Pesan dari Sarah masuk tepat ketika Dinda sedang menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya.
“Aku mau ketemu kamu. Ada sesuatu tentang Ibu yang selama ini belum kamu tahu.”
Dinda terpaku menatap layar ponselnya. Sudah hampir tiga tahun Sarah tidak pernah menghubunginya secara pribadi. Bahkan saat Lebaran, perempuan yang dahulu menjadi sahabat terdekatnya itu hanya membalas ucapan dengan kalimat pendek.
Kini, tiba-tiba Sarah meminta bertemu.
“Ada apa, Din?” tanya Fajar, suaminya, sambil meletakkan tas kerja di kursi.
Dinda menyerahkan ponselnya.
Fajar membaca pesan tersebut, lalu menghela napas.
“Kalau kamu belum siap, nggak usah dipaksakan.”

“Tapi dia bilang soal Ibu, Mas.”
Fajar terdiam. Sejak ibunya meninggal, hubungan keluarganya memang tidak pernah benar-benar pulih. Ia tahu istrinya masih menyimpan luka karena pernah dituduh menjadi penyebab memburuknya kesehatan almarhumah.
“Aku temani kalau kamu mau.”
Dinda menggeleng.
“Biar aku dengar sendiri dulu.”
Siang itu, mereka bertemu di sebuah kedai kopi kecil di pinggir Kota Yogyakarta. Sarah sudah menunggu ketika Dinda datang.
Perempuan itu tampak berbeda. Wajahnya lebih tirus, matanya sembap, dan kedua tangannya terus meremas tisu.
“Makasih sudah datang, Din.”
Dinda duduk di hadapannya.
“Kamu mau bicara apa?”
Sarah menunduk.
“Aku mau minta maaf.”
Kalimat itu membuat Dinda terdiam.
Selama bertahun-tahun, itulah kata-kata yang sebenarnya ingin ia dengar. Namun, ketika akhirnya diucapkan, Dinda justru tidak tahu harus menjawab apa.
“Maaf untuk yang mana, Sar?”
Sarah mengangkat wajah. Air matanya mulai menggenang.
“Untuk semuanya. Sejak kejadian mobil, sampai masalah Ibu.”
Dinda menarik napas panjang.
“Kalau soal mobil, aku masih nggak paham sampai sekarang. Suamimu yang mengizinkan kami pinjam. Kenapa setelah itu kalian malah membenci kami?”
Sarah menggigit bibirnya.
“Karena waktu itu aku berbohong.”
Dinda membeku.
“Maksudmu?”
Sarah mulai bercerita.
Ternyata, beberapa bulan sebelum pernikahan Dinda, rumah tangga Sarah sedang bermasalah. Suaminya, Rendra, memiliki banyak utang akibat usaha yang merugi. Mobil yang dipinjam Dinda bahkan sudah direncanakan untuk dijual guna menutup sebagian kewajiban tersebut.
Namun, Rendra tidak pernah menjelaskan keadaan keuangannya kepada keluarga.
“Dia sebenarnya kesal karena mobil itu dipakai saat calon pembeli mau melihatnya,” ujar Sarah. “Padahal dia sendiri yang bilang boleh dipinjam.”
“Kenapa dia nggak bilang dari awal?”
“Karena dia nggak mau orang tahu sedang butuh uang.”
Dinda menggeleng.
“Terus, apa hubungannya dengan aku?”
Sarah mulai menangis.
“Dia melampiaskan kemarahannya ke kamu dan Mas Fajar. Aku tahu itu salah. Tapi waktu itu aku justru membelanya.”
“Dan kamu membiarkan semua orang menyalahkan kami?”
Sarah mengangguk pelan.
“Aku takut rumah tanggaku makin kacau.”
Dinda menatap sahabat lamanya dengan perasaan campur aduk.
“Jadi selama ini kamu menjauh bukan karena aku melakukan kesalahan?”
“Bukan, Din. Aku malu. Setiap lihat kamu, aku teringat bagaimana aku diam ketika suamiku menjelek-jelekkan kalian.”
Dinda memandang ke luar jendela.
