“Maya, dengarkan saya baik-baik. Jangan pulang ke apartemen malam ini.”
Arga mengucapkan kalimat itu sambil berusaha bangkit dari ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya begitu serius hingga aku tidak berani membantah.
“Kenapa? Siapa orang yang mengirim foto pintu apartemenku?”
“Aku belum tahu pasti. Tapi mereka sedang mencoba menakutimu.”
“Menakutiku untuk apa? Aku cuma mengambil kotak yang jatuh dari tasmu!”
Pria berseragam yang berdiri di samping Arga memperkenalkan diri sebagai Pak Hendra, koordinator keamanan perusahaan tempat Arga bekerja.
“Bu Maya, kami akan menghubungi pengelola apartemen dan meminta petugas keamanan memeriksa rekaman CCTV. Untuk sementara, sebaiknya Ibu tetap bersama keluarga.”
Aku memandang Arga dengan perasaan campur aduk. Sebelas hari lalu, aku menolaknya karena tidak mau hidup bersama lelaki yang selalu menyembunyikan pekerjaannya. Sekarang, aku bahkan tidak tahu apakah keselamatanku terancam hanya karena pernah menumpang mobilnya.
“Mas Arga, aku mau tahu yang sebenarnya. Jangan jawab tergantung penugasan lagi.”
Arga menghela napas.
“Aku memang teknisi penerbangan, Maya. Tapi tugasku bukan cuma memperbaiki mesin. Aku juga menangani sistem kelistrikan dan perangkat komunikasi pada pesawat yang digunakan untuk operasi khusus, termasuk misi kemanusiaan dan penerbangan ke daerah terpencil.”
“Jadi kamu bukan pilot?”
“Bukan. Foto yang kamu lihat tadi diambil saat aku ikut penerbangan pengujian setelah perbaikan.”
Aku sedikit lega mendengar penjelasan yang akhirnya masuk akal.
“Lalu kenapa ada kotak misterius di mobilmu?”

“Itu yang sedang kami selidiki.”
Pak Hendra menjelaskan bahwa kotak tersebut merupakan wadah penyimpanan perangkat elektronik milik perusahaan. Perangkat itu seharusnya berada di gudang teknis yang memiliki pengawasan ketat.
Ketika kotak ditemukan di mobil Arga, perusahaan menduga ada seseorang yang sengaja memindahkannya. Dua hari kemudian, Arga mengalami kecelakaan kendaraan operasional saat perjalanan menuju hanggar di Halim.
“Kami belum menyimpulkan kedua kejadian itu berhubungan,” kata Pak Hendra. “Tetapi pesan ancaman yang Mbak terima membuat kami harus memeriksanya lebih serius.”
Aku menatap Arga.
“Kenapa kamu nggak bilang dari awal?”
“Karena aku ingin mengenalmu sebagai Arga, bukan sebagai orang dengan pekerjaan yang terdengar luar biasa.”
Aku tertawa hambar.
“Mas, pekerjaanmu sekarang malah terdengar seperti masalah yang luar biasa.”
Untuk pertama kalinya sejak aku tiba, Arga tersenyum kecil.
Namun, senyum itu segera hilang ketika Pak Hendra menerima telepon.
Petugas keamanan apartemenku telah memeriksa rekaman CCTV. Ada seorang laki-laki mengenakan jaket hitam yang terlihat memotret pintu unitku. Dia tidak tercatat sebagai penghuni atau tamu yang terdaftar.
Yang membuatku semakin takut, lelaki itu masuk menggunakan kartu akses milik seorang penghuni lain.
“Ada yang mengenali wajahnya?” tanya Arga.
“Belum,” jawab Pak Hendra. “Tapi rekamannya sudah kami simpan.”
Aku memeluk tubuh sendiri.
Malam itu, aku pulang bersama Ibu ke rumah orang tuaku di Bekasi. Pihak keamanan menyarankan agar ancaman tersebut dilaporkan kepada polisi, dan aku menyerahkan pesan beserta bukti foto yang kuterima.
Sepanjang perjalanan, Ibu berkali-kali meminta maaf.
“Kalau Ibu nggak memaksa kamu kenalan sama Arga, mungkin kamu nggak akan mengalami semua ini.”
Aku menggenggam tangannya.
“Bu, Ibu cuma mengenalkan aku kepada seseorang. Ibu nggak mungkin tahu kejadian seperti ini bakal terjadi.”
“Tapi Arga sebenarnya anak baik, May.”
Aku menoleh.
“Ibu kok masih sempat membela dia?”
“Ibu kenal keluarganya sejak lama. Ayahnya dulu banyak membantu keluarga kita.”
Aku terdiam.
“Bantu apa?”
Ibu menggeleng.
“Cerita lama. Nanti Ibu jelaskan.”
Aku tidak mendesak karena wajah Ibu sudah terlihat kelelahan.
Tiga hari kemudian, Arga menelepon.
Suaranya terdengar lebih segar. Dokter telah mengizinkannya pulang dengan syarat tetap menjalani pemulihan.
“Maya, aku mau minta maaf.”
“Untuk apa?”
“Karena kamu harus menghadapi masalah yang sama sekali bukan urusanmu.”
Aku memandangi jendela kamar.
“Mas, orang yang ngirim ancaman itu sudah ditemukan?”
“Belum. Tapi ada perkembangan. Kami menemukan siapa yang terakhir memindahkan kotak tersebut.”
“Siapa?”
Arga terdiam sejenak.
“Seorang teknisi bernama Bagas. Dulu dia bekerja satu tim denganku.”
“Dulu?”
“Kontraknya dihentikan sekitar dua bulan lalu karena masalah pