Bel rumah berbunyi tepat pukul delapan lewat tujuh belas menit.
Aku sedang duduk di tepi tempat tidur Ibu ketika suara itu terdengar.
Ibu baru saja tertidur setelah menghabiskan setengah mangkuk bubur. Wajahnya masih pucat, tetapi setidaknya napasnya sudah lebih tenang. Keira duduk di lantai sambil mengerjakan PR, sesekali melirik neneknya.
Aku berdiri dan menutup pintu perlahan.

Saat melewati ruang keluarga, Dimas masih duduk di sofa.
Dia bahkan belum membereskan sisa makanan teman-temannya.
“Siapa malam-malam begini?” tanyanya.
Aku tidak menjawab.
Aku membuka pintu.
Pak Hendra berdiri di luar dengan kemeja abu-abu dan sebuah tas kerja hitam. Di tangannya ada map cokelat tebal.
Dimas langsung berdiri.
Wajahnya berubah.
“Pak Hendra?”
Pak Hendra mengangguk sopan.
“Selamat malam, Pak Dimas.”
Aku mempersilahkannya masuk.
Pak Hendra adalah notaris yang menangani pembelian rumah kami sembilan tahun lalu. Dimas mengenalnya. Bahkan beberapa kali mereka pernah bertemu dalam urusan dokumen perusahaan.
Karena itulah Dimas langsung tahu bahwa kedatangannya bukan untuk minum kopi.
“Ada urusan apa?” tanyanya.
Aku berjalan ke meja makan.
“Duduk saja.”
Nada suaraku begitu tenang sampai Dimas tampak semakin gelisah.
Pak Hendra membuka tasnya, mengeluarkan map cokelat, lalu meletakkannya di atas meja.
Dimas menatap map itu.
“Ratih, sebenarnya kamu mau apa?”
Aku menarik sebuah kursi.
“Aku cuma mau memastikan siapa sebenarnya yang berhak menentukan apa di rumah ini.”
Dimas tertawa pendek.
“Masih soal tadi?”
“Awalnya iya.”
Aku menatap matanya.
“Sekarang tidak.”
Pak Hendra membuka map.
Dokumen pertama diletakkan di meja.
Akta Jual Beli.
Dokumen kedua.
Bukti pembayaran.
Dokumen ketiga.
Sertifikat rumah.
Nama yang tercantum sebagai pemilik adalah namaku.
Ratih Prameswari.
Bukan Ratih dan Dimas.
Hanya Ratih Prameswari.
Dimas mengembuskan napas keras.
“Terus kenapa? Aku tahu rumah ini atas namamu.”
“Bagus.”
Aku mengangguk.
“Berarti kamu juga ingat dari mana uang muka rumah ini berasal?”
Dia diam.
Sembilan tahun lalu, rumah itu dibeli menggunakan uang hasil penjualan tanah warisan Ayah di Depok.
Tanah itu diberikan kepadaku sebelum aku menikah.
Uang hasil penjualannya membayar hampir tujuh puluh persen harga rumah.
Sisa kredit memang kami cicil selama beberapa tahun, tetapi tiga tahun sebelumnya kredit itu sudah kulunasi menggunakan bonus tahunan dan tabunganku.
Dimas berdeham.
“Kita suami istri. Jangan mulai hitung-hitungan begini.”
Aku hampir tersenyum.
Beberapa jam sebelumnya dia mengatakan hal yang sangat berbeda.
Di rumah ini aku laki-lakinya.
Kalau aku bilang kamar itu dipakai, ya dipakai.
Aku masih bisa mendengar kalimat itu dengan jelas.
Aku menggeser dokumen berikutnya.
“Ini yang lebih menarik.”
Dimas melihatnya.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
Itu salinan permohonan kredit yang kutemukan di laptop.
Pak Hendra telah membawa hasil pengecekan tambahan.
Tiga minggu lalu, Dimas mengajukan fasilitas pinjaman untuk usaha bersama Rian.
Nilainya delapan ratus lima puluh juta rupiah.
Pada dokumen pengajuan awal, rumah kami dicantumkan sebagai aset yang direncanakan menjadi jaminan.
Masalahnya sederhana.
Rumah itu bukan miliknya.
Dan aku tidak pernah memberikan persetujuan.
“Kamu mau menjaminkan rumah ini?”
Dimas langsung membantah.
“Itu baru pengajuan.”
“Tanpa bicara denganku.”
“Aku belum melakukan apa-apa.”
Pak Hendra akhirnya berbicara.
