“Ibu, jangan biarkan mereka membawaku lagi.”
Kalimat Kirana membuat seluruh tubuhku membeku. Putriku bersembunyi di belakang Marni, menggenggam ujung bajunya erat-erat, sementara perempuan itu menangis tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Arga segera menutup pintu lorong agar para tamu tidak melihat kejadian tersebut. Aku meminta Dimas menemani tamu-tamu kecil di halaman dan mengatakan bahwa Kirana sedang kurang enak badan.
Setelah suasana lebih tenang, kami membawa Marni ke ruang keluarga. Kirana bersikeras duduk di sampingnya.
“Sekarang jelaskan semuanya,” kata Arga. “Apa yang sebenarnya terjadi tujuh tahun lalu?”
Marni mengusap air matanya.
“Saya dulu bekerja sebagai asisten perawat di rumah sakit tempat Bu Rani melahirkan.”

Aku langsung tertegun.
Rumah sakit itu berada di Jakarta Selatan. Aku masih mengingat malam ketika Kirana dilahirkan melalui operasi caesar darurat. Setelah operasi, kondisiku memburuk akibat perdarahan sehingga aku harus menjalani perawatan intensif.
Selama hampir dua hari, aku tidak bisa menggendong bayiku.
Ketika akhirnya sadar sepenuhnya, perawat mengatakan Kirana sempat berada dalam pengawasan khusus karena kesulitan bernapas.
Aku tidak pernah mempertanyakan penjelasan itu.
“Waktu itu sebenarnya ada apa?” tanyaku.
Marni menarik napas panjang.
“Malam setelah Ibu melahirkan, seorang perempuan bernama Laras datang ke ruang bayi. Dia mengaku sebagai anggota keluarga yang mendapat izin khusus.”
“Laras siapa?”
Marni menatap Arga.
“Pak Arga seharusnya tahu.”
Aku langsung menoleh kepada suamiku.
Wajahnya mendadak pucat.
“Mas?”
Arga menggenggam kedua tangannya.
“Laras itu adik sepupuku.”
Aku terdiam.
Aku pernah mendengar nama Laras, tetapi Arga selalu mengatakan bahwa perempuan itu sudah lama pindah ke luar negeri. Kami bahkan tidak pernah bertemu selama sebelas tahun pernikahan.
“Kenapa dia datang ke rumah sakit ketika aku melahirkan?”
Arga menggeleng.
“Aku benar-benar nggak tahu.”
Marni melanjutkan ceritanya.
Menurutnya, Laras datang membawa dokumen yang tampak seperti surat persetujuan keluarga. Dia meminta agar bayi Kirana dipindahkan sementara ke ruang perawatan khusus yang berada di gedung berbeda.
“Awalnya saya kira itu prosedur resmi. Tapi kemudian saya melihat bayi itu dibawa keluar area rumah sakit menggunakan mobil pribadi.”
Dadaku terasa sesak.
“Anakku dibawa keluar?”
Marni mengangguk sambil menangis.
“Saya takut, Bu. Saya baru bekerja beberapa bulan. Kepala ruangan bilang semua sudah mendapat persetujuan keluarga.”
“Lalu kenapa Kirana bisa kembali?”
“Dua hari kemudian, bayi itu dikembalikan. Laras menyerahkannya kepada saya bersama pakaian dan kalung kecil berbentuk bunga melati.”
Aku memandangi kalung yang digenggam Kirana.
“Tapi kenapa ada foto Marni menggendongnya?”
“Itu bukan saya, Bu.”
Marni menunjuk foto tersebut.
“Perempuan itu Laras.”
Arga langsung mengambil foto dan mengamatinya lebih dekat.
“Ya Tuhan…”
Aku melihat rahangnya mengeras.
“Benar. Itu Laras.”
Namun, aku masih memiliki satu pertanyaan yang tidak masuk akal.
