Aku baru tahu betapa mahal harga dua belas menit ketika dokter jaga menatap monitor di ruang bersalin dan wajahnya mendadak berubah.
“Bu Nadia, sejak kapan perdarahannya?”
Aku berusaha menjawab, tetapi napasku tersengal.
“Sekitar… satu jam lebih.”
Dokter perempuan bernama dr. Maya itu langsung menoleh kepada Ardi.
“Kenapa baru dibawa sekarang?”
Ardi membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Aku memalingkan wajah.
Aku terlalu lelah untuk menjelaskan bahwa sepanjang satu jam terakhir, keputusan tentang tubuhku seolah harus mendapatkan persetujuan seorang perempuan bernama Rina.
Seorang perawat memasang infus di tanganku. Perawat lain menempelkan alat pemantau di perutku.
Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi.
Aku menatap monitor.
“Dok, anak saya bagaimana?”
Dr. Maya tidak langsung menjawab.
Dia menggerakkan alat pemeriksaan, lalu memanggil dokter lain.
“Denyut jantung janin melambat. Kita harus bertindak cepat.”
Jantungku serasa jatuh.
“Apa maksudnya?”

“Kami mencurigai ada masalah pada plasenta. Ibu mengalami perdarahan dan kondisi bayi menunjukkan tanda gawat janin. Kami perlu melakukan operasi sesar darurat.”
Aku mengangguk tanpa berpikir.
“Lakukan apa saja. Tolong selamatkan anak saya.”
Ardi mendekat.
“Nad…”
Aku menepis tangannya.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak ingin disentuh olehnya.
Dokter menyerahkan beberapa dokumen persetujuan. Tangan Ardi gemetar ketika menandatangani.
Saat itulah ponselnya berbunyi lagi.
Aku mengenali nada notifikasi itu.
WhatsApp.
Ardi mengeluarkan ponselnya.
Nama Rina muncul di layar.
Rin.
Ada pesan baru.
Sudah sampai? Jangan langsung setuju operasi kalau belum benar-benar perlu. Rumah sakit kadang terlalu cepat menyarankan sesar.
Aku membaca pesan itu dari tempat tidur.
Entah dari mana tenagaku datang, aku langsung meraih ponsel Ardi dan melemparkannya ke lantai.
“Cukup!”
Semua orang di ruangan menoleh.
Air mataku akhirnya pecah.
“Kalau kamu masih mau tanya Rina, keluar dari ruangan ini!”
“Nad, aku cuma…”
“Keluar!”
Ardi berdiri membeku.
“Anak kita hampir kehilangan nyawa dan kamu masih membaca pesan dia?”
Seorang perawat memegang bahuku.
“Ibu, coba tenang. Kami harus segera membawa Ibu ke ruang operasi.”
Aku menatap Ardi untuk terakhir kalinya sebelum tempat tidurku didorong keluar.
Wajahnya pucat.
Namun saat itu aku tidak lagi peduli.
Lampu-lampu di langit-langit rumah sakit bergerak melewati pandanganku.
Satu.
Dua.
Tiga.
Aku memejamkan mata sambil memegang perutku.
“Tolong bertahan, Sayang,” bisikku. “Mama sudah di sini.”
Setelah itu semuanya berlangsung seperti mimpi buruk.
Suara alat medis.
Lampu putih.
Orang-orang berbicara cepat.
Tubuhku menggigil.
Aku terus menunggu satu suara.
Tangisan.
Namun ketika bayi itu akhirnya dikeluarkan, aku tidak langsung mendengar apa pun.
Aku menahan napas.
“Kenapa dia tidak menangis?”
Tidak ada yang menjawab.
“Dok?”
Beberapa tenaga medis berkumpul di sisi lain ruangan.
Aku tidak bisa melihat wajah bayiku.
“Anak saya kenapa?”
Detik-detik berikutnya terasa seperti bertahun-tahun.
Lalu akhirnya terdengar suara kecil.
Pelan.
Serak.
Tetapi nyata.
Tangisan.
Aku langsung menangis.
“Anak saya…”
Seorang dokter mendekat.
“Bayinya perempuan. Saat lahir kondisinya lemah dan perlu bantuan napas. Tim neonatal akan membawanya ke NICU.”
“Boleh saya lihat?”
Hanya beberapa detik.
Tubuh kecil itu diperlihatkan kepadaku sebelum dibawa pergi.
Wajahnya mungil.
Matanya tertutup.
Ada selang kecil di dekat hidungnya.
Aku ingin menyentuhnya, tetapi tanganku gemetar.
“Namanya Kirana,” bisikku.
Itu nama yang sudah kupilih sejak usia kandunganku tujuh bulan.
Kirana.
Cahaya.
Aku tidak tahu apakah dia mendengarku.
Ketika aku terbangun beberapa jam kemudian, matahari sudah muncul.
Ardi duduk di kursi dekat jendela.
Kepalanya tertunduk.
Aku langsung bertanya, “Kirana?”
“Di NICU.”
“Bagaimana kondisinya?”
“Dokter bilang stabil, tapi masih harus dipantau.”
Aku mengembuskan napas panjang.
Baru setelah itu aku menyadari Ardi menangis.
“Nad…”
Aku tidak menjawab.
“Dokter bilang kalau kita datang lebih terlambat…”
“Jangan.”
“Tolong dengarkan aku.”
“Aku bilang jangan.”
Ardi mengangkat wajah.
“Aku salah.”
Aku menatapnya.
Kalimat itu seharusnya membuatku merasa lebih baik.
Ternyata tidak.
“Berapa kali?”
“Apa?”
“Berapa kali aku bilang mau ke rumah sakit?”
Dia diam.
“Berapa kali aku bilang anak kita tidak bergerak?”
“Nad…”
“Berapa kali aku meminta kamu percaya padaku?”
Air mata kembali mengalir di wajahnya.
“Aku panik.”
Aku tertawa kecil.
“Tidak. Kamu tidak panik.”
Ardi menatapku.
“Kamu justru tenang setiap kali Rina bilang semuanya baik-baik saja.”
Dia menunduk.
Aku menatap langit-langit.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu.”
Hari itu dokter menjelaskan bahwa aku mengalami solusio plasenta, kondisi ketika plasenta terlepas sebelum bayi lahir. Tidak semua perdarahan dalam kehamilan berarti kondisi itu, tetapi dalam kasusku, perdarahan disertai perubahan gerakan janin memang membutuhkan pemeriksaan segera.
Aku hanya memikirkan satu hal.
Rumah sakit yang kami lewati.
Dua koma tiga kilometer.
Aku bertanya kepada dokter, “Kalau tadi kami langsung ke rumah sakit terdekat, apakah kondisinya akan berbeda?”
Dr. Maya terdiam sejenak.
“Kami tidak bisa memastikan hasil dari sesuatu yang tidak terjadi. Yang terpenting sekarang bayi Ibu sudah mendapatkan penanganan.”
Jawaban itu profesional.
Namun cukup untuk membuatku memahami bahwa waktu memang berarti.
Sore harinya, seorang perempuan datang membawa buket bunga.
Rina.
Dia mengenakan kemeja putih dan celana krem, seolah sedang datang menjenguk teman yang terkena flu.
Ardi sedang keluar membeli makanan.
Ketika Rina masuk, senyumnya canggung.
“Nad.”
Aku tidak menjawab.
Dia meletakkan bunga di meja.
“Aku dengar bayinya sudah stabil. Syukurlah.”
“Keluar.”
Rina terdiam.
“Aku cuma mau menjelaskan.”
“Tidak perlu.”
“Aku nggak tahu kondisinya separah itu.”
Aku menatapnya.
“Karena kamu bukan dokter.”
Wajahnya berubah.
“Aku cuma mencoba membantu Ardi supaya nggak panik.”
“Kamu bilang darahku cuma efek kamera.”
“Aku bercanda.”
“Ketika aku hamil sembilan bulan dan berdarah?”
Rina menghela napas.
“Nadia, jangan membuat semuanya seolah-olah aku sengaja mencelakakan kamu.”
Aku menatapnya lama.
“Aku tidak bilang kamu sengaja.”
Dia sedikit rileks.
Kemudian aku melanjutkan.
“Aku bilang kamu merasa punya hak untuk mengambil keputusan tentang kehamilanku, dan suamiku cukup bodoh untuk memberikannya kepadamu.”