“Pak Dimas, tanda tangan persetujuan pemilik memang belum ada. Jadi proses pengikatan jaminan belum dapat dilakukan secara sah.”
Dimas cepat-cepat menoleh kepadanya.
“Nah. Berarti tidak ada masalah.”
Pak Hendra belum selesai.
“Tapi ada masalah lain.”
Dimas membeku.
Pak Hendra mengeluarkan satu lembar lagi.
“Pihak pemberi pinjaman menerima salinan surat persetujuan pasangan.”
Aku menatap Dimas.
Dia tidak berani menatapku.
Pak Hendra melanjutkan.
“Dan tanda tangan pada surat ini menggunakan nama Bu Ratih.”
Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.
Aku mengambil kertas itu.
Ada tanda tanganku di sana.
Setidaknya seseorang berusaha membuatnya terlihat seperti tanda tanganku.
Aku menatap Dimas.
“Kamu memalsukan tanda tanganku?”
“Bukan aku.”
Jawabannya terlalu cepat.
“Lalu siapa?”
Dia mengusap wajah.
“Ratih, dengar dulu.”
Aku menunggu.
Dimas berjalan mondar-mandir.
“Rian punya bisnis katering. Dia mau ekspansi. Ada peluang besar. Aku cuma bantu.”
“Dengan rumahku?”
“Kita akan dapat keuntungan.”
“Kita?”
Aku menatapnya.
“Namaku bahkan tidak ada di perusahaan kalian.”
Dia kehilangan kata-kata.
Saat itulah aku menyadari sesuatu.
Semua kejadian sore tadi tiba-tiba terlihat berbeda.
Rian dan teman-temannya datang bukan sekadar menonton pertandingan.
Mereka menginap.
Mereka memakai kamar Ibu.
Dan Dimas begitu berkeras memberi mereka tempat terbaik di rumah.
“Pertemuan bisnis?” tanyaku.
Dimas terdiam.
“Teman-temanmu tadi sebenarnya datang untuk apa?”
Tidak ada jawaban.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Aku bisa telepon Rian sekarang.”
“Jangan.”
Satu kata itu cukup.
Aku meletakkan ponsel kembali.
“Jelaskan.”
Dimas akhirnya duduk.
Untuk pertama kalinya malam itu, dia terlihat kecil.
Bisnis katering Rian ternyata sudah bermasalah selama berbulan-bulan. Mereka mengambil pinjaman untuk membuka dapur produksi baru di Tangerang, tetapi proyeknya gagal.
Dimas diam-diam ikut menanam modal.
Bukan lima puluh juta.
Bukan seratus juta.
Hampir empat ratus juta.
Sebagian berasal dari tabungan pribadinya.
Sebagian lagi dari pinjaman.
Sekarang mereka membutuhkan dana baru untuk menutup kewajiban lama.
“Jadi delapan ratus lima puluh juta itu untuk menutup utang?”
Dimas mengangguk pelan.
Aku merasa mual.
“Berapa utangmu sebenarnya?”
Dia tidak menjawab.
“Berapa?”
“Sekitar enam ratus.”
“Juta?”
Dia mengangguk.
Aku menutup mata sesaat.
Selama ini dia masih membeli sepatu baru.
Masih nongkrong setiap akhir pekan.
Masih mengomentari pengeluaranku untuk obat Ibu.
Dua hari lalu, bahkan dia mengirim pesan mengatakan buah impor untuk Ibu terlalu mahal.
Dan laki-laki yang sama menyembunyikan utang enam ratus juta.
Aku tertawa pelan.
Bukan karena lucu.
Karena kadang kenyataan terlalu absurd untuk diterima dengan cara lain.
“Kamu tahu bagian yang paling menyakitkan?”
Dimas menatapku.
“Bukan utangnya.”
Aku menunjuk ke arah kamar Ibu.
“Bukan juga dokumen ini.”
Suaraku mulai bergetar untuk pertama kalinya.
“Yang paling menyakitkan adalah aku meninggalkan ibuku di rumah ini karena percaya padamu.”
Dimas menunduk.
“Aku bisa jelaskan soal Mama.”
“Jangan panggil dia Mama seolah kamu menghormatinya.”
Dia langsung diam.
Aku menelan air mata.
“Dia muntah sendirian di gudang tadi malam.”
“Aku nggak tahu separah itu.”
“Karena kamu tidak peduli untuk tahu.”
“Itu tidak benar.”
“Kalau Keira yang sakit dan seseorang memindahkannya ke gudang karena ingin kamar lebih nyaman untuk teman-temannya, apa yang akan kamu lakukan?”
Wajah Dimas berubah.
Aku tahu pertanyaan itu tepat mengenai tempat yang paling tidak ingin disentuhnya.
“Jangan bawa Keira.”
“Kenapa? Karena baru terasa kejam kalau korbannya anakmu sendiri?”
Dia berdiri.
“Cukup, Ratih.”
“Belum.”
Aku juga berdiri.
“Selama sebelas tahun aku selalu berusaha membuatmu merasa dihargai sebagai suami. Tapi rupanya bagimu dihargai berarti semua orang harus tunduk.”
Dimas memukul meja dengan telapak tangannya.
“Aku sudah bilang aku salah!”
Suara itu membuat pintu kamar terbuka.
Keira berdiri di lorong.
Wajahnya ketakutan.
Aku langsung menghampirinya.
“Sayang, masuk lagi.”
Namun Keira tidak bergerak.
Dia menatap ayahnya.
Kemudian mengatakan sesuatu yang membuat kami semua terdiam.
“Ayah bohong sama Bunda.”
Dimas mengerutkan kening.
“Keira, masuk kamar.”
Keira justru memegang tanganku.
“Waktu Bunda di Surabaya, Ayah bilang Nenek sendiri yang mau pindah ke belakang.”
Aku menoleh pada Dimas.
Keira melanjutkan.
“Tapi Nenek nggak mau.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
“Kamu lihat?”
Keira mengangguk.
“Waktu Nenek bilang mau tetap di kamar karena pusing, Ayah marah.”
Dimas mendekat.
“Keira, kamu salah dengar.”
Putriku mundur.
“Enggak.”
Suaranya kecil, tetapi tegas.
“Ayah bilang kalau Nenek nggak suka, Nenek bisa pulang ke Bogor.”
Aku tidak lagi marah.
Ada titik ketika kemarahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin.
Keputusan.
Aku meminta Keira kembali menemani Nenek.
Setelah pintu tertutup, aku memandang Dimas.
“Besok pagi kamu keluar dari rumah ini.”
Matanya membesar.
“Apa?”
“Bawa pakaianmu. Tinggal di hotel, rumah Rian, atau di mana pun.”
“Kamu mengusir suamimu sendiri?”
“Aku sedang memastikan ibuku bisa menjalani kemoterapi tanpa takut dibuang ke gudang.”
Dimas tertawa sinis.
“Kamu pikir karena sertifikat rumah atas namamu, kamu bisa seenaknya?”
Pak Hendra menatapku, tetapi tidak ikut campur.
Aku berkata pelan.
“Kita akan menyelesaikan semua secara hukum. Termasuk utangmu, dokumen ini, dan pernikahan kita.”
Untuk pertama kalinya Dimas benar-benar panik.
“Kamu mau cerai cuma gara-gara kamar?”
“Bukan.”
Aku menggeleng.
“Aku mempertimbangkan perceraian karena hari ini aku akhirnya melihat siapa kamu ketika merasa tidak ada yang mengawasi.”
Dimas tidak menjawab.
Pak Hendra merapikan dokumen.
Sebelum pergi, dia menyarankan agar aku segera berkonsultasi dengan pengacara dan menghubungi pihak pemberi pinjaman untuk menyatakan bahwa aku tidak pernah memberikan persetujuan penggunaan rumah sebagai jaminan.
Aku mengantarnya ke pintu.
Ketika kembali, Dimas sudah naik ke lantai atas.
Malam itu kami tidak bicara lagi.
Keesokan paginya, dia pergi membawa dua koper.
Ibu tidak bertanya apa-apa.
Dia hanya menggenggam tanganku lama.
Seminggu kemudian, aku bertemu pengacara.
Pihak pemberi pinjaman menghentikan proses setelah menerima pernyataan resmi dariku dan mulai melakukan pemeriksaan internal terhadap dokumen persetujuan yang bermasalah.
Aku juga memisahkan rekening dan memeriksa seluruh transaksi keluarga.
Di sanalah kejutan berikutnya muncul.
Selama hampir setahun, Dimas ternyata beberapa kali mengambil uang dari rekening bersama dalam jumlah kecil.
Lima juta.
Delapan juta.
Dua belas juta.
Nominal yang cukup kecil agar tidak langsung menarik perhatianku.
Totalnya hampir seratus empat puluh juta rupiah.
Semua mengalir ke bisnis Rian.
Ketika kukirim bukti transfer itu kepadanya, Dimas hanya membalas satu kalimat.
Aku berniat mengembalikannya setelah bisnis berhasil.
Aku tidak menjawab.
Tiga bulan berlalu.
Ibu menyelesaikan rangkaian kemoterapi terakhirnya.
Rambutnya memang belum tumbuh kembali sepenuhnya. Tubuhnya masih lebih kurus daripada sebelumnya. Tetapi suatu pagi dia sudah cukup kuat untuk duduk di teras sambil menyiram tanaman bersama Keira.
Aku berdiri di balik pintu kaca memperhatikan mereka.
Ibu tertawa ketika Keira tidak sengaja menyiram sandalnya sendiri.
Suara tawa itu terasa lebih mahal daripada apa pun yang pernah ada di rumah tersebut.
Proses perpisahanku dengan Dimas masih berjalan.
Tidak mudah.
Ada marah.
Ada kecewa.
Ada malam ketika aku mempertanyakan sebelas tahun hidupku sendiri.
Namun sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi sekitar empat bulan setelah malam itu.
Pak Hendra menelepon.
“Bu Ratih, ada seseorang yang ingin bicara dengan Ibu.”
“Siapa?”
“Pak Rian.”
Aku hampir menolak.
Namun akhirnya aku menerima teleponnya.
Suara Rian terdengar berbeda.
Tidak ada kesombongan yang biasa kudengar.
“Ratih, aku cuma mau bilang satu hal.”
Aku diam.
“Soal tanda tangan itu.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Kenapa?”
“Bukan Dimas yang memalsukannya.”
Aku berdiri.
“Lalu?”
“Orang dari pihak perantara pinjaman yang membuat dokumen itu setelah Dimas bilang kamu pasti setuju.”
Aku mencengkeram ponsel.
“Jadi Dimas tahu?”
Rian terdiam lama.
“Dia lihat dokumennya sebelum dikirim.”
Itu sudah cukup.
Aku menutup mata.
Mungkin tangannya tidak memalsukan tanda tanganku.
Namun dia melihat kebohongan itu dan memilih diam karena kebohongan tersebut menguntungkannya.
Beberapa minggu kemudian, Dimas meminta bertemu.
Kami bertemu di sebuah kafe di Bintaro.
Dia tampak jauh lebih kurus.
“Aku nggak minta kamu balik,” katanya.
Aku menunggu.
“Aku cuma mau minta maaf.”
Dia menunduk.
“Aku terlalu sibuk merasa harus terlihat seperti laki-laki yang berhasil sampai aku melakukan apa saja supaya tidak terlihat gagal.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat monster.
Aku melihat manusia yang membuat pilihan-pilihan buruk karena ego, ketakutan, dan kebohongannya sendiri.
Tetapi memahami seseorang tidak berarti kita harus menerima kembali apa yang telah dia hancurkan.
“Aku maafkan kamu suatu hari nanti,” kataku.
Matanya terangkat.
“Tapi memaafkan bukan berarti semuanya kembali seperti dulu.”
Dia mengangguk.
Kami berpisah tanpa pertengkaran.
Enam bulan setelah malam ketika Pak Hendra membawa map cokelat itu, aku mengganti kamar belakang.
Semua kardus dikeluarkan.
Rak-rak dibongkar.
Dinding dicat ulang.
Jendelanya diperbesar agar cahaya masuk.
Aku memasang meja kecil dan rak buku.
Suatu sore Ibu berdiri di pintunya.
“Buat apa kamar ini?”
Aku tersenyum.
“Ruang baca.”
Ibu masuk dan menyentuh meja kayunya.
Kemudian dia melihat satu bingkai kecil yang kugantung di dinding.
Di dalamnya bukan foto.
Bukan pula kutipan motivasi.
Hanya selembar kertas bertuliskan satu kalimat sederhana yang dibuat Keira dengan spidol.
Rumah adalah tempat orang merasa aman.
Ibu membacanya lama.
Kemudian dia memelukku.
Aku baru memahami sesuatu saat itu.
Selama bertahun-tahun, aku mengira rumah adalah sertifikat, cicilan, furnitur, dan alamat.
Aku salah.
Rumah tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras mengatakan dirinya kepala keluarga.
Tidak pula oleh siapa yang merasa paling berkuasa menentukan kamar siapa.
Rumah dibentuk oleh cara kita memperlakukan orang yang sedang paling lemah di dalamnya.
Dan malam ketika Dimas memindahkan ibuku ke gudang, dia mengira sedang menunjukkan siapa yang memiliki kuasa.
Padahal tanpa disadarinya, malam itu dia justru menunjukkan kepadaku satu hal yang jauh lebih penting.
Siapa yang tidak lagi pantas kuberi kuasa atas hidupku.