“Kalau Kirana baru lahir, bagaimana mungkin dia mengingat Laras? Bagaimana dia bisa memanggil Marni sebagai ibunya?”
Marni menunduk.
“Itu yang belum sempat saya jelaskan.”
Dia mengeluarkan ponsel lama dari tasnya, lalu memperlihatkan beberapa foto yang tersimpan di kartu memori.
Ada foto Kirana ketika berusia sekitar dua tahun, sedang bermain di sebuah halaman rumah sederhana.
Aku langsung berdiri.
“Ini kapan?”
“Lima tahun lalu.”
“Kenapa anakku ada bersama Ibu?”
Marni menangis semakin keras.
“Karena selama beberapa bulan, saya pernah menjadi pengasuh Kirana.”
Aku menatap Arga.
Suamiku tidak terlihat terkejut.
Justru itulah yang membuatku takut.
“Mas Arga…”
Dia memejamkan mata.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa?”
Marni menggenggam tangan Kirana.
“Bu Rani, waktu Kirana berusia dua tahun, Ibu pernah dirawat cukup lama, bukan?”
Ingatan buruk itu tiba-tiba kembali.
Ketika Kirana berusia dua tahun, aku mengalami depresi berat setelah kehilangan ayahku. Aku juga mengalami gangguan tidur berkepanjangan dan harus menjalani perawatan.
Selama beberapa bulan, ibuku membantu mengurus Dimas, sementara Arga menangani kebutuhan Kirana.
Setidaknya, itulah yang selama ini kuketahui.
“Jangan bilang…” bisikku.
Arga menatapku dengan mata merah.
“Waktu itu aku kewalahan, Ran. Kamu dirawat, Dimas masih kecil, dan pekerjaanku sedang kacau. Laras menawarkan bantuan.”
“Bantuan apa?”
“Dia membawa Kirana tinggal sementara di rumahnya di Bogor. Marni yang merawatnya sehari-hari.”
Aku merasa dunia berputar.
“Berapa lama?”
Arga diam.
“Mas, berapa lama anakku tinggal di sana?”
“Delapan bulan.”
Aku mundur selangkah.
Delapan bulan.
Selama ini, aku percaya Kirana hanya sesekali menginap di rumah keluargaku ketika aku menjalani pengobatan.
Ternyata, dia menghabiskan hampir satu tahun kehidupan kecilnya bersama orang-orang yang bahkan tidak kukenal.
“Kenapa kamu menyembunyikannya?”
“Aku takut kamu merasa bersalah.”
Aku tertawa getir.
“Jadi kamu memutuskan menghapus delapan bulan kehidupan anak kita dari ceritaku?”
Arga menunduk.
Marni kemudian menjelaskan bahwa selama tinggal di Bogor, Kirana memanggilnya Ibu karena dialah yang hampir setiap hari memandikan, menyuapi, menenangkan, dan menemaninya tidur.
Laras sering bepergian, sedangkan Marni menjadi sosok yang paling dekat dengan Kirana.
Ketika Kirana akhirnya dikembalikan ke rumah, dia menangis berhari-hari mencari Marni.
“Waktu itu Pak Arga meminta saya tidak menghubungi Kirana lagi,” ucap Marni pelan.
Aku menatap suamiku.
“Benar?”
Arga mengangguk.
“Aku pikir kalau dia nggak bertemu Marni lagi, lama-lama dia akan terbiasa memanggil kamu Ibu.”
“Tapi dia justru memanggilku Tante.”
“Aku tahu.”
“Dan selama lima tahun kamu membiarkan aku mengira ada yang salah denganku?”
Air mataku akhirnya jatuh.
Aku teringat setiap konsultasi psikolog, setiap malam ketika aku menangis diam-diam, dan setiap kali Kirana menatapku seolah ada sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan.
Semua rasa sakit itu sebenarnya memiliki penjelasan.
Namun, orang yang paling kupercaya memilih menyembunyikannya.
