“Lepaskan tangan anak saya, Bagas.”
Aku langsung menoleh.
Ayah berdiri di ambang pintu aula. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan kemarahan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Di belakangnya, Ibu berdiri dengan mata berkaca-kaca.
“Om, ini cuma salah paham,” kata Bagas buru-buru sambil melepaskan pergelangan tanganku.
Ayah berjalan mendekat.
“Salah paham yang bagaimana? Kamu bilang kepada saya bahwa keluargamu akan datang melamar Nadira hari ini. Saya bahkan sudah berbicara denganmu tiga hari lalu untuk memastikan semuanya.”
Bagas menunduk.

“Saya cuma ingin memastikan Nadira benar-benar siap menikah, Om.”
Ayah terdiam sesaat.
Lalu beliau mengeluarkan ponselnya.
“Kalau begitu, coba kamu jelaskan kenapa tadi saya menghubungi ayahmu dan beliau sama sekali tidak tahu tentang acara ini.”
Wajah Bagas seketika pucat.
Aku menatap Ayah dengan terkejut.
“Ayah sudah telepon orang tua Bagas?”
Ayah mengangguk.
“Sejak tadi pagi. Ayah curiga karena tidak satu pun keluarganya bisa dihubungi. Awalnya ayah pikir ada masalah di perjalanan.”
Bagas mencoba menyela.
Namun Ayah mengangkat tangannya.
“Cukup. Saya tidak marah karena keluargamu tidak datang. Saya marah karena kamu sengaja mempermainkan kepercayaan anak saya dan keluarga kami.”
Untuk pertama kalinya, Bagas benar-benar kehilangan kata-kata.
Ibu mendekat dan menggenggam tanganku.
“Nad, kamu mau acara ini dilanjutkan atau dihentikan?”
Aku memandang wajah Ibu.
Di matanya tidak ada kekecewaan karena acara lamaran gagal. Tidak ada kekhawatiran tentang omongan tetangga.
Yang ada hanya rasa sayang seorang ibu kepada anaknya.
“Dihentikan, Bu,” jawabku pelan.
Ibu langsung mengangguk.
“Kalau begitu, kita hentikan.”
Bagas mendadak panik.
“Nadira, jangan ambil keputusan waktu emosi! Kita sudah empat tahun bersama!”
Aku menatap pria yang pernah kubayangkan akan menjadi ayah dari anak-anakku.
“Justru karena empat tahun itu, aku tahu kamu punya banyak kesempatan untuk memperlakukanku dengan baik. Tapi hari ini kamu memilih mempermalukanku.”
“Aku bisa berubah, Nad.”
“Mungkin. Tapi aku enggak harus mengorbankan hidupku untuk menunggu perubahan itu.”
Bagas terdiam.
Aku melepaskan cincin pemberiannya yang selama ini selalu kupakai, lalu meletakkannya di atas meja.
“Hubungan kita selesai, Gas.”
Beberapa menit kemudian, Ayah berdiri di hadapan para tamu.
Dengan suara tenang, beliau menjelaskan bahwa acara lamaran tidak dapat dilanjutkan karena kedua pihak tidak mencapai kesepakatan.
Tidak ada tuduhan.
Tidak ada cerita yang sengaja dilebih-lebihkan.
Ayah hanya meminta maaf atas perubahan acara dan mempersilakan seluruh tamu menikmati hidangan yang telah disiapkan.
Aku sempat khawatir orang-orang akan berbisik atau menertawakanku.
Namun seorang tante justru menghampiriku dan memelukku erat.
“Lebih baik malu satu hari daripada menangis sepanjang pernikahan, Nak.”
Kalimat sederhana itu membuatku kembali menangis.
Ketika aku keluar dari aula, Arga sedang berdiri di dekat mobilnya.
Dia tidak membawa bunga.
Tidak mengenakan pakaian mewah.
Hanya kemeja biru muda dengan lengan digulung dan wajah yang terlihat cemas.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Belum.”
Arga mengangguk pelan.
