Baru Dua Bulan Menikah, Suamiku Pulang Mendadak dan Membeku Melihat Vila Mewahnya Berubah Jadi Kebun dan Kandang Ayam

“Delapan ratus juta yang kutinggalkan untuk istriku… ke mana semuanya pergi?”

Suara Arga terdengar dingin, tetapi aku tahu suamiku cukup baik untuk mengenali sesuatu yang lebih berbahaya di balik ketenangan itu.

Kirana berhenti menaburkan dedak. Aku masih berdiri dengan cangkul di bahu, sementara Maya berada beberapa langkah di belakang Arga dengan ekspresi seolah-olah dialah satu-satunya orang yang prihatin melihat keadaan vila.

Aku menancapkan cangkul ke tanah.

“Mas mau jawaban pendek atau panjang?”

Arga menatapku. “Aku mau jawaban yang sebenarnya.”

Maya segera menyela.

“Pak Arga, sebaiknya Bapak istirahat dulu. Saya bisa menjelaskan semuanya. Mbak Sari mungkin tidak memahami pengelolaan keuangan sebesar itu.”

Aku hampir tertawa.

Dua bulan terakhir mengajariku satu hal. Orang yang paling sering mengatakan orang lain tidak mengerti uang biasanya sedang berharap tidak ada yang memeriksa uang itu.

Aku membuka sarung tangan.

“Delapan ratus juta itu aku tidak pernah lihat.”

Arga mengernyit.

Maya membeku sesaat.

“Apa maksudmu?”

“Kartu yang Mas kasih diambil Mbak Maya tiga hari setelah Mas berangkat. Katanya diblokir karena perusahaan sedang mengalami masalah.”

Arga perlahan menoleh kepada Maya.

Maya masih tersenyum.

“Benar, Pak. Itu bagian dari pengendalian risiko. Saya sudah mengirim laporan melalui email.”

“Perusahaanku tidak pernah memberlakukan pembatasan pada rekening pribadiku.”

Senyum Maya lenyap.

Kirana berdiri dan membersihkan tangannya.

“Nah. Akhirnya.”

Dia berjalan mendekati kakaknya.

“Mas, selama dua bulan aku bahkan nggak bisa beli yoghurt.”

Arga menatap adiknya seperti tidak percaya.

“Kamu serius?”

“Aku kelihatan bercanda?”

Kirana menunjuk kandang.

“Aku belajar membersihkan kotoran ayam karena sekretaris kesayanganmu membuat kami percaya perusahaanmu hampir bangkrut.”

“Kirana,” tegur Maya, “jangan membuat tuduhan tanpa bukti.”

Kirana tersenyum tipis.

“Sayangnya, aku belajar sesuatu dari Kak Sari.”

Dia mengeluarkan ponsel.

“Kalau menghadapi orang licik, jangan marah dulu. Simpan bukti.”

Untuk pertama kalinya, wajah Maya benar-benar berubah.

Arga mengambil ponsel itu.

Ada pesan-pesan Maya kepada Kirana.

Tentang kondisi perusahaan yang memburuk.

Tentang vila yang mungkin dijual.

Tentang pengeluaran rumah yang harus dipangkas.

Bahkan ada satu pesan yang menyebut aku sebagai penyebab meningkatnya biaya rumah tangga.

Arga membaca semuanya tanpa bicara.

Aku masuk ke rumah dan kembali membawa sebuah map plastik.

“Kebetulan aku juga menyimpan sesuatu.”

Aku menyerahkannya kepada Arga.

Di dalamnya terdapat seluruh nota belanja selama hampir dua bulan.

Telur.

Beras.

Minyak.

Gas.

Bibit cabai.

Bibit tomat.

Pakan ayam.

Semen untuk memperbaiki saluran air.

Bahkan biaya dua puluh ribu rupiah untuk memperbaiki gagang cangkul tercatat.

Arga mengangkat wajah.

“Kamu mencatat semua ini?”

“Nenek selalu bilang uang seribu rupiah tetap uang. Kalau tidak dicatat, lama-lama dia punya kaki sendiri.”

Kirana terkekeh.

Maya segera berkata, “Pak Arga, persoalannya bukan pengeluaran kecil itu. Dana delapan ratus juta sudah ditransfer ke rekening yang aksesnya diberikan kepada Mbak Sari.”

“Rekening mana?” tanyaku.

Maya menyebut nama bank.

Aku menggeleng.

“Aku bahkan tidak punya rekening di bank itu.”

Keheningan mendadak terasa berat.

Arga mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.

“Dimas, cek rekening rumah tangga yang kubuat sebelum ke Singapura. Bekukan semua akses. Kirim riwayat transaksi lengkap kepadaku sekarang.”

Maya melangkah maju.

“Pak Arga, saya bisa menjelaskan.”

“Aku belum bertanya.”

Nada Arga tetap rendah.

Justru itu yang membuat Maya semakin pucat.

Sekitar sepuluh menit kemudian, ponsel Arga berbunyi.

Dia membuka sebuah dokumen.

Aku melihat rahangnya menegang.

Dana delapan ratus juta memang masuk dua hari setelah Arga berangkat.

Namun tiga hari kemudian, hampir seluruhnya dipindahkan melalui beberapa transaksi.

Bukan ke rekeningku.

Melainkan ke rekening perusahaan bernama MP Konsultan Nusantara.

Arga menatap Maya.

“MP.”

Maya tidak menjawab.

“Maya Prameswari?”

“Ada penjelasannya.”

“Aku mendengarkan.”

Maya menarik napas.

“Perusahaan itu milik kakak saya. Dana tersebut hanya dipindahkan sementara untuk kebutuhan investasi. Keuntungannya nanti akan dikembalikan.”

“Kamu menggunakan uang pribadi istriku tanpa izin?”

“Itu bukan seperti yang Bapak pikirkan.”

“Lalu seperti apa?”

Maya mulai kehilangan ketenangannya.

“Selama tujuh tahun saya mengurus semuanya untuk Bapak. Jadwal, perjalanan, kontrak, keluarga. Saya yang memastikan hidup Bapak berjalan. Lalu tiba-tiba Bapak menikahi perempuan yang bahkan tidak mengerti cara menggunakan kartu kredit premium.”

Aku menatapnya.

Jadi akhirnya keluar juga.

Bukan sekadar uang.

Ada kebencian yang sudah disimpan lama.

Maya menunjuk kebun di halaman.

“Lihat rumah ini! Vila puluhan miliar berubah seperti kebun kampung. Ayam berkeliaran. Kolam ikan dibuat dari taman desainer. Apa Bapak benar-benar menganggap perempuan seperti dia cocok mendampingi Bapak?”

Arga belum sempat menjawab ketika Kirana maju.

“Aku dulu juga berpikir begitu.”

Semua mata tertuju kepadanya.

Kirana menelan ludah.

“Waktu Kak Sari datang, aku malu. Aku pikir dia cuma perempuan desa yang beruntung dinikahi Mas Arga.”

Dia memandangku.

“Tapi saat semua staf pergi, dia yang memasak. Saat kartu kita ditolak, dia tidak pernah minta uang kepada siapa pun. Saat aku sakit, dia naik ojek ke apotek tengah malam.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Dan kebun ini dibuat karena uang belanja kami cuma lima ratus ribu seminggu.”

Arga memandangku.

Aku mengangkat bahu.

“Tanahnya luas. Sayang kalau cuma ditanami rumput mahal yang nggak bisa dimakan.”

Kirana tertawa sambil mengusap air matanya.

“Kolam ikan itu idenya aku.”

“Awalnya kamu bilang jijik pegang ikan.”

“Manusia berkembang, Kak.”

Arga menutup mata sebentar.

Saat membukanya kembali, tatapannya kepada Maya berubah sepenuhnya.

“Kembalikan uang itu.”

Maya menggigit bibir.

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Sudah digunakan.”

“Untuk apa?”

Maya diam.

Arga menelepon Dimas lagi dan memintanya memeriksa perusahaan tersebut.

Kali ini hasilnya datang lebih buruk.

MP Konsultan Nusantara ternyata sedang menanggung utang besar akibat investasi properti yang gagal. Sebagian dana delapan ratus juta digunakan untuk membayar cicilan.

Namun ada sesuatu yang lebih mengejutkan.

Selama dua tahun terakhir, perusahaan itu menerima transfer rutin dari beberapa vendor yang bekerja dengan perusahaan Arga.

Jumlahnya miliaran rupiah.

Arga duduk di kursi teras.

Aku belum pernah melihat wajahnya seperti itu.

Bukan marah.

Melainkan kecewa.

“Maya,” katanya pelan, “berapa lama?”

Perempuan itu mulai menangis.

“Awalnya cuma komisi kecil.”

“Kemudian?”

“Saya pikir saya pantas mendapatkannya.”

Arga tertawa pendek tanpa humor.

“Karena bekerja tujuh tahun denganku?”

“Karena saya memberikan hidup saya untuk perusahaan ini!”

Suara Maya meninggi.

“Saya menemani Bapak membangun semuanya. Saya pikir suatu hari Bapak akan melihat saya.”

Aku akhirnya memahami semuanya.

Maya bukan hanya merasa berhak atas uang Arga.

Dia merasa berhak atas kehidupan Arga.

Dan pernikahan kami menghancurkan khayalan itu.

“Lalu aku datang,” kataku.

Maya menatapku dengan kebencian terbuka.

“Kamu tidak pantas berada di sini.”

Aku tersenyum tipis.

“Mungkin.”

Semua orang terdiam.

Aku melanjutkan, “Aku memang tidak tahu merek tas mahal. Tidak ngerti makan malam bisnis. Bahkan pertama datang ke vila ini aku bingung kenapa satu kamar mandi ukurannya hampir sebesar rumah nenek.”

Kirana tertawa kecil.

“Tapi ada satu hal yang aku tahu.”

Aku menunjuk tanah.

“Kalau sesuatu dirawat dengan benar, dia tumbuh. Kalau terus diambil tanpa pernah dikembalikan, tanah paling subur pun akhirnya mati.”

Maya tidak menjawab.

Beberapa jam kemudian, tim audit internal datang.

Arga tidak langsung melaporkan Maya ke polisi. Dia meminta audit penuh dilakukan terlebih dahulu agar seluruh transaksi tercatat dan tidak ada pihak lain yang bisa menghilangkan bukti.

Menjelang malam, Maya meninggalkan vila ditemani dua staf legal.

Aku pikir masalah selesai.

Ternyata belum.

Saat kami bertiga duduk makan malam, Arga terus memandang meja.

Ada tumis kangkung.

Ikan goreng dari kolam.

Sambal tomat.

Dan ayam yang tadi kujanjikan.

“Semua dari halaman?” tanyanya.

“Hampir.”

Dia mencicipi kangkung.

Kemudian menatapku.

“Enak.”

Kirana mendengus.

“Dua bulan aku makan sayur sampai rasanya aku bisa fotosintesis.”

Kami tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, rumah itu terasa seperti rumah.

Namun kemudian Arga mengeluarkan sebuah amplop.

“Aku juga harus minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Aku terlalu percaya kepada Maya. Aku meninggalkan kalian tanpa sistem pengawasan.”

“Mas nggak tahu.”

“Itu bukan alasan.”

Dia mendorong amplop kepadaku.

Di dalamnya ada dokumen kepemilikan.

Aku membaca nama di halaman pertama dan langsung terdiam.

Vila itu sekarang tercatat atas namaku.

Aku segera mengembalikannya.

“Mas, aku nggak mau.”

“Kenapa?”

“Karena aku menikah sama kamu, bukan sama rumahmu.”

Kirana yang sedang minum hampir tersedak.

“Ya ampun. Kalau aku jadi Kak Sari, sudah kupeluk sertifikatnya.”

Aku tertawa.

Arga tidak.

“Baca halaman terakhir.”

Aku membuka kembali dokumen itu.

Ternyata bukan sekadar perubahan kepemilikan.

Arga telah membentuk sebuah yayasan kecil yang mengelola program ketahanan pangan untuk beberapa desa di sekitar Bogor dan Jawa Tengah.

Vila itu akan menjadi lokasi pelatihan.

Kebun kami menjadi kebun percontohan.

Kolam ikan akan diperluas.

Bahkan kandang ayam dipertahankan.

Aku menatapnya lama.

“Kamu serius?”

“Aku pulang dan awalnya mengira rumahku dihancurkan.”

Arga melihat halaman melalui jendela.

“Ternyata untuk pertama kalinya rumah ini menghasilkan sesuatu selain tagihan listrik.”

Kirana tertawa keras.

Tiga bulan kemudian, kasus Maya masuk proses hukum setelah audit menemukan jaringan pembayaran ilegal dari sejumlah vendor.

Namun kejutan terbesar justru datang dari Kirana.

Gadis yang dulu menertawakan sepatuku itu memutuskan mengambil cuti satu semester.

Bukan untuk pergi ke Eropa seperti rencananya.

Dia mengikuti program pertanian urban dan pengelolaan bisnis pangan.

Suatu sore aku melihatnya sedang menjelaskan sistem hidroponik kepada sekelompok ibu dari desa sekitar.

Aku bersandar di pagar sambil tersenyum.

Arga berdiri di sampingku.

“Kamu mengubah adikku.”

Aku menggeleng.

“Nggak.”

“Lalu?”

“Aku cuma bikin dia lapar dua bulan.”

Arga tertawa.

Tiba-tiba Kirana berteriak dari kebun.

“Kak Sari! Ayam putih kabur lagi!”

Aku langsung berlari.

“Pegang pintunya!”

Arga masih tertawa ketika ayam itu berlari melewati kakinya dan masuk ke ruang tamu.

Enam bulan setelah kepulangan Arga, vila mewah yang dulu terkenal karena taman bergaya Eropa itu mulai dikenal warga dengan nama baru.

Kebun Mahendra.

Orang datang bukan untuk melihat marmer Italia atau kolam renang mahal, melainkan belajar menanam sayuran, mengelola kolam ikan, membuat kompos, dan membangun usaha pangan kecil.

Suatu hari, ketika sedang membersihkan tanah dari tanganku, aku melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang.

Seorang perempuan turun.

Maya.

Tubuhnya jauh lebih kurus.

Dia belum dipenjara karena proses persidangan masih berlangsung.

Dia berdiri di luar pagar cukup lama.

Aku mendatanginya.

“Ada apa?”

Maya menatap kebun di belakangku.

“Saya cuma ingin melihat.”

Aku tidak berkata apa-apa.

Dia tersenyum getir.

“Dulu saya pikir semua ini memalukan.”

“Sekarang?”

“Sekarang saya sadar saya menghabiskan bertahun-tahun mengejar kehidupan orang lain sampai lupa membangun kehidupan saya sendiri.”

Aku tidak tahu apakah itu penyesalan tulus atau hanya kesedihan seseorang yang kehilangan segalanya.

Jadi aku tidak menghakiminya.

Maya kemudian menyerahkan sebuah amplop.

Di dalamnya ada bukti transfer.

Sebagian uang telah dikembalikan melalui penjualan aset pribadinya.

“Tidak akan cukup,” katanya.

“Setidaknya kamu mulai mengembalikannya.”

Dia mengangguk.

Sebelum pergi, Maya menatapku.

“Kenapa waktu itu kamu tidak takut? Ketika uang tinggal sedikit?”

Aku berpikir sejenak.

“Karena aku pernah hidup tanpa vila.”

Aku melihat hamparan cabai yang mulai memerah.

“Orang yang tahu bagaimana memulai dari nol tidak terlalu takut kehilangan angka.”

Maya pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.

Sore itu aku duduk bersama Arga di teras.

Matahari turun di balik perbukitan Sentul. Kirana sedang mengejar ayam sambil mengomel karena tanaman seladanya dipatuk.

Arga menggenggam tanganku.

“Delapan ratus juta itu akhirnya hampir kembali.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

“Masih marah?”

Aku memandangnya.

“Sedikit.”

“Karena uangnya?”

Aku tersenyum.

“Karena dulu Mas beli rumput taman mahal banget. Padahal tanah sebagus ini bisa ditanami cabai.”

Arga tertawa sampai bahunya berguncang.

Dan saat itulah aku menyadari sesuatu.

Dua bulan sebelumnya, seseorang berusaha membuatku merasa kecil karena aku berasal dari desa.

Mereka mengira kemewahan adalah kemampuan membeli apa saja.

Padahal nenekku sejak dulu sudah mengajarkan kemewahan yang jauh lebih sulit dibeli.

Kemampuan untuk tetap hidup ketika keadaan berubah.

Kemampuan untuk membuat sesuatu tumbuh dari tanah kosong.

Dan kemampuan untuk membangun rumah, bukan dari seberapa mahal benda di dalamnya, tetapi dari siapa yang tetap memilih duduk bersama kita ketika meja makan hanya berisi telur dan sayur.

Aku memandang vila di belakangku.

Bangunannya masih sama.

Marmernya masih mahal.

Lampunya masih berkilau.

Namun halaman depannya penuh cabai, tomat, kangkung, ikan, dan ayam yang kadang masuk ruang tamu.

Aneh memang.

Tetapi baru setelah vila mewah itu berubah menjadi kebun dan kandang ayam, aku akhirnya merasa kami benar-benar kaya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang