IBUKU MEMINDAHKAN RM1.5 JUTA UNTUK MEMBELI RUMAH IMPIANKU ATAS NAMAKU SENDIRI….
Aku tidak terus menjawab. Telefon masih berada di tanganku, dan suara bakal ibu mentuaku masih kedengaran dari pembesar suara. “Laras,
Aku tidak terus menjawab. Telefon masih berada di tanganku, dan suara bakal ibu mentuaku masih kedengaran dari pembesar suara. “Laras,
Aku membongkok perlahan untuk mengambil kertas yang terjatuh itu. Entah mengapa, Rizky yang sejak tadi berjalan santai tiba-tiba berubah wajah.
Pengarah Kewangan Rizky Tech berhenti betul-betul di sisi Rizky dengan nafas tercungap-cungap. “Tuan Rizky, kita ada masalah besar.” Senyuman Rizky
“Protokol 77?” Suara Budi yang tadi penuh keyakinan tiba-tiba berubah. Senyumannya mati. Indah pula mengangkat kepala dari bahunya, memandangku dengan
Kereta Alphard hitam itu meluncur meninggalkan rumah keluarga Aris, membelah jalan raya Kuala Lumpur yang masih berkilau selepas hujan malam.
Pintu bilik mediasi terbuka dengan begitu kuat sehingga semua orang di dalamnya serentak menoleh. Ibu Ratih berdiri di ambang pintu
Sebaik sahaja teksi lama itu memasuki lebuh raya menuju ke KLIA, aku memejamkan mata. Buat pertama kali sejak pagi tadi,
Aku menatap liontin di dalam kotak kayu itu tanpa mampu bergerak. Suara pesta seolah menghilang. Yang kudengar hanya detak jantungku
Pukul delapan lewat lima puluh delapan menit keesokan paginya, Rani sudah duduk di depan laptop. Rambutnya masih basah setelah mandi.
“Orang yang menghancurkan Wijaya Group adalah kakakmu sendiri, Adrian.” Suara mantan tunangan Adrian terdengar ringan, tetapi kalimat itu membuat suasana