
Sudah tiga bulan sejak Ibu meninggal, tetapi aku masih sering terbangun karena merasa mendengar suaranya memanggil namaku dari dapur.
“Nisa, sarapan dulu, Nak. Jangan berangkat kerja dengan perut kosong.”
Setiap kali membuka mata, yang kutemukan hanyalah kamar kos yang sunyi. Tidak ada Ibu. Tidak ada aroma teh hangat buatannya. Hanya hijab putih yang tergantung rapi di samping lemari.
Hijab dari gaji pertamaku.
Hadiah yang tidak pernah sempat dikenakannya.
Pagi itu, aku sedang bersiap berangkat kerja ketika ponselku berdering. Nama Bu Ratna, tetangga dekat Ibu, muncul di layar.
“Assalamualaikum, Nisa. Kamu ada waktu pulang kampung minggu ini?”
“Waalaikumsalam, Bu. Ada apa?”
“Rumah Ibumu mau dibersihkan, kan? Ada beberapa barang yang sebaiknya kamu periksa sendiri.”
Aku terdiam.
Sejak pemakaman, aku memang belum sanggup kembali ke rumah itu. Setiap sudutnya mengingatkanku pada Ibu.
“Baik, Bu. Sabtu saya pulang.”
Sebelum menutup telepon, Bu Ratna mengatakan sesuatu yang membuatku penasaran.
“Nisa, ada satu kotak yang dulu Ibumu titipkan kepada saya. Beliau bilang hanya boleh diberikan setelah kamu pulang.”
Jantungku berdebar.
“Kotak apa, Bu?”
“Nanti kamu lihat sendiri.”
Sabtu pagi, aku berangkat menggunakan bus pertama menuju kampung halaman.
Perjalanan yang biasanya terasa biasa saja kini membuat dadaku sesak. Setiap melewati pasar, masjid, dan deretan warung di pinggir jalan, aku teringat bagaimana Ibu selalu menunggu kedatanganku di depan pagar.
Namun, kali ini rumah itu menyambutku dengan pintu tertutup dan halaman yang mulai dipenuhi rumput liar.
Aku membuka pintu perlahan.
Aroma rumah Ibu masih sama.
Campuran kayu tua, minyak telon, dan sabun cuci yang selalu digunakannya.
Di meja ruang tamu, masih ada taplak bunga kesukaannya. Sandal rumahnya tersusun di dekat pintu kamar.
Aku menyentuh sandalnya perlahan.
“Bu, Nisa pulang.”
Tidak ada jawaban.
Air mataku langsung jatuh.
Tak lama kemudian, Bu Ratna datang membawa sebuah kotak kardus kecil.
“Ini titipan Ibumu.”
Aku menerimanya dengan tangan gemetar.
Di bagian atas kotak tertulis namaku menggunakan tulisan tangan Ibu.
Untuk Nisa, anak perempuan Ibu yang paling Ibu sayangi.
Aku duduk di lantai, lalu membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat beberapa foto masa kecilku, sebuah buku tabungan, dan amplop berwarna cokelat.
Namun, yang paling menarik perhatianku adalah sebuah hijab putih tua.
Hijab itu sudah menguning di beberapa bagian.
Aku mengenalinya.
Itulah hijab yang sering dipakai Ibu ketika mengantarku sekolah dasar.
“Kenapa Ibu menyimpan ini?” bisikku.
Bu Ratna duduk di sampingku.
“Ibumu pernah cerita soal hijab itu.”
Aku menoleh.
“Memangnya kenapa, Bu?”
Perempuan itu tersenyum sedih.
“Dulu, waktu kamu masih kelas tiga SD, kamu pernah bilang ingin membelikan Ibu hijab baru kalau sudah punya uang sendiri.”
Aku terdiam.
Ingatan samar mulai muncul.
Dulu, aku memang pernah melihat Ibu menjahit hijabnya yang robek. Aku menangis karena teman-teman sekolah mengejek pakaian Ibu yang sudah lusuh.
Saat itu aku memeluknya dan berjanji akan membelikan hijab paling bagus ketika sudah bekerja.
Aku bahkan sudah melupakan janji tersebut.
Namun, rupanya Ibu tidak pernah melupakannya.
Tanganku gemetar ketika membuka amplop cokelat.
Di dalamnya terdapat sepucuk surat.
“Nisa, anak Ibu tersayang.”
Aku berhenti membaca karena mataku mulai berkaca-kaca.
“Kalau kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sedang tidak ada di rumah, atau mungkin Ibu sudah pergi lebih dulu. Jangan sedih terlalu lama, ya, Nak.”
Aku menutup mulut.
“Ibu masih ingat waktu kamu kecil, kamu menangis karena melihat hijab Ibu robek. Kamu bilang suatu hari akan membelikan Ibu hijab putih yang cantik.”
Air mataku menetes ke kertas.
“Ketika kamu menelepon dan menawarkan hadiah dari gaji pertamamu, Ibu sebenarnya tidak membutuhkan apa-apa. Tapi Ibu sengaja meminta hijab putih karena ingin mengingatkanmu pada janji kecil yang pernah kamu buat.”
Aku menangis semakin keras.
Bu Ratna mengusap punggungku.
Aku melanjutkan membaca dengan suara bergetar.
“Namun, Nisa, Ibu tidak pernah ingin kamu merasa terbebani oleh janji itu. Bagi Ibu, melihatmu tumbuh menjadi perempuan yang mandiri sudah merupakan hadiah terbesar.”
Aku menunduk.
“Jangan pernah merasa bersalah kalau suatu hari kamu tidak sempat pulang. Ibu tahu kamu bekerja keras. Ibu selalu bangga kepadamu.”
Aku tidak sanggup membaca lebih jauh.
Selama tiga bulan, aku menyalahkan diriku sendiri karena terlambat pulang.
Aku menganggap diriku anak yang tidak berbakti.
Namun, ternyata Ibu bahkan tidak pernah menyalahkanku.
Setelah berhasil menenangkan diri, aku membuka buku tabungan yang tersimpan di dalam kotak.
Di halaman terakhir tercatat sejumlah uang yang tidak terlalu besar, tetapi cukup membuatku terkejut.
Ada dua puluh tujuh juta rupiah.
Aku menoleh kepada Bu Ratna.
“Bu, Ibu saya punya tabungan sebanyak ini?”
Bu Ratna mengangguk.
“Beliau menabung sedikit demi sedikit dari hasil menjahit dan menerima pesanan kue.”
Aku menatap buku itu.
Selama ini, aku tahu Ibu selalu berhemat. Namun, aku tidak pernah menyangka beliau menyimpan uang sebanyak itu.
“Katanya uang itu buat kamu,” lanjut Bu Ratna.
Aku segera membuka surat kedua yang terselip di dalam buku.
Di sana tertulis bahwa Ibu ingin aku menggunakan tabungannya untuk mengikuti pelatihan menjahit atau membuka usaha kecil jika suatu hari tidak ingin lagi bekerja sebagai karyawan.
“Jangan takut memulai sesuatu, Nak. Kalau gagal, kamu masih bisa mencoba lagi.”
Aku tersenyum di tengah tangis.
Begitulah Ibu.
Bahkan ketika sudah tidak ada, beliau masih memikirkan masa depanku.
Namun, ketika hendak merapikan isi kotak, aku menemukan sebuah foto yang membuatku terkejut.
Foto itu memperlihatkan Ibu sedang berdiri di depan sebuah toko pakaian muslim.
Di sampingnya ada seorang perempuan paruh baya yang tidak kukenal.
Di belakang foto tertulis tanggal.
Dua hari sebelum Ibu meninggal.
Aku memperhatikan foto tersebut cukup lama.
“Bu Ratna, Ibu sempat pergi ke toko hijab sebelum sakit?”
Bu Ratna terlihat terkejut.
“Memangnya kenapa?”
Aku menunjukkan foto itu.
Beliau mengamati sebentar, lalu mengangguk.
“Oh, itu toko Bu Salma. Ibumu memang sempat ke sana.”
“Untuk apa?”
Bu Ratna menghela napas.
“Katanya mau membeli sesuatu.”
Rasa penasaran membuatku mendatangi toko tersebut siang itu juga.
Toko Bu Salma terletak di dekat pasar kecamatan.
Ketika kutunjukkan foto Ibu, perempuan pemilik toko langsung mengenalinya.
“Oh, kamu anaknya Bu Aminah?”
“Iya, Bu.”
Wajah Bu Salma berubah sedih.
“Innalillahi. Saya sudah dengar kabar kepergian beliau.”
Aku mengangguk.
“Bu, saya mau tanya. Terakhir kali Ibu saya datang ke sini, beliau membeli apa?”
Bu Salma terdiam sebentar.
Kemudian ia berjalan menuju lemari kecil di belakang kasir.
Dari sana, ia mengambil sebuah kantong kertas berwarna krem.
“Ibumu menitipkan ini.”
Aku tertegun.
“Untuk saya?”
“Iya. Beliau bilang kalau anaknya datang, tolong diberikan.”
Tanganku gemetar ketika menerima kantong tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah hijab berwarna biru muda dengan bordir bunga kecil.
Persis warna kesukaanku.
Ada pula secarik kertas.
Aku membuka lipatannya.
“Nisa, kalau kamu membelikan Ibu hijab putih dari gaji pertamamu, Ibu juga ingin membelikanmu hijab dari hasil jahitan terakhir Ibu.”
Aku langsung menangis.
Bu Salma ikut berkaca-kaca.
“Ibumu datang sambil tersenyum, Nak. Katanya anaknya baru gajian dan mau membelikan hadiah.”
Aku menunduk.
“Beliau cerita banyak tentang kamu. Katanya kamu anak yang rajin dan selalu memikirkan orang lain.”
Aku memegang hijab biru itu erat-erat.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa pada saat yang sama ketika aku sibuk memilih hadiah untuk Ibu, ternyata beliau juga sedang memilih hadiah untukku.
Kami sama-sama ingin membuat satu sama lain bahagia.
Namun, takdir tidak memberi kami kesempatan untuk saling menyerahkan hadiah itu.
Malam harinya, aku kembali ke rumah Ibu.
Aku duduk di atas tempat tidurnya sambil memegang dua hijab.
Hijab putih yang kubeli.
Dan hijab biru yang dibelikannya.
Aku menaruh keduanya berdampingan.
“Bu, ternyata kita sama-sama punya kejutan, ya.”
Aku tersenyum sambil menangis.
Seandainya Ibu masih hidup, mungkin kami akan tertawa melihat betapa miripnya rencana kami.
Namun, sebelum tidur, aku menemukan satu bagian surat yang belum kubaca.
Di bagian paling bawah, Ibu menulis sebuah kalimat.
“Nisa, kalau suatu hari kamu punya anak, jangan ajarkan dia bahwa cinta harus selalu dibuktikan dengan hadiah. Ajarkan bahwa hadir, mendengarkan, dan saling menjaga jauh lebih berharga.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Pagi berikutnya, aku pergi berziarah.
Kali ini aku mengenakan hijab biru pemberian Ibu.
Di depan makamnya, aku duduk cukup lama.
“Bu, Nisa sudah pakai hijabnya.”
Angin pagi berembus perlahan.
Aku mengusap ujung kain yang membingkai wajahku.
“Bagus, kan, Bu?”
Air mataku jatuh, tetapi kali ini ada senyum di bibirku.
Beberapa minggu setelah kembali bekerja, aku memutuskan menggunakan sebagian tabungan peninggalan Ibu untuk mengikuti pelatihan menjahit pada akhir pekan.
Aku ingin meneruskan keterampilan yang selama ini menjadi sumber penghidupannya.
Sisa uangnya kusimpan dengan baik.
Setahun kemudian, aku berhasil membuka usaha kecil yang menjual hijab dan pakaian muslim buatan sendiri secara daring.
Aku menamai usahaku Hijab Aminah, menggunakan nama Ibu.
Produk pertama yang kujual adalah hijab putih sederhana dengan bordir kecil di bagian tepi.
Modelnya terinspirasi dari hadiah yang tidak pernah sempat Ibu kenakan.
Aku tidak menyangka pesanan mulai berdatangan dari berbagai kota.
Namun, yang paling membahagiakanku bukanlah ketika jumlah penjualan meningkat.
Melainkan ketika seorang pelanggan mengirim pesan bahwa ia membeli hijab tersebut untuk ibunya yang sedang sakit.
“Terima kasih, Kak. Ibu saya senang sekali. Sudah lama beliau ingin hijab putih seperti ini.”
Aku membaca pesan itu dengan mata berkaca-kaca.
Tiba-tiba aku teringat diriku sendiri setahun lalu.
Perempuan yang begitu sibuk bekerja sampai tidak sempat memberikan hadiah sederhana kepada ibunya.
Aku segera membalas pesan pelanggan tersebut.
“Semoga ibunya lekas sehat. Kalau ada kesempatan, jangan lupa luangkan waktu untuk duduk dan bercerita dengannya.”
Malam itu, setelah seluruh pesanan selesai dikemas, aku membuka lemari kecil di ruang kerja.
Di sana tersimpan kotak berisi hijab putih yang dulu kubeli untuk Ibu.
Aku tidak pernah menjualnya.
Tidak pernah memberikannya kepada siapa pun.
Sebab, hijab itu bukan lagi sekadar hadiah yang terlambat sampai.
Ia telah menjadi pengingat tentang cinta yang tidak pernah meminta balasan.
Aku kemudian mengambil hijab biru pemberian Ibu dan mengenakannya di depan cermin.
Dalam pantulan kaca, aku melihat seorang perempuan yang kini jauh lebih dewasa daripada setahun lalu.
Aku tersenyum kecil.
“Bu, Nisa sudah bisa menjahit sekarang.”
Seandainya Ibu masih ada, mungkin beliau akan tertawa sambil mengomentari jahitanku yang belum serapi buatannya.
Aku membayangkan beliau duduk di sebelah mesin jahit, mengajariku memasang benang sambil sesekali mengingatkan agar tidak terlalu terburu-buru.
Kenangan itu terasa begitu nyata hingga air mataku kembali mengalir.
Namun, kali ini aku tidak lagi menangis karena merasa bersalah.
Aku menangis karena rindu.
Dan aku mulai memahami bahwa rindu tidak selalu harus disertai penyesalan.
Beberapa hari kemudian, Bu Ratna mengirimkan sebuah rekaman suara lama melalui WhatsApp.
Katanya, rekaman itu dibuat ketika Ibu sedang belajar mengirim pesan suara menggunakan ponselnya.
Aku memutarnya.
Suara Ibu terdengar pelan, diselingi tawa kecil.
“Nisa, ini Ibu. Ibu lagi belajar kirim suara. Kalau kedengaran, nanti bilang, ya. Jangan lupa makan. Jangan terlalu capek kerja. Ibu sayang kamu.”
Aku memeluk ponsel ke dada.
Untuk beberapa saat, rasanya seperti Ibu kembali berada di dekatku.
Aku memutar rekaman itu sekali lagi.
Kemudian sekali lagi.
Sampai akhirnya aku tersenyum sambil menghapus air mata.
“Sayang Ibu juga.”
Sejak hari itu, setiap kali merasa lelah atau kehilangan semangat, aku mendengarkan rekaman tersebut.
Bukan untuk berpura-pura bahwa Ibu masih hidup.
Melainkan untuk mengingat bahwa kasih sayangnya tidak ikut hilang ketika beliau pergi.
Aku memang tidak pernah berhasil menyerahkan hijab putih itu langsung ke tangan Ibu.
Namun, Ibu telah meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada hadiah apa pun.
Beliau mengajariku bahwa cinta tidak diukur dari seberapa mahal sesuatu yang mampu kita berikan, melainkan dari ketulusan ketika kita memberikannya.
Dan yang paling penting, beliau mengajariku untuk tetap menjalani hidup tanpa terus-menerus menghukum diri atas kesempatan yang sudah berlalu.
Kini, setiap kali melihat hijab putih yang tersimpan di lemari, aku tidak lagi hanya mengingat hari ketika aku kehilangan Ibu.
Aku juga mengingat Jumat sore ketika gaji pertamaku cair.
Saat aku meneleponnya dengan penuh semangat, dan beliau tertawa bahagia mendengar kabarku.
Ternyata, bahkan sebelum hadiah itu sampai, aku sudah memberikan kebahagiaan kepadanya.
Bukan melalui selembar kain putih.
Melainkan melalui kabar sederhana bahwa anak perempuan yang dibesarkannya dengan susah payah akhirnya mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Dan mungkin, itulah hadiah yang sebenarnya paling Ibu tunggu sepanjang hidupnya.