Marni tiba-tiba mengeluarkan sebuah benda kecil dari dompetnya.
Sebuah kalung tua berbentuk bunga melati.
Bentuknya hampir sama dengan hadiah ulang tahun Kirana, tetapi warnanya sudah kusam.
“Ini kalung yang dulu dipakaikan Laras kepada Kirana setelah dia lahir. Waktu Kirana tinggal bersama saya, kalung ini disimpan di kotak mainannya.”
Aku mengambilnya dengan tangan gemetar.
Di belakang liontin terdapat ukiran setengah lingkaran dan dua huruf kecil.
L dan K.
“Laras dan Kirana?” tanyaku.
Marni mengangguk.
Namun, Kirana tiba-tiba menggeleng.
“Bukan.”
Kami semua menoleh.
Putriku menunjuk kalung itu.
“Itu kata Tante Laras, kalung untuk dua anak.”
Aku terdiam.
“Dua anak siapa, Sayang?”
Kirana mengerutkan dahi, berusaha mengingat.
“Ada bayi lain.”
Jantungku berdegup keras.
Marni langsung menutup mulutnya.
Aku menatap perempuan itu.
“Bu Marni, apa yang belum Ibu ceritakan?”
Marni menangis.
“Pada malam Kirana lahir, Laras juga melahirkan seorang bayi perempuan di rumah sakit yang sama.”
Ruangan mendadak sunyi.
Arga menatap Marni dengan wajah tidak percaya.
“Laras melahirkan?”
“Iya, Pak.”
Marni menjelaskan bahwa Laras melahirkan secara diam-diam karena keluarganya tidak menyetujui hubungannya dengan ayah bayi tersebut.
Setelah persalinan, Laras mengatur agar bayinya dirawat menggunakan data yang tidak sesuai. Dia takut keluarganya mengetahui keberadaan anak itu.
Ketika mendengar bahwa Rani sedang menjalani perawatan intensif, Laras memanfaatkan kekacauan administrasi untuk membawa kedua bayi keluar melalui jalur yang tidak semestinya.
“Kenapa Kirana harus ikut dibawa?” tanyaku.
Marni menunduk.
“Laras ingin membuat keluarganya percaya bahwa dia sedang menjaga bayi kerabat. Dengan begitu, keberadaan bayinya sendiri tidak terlalu dicurigai.”
Aku tidak mampu berkata-kata.
“Lalu anak Laras sekarang di mana?”
“Saya tidak tahu, Bu. Setelah bayi-bayi itu dikembalikan ke rumah sakit, saya tidak pernah bertemu anak Laras lagi.”
Arga segera mengambil ponselnya.
Dia menelepon beberapa kerabat, mencoba mencari alamat dan nomor Laras yang terbaru.
Namun, tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
Malam itu, setelah para tamu pulang, rumah kami terasa asing.
Kirana tertidur di sofa dengan kepala bersandar di pangkuan Marni.
Aku duduk di seberangnya sambil memandangi putriku.
Selama tujuh tahun, aku mengira panggilan Tante adalah bentuk penolakan.
Ternyata, Kirana hanya berusaha mempertahankan hubungan dengan sosok yang pernah menjadi tempatnya merasa aman.
Aku mendekati Marni.
“Bu, maafkan saya.”
Marni langsung menggeleng.
“Jangan begitu, Bu.”
“Saya tidak tahu apa yang Kirana alami. Saya terus memintanya memanggil saya Ibu, padahal saya tidak pernah memahami kebingungannya.”
Marni mengusap rambut Kirana.
“Dia anak yang baik. Dulu setiap malam dia menangis mencari Ayah dan Kak Dimas. Setelah kembali ke rumah, dia mungkin bingung harus memanggil siapa dengan sebutan apa.”
Aku menangis tanpa suara.
Keesokan harinya, aku menghubungi psikolog anak yang pernah menangani Kirana.
