“Jangan biarkan anak itu pulang sendirian malam ini.”
Ucapan Mbah Rukmini membuat semua orang yang berkumpul di halaman pesta pernikahan terdiam. Perempuan berusia hampir delapan puluh tahun itu menatap Dira dengan wajah tegang.
“Kenapa, Mbah?” tanya Pak Rahman, ayah Dira.
Mbah Rukmini tidak langsung menjawab. Ia justru meminta seseorang menutup pintu pagar bambu yang menghadap jalan kampung.
“Karena kalau benar yang dilihat Dira tadi adalah suanggi, ada kemungkinan dia akan datang mencari anak ini.”
Dira yang duduk dalam pelukan ibunya langsung menangis.
“Bu, aku takut. Aku nggak mau ketemu Nek Fatimah lagi.”
Ibunya, Bu Salmah, mengusap rambut putrinya.
“Tenang, Nak. Ibu di sini. Nggak akan ada yang menyakitimu.”
Pak Rahman sebenarnya tidak begitu percaya pada cerita makhluk gaib. Selama hidupnya sebagai nelayan, ia sudah mendengar banyak kisah aneh tentang laut, hutan bakau, dan orang-orang yang

dipercaya memiliki ilmu hitam.
Namun, malam itu, ketakutan Dira terlihat begitu nyata.
Tubuh anaknya masih gemetar. Bahkan setiap kali mendengar suara langkah kaki, Dira langsung bersembunyi di balik tubuh ibunya.
“Kita jangan langsung menuduh Nek Fatimah,” ujar Pak Rahman. “Bisa saja Dira salah melihat karena gelap dan kelelahan.”
“Aku nggak salah lihat, Pak!” seru Dira.
“Ayah percaya kamu melihat sesuatu yang membuatmu takut, Nak. Tapi kita harus cari tahu apa sebenarnya yang terjadi.”
Belum sempat percakapan itu berlanjut, seorang pemuda bernama Hasan datang berlari dari arah pantai.
“Pak Rahman! Pak Lurah!”
Napasnya tersengal.
“Ada apa, San?” tanya kepala desa.
“Pak Karim yang sakit itu… kondisinya tiba-tiba memburuk!”
Semua orang terkejut.
Pak Karim adalah lelaki berusia lima puluhan yang rumahnya tadi diintip Nek Fatimah. Sudah hampir dua minggu ia terbaring karena penyakit yang belum diketahui penyebabnya.
“Sekarang bagaimana keadaannya?” tanya Pak Rahman.
“Keluarganya sedang menyiapkan kendaraan untuk membawa beliau ke puskesmas. Tapi istrinya bilang, sebelum kondisinya memburuk, Pak Karim sempat berteriak menyuruh seseorang menjauh dari jendela.”
Dira langsung menutup kedua telinganya.
“Itu dia, Pak! Aku lihat Nek Fatimah di jendela rumah itu!”
Kerumunan mendadak gaduh.
Beberapa lelaki mengambil senter dan mengajak kepala desa mendatangi rumah Pak Karim.
Pak Rahman ingin ikut, tetapi Bu Salmah menahannya.
“Jangan tinggalkan kami.”
Pak Rahman memandang istrinya, kemudian berjongkok di depan Dira.
“Ayah cuma mau memastikan Pak Karim dapat pertolongan. Kamu tetap sama Ibu dan Mbah Rukmini, ya.”
Dira mengangguk dengan berat hati.
Rombongan itu berjalan menyusuri jalan tanah menuju rumah Pak Karim. Angin laut membuat daun-daun kelapa bergesekan, menimbulkan suara berisik di sepanjang perjalanan.
Ketika sampai, mereka mendapati istri Pak Karim menangis di teras.
“Pak Lurah, suami saya bilang ada perempuan berdiri di jendela. Padahal waktu saya periksa, nggak ada siapa-siapa!”
“Sekarang Pak Karim di mana?”
“Sudah dibawa ke puskesmas sama adiknya.”
