Pagi itu, untuk pertama kalinya selama tiga tahun pernikahan kami, aku meninggalkan rumah tanpa cincin kawin di jari.
Aku mengira pemandangan Nadira mengenakan kemeja suamiku di ranjang kami adalah penghinaan terbesar yang akan kuterima hari itu.
Ternyata aku salah.
Jauh lebih salah daripada yang bisa kubayangkan.
Begitu tiba di kantor, aku langsung meminta staf mencetak ulang berkas perkara yang terkena susu. Untungnya semua dokumen sudah dipindai. Sidang berjalan hampir dua jam, dan selama itu aku memaksa diriku melupakan apa yang terjadi di rumah.
Aku berhasil.
Sampai ponselku bergetar saat aku kembali ke ruangan.
Pesan dari bank.
Transaksi sebesar Rp450 juta telah dilakukan dari rekening bersama atas nama Arga Pratama.
Aku membaca nominal itu tiga kali.
Rekening bersama kami bukan rekening belanja sehari-hari. Itu tabungan yang kami kumpulkan untuk membeli rumah yang lebih besar tahun depan.
Aku segera membuka aplikasi perbankan.
Benar.
Rp450 juta keluar tiga hari lalu.
Tujuan transfernya membuat ujung jariku membeku.
Nadira Kusuma.
Aku menelepon Arga.
Sekali.
Dua kali.

Tiga kali.
Tidak dijawab.
Lima menit kemudian sebuah pesan masuk.
Aku sedang rapat. Nanti kita bicara.
Aku menatap kalimat itu lama.
Lalu membalas.
Tentang Rp450 juta?
Tanda bahwa pesan telah dibaca muncul hampir seketika.
Namun Arga tidak menjawab.
Saat itulah naluri pengacaraku mengambil alih.
Selama bertahun-tahun aku mengajari klien untuk tidak mengambil keputusan besar ketika sedang marah. Simpan bukti. Periksa dokumen. Pahami posisi hukum. Baru bergerak.
Aneh rasanya harus memberikan nasihat yang sama kepada diriku sendiri.
Aku membuka laporan rekening enam bulan terakhir.
Semakin lama aku memeriksa, semakin dingin tanganku.
Bukan hanya Rp450 juta.
Ada transfer Rp25 juta dua bulan lalu.
Rp40 juta bulan berikutnya.
Rp75 juta tiga minggu lalu.
Semuanya masuk ke rekening Nadira.
Totalnya hampir Rp600 juta.
Aku bersandar di kursi.
Nadira tidak baru datang ke Jakarta kemarin.
Setidaknya Arga sudah berhubungan dengannya selama berbulan-bulan.
Teleponku berdering.
Arga.
“Aku bisa jelaskan.”
Aku tertawa pendek.
“Bagus. Mulai dari enam ratus juta.”
“Itu pinjaman.”
“Dari rekening kita?”
“Nadira sedang punya masalah.”
“Dan aku tidak?”
“Maya, tolong jangan emosional.”
Aku menutup mata.
Kalimat itu.
Aku sudah mendengarnya ratusan kali dari suami-suami klienku.
Jangan emosional.
Biasanya diucapkan setelah mereka melakukan sesuatu yang secara rasional memang pantas membuat istrinya marah.
“Aku cuma ingin satu jawaban,” kataku. “Sejak kapan kamu bertemu lagi dengannya?”
Arga diam.
“Sejak kapan?”
“Sekitar tujuh bulan.”
Aku merasakan sesuatu jatuh di dalam dadaku.
Tujuh bulan.
Tujuh bulan lalu Arga mulai sering pulang terlambat.
Tujuh bulan lalu ia membatalkan liburan ulang tahunku karena katanya ada proyek besar.
Tujuh bulan lalu ia mulai membawa ponselnya bahkan ketika mandi.
“Apakah kalian berselingkuh?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
“Dimas itu anak siapa?”
Kali ini keheningan di seberang jauh lebih panjang.
Aku berdiri perlahan.
“Arga.”
“Maya, jangan membuat kesimpulan.”
“Anak siapa Dimas?”
“Aku tidak tahu.”
Aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena terkadang tubuh manusia punya cara aneh untuk bertahan ketika hati sedang dihancurkan.
“Bagaimana mungkin kamu tidak tahu?”
“Nadira bilang ada kemungkinan…”
Ia berhenti.
“Ada kemungkinan apa?”
“Dimas anakku.”
Dunia seolah mengecil menjadi suara pendingin ruangan.
Aku tidak menangis.
Tidak berteriak.
Aku hanya bertanya, “Kamu sudah tes DNA?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Nadira takut mantan suaminya tahu.”
Aku menutup telepon.
Lalu duduk.
Untuk pertama kalinya hari itu, tanganku benar-benar gemetar.
Namun beberapa menit kemudian aku membuka laptop lagi.
Kalau Dimas memang berusia sekitar tiga tahun, waktunya terlalu dekat dengan awal hubunganku bersama Arga.
Aku dan Arga berpacaran hampir setahun sebelum menikah.
Artinya jika Dimas benar-benar anak Arga, ada kemungkinan hubungan mereka tidak pernah benar-benar berakhir ketika hubungan kami dimulai.
Aku memeriksa kalender lama, foto, bahkan percakapan yang masih tersimpan.
Kemudian aku menemukan sesuatu.
Empat tahun lalu.
Sebuah foto makan malam pertamaku bersama Arga.
Tanggalnya hanya berselisih dua minggu dari tanggal sebuah foto lama Nadira yang pernah kulihat di media sosial, foto dirinya bersama Arga di Bali.
Aku merasa mual.
Sore itu aku pulang lebih cepat.
Nadira sedang duduk di ruang keluarga ketika aku masuk. Dimas bermain mobil-mobilan di karpet.
Arga belum pulang.
Bagus.
Aku meletakkan tas.
“Kita bicara.”
Wajah Nadira berubah.
“Maya…”
“Berapa umur Dimas?”
“Tiga tahun dua bulan.”
“Arga ayahnya?”
Ia menunduk.
“Aku tidak tahu.”
“Jawaban itu sedang populer rupanya.”
Aku duduk di hadapannya.
“Aku sudah tahu soal uang.”
Nadira mendongak cepat.
“Arga yang memberikannya. Aku tidak pernah memaksa.”
“Hampir enam ratus juta?”
“Aku akan mengembalikannya.”
“Dengan apa?”
Ia terdiam.
Aku mengeluarkan ponsel dan membuka bukti transaksi.
“Nadira, aku bekerja sebagai pengacara perceraian. Jadi jangan memainkan peran perempuan lemah di depanku. Kalau kamu mau tetap tinggal di rumah ini sampai anakmu sembuh, aku tidak akan menyeret anak sakit keluar. Tapi kamu akan menjawab pertanyaanku dengan jujur.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Apakah kamu dan Arga tidur bersama selama tujuh bulan terakhir?”
“Tidak.”
“Apakah kalian pernah?”
Ia menggigit bibir.
“Sekali.”
Dadaku terasa seperti ditusuk.
“Kapan?”
“Malam ketika ibunya meninggal.”
Aku langsung teringat.
Lima bulan lalu.
Arga pulang hampir pukul tiga pagi. Ia mengatakan menemani teman lama yang kehilangan anggota keluarga.
Ternyata keluarga yang meninggal memang ada.
Hanya saja aku tidak tahu apa yang terjadi setelah pemakaman.
“Dia bilang kalian sedang banyak masalah,” bisik Nadira.
Aku tersenyum pahit.
“Tentu saja.”
“Maya, aku tidak berniat mengambil suamimu.”
“Perempuan yang tidak berniat mengambil suami orang biasanya tidak tidur dengannya.”
Ia menangis.
Aku tidak peduli.
Namun kalimat berikutnya membuatku terdiam.
“Aku datang bukan karena ingin Arga kembali.”
“Lalu?”
Nadira memandang ke arah Dimas.
“Karena mantan suamiku menemukan hasil tes lama.”
“Hasil tes apa?”
Sebelum ia menjawab, pintu terbuka.
Arga masuk.
Begitu melihat kami, wajahnya langsung tegang.
“Nadira.”
Satu kata itu terdengar seperti peringatan.
Aku berdiri.
“Hasil tes apa?”
“Tidak ada,” kata Arga.
Nadira memucat.
Aku menatap keduanya bergantian.
“Sekarang aku benar-benar ingin tahu.”
Arga berjalan mendekat.
“Kita bicara berdua.”
“Tidak. Kita bicara bertiga.”
“Maya.”
“Aku sudah tahu kalian tidur bersama.”
Wajah Arga kehilangan warna.
Nadira mulai menangis lagi.
“Aku mabuk malam itu,” kata Arga.
“Menarik. Alkohol ternyata bisa membuka kancing celana sekaligus menghapus status pernikahan.”
“Maya!”
Dimas yang sedang bermain langsung terkejut.
Aku menurunkan suara.
Bukan demi mereka.
Demi anak kecil yang tidak bersalah.
“Aku mau hasil tes itu.”
Arga mengusap wajah.
Akhirnya Nadira berdiri dan mengambil sebuah amplop dari kopernya.
Arga mencoba menghentikannya.
“Nadira, jangan.”
Terlambat.
Aku mengambil kertas di dalamnya.
Tes DNA.
Laboratorium swasta di Singapura.
Nama anak: Dimas Kusuma.
Nama yang diuji sebagai ayah biologis bukan Arga Pratama.
Aku membaca nama itu.
Kemudian menatap Arga.
“Ini siapa?”
Arga menutup mata.
Nadira menjawab pelan.
“Rendra Pratama.”
Aku membutuhkan beberapa detik.
Lalu aku mengerti.
Rendra.
Kakak laki-laki Arga.
Orang yang meninggal dalam kecelakaan empat tahun lalu.
Aku kembali membaca dokumen.
Probabilitas hubungan biologis 99,98 persen.
Dimas bukan anak Arga.
Ia keponakannya.
“Kenapa kamu bilang mungkin Dimas anakmu?”
Aku menatap Arga.
Tidak ada jawaban.
Nadira akhirnya berbicara.
“Karena Arga takut keluarganya tahu.”
“Tahu apa?”
“Bahwa sebelum meninggal, Rendra punya hubungan denganku.”
Aku hampir tidak percaya.
Ternyata selama Nadira berpacaran dengan Arga, ia juga pernah terlibat dengan Rendra.
Hubungan itu terjadi ketika Arga dan Nadira sedang putus sementara.
Nadira hamil beberapa minggu sebelum Rendra meninggal.
Namun karena takut pada keluarga Pratama, ia menerima lamaran laki-laki lain dan membiarkan suaminya mengira Dimas adalah anak kandungnya.
Tiga tahun kemudian, mantan suaminya menemukan hasil tes DNA.
Ia marah.
Mengancam membongkar semuanya.
Dan meminta uang.
“Jadi enam ratus juta itu uang tutup mulut?”
Aku bertanya.
Arga mengangguk.
“Sebagian.”
“Sebagian?”
Aku tertawa pelan.
“Berapa banyak kebohongan yang masih belum kuketahui?”
Arga mendekat.
“Aku melakukan ini untuk melindungi keluarga.”
“Tidak. Kamu melakukan ini untuk melindungi rahasiamu.”
“Apa bedanya?”
“Bedanya, keluarga seharusnya termasuk aku.”
Ia terdiam.
Aku menatap laki-laki itu dan tiba-tiba menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada perselingkuhan.
Selama tiga tahun, Arga tidak pernah benar-benar menganggapku bagian dari hidup yang harus ia lindungi.
Aku hanyalah seseorang yang diharapkan memahami setiap keputusannya.
“Besok Nadira dan Dimas pindah,” kataku.
Arga menggeleng.
“Mereka belum aman.”
“Aku sudah menghubungi sebuah apartemen servis. Aku bayar satu bulan.”
Nadira menatapku terkejut.
“Kenapa kamu…”
“Bukan untukmu. Untuk Dimas.”
Aku lalu menatap Arga.
“Dan kamu ikut pergi.”
“Maya.”
“Rumah ini atas namaku. Dibeli sebelum kita menikah.”
Ia membeku.
Mungkin baru saat itu ia mengingat bahwa istrinya bukan hanya perempuan yang selama ini menyiapkan makan malam dan menunggu kepulangannya.
Aku juga pengacara yang sangat memahami setiap dokumen yang pernah kutandatangani.
“Aku melakukan satu kesalahan,” kataku. “Aku terlalu lama percaya bahwa mengetahui hukum membuatku kebal dari hal-hal yang dialami klienku.”
Air mata akhirnya menggenang di mataku.
“Ternyata tidak.”
Arga mendekat.
“Aku masih mencintaimu.”
Aku menggeleng.
“Cinta yang mengharuskan satu orang terus memaafkan sementara orang lain terus menyembunyikan sesuatu bukan cinta. Itu kenyamanan.”
Malam itu Arga pergi.
Nadira dan Dimas pindah keesokan paginya.
Tiga minggu kemudian aku mengajukan gugatan cerai.
Arga tidak melawan.
Namun kejutan terakhir datang dua bulan kemudian.
Aku sedang membereskan dokumen lama ketika menerima telepon dari Nadira.
Suaranya gemetar.
“Maya, mantan suamiku ditangkap.”
“Karena pemerasan?”
“Bukan cuma itu.”
Ia menarik napas.
“Polisi menemukan rekening tempat Arga mentransfer uang. Ternyata uang itu tidak semuanya masuk kepadanya.”
Aku diam.
“Sebagian dikembalikan ke rekening perusahaan milik Arga.”
Aku langsung memahami maksudnya.
Transfer kepada Nadira ternyata digunakan untuk membuat transaksi palsu agar Arga dapat menarik dana dari rekening bersama kami tanpa terlihat seperti mengambil uang untuk bisnisnya yang sedang kesulitan.
Nadira memang menerima uang.
Tetapi ratusan juta kemudian dialihkan kembali melalui beberapa rekening.
Arga tidak hanya berbohong tentang perempuan lain.
Ia juga menggunakan masalah Nadira sebagai kedok untuk mengambil tabungan kami.
Beberapa bulan kemudian, proses perceraian selesai.
Arga kehilangan perusahaannya setelah audit menemukan masalah keuangan yang jauh lebih besar.
Nadira pindah ke Bandung bersama Dimas dan mulai bekerja lagi.
Aku tidak pernah menjadi temannya.
Namun aku juga berhenti membencinya.
Karena pada akhirnya aku memahami sesuatu.
Nadira memang masuk ke rumahku mengenakan kemeja suamiku.
Tetapi dialah yang tanpa sengaja membuka pintu menuju semua kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Setahun setelah perceraian, aku kembali melewati toko kue tempat aku membeli kue ulang tahun pernikahan kami.
Aku berhenti.
Masuk.
Dan membeli satu kue kecil.
Kasir bertanya tulisan apa yang ingin kutambahkan di atasnya.
Aku berpikir sebentar.
Lalu tersenyum.
“Tulis saja, Selamat Satu Tahun.”
Kasir tampak bingung.
“Satu tahun apa, Kak?”
Aku melihat pantulan diriku di kaca etalase.
Tidak ada cincin.
Tidak ada Arga.
Tidak ada perempuan lain yang harus kupahami.
Hanya aku.
“Satu tahun sejak aku memilih diriku sendiri.”
Untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terdengar seperti akhir sebuah pernikahan.
Melainkan awal dari hidup yang seharusnya sejak dulu menjadi milikku.