Aku menjelaskan seluruh penemuan tersebut dan meminta pendampingan agar Kirana tidak kembali mengalami tekanan emosional.
Psikolog itu mengingatkan bahwa ingatan anak kecil bisa terbentuk dari pengalaman, cerita yang didengar, maupun foto yang dilihat berulang kali. Karena itu, kami tidak boleh memaksanya mengingat atau menjawab pertanyaan yang mengarahkan.
Aku juga meminta Arga mengumpulkan seluruh dokumen rumah sakit dan menjelaskan kronologi kejadian secara tertulis.
Kali ini, aku tidak akan menerima jawaban setengah-setengah.
Tiga minggu kemudian, kami memperoleh salinan sebagian dokumen lama dari rumah sakit.
Dalam catatan tersebut memang terdapat perpindahan bayi Kirana yang prosedurnya tidak jelas. Pihak rumah sakit menyatakan akan melakukan penelusuran internal, sementara kami berkonsultasi mengenai langkah resmi untuk meminta pertanggungjawaban.
Penyelidikan atas kejadian itu belum menghasilkan jawaban lengkap.
Namun, sebuah temuan mengejutkan muncul ketika Arga berhasil menghubungi kerabat Laras di Semarang.
Ternyata, Laras meninggal dua tahun sebelumnya akibat kecelakaan lalu lintas.
Sebelum meninggal, dia pernah menitipkan sebuah surat kepada bibinya.
Surat itu ditujukan kepada Arga.
Beberapa hari kemudian, amplop tersebut tiba di rumah kami.
Arga membukanya dengan tangan gemetar.
Di dalamnya terdapat pengakuan Laras mengenai tindakannya membawa Kirana keluar dari rumah sakit tanpa izin yang sah. Dia juga meminta maaf karena telah memanfaatkan kondisi Rani.
Namun, bagian terakhir surat itu membuat kami terdiam lama.
Laras menulis bahwa bayi perempuannya telah diserahkan kepada keluarga lain melalui proses pengasuhan yang kemudian diurus secara resmi.
Dia tidak meminta anak itu dicari untuk dipisahkan dari keluarganya.
Dia hanya berharap suatu hari anaknya mengetahui bahwa dirinya tidak pernah ditinggalkan karena tidak dicintai.
Di dalam amplop terdapat satu foto.
Seorang bayi perempuan mengenakan selimut putih.
Di pergelangan tangannya terpasang gelang rumah sakit.
Namanya tertulis jelas.
Keisha Larasati.
Aku menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca.
Tujuh tahun lalu, bukan hanya Kirana yang kehilangan bagian dari kisah masa kecilnya.
Ada seorang anak lain yang mungkin tumbuh dengan pertanyaan tentang asal-usulnya.
Namun, aku sadar, menemukan Keisha bukanlah keputusan yang boleh kami ambil sembarangan. Dia memiliki keluarga dan kehidupan sendiri yang harus dihormati.
Aku menyimpan surat tersebut dengan hati-hati.
Beberapa bulan berlalu.
Hubunganku dengan Arga belum sepenuhnya pulih. Kami menjalani konseling keluarga, dan aku menegaskan bahwa tidak boleh ada lagi keputusan mengenai anak-anak yang dibuat tanpa sepengetahuanku.
Marni tetap bekerja bersama kami, tetapi bukan untuk menggantikan kedudukanku sebagai ibu.
Dia hadir sebagai seseorang yang pernah merawat Kirana dan masih disayangi putriku.
Aku pun berhenti memaksa Kirana menggunakan panggilan tertentu.
Setiap pagi, aku tetap menyiapkan sarapannya.
Aku mengantarnya ke sekolah, membantu mengerjakan tugas, dan mendengarkan cerita-ceritanya sebelum tidur.
Jika dia memanggilku Tante Rani, aku menjawab seperti biasa.
Aku tidak lagi memperlihatkan kekecewaan.