Pak Rahman segera memeriksa bagian samping rumah.
Di bawah jendela terdapat tanah basah akibat hujan sore tadi.
Ia mengarahkan senter ke permukaannya.
Ada bekas pijakan sandal.
Bukan satu atau dua, melainkan beberapa jejak yang terlihat menuju halaman belakang.
“Pak Lurah, coba lihat ini.”
Kepala desa mendekat.
“Sepertinya memang ada orang yang berdiri di sini.”
Hasan menelan ludah.
“Jadi benar Nek Fatimah datang?”
“Belum tentu. Jejak sandal tidak bisa menjelaskan siapa pemiliknya.”
Namun, ketika mereka mengikuti jejak tersebut, Hasan menemukan sesuatu yang tersangkut pada pagar bambu.
Sehelai kain bermotif bunga berwarna cokelat.
Hasan mengenal motif itu.
“Pak… ini mirip kain yang biasa dipakai Nek Fatimah.”
Pak Rahman merasakan tengkuknya meremang.
Mereka memutuskan mendatangi rumah nenek tersebut.
Rumah Nek Fatimah berada di ujung gang sempit, tidak jauh dari sebuah kebun kelapa. Bangunannya sederhana, berdinding papan dengan atap genting tua.
Ketika rombongan tiba, pintu depan terlihat tertutup.
Pak Lurah mengetuk beberapa kali.
“Nek Fatimah! Ini saya, Lurah Hamid!”
Tidak ada jawaban.
Hasan mengarahkan senter ke jendela.
“Pak, sepertinya ada lampu menyala di dalam.”
Pak Lurah kembali mengetuk.
“Nek, kami cuma mau bertanya. Tolong buka pintunya.”
Setelah beberapa saat, terdengar suara langkah pelan dari dalam rumah.
Pintu akhirnya terbuka.
Nek Fatimah berdiri di ambang pintu dengan mengenakan kebaya lusuh dan kain batik cokelat.
Wajahnya tampak biasa saja.
“Lho, ada apa ramai-ramai malam begini?”
Pak Rahman memperhatikannya dengan saksama.
“Nek, tadi malam Nenek pergi ke pantai bersama Dira?”
“Iya. Saya minta ditemani karena perut saya sakit.”
“Setelah itu Nenek mampir ke rumah Pak Karim?”
Nek Fatimah terdiam.
Hanya sesaat, tetapi cukup membuat Hasan saling berpandangan dengan warga lainnya.
“Saya lewat depan rumahnya,” jawab nenek itu akhirnya.
“Kenapa berhenti di dekat jendela?”
“Saya dengar suara orang mengerang. Saya pikir Pak Karim butuh bantuan.”
“Kenapa Nenek nggak mengetuk pintu?”
Nek Fatimah mengusap wajahnya.
“Saya takut mengganggu keluarganya.”
Penjelasan itu terdengar masuk akal. Namun, Pak Rahman masih teringat cerita Dira tentang mulut yang terbuka lebar dan lidah yang menjulur masuk melalui jendela.
Ia mengeluarkan kain yang ditemukan Hasan.
“Ini milik Nenek?”
Nek Fatimah memandang kain tersebut.
Matanya sedikit membesar.
“Dari mana kalian dapat itu?”
“Di pagar belakang rumah Pak Karim.”
Nenek itu menatap mereka satu per satu.
Lalu, dengan suara nyaris berbisik, ia berkata, “Kalau begitu, kalian datang terlalu terlambat.”
Pak Rahman mengernyit.
“Maksud Nenek?”
Nek Fatimah tidak menjawab. Ia justru menoleh ke arah ruangan gelap di belakangnya.
“Pulanglah. Jangan bawa anak itu ke sini.”
Sebelum Pak Rahman sempat bertanya lagi, pintu ditutup rapat.
Hasan hendak mengetuk kembali, tetapi Pak Lurah menahannya.
