus berusaha menjadi istri yang sempurna.

Aku membiayai sebagian besar kebutuhan rumah.

Aku membantu Raka ketika pekerjaannya bermasalah.

Aku menerima Bu Ratna tinggal bersama kami meskipun beliau sering merendahkanku.

Aku melakukan semuanya karena takut pernikahanku gagal.

Aku takut dianggap tidak mampu mempertahankan keluarga setelah kehilangan Ibu.

Namun, hari itu aku menyadari sesuatu.

Pernikahan tidak bisa dipertahankan oleh satu orang yang terus mengalah sementara orang lain terus mengkhianati.

Aku memasukkan surat Ibu ke dalam tas.

Lalu keluar menemui Raka.

“Aku akan mengajukan perceraian.”

Raka menatapku terkejut.

“Maya, kita bisa membicarakan ini.”

Aku menggeleng.

“Kita seharusnya membicarakannya sebelum kamu mengubah kode rumah dan mempermalukanku dari balkon.”

Ia berusaha mendekat.

“Aku masih mencintaimu.”

Aku menatapnya lama.

Dulu, kalimat itu mungkin cukup untuk membuatku bertahan.

Sekarang tidak lagi.

“Cinta tidak seharusnya membuat seseorang harus menyelidiki kejahatan untuk mengetahui siapa sebenarnya pasangannya.”

Aku meninggalkan rumah tanpa menoleh.

Beberapa bulan kemudian, penyelidikan mengenai dokumen palsu terus berjalan. Yuliana memberikan keterangan tentang penggunaan identitas Sri Handayani. Dokumen pertanahan diperiksa, dan transaksi yang direncanakan Raka tidak dilanjutkan setelah pihak pembeli mengetahui adanya dugaan pemalsuan.

Proses perceraian kami juga berjalan melalui jalur hukum.

Aku tidak pernah merasa bahagia melihat Raka menghadapi konsekuensi perbuatannya.

Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa bertanggung jawab menyelamatkannya dari keputusan yang dia buat sendiri.

Tanah peninggalan Ibu tetap kupertahankan.

Di salah satu sudutnya, aku membangun sebuah taman kecil dengan bangku kayu dan beberapa pohon kamboja, bunga kesukaan beliau.

Suatu sore, aku duduk di sana sambil memegang foto Ibu.

“Bu, Maya sudah pulang,” bisikku.

Angin bergerak perlahan di antara pepohonan.

Aku tersenyum sambil mengusap air mata.

Empat tahun lalu, aku mengira kehilangan Ibu berarti kehilangan satu-satunya tempat yang selalu menerimaku tanpa syarat.

Karena itulah aku terlalu keras mempertahankan rumah tangga yang sebenarnya sudah lama membuatku kesepian.

Namun, kini aku mengerti.

Rumah bukan sekadar bangunan dengan pagar tinggi, kamar mewah, atau nama yang tercantum dalam sertifikat.

Rumah adalah tempat kita tidak perlu memohon untuk dihargai.

Tempat kita tidak harus membuktikan bahwa kita pantas dicintai.

Dan ketika seseorang mengunci pintu untuk mengusir kita dari kehidupan mereka, terkadang itu justru menjadi kesempatan untuk menemukan kembali pintu yang selama ini kita abaikan.

Pintu menuju harga diri kita sendiri.

Aku memandang langit yang mulai berubah jingga.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi menunggu Raka pulang.

Tidak lagi memeriksa ponsel untuk mencari pesan darinya.

Tidak lagi memikirkan bagaimana caranya membuat Bu Ratna menerimaku.

Aku hanya duduk menikmati sore.

Dengan surat Ibu di pangkuanku.

Dan sebuah keyakinan yang akhirnya kembali.

Aku tidak kehilangan rumah pada malam ketika Raka mengganti kode pagar.

Aku justru mulai menemukan jalan pulang kepada diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang