LIMA TAHUN SELEPAS AKU DIUSIR, SEORANG BUDAK YANG CEDERA
“Dia bukan lagi anak kau.” Kata-kata Bianca terasa lebih tajam daripada bunyi hujan yang menghentam cermin klinik. Aku tidak bergerak.
“Dia bukan lagi anak kau.” Kata-kata Bianca terasa lebih tajam daripada bunyi hujan yang menghentam cermin klinik. Aku tidak bergerak.
Saya tidak menunggu untuk melihat reaksi mereka. Saya membuka pintu rumah Ramon dan melangkah keluar ke halaman. Udara malam terasa
Hari kedua bermula dengan sesuatu yang tidak saya jangka. Nico tidak pergi bekerja. Biasanya, sebelum pukul tujuh pagi dia sudah
“Karena waktu itu kamu menantu keluarga Mahendra.” Suara Ratna terdengar datar, seolah sedang membicarakan barang yang masa pakainya sudah habis.
Pagi itu, bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi, Ayah sudah berdiri di depan toko baru milik putriku dengan seragam abu-abu yang
Aku menatap kunci merah di telapak tangan Bu Sariyah, lalu kartu identitas Arga yang seharusnya berada di dompet suamiku. Tiga
Saya memandang Tita Lorna lama-lama, berharap wajahnya berubah dan dia ketawa sambil berkata semuanya cuma gurauan. Tetapi dia tidak ketawa.
Tanganku gemetar hebat ketika membaca nama obat pada bungkus kecil itu. Untuk beberapa detik, aku ingin berlari ke ruang tamu,
Aku berdiri membeku di sisi ranjang, menatap perut Lianne yang rata seolah mataku sedang mempermainkanku. Tanganku yang masih memegang kantong
“Pak?” Pria itu tersentak. Tangannya yang memegang sendok berhenti di udara. Ia menoleh perlahan, seperti seseorang yang baru tertangkap melakukan