“Sudah. Kita tidak boleh memaksa masuk tanpa alasan yang jelas. Besok kita bicarakan lagi.”
Mereka pun meninggalkan rumah tersebut.
Anehnya, ketika rombongan berjalan menjauh, Pak Rahman mendengar suara batuk dari dalam rumah Nek Fatimah.
Suara itu terdengar berat, seolah berasal dari seseorang yang sedang kesakitan.
Padahal, selama ini warga percaya Nek Fatimah tinggal sendirian.
Pagi harinya, kabar tentang kejadian di pesta pernikahan menyebar ke seluruh kampung.
Sebagian warga menganggap Dira terlalu ketakutan sehingga salah menafsirkan apa yang dilihatnya. Sebagian lainnya yakin ada sesuatu yang tidak wajar pada Nek Fatimah.
Namun, persoalan menjadi semakin rumit ketika Pak Karim meninggal dunia dua hari kemudian.
Keluarganya mengatakan kondisi Pak Karim memang sudah sangat lemah sebelum malam kejadian. Petugas kesehatan juga telah menyarankan pemeriksaan lanjutan.
Meski begitu, sebagian warga langsung menghubungkan kematiannya dengan kehadiran Nek Fatimah di jendela.
Kecurigaan berubah menjadi kemarahan.
Beberapa orang bahkan mendatangi rumah nenek itu sambil membawa kayu.
“Keluar, Fatimah!” teriak seorang lelaki.
“Kami tahu apa yang kamu lakukan!”
Pak Rahman yang mendengar keributan segera datang bersama kepala desa.
“Hentikan!” serunya.
“Pak Rahman, anak Bapak sendiri melihat kejadian itu!”
“Justru karena anak saya terlibat, saya nggak mau kita melakukan sesuatu yang nanti disesali!”
Ketika pintu rumah akhirnya terbuka, Nek Fatimah muncul dengan wajah pucat.
Di belakangnya berdiri seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun.
Semua warga terkejut.
Perempuan itu bertubuh kurus, berambut pendek, dan berjalan dengan bantuan tongkat.
“Siapa perempuan itu?” bisik Hasan.
Nek Fatimah menggenggam tangan perempuan tersebut.
“Ini Maryam. Anak saya.”
Pak Lurah terperanjat.
“Bukannya Maryam sudah lama tinggal di luar kota?”
“Dia pulang tiga bulan lalu. Sejak sakit, dia nggak mau bertemu orang.”
Maryam menunduk.
Kemudian ia mengucapkan sesuatu yang membuat kerumunan mendadak sunyi.
“Malam itu… yang datang ke rumah Pak Karim bukan cuma Ibu.”
Pak Rahman menatapnya tajam.
“Maksudmu?”
Maryam mulai menangis.
“Saya yang ikut sampai dekat rumahnya. Saya ingin bertemu Pak Karim.”
“Untuk apa?”
“Karena dia ayah kandung saya.”
Semua orang membeku.
Nek Fatimah memejamkan mata.
Selama puluhan tahun, ia menyembunyikan kenyataan bahwa Maryam adalah anak dari hubungannya dengan Pak Karim sebelum lelaki itu menikahi istrinya sekarang.
Maryam dibesarkan jauh dari kampung. Ketika kondisinya memburuk akibat penyakit kronis, ia kembali untuk tinggal bersama ibunya.
“Saya cuma ingin bertemu Ayah sekali lagi,” ucap Maryam. “Tapi saya takut keluarganya nggak menerima saya.”
“Jadi malam itu kalian mengintip lewat jendela?” tanya Pak Lurah.
Maryam mengangguk.
“Ibu menemani saya. Kami dengar Pak Karim mengerang kesakitan. Saya menangis. Ibu berusaha menenangkan saya.”
Pak Rahman menghela napas.
“Lalu bagaimana dengan cerita Dira?”
Nek Fatimah menatapnya.
“Saya nggak tahu apa yang dilihat anakmu. Waktu dia berteriak, saya juga kaget. Saya kira dia takut melihat Maryam yang berdiri di belakang saya.”
Pak Rahman terdiam.
Penjelasan tersebut menjawab sebagian pertanyaan, tetapi tidak semuanya.
Maryam kemudian menunjukkan sebuah selendang cokelat yang robek di bagian ujung.
Kain itu sama dengan yang ditemukan Hasan di pagar rumah Pak Karim.
Warga mulai saling berpandangan.
Namun, Pak Rahman masih teringat satu hal.
“Dira bilang Nenek mencium bau pisang goreng.”
Nek Fatimah tersenyum sedih.
“Itu makanan kesukaan Karim waktu muda. Dulu, setiap saya datang membawa pisang goreng, dia selalu bilang aromanya bisa tercium dari jauh.”
Maryam mengusap air mata.
“Malam itu Ibu bilang kalimat tersebut karena teringat masa lalu.”
Kerumunan perlahan membubarkan diri.
Tidak ada bukti bahwa Nek Fatimah telah mencelakai Pak Karim. Kepala desa juga mengingatkan warga agar berhenti menyebarkan tuduhan yang dapat membahayakan perempuan tua tersebut.
Pak Rahman pulang dengan perasaan campur aduk.
Malam harinya, ia duduk bersama Dira di teras.
“Nak, Ayah sudah bicara dengan Nek Fatimah.”
Dira langsung menegang.
“Ayah percaya aku bohong?”
“Nggak. Ayah percaya kamu sungguh ketakutan. Tapi kita belum tahu pasti apa yang kamu lihat.”
Dira terdiam cukup lama.
Kemudian ia bertanya, “Kalau Nek Fatimah bukan suanggi, kenapa lidahnya bisa sepanjang itu?”
Pak Rahman tidak punya jawaban.
Ia hanya merangkul putrinya.
“Kita nggak harus menemukan jawaban untuk semuanya malam ini. Yang penting kamu selamat.”
Beberapa minggu kemudian, Nek Fatimah dan Maryam meninggalkan desa untuk tinggal bersama kerabat mereka di kota.
Kehidupan kampung perlahan kembali normal.
Dira pun mulai berani keluar rumah pada malam hari, meskipun ia tidak pernah lagi berjalan sendirian menuju pantai.
Bertahun-tahun berlalu.
Ketika sudah dewasa, Dira sering mengingat kejadian tersebut sebagai pengalaman paling menakutkan dalam masa kecilnya.
Ia mengetahui bahwa cahaya bulan, rasa kantuk, ketakutan, dan bayangan dapat memengaruhi cara seseorang melihat sesuatu. Namun, ingatan tentang wajah Nek Fatimah di depan jendela masih terasa begitu jelas.
Suatu hari, Dira yang telah berusia tiga puluh tahun kembali ke kampung untuk menghadiri pemakaman seorang kerabat.
Seusai acara, ia bertemu Hasan yang kini sudah menjadi ayah tiga anak.
Mereka berbincang tentang masa kecil dan kejadian pada malam pesta pernikahan itu.
“Aku masih ingat kamu lari sampai pingsan,” kata Hasan.
Dira tersenyum tipis.
“Aku juga masih ingat semuanya.”
Hasan terdiam, kemudian mengeluarkan sebuah cerita yang belum pernah disampaikannya.
“Dira, ada sesuatu yang dulu nggak berani kuceritakan.”
“Apa?”
“Waktu kami datang ke rumah Nek Fatimah malam itu, aku mendengar suara orang batuk dari belakang rumah.”
“Iya, Ayahku juga pernah cerita.”
“Tapi besok paginya, Maryam bilang dia sedang berada di kamar depan sepanjang malam.”
Dira mengernyit.
“Mungkin Nek Fatimah yang batuk.”
Hasan menggeleng pelan.
“Bukan. Aku melihat seseorang berdiri di belakang rumahnya.”
“Siapa?”
“Seorang perempuan. Rambutnya panjang sampai pinggang. Dia berdiri di bawah pohon kelapa sambil memandang kami.”
Dira terdiam.
“Kenapa kamu nggak bilang waktu itu?”
“Karena aku pikir mungkin cuma bayangan. Tapi ketika kami berjalan pulang, aku menoleh sekali lagi.”
Hasan menelan ludah.
“Perempuan itu masih berdiri di sana.”
Dira merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
“Lalu?”
“Dia mengangkat wajah.”
Hasan memandang Dira dengan serius.
“Dan wajahnya… mirip sekali dengan wajahmu waktu masih kecil.”
Angin sore berembus melewati halaman.
Dira tidak mengatakan apa-apa.
Ia tahu tidak ada cara untuk membuktikan cerita Hasan setelah sekian lama. Bisa jadi lelaki itu juga salah melihat sesuatu dalam kegelapan, sebagaimana yang mungkin terjadi pada dirinya.
Namun, malam itu, ketika Dira berbaring di kamar masa kecilnya, ia teringat satu hal yang selama ini hampir terlupakan.
Sebelum mengajaknya ke pantai, Nek Fatimah pernah membungkuk dan berbisik sangat dekat ke telinganya.
“Nak, kalau nanti kamu melihat sesuatu yang aneh, jangan panggil namanya.”
Dulu, Dira mengira nenek itu hanya sedang mengigau.
Kini, setelah mendengar cerita Hasan, kalimat tersebut kembali menghantui pikirannya.
Menjelang tengah malam, Dira terbangun karena suara ketukan pelan di jendela.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia menahan napas.
Di luar, bulan purnama menyinari halaman rumah.
Dira bangkit perlahan dan berjalan mendekati jendela.
Namun, sebelum tangannya menyentuh tirai, terdengar suara perempuan tua dari luar.
“Dira, Nak… tolong antarkan Nenek ke pantai sebentar.”
Darah Dira seolah berhenti mengalir.
Suara itu persis seperti suara Nek Fatimah puluhan tahun lalu.
Ia mundur beberapa langkah, meraih ponsel, lalu menyalakan lampu kamar.
Ketukan langsung berhenti.
Ketika ayahnya datang setelah mendengar teriakannya, mereka memeriksa halaman bersama-sama.
Tidak ada siapa pun di sana.
Hanya daun-daun kering yang tertiup angin dan bayangan pohon mangga dari halaman tetangga.
Pak Rahman mencoba menenangkan putrinya.
“Mungkin kamu bermimpi, Nak.”
Dira ingin mempercayainya.
Namun, keesokan paginya, ia menemukan sebuah tongkat kayu tua tergeletak tepat di bawah jendela kamarnya.
Tongkat itu menyerupai tongkat yang pernah digunakan Nek Fatimah pada malam pesta pernikahan.
Dira tidak pernah mengetahui siapa yang meletakkannya di sana.
Ia juga tidak pernah menemukan penjelasan pasti mengenai sosok yang diduga dilihat Hasan puluhan tahun sebelumnya.
Sejak kejadian tersebut, Dira memilih tidak lagi mencari jawaban melalui cerita-cerita yang belum tentu benar.
Ia belajar bahwa ketakutan dapat membentuk ingatan, sementara rahasia manusia terkadang jauh lebih rumit daripada kisah makhluk gaib.
Meski demikian, ada satu hal yang selalu dilakukannya setiap kali pulang ke kampung.
Sebelum tidur, ia memastikan semua pintu dan jendela terkunci.
Bukan karena ia yakin Nek Fatimah adalah suanggi.
Melainkan karena sampai hari ini, ia masih mengingat suara perempuan tua yang pernah memintanya berjalan menuju pantai pada pukul tiga pagi.
Dan setiap kali bulan purnama muncul di atas laut, Dira selalu bertanya-tanya apakah malam itu ia benar-benar melihat sesuatu yang mustahil, atau justru menyaksikan sebuah rahasia yang tidak pernah sepenuhnya terungkap.