Wajah Rina memerah.
“Ardi sendiri yang selalu tanya pendapatku.”
Aku terdiam.
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada pembelaan apa pun.
“Selalu?”
Rina menyadari kesalahannya.
“Aku maksud…”
“Sejak kapan?”
“Nad…”
“Sejak kapan Ardi selalu bertanya tentang aku kepadamu?”
Rina tidak menjawab.
Aku meraih ponselku.
“Keluar.”
“Nadia, aku dan Ardi tidak ada hubungan apa-apa.”
“Aku bahkan belum menanyakan itu.”
Wajahnya langsung pucat.
Saat itulah Ardi masuk.
Dia membeku ketika melihat Rina.
“Ngapain kamu ke sini?”
Rina berdiri.
“Aku cuma mau lihat keadaan Nadia.”
“Aku bilang jangan datang.”
Aku menoleh kepada Ardi.
“Kamu sudah bicara dengannya?”
Ardi tidak menjawab.
Rina mengambil tasnya.
“Aku pulang.”
Namun sebelum pergi, ponselnya jatuh dari tas.
Layar menyala.
Aku tidak berniat melihatnya.
Tetapi sebuah notifikasi muncul tepat di depan mataku.
Ardi.
Pesan terakhir yang terlihat dikirim dua hari sebelumnya.
Kalau nanti Nadia sudah melahirkan, semuanya bakal lebih gampang. Aku capek selalu merasa bersalah kalau memilih waktu buat diriku sendiri.
Dadaku terasa kosong.
Rina buru-buru mengambil ponselnya.
Ardi memejamkan mata.
Aku menatap suamiku.
“Jadi selama ini bukan cuma soal nasihat kehamilan?”
“Nad, dengarkan dulu.”
“Apa maksud pesan itu?”
“Aku cuma curhat.”
“Kepada perempuan yang terus menyuruhmu mengabaikan kebutuhan istrimu?”
Ardi mendekat.
“Tidak pernah ada hubungan fisik antara aku dan Rina.”
Aku hampir tertawa.
Lucu sekali bagaimana orang selalu mengira pengkhianatan hanya dihitung dari tubuh.
“Enam tahun kita menikah,” kataku pelan. “Tapi ketika aku takut, kamu percaya dia. Ketika aku kesakitan, kamu percaya dia. Ketika anakmu berhenti bergerak, kamu tetap percaya dia.”
Ardi menangis.
“Aku bisa berubah.”
Aku memandangnya lama.
“Mungkin.”
Dia terlihat berharap.
“Tapi aku tidak harus menunggu untuk melihatnya.”
Tiga hari kemudian Kirana keluar dari NICU.
Ketika pertama kali aku bisa menggendongnya cukup lama, aku menangis sampai bahuku gemetar.
Tubuhnya begitu kecil.
Namun jari-jarinya menggenggam telunjukku kuat sekali.
Seolah-olah dia sedang mengatakan bahwa dia memilih bertahan.
Ardi berdiri beberapa langkah dari kami.
“Aku boleh gendong?”
Aku menyerahkan Kirana kepadanya.
Apa pun yang terjadi di antara kami, dia tetap ayahnya.
Ardi memandang putrinya dan menangis.
“Ayah minta maaf.”
Aku memalingkan wajah.
Sebulan setelah kami pulang, aku membawa Kirana ke rumah orang tuaku.
Aku tidak langsung mengajukan perceraian.
Aku butuh waktu.
Bukan untuk memaafkan Ardi, tetapi untuk memastikan keputusan yang kuambil tidak berasal dari kemarahan sesaat.
Ardi mulai menjalani konseling sendiri.
Dia memutus seluruh komunikasi pribadi dengan Rina.
Dia juga tidak pernah memaksaku pulang.
Selama enam bulan, dia datang setiap akhir pekan untuk bertemu Kirana.
Dia mengganti popok.
Membawa susu.
Menemani kontrol.
Untuk pertama kalinya, dia datang ke setiap janji dokter tanpa ada orang lain yang perlu mengingatkannya.
Namun sesuatu dalam diriku sudah berubah.
Aku tidak lagi menunggu pesan Ardi.
Tidak lagi bertanya kapan dia pulang.
Tidak lagi membutuhkan persetujuannya untuk merasa aman.
Pada bulan ketujuh, kami bertemu di sebuah kafe setelah sesi mediasi.
Ardi menatap surat di atas meja.
“Jadi kamu tetap mau berpisah?”
Aku mengangguk.
“Aku sudah berubah, Nad.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa?”
Aku menatapnya.
“Karena perubahanmu penting untuk Kirana. Tapi perubahanmu tidak otomatis menghapus apa yang terjadi padaku.”
Dia terdiam.
“Aku pikir kalau aku cukup berubah, kamu akan kembali.”
“Aku juga sempat berpikir begitu.”
“Terus?”
Aku tersenyum tipis.
“Ternyata aku tidak butuh kamu menjadi suami yang lebih baik supaya aku bisa pergi. Aku hanya butuh memastikan kamu bisa menjadi ayah yang lebih baik setelah aku pergi.”
Air mata memenuhi matanya.
Namun kali ini dia tidak membantah.
Setahun kemudian, pada ulang tahun pertama Kirana, Ardi datang membawa kue kecil.
Kami sudah resmi bercerai.
Hubungan kami tidak hangat, tetapi tenang.
Rina sudah lama tidak menjadi bagian dari hidup kami.
Setelah lilin ditiup, Ardi menghampiriku.
“Ada sesuatu yang belum pernah aku bilang.”
“Apa?”
“Malam itu, setelah kamu masuk ruang operasi, aku membuka lagi semua chat-ku dengan Rina.”
Aku diam.
“Aku baru sadar hampir semua keputusan besar dalam rumah tangga kita selalu kuceritakan kepadanya dulu. Aku pikir aku cuma punya sahabat. Ternyata tanpa sadar aku menjadikan orang ketiga sebagai hakim dalam pernikahan kita.”
Aku menatap Kirana yang sedang tertawa dalam pelukan ibuku.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
“Karena dulu aku ingin mengatakannya supaya kamu memaafkan aku. Sekarang aku bilang karena kamu berhak tahu.”
Aku mengangguk.
Tidak ada kemarahan.
Aneh sekali.
Luka yang dulu terasa seperti akan membunuhku kini hanya menjadi bagian dari masa lalu.
Sebelum pulang, Ardi memberikan sebuah amplop.
Di dalamnya bukan surat cinta.
Bukan permintaan untuk kembali.
Melainkan salinan dokumen yang menunjukkan bahwa dia telah membuat rekening pendidikan atas nama Kirana dan mengatur setoran otomatis setiap bulan.
“Aku tahu uang nggak bisa memperbaiki apa pun,” katanya. “Aku cuma mau mulai bertanggung jawab tanpa harus disuruh.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya sejak malam itu, aku tersenyum tulus kepadanya.
Bukan sebagai istri.
Melainkan sebagai ibu dari anak yang juga dia cintai.
Malamnya, setelah semua tamu pulang, aku menidurkan Kirana.
Sebelum matanya terpejam, telapak tangannya yang kecil menyentuh pipiku.
Aku teringat perjalanan menuju rumah sakit setahun sebelumnya.
Papan hijau.
Dua koma tiga kilometer.
Lampu sein yang tidak pernah dinyalakan.
Dan diriku yang terus memohon agar seseorang mempercayai rasa sakitku.
Aku mencium kening Kirana.
Saat itulah aku akhirnya mengerti.
Malam itu memang menghancurkan keluargaku.
Tetapi bukan karena Rina.
Bukan pula semata-mata karena Ardi.
Keluarga kami hancur pada saat suara seorang perempuan yang sedang kesakitan dianggap kurang dapat dipercaya daripada pendapat orang yang bahkan tidak berada di sana.
Dan sejak malam itu, aku berjanji pada diriku sendiri satu hal.
Aku tidak akan pernah lagi menyerahkan hak untuk mempercayai tubuhku, ketakutanku, atau suaraku kepada siapa pun.
Karena terkadang keputusan yang menyelamatkan hidup kita bukanlah bertahan lebih lama.
Melainkan berhenti menunggu seseorang percaya bahwa kita memang sedang terluka.