“Enggak apa-apa. Kamu enggak harus baik-baik saja hari ini.”
Aku menatapnya.
“Maaf sudah meneleponmu tiba-tiba.”
“Jangan minta maaf karena butuh teman, Nad.”
Dia tidak mencoba memelukku. Tidak memanfaatkan kesedihanku untuk membicarakan perasaannya.
Arga hanya menawarkan diri membantu mengantar barang-barang dekorasi yang perlu dikembalikan kepada penyedia jasa.
Dan entah mengapa, sikap sederhana itu terasa jauh lebih berarti daripada semua janji manis Bagas selama empat tahun.
Tiga hari setelah kejadian tersebut, Bagas datang ke rumah bersama kedua orang tuanya.
Ibunya menangis ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ayahnya meminta maaf karena putranya telah menggunakan nama keluarga mereka untuk merancang lamaran palsu.
Bagas berkali-kali meminta kesempatan kedua.
Namun keputusanku tidak berubah.
“Aku memaafkanmu, Gas,” kataku. “Tapi memaafkan bukan berarti kita harus kembali bersama.”
Dia menunduk.
“Apa karena Arga?”
Aku menggeleng.
“Bukan. Bahkan kalau Arga enggak pernah datang hari itu, aku tetap akan meninggalkanmu.”
Bagas memandangku lama sebelum akhirnya mengangguk.
Itulah terakhir kalinya kami berbicara.
Beberapa bulan kemudian, hidupku perlahan kembali tenang.
Aku mulai lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, kembali menekuni pekerjaan yang selama ini sering kuabaikan demi menyesuaikan jadwalku dengan Bagas, dan belajar menikmati hari-hari tanpa merasa harus terus membuktikan sesuatu kepada siapa pun.
Arga sesekali mengajakku makan siang atau sekadar berjalan-jalan sore.
Kami tidak langsung menjalin hubungan.
Aku mengatakan kepadanya bahwa aku membutuhkan waktu untuk pulih.
Dan dia menghormatinya.
Setahun kemudian, pada suatu sore di sebuah kedai kopi kecil di Jakarta, Arga bertanya apakah aku bersedia memulai hubungan yang lebih serius dengannya.
Dia tidak menyiapkan kejutan besar.
Tidak mengundang teman-temannya untuk menyaksikan reaksiku.
Dia hanya menatap mataku dan berkata, “Aku enggak bisa janji hubungan kita nanti selalu mudah. Tapi aku janji enggak akan pernah sengaja menyakitimu hanya untuk menguji seberapa besar kamu mencintaiku.”
Aku tersenyum.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu mencari makna tersembunyi di balik perkataan seorang pria.
“Kalau begitu, kita coba pelan-pelan, ya,” jawabku.
Arga tersenyum lega.
Dan sore itu, kami memulai sesuatu yang baru.
Bukan karena dia datang menggantikan Bagas.
Melainkan karena aku sudah belajar memilih seseorang tanpa mengorbankan harga diriku sendiri.
Sampai sekarang, aku masih menyimpan satu foto dari hari lamaran yang gagal itu.
Foto enam kursi kosong dengan pita putih di barisan paling depan.
Dulu, setiap melihatnya, aku merasa malu dan hancur.
Sekarang, foto itu justru mengingatkanku pada keputusan paling penting yang pernah kubuat.
Sebab hari itu, aku memang gagal menjadi tunangan seseorang.
Tetapi aku berhasil menyelamatkan diriku dari pernikahan yang mungkin akan membuatku kehilangan jati diri.
Dan akhirnya aku memahami satu hal.
Cinta yang tulus tidak membutuhkan penghinaan untuk membuktikan kesetiaan.
Orang yang benar-benar ingin membangun masa depan bersamamu tidak akan sengaja menghancurkan harga dirimu hanya untuk melihat apakah kamu masih mau bertahan.
Karena terkadang, keputusan paling berani bukanlah terus memperjuangkan seseorang yang kita cintai.
Melainkan berani pergi ketika kita sadar bahwa cinta itu sudah tidak lagi disertai rasa hormat.
