AYAHNYA MENUKAR KUNCI RUMAH DAN MENJUALNYA SECARA SENYAP-SENYAP… TETAPI DIA TIDAK TAHU ANAK….
Hendra langsung tidak berani bertentang mata dengan anak perempuannya sendiri. Namun, perkara yang paling menyakitkan hati Keysha bukanlah melihat sofa
Hendra langsung tidak berani bertentang mata dengan anak perempuannya sendiri. Namun, perkara yang paling menyakitkan hati Keysha bukanlah melihat sofa
“Jangan tutup petinya! Anak saya belum meninggal!” Teriakan itu mengguncang rumah sederhana di sebuah desa di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Bunyi tapak kasut tumit tinggi Maya bergema di atas lantai marmar dewan perkahwinan yang mewah itu. Satu demi satu tetamu
“Lebih baik saya kehilangan pekerjaan daripada melihat ribuan anak masuk rumah sakit karena roti buatan kita, Pak!” Suara Pak Joko
“Rani, Dimas… besok kalian seharusnya menikah. Kenapa sekarang kalian malah terbaring seperti ini?” Suara Pak Hendra pecah di lorong rumah
Tangisan bayi itu nyaris tenggelam oleh suara hujan ketika Pak Surya menemukan sebuah kardus basah di belakang tempat pembuangan sampah.
“Kalau Ibu mati di gunung itu, apa kamu akan menangis, Man?” Pertanyaan itu pernah dilontarkan Bu Sari kepada putranya enam
“Jangan mendekat! Kalian bisa ikut celaka!” Itulah enam kata pertama yang keluar dari mulut Ayah ketika melihat kami berempat berdiri
Bunyi gari besi yang dikancing pada kedua-dua pergelangan tangan Aris Gunawan membuatkan seluruh kawasan pemeriksaan imigresen Lapangan Terbang Antarabangsa Soekarno-Hatta
Bayang-bayang lelaki yang memegang picagari itu semakin menghampiri Kinanti. Di ruang tamu banglo dua tingkat di Shah Alam, tiada seorang