Bertahun-tahun ia bertanya-tanya tentang kesalahannya sendiri. Ia bahkan berkali-kali meminta maaf atas kejadian yang sebenarnya tidak pernah ia pahami.
Namun, ternyata bukan dirinya yang menjadi sumber masalah.
“Kenapa baru sekarang kamu cerita?”
Sarah membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
“Karena ada hal lain yang lebih berat.”
Dinda menatap amplop itu.
“Apa ini?”
“Barang peninggalan Ibu.”
Jantung Dinda berdegup lebih cepat.
Sarah mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul biru. Beberapa halamannya sudah menguning.
“Ibu menulis ini waktu tinggal di rumahku.”
Dinda tidak langsung menyentuhnya.
“Kenapa kamu memberikannya kepadaku?”
“Karena ada bagian tentang kamu.”
Sarah membuka halaman yang telah diberi pembatas.
Tulisan tangan almarhumah terlihat tidak rapi, seolah dibuat saat tubuhnya sedang lemah.
Dinda membaca perlahan.
Hari ini aku teringat Dinda. Seharusnya aku tidak menceritakan pertengkaran kami kepada keluarganya. Anak itu memang meninggikan suara, tetapi aku juga salah karena terlalu mencampuri urusan rumah tangganya.
Dinda berhenti membaca.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia melanjutkan.
Aku marah karena merasa tidak dihormati. Padahal, mungkin selama ini aku yang tidak pernah benar-benar mendengarkannya.
Air mata Dinda jatuh ke halaman buku.
“Kenapa… kenapa aku baru tahu sekarang?”
Sarah menutup wajahnya.
“Aku menemukan buku itu setelah Ibu meninggal. Tapi aku nggak berani memberikannya.”
“Kenapa?”
“Karena kalau keluarga membaca ini, mereka akan tahu bahwa cerita yang selama ini kami percayai tidak sepenuhnya benar.”
Dinda menatapnya tidak percaya.
“Jadi kamu sengaja menyimpannya selama tiga tahun?”
Sarah mengangguk sambil menangis.
“Aku pengecut, Din.”
Dinda menutup buku itu.
Dadanya terasa sesak. Selama bertahun-tahun, ia hidup dengan rasa bersalah. Setiap kali mengingat wajah ibu mertuanya, ia bertanya-tanya apakah pertengkaran mereka telah membuat perempuan itu begitu sedih hingga kesehatannya memburuk.
Bahkan saat anak-anaknya bertanya mengapa keluarga besar jarang berkunjung, Dinda kesulitan memberikan jawaban.
Kini, ada pengakuan dari almarhumah yang mengubah cara ia memandang masa lalu.
Namun, rasa sakit akibat tahun-tahun penuh prasangka tidak langsung menghilang.
“Aku butuh waktu, Sar.”
Sarah mengangguk.
“Aku ngerti.”
“Dan aku ingin Mas Fajar membaca buku ini.”
“Boleh. Itu memang hak kalian.”
Malamnya, Dinda menyerahkan buku tersebut kepada suaminya.
Fajar membaca setiap halaman dengan wajah semakin muram.
Ketika sampai pada tulisan tentang Dinda, ia menutup mulutnya dengan tangan.
“Ya Allah, Bu…”
Dinda duduk diam di sampingnya.
“Aku selama ini cuma ingin kamu percaya kalau aku nggak pernah memaki Ibu, Mas.”
Fajar menoleh.
“Aku percaya kamu.”
“Tapi kamu juga selalu bilang aku harus sabar. Harus mengalah. Harus memahami Ibu.”
Suara Dinda mulai bergetar.
“Sedangkan waktu aku yang disakiti, siapa yang membelaku?”
Pertanyaan itu membuat Fajar terdiam lama.
Akhirnya, ia menggenggam tangan istrinya.
“Maaf, Din. Aku pikir dengan diam, keadaan akan membaik. Ternyata diamku malah bikin kamu merasa sendirian.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Dinda menangis dalam pelukan suaminya tanpa berusaha menyembunyikan perasaannya.
Beberapa hari kemudian, Fajar mengajak Sarah bertemu bersama anggota keluarga yang selama ini sering membicarakan Dinda.
Ia memperlihatkan tulisan tangan ibunya.