Suatu malam, ketika hujan turun deras di luar jendela, Kirana datang menghampiriku sambil membawa sebuah buku gambar.
“Tante Rani, lihat.”
Aku menerima buku itu.
Di atas kertas terdapat gambar rumah dengan lima orang berdiri di halaman.
Ada Ayah, Kak Dimas, Kirana, Marni, dan aku.
Di bawah setiap orang tertulis nama masing-masing.
Namun, di bawah gambarku terdapat dua kata.
Ibu Rani.
Aku menatap Kirana dengan mata berkaca-kaca.
“Sayang, ini siapa?”
Kirana menunjuk gambarku.
“Itu Ibu.”
Aku terdiam.
“Kenapa Kirana tulis begitu?”
Putriku duduk di pangkuanku.
“Bu Marni bilang, dulu waktu aku kecil, dia yang sering jagain aku. Tapi Tante Rani yang melahirkan aku.”
Aku mengangguk perlahan.
“Benar, Sayang.”
Kirana menatapku.
“Kalau aku sayang Bu Marni, Tante Rani sedih nggak?”
Pertanyaan itu menghantam hatiku.
Aku memeluknya erat.
“Nggak, Sayang. Kamu boleh sayang siapa pun yang baik sama kamu.”
“Kalau aku panggil kalian berdua Ibu?”
Aku menangis.
“Boleh, Nak.”
Kirana tersenyum lebar.
“Berarti aku punya dua ibu yang sayang sama aku.”
Aku mencium keningnya.
“Iya, Sayang.”
Dia memeluk leherku, lalu berbisik.
“Ibu Rani, besok temani aku beli pensil warna, ya?”
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, panggilan itu terdengar begitu alami.
Tidak ada paksaan.
Tidak ada permintaan.
Tidak ada hadiah yang kujanjikan sebagai imbalan.
Hanya seorang anak kecil yang akhirnya merasa aman untuk menyebut dua perempuan yang mencintainya dengan panggilan yang sama.
Malam itu, aku menangis lama setelah Kirana tertidur.
Namun, air mata kali ini berbeda.
Aku tidak lagi menangis karena merasa ditolak.
Aku menangis karena akhirnya memahami bahwa menjadi ibu bukanlah perlombaan untuk mendapatkan satu panggilan.
Ada ibu yang melahirkan, ada orang yang mengasuh, dan ada begitu banyak bentuk kasih sayang yang membentuk kehidupan seorang anak.
Aku tetap terluka oleh kebohongan Arga dan masa lalu yang sengaja disembunyikan. Butuh waktu panjang untuk membangun kembali kepercayaan itu.
Tetapi aku tidak akan membiarkan luka orang dewasa menjadi beban bagi Kirana.
Keesokan paginya, saat aku sedang membuat sarapan, terdengar suara kecil dari ruang keluarga.
“Ibu!”
Aku menoleh.
Kirana berdiri di dekat pintu sambil memegang dua buah kalung bunga melati.
Dia berlari menghampiriku dan menyerahkan salah satunya.
“Yang ini buat Ibu Rani.”
Kemudian dia berlari menuju Marni yang sedang menyiram tanaman.
“Yang satu lagi buat Ibu Marni!”
Aku tersenyum sambil mengusap air mata.
Dua kalung.
Dua perempuan.
Dan seorang anak yang tidak lagi harus memilih siapa yang boleh dicintainya.
Saat itulah aku benar-benar mengerti.
Kasih sayang seorang ibu tidak menjadi lebih kecil hanya karena seorang anak juga mencintai perempuan lain yang pernah merawatnya.
Justru ketika cinta tidak lagi dipaksakan untuk memilih, seorang anak akhirnya bisa merasa utuh.
Dan panggilan yang selama tujuh tahun begitu kurindukan akhirnya datang bukan karena Kirana belajar menuruti keinginanku, melainkan karena aku telah belajar mendengarkan isi hatinya.