Awalnya, suasana begitu tegang.
Seorang bibi bahkan langsung berkata, “Tapi bagaimanapun Dinda pernah membentak ibumu.”
Fajar mengangguk.
“Betul, Bu. Dinda juga mengakui itu. Tapi masalahnya bukan cuma soal dia meninggikan suara. Kita semua sudah bertahun-tahun menyalahkannya untuk sesuatu yang nggak pernah terbukti.”
“Siapa bilang nggak terbukti?”
“Dokter sudah menjelaskan Ibu punya penyakit yang membutuhkan pengobatan. Tidak ada dasar untuk mengatakan pertengkaran itu menyebabkan kematian Ibu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Sarah kemudian berdiri.
“Aku juga punya kesalahan. Selama ini aku membiarkan kalian berpikir buruk tentang Mbak Dinda. Padahal Ibu sendiri menyesali pertengkaran mereka.”
Salah seorang paman mengambil buku tersebut.
Ia membaca beberapa halaman, kemudian menghela napas.
“Kalau memang begini, berarti kita sudah terlalu jauh menghakimi.”
Namun, tidak semua orang langsung menerima kenyataan itu.
Ada yang tetap berpendapat bahwa Dinda seharusnya lebih banyak mengalah. Ada pula yang memilih diam tanpa meminta maaf.
Dinda tidak terkejut.
Ia sudah belajar bahwa kebenaran tidak selalu membuat semua orang berubah.
Seminggu kemudian, Sarah datang ke rumah Dinda membawa sepiring bolu pisang.
Dulu, makanan itu sering mereka buat bersama ketika masih remaja.
Dinda mempersilakannya masuk.
Mereka duduk di teras sementara anak-anak bermain di halaman.
“Mas Rendra tahu kamu datang?” tanya Dinda.
Sarah mengangguk.
“Kami sudah berpisah.”
Dinda menoleh cepat.
“Sejak kapan?”
“Enam bulan lalu.”
Sarah tersenyum pahit.
“Aku terlalu lama menutupi masalah rumah tanggaku. Utangnya semakin besar. Dia sering marah dan menyalahkan orang lain. Sampai akhirnya aku sadar, aku nggak bisa terus hidup seperti itu.”
Dinda mendengarkan tanpa menyela.
“Aku pernah menganggap kamu egois karena berani bilang tidak kepada Ibu,” lanjut Sarah. “Sekarang aku baru paham. Kamu cuma berusaha menjaga rumah tanggamu.”
Dinda menunduk.
“Aku juga banyak salah, Sar. Kadang kalau sudah kesal, nada bicaraku nggak terkontrol.”
“Tapi itu nggak berarti kamu pantas diperlakukan seperti musuh.”
Keduanya terdiam.
Angin sore menggerakkan daun mangga di halaman.
Lalu Sarah mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sebuah foto lama.
Dalam foto itu, Dinda dan Sarah masih remaja. Mereka mengenakan seragam sekolah, berdiri berpelukan di depan rumah sambil tertawa lebar.
Dinda tersenyum melihatnya.
“Ya ampun, ini waktu kita kelas dua SMA.”
Sarah tertawa kecil.
“Ingat nggak, dulu kita janji bakal jadi saudara selamanya?”
Dinda mengangguk.
“Ingat.”
“Aku malah jadi orang yang paling banyak bikin kamu sakit hati.”
Dinda menatap foto tersebut cukup lama.
“Menjadi saudara bukan berarti nggak pernah menyakiti, Sar. Tapi kalau ada masalah, seharusnya kita bicara. Bukan saling menjauh sampai bertahun-tahun.”
Sarah mengusap air matanya.
“Masih bisa nggak kita seperti dulu?”
Dinda tersenyum tipis.
“Mungkin nggak bisa persis seperti dulu. Kita sudah berubah. Banyak hal juga sudah terjadi.”
Sarah menunduk.
“Tapi kita bisa mulai dari hubungan yang lebih jujur.”
Perempuan itu langsung memeluk Dinda.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keduanya menangis bersama, bukan karena saling menyalahkan, melainkan karena akhirnya berani mengakui luka masing-masing.
Sebulan kemudian, Dinda menerima sebuah paket kecil tanpa nama pengirim.
Di dalamnya terdapat tasbih kayu, selembar foto almarhumah ibu mertuanya, dan surat yang ditulis dengan tangan.
Surat itu ternyata dititipkan almarhumah kepada seorang kerabat jauh sebelum meninggal, tetapi baru ditemukan ketika rumah kerabat tersebut sedang direnovasi.
Dinda membacanya dengan tangan gemetar.
Dinda, kalau suatu hari surat ini sampai kepadamu, Ibu ingin kamu tahu bahwa Ibu sebenarnya bangga melihatmu menjaga anak-anak dan rumah tanggamu. Ibu memang sering mengatur karena takut kehilangan tempat di hati Fajar. Ibu lupa bahwa setelah menikah, anak Ibu juga harus belajar menjadi suami yang baik.
Air mata Dinda mulai jatuh.
Ia melanjutkan.
Ibu tidak meminta kamu selalu mengalah. Ibu hanya berharap kamu dan Fajar tetap saling menjaga, bahkan ketika keluarga tidak selalu memahami kalian. Kalau Ibu belum sempat mengatakan ini secara langsung, maafkan Ibu.
Dinda memeluk surat itu erat.
Selama ini ia membayangkan ibu mertuanya meninggal dengan membawa kemarahan terhadap dirinya.
Ternyata, perempuan itu juga menyimpan penyesalan yang sama.
Malamnya, Dinda mengajak Fajar dan anak-anak berziarah.
Di depan makam, Dinda duduk cukup lama sambil memegang surat tersebut.
“Bu, Dinda sudah baca semuanya,” bisiknya.
Angin malam berembus lembut.
“Dinda juga minta maaf karena pernah meninggikan suara. Tapi sekarang Dinda mau berhenti menyalahkan diri sendiri.”
Fajar merangkul bahunya.
Anak bungsu mereka yang masih kecil tiba-tiba bertanya, “Bunda, kenapa Bunda menangis?”
Dinda mengusap air matanya dan tersenyum.
“Karena Bunda baru tahu kalau Nenek sebenarnya sayang sekali sama kita.”
Anak itu mengangguk polos.
“Kalau begitu, Bunda jangan sedih lagi.”
Dinda memeluk putranya.
Dalam perjalanan pulang, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dadanya terasa lebih lapang.
Bukan karena semua hubungan keluarga telah kembali seperti semula. Masih ada saudara yang menjaga jarak. Masih ada kenangan pahit yang tidak mungkin dihapus.
Namun, Dinda tidak lagi merasa harus membuktikan dirinya kepada setiap orang.
Ia sudah mengatakan yang sebenarnya. Ia telah mengakui kesalahannya sendiri. Dan kini, ia mengetahui bahwa almarhumah pun pernah berusaha memahami perasaannya.
Yang paling mengejutkan Dinda bukanlah kebohongan Sarah atau pengakuan dalam buku catatan itu.
Melainkan kenyataan bahwa dua perempuan yang selama ini dianggap saling membenci ternyata sama-sama ingin berdamai, tetapi terhalang oleh gengsi, rasa takut, dan cerita orang lain.
Sejak hari itu, Dinda menyimpan surat ibu mertuanya di dalam sebuah kotak kayu bersama foto pernikahan dan gambar-gambar anaknya.
Sesekali ia membukanya, bukan untuk mengenang pertengkaran, melainkan untuk mengingat sebuah pelajaran.
Bahwa keluarga tidak selalu menjadi tempat yang bebas dari luka. Bahwa memaafkan tidak berarti membenarkan semua perlakuan buruk. Dan bahwa terkadang, keberanian terbesar bukanlah bertahan dalam pertengkaran, melainkan mengakui kesalahan sebelum kesempatan untuk mengatakannya hilang selamanya.
Dinda akhirnya memahami bahwa kedamaian bukan datang ketika semua orang sepakat dirinya benar.
Kedamaian datang ketika ia tidak lagi membiarkan prasangka orang lain menentukan nilai dirinya, dan memilih membangun kehidupan yang lebih baik bersama orang-orang yang bersedia saling mendengarkan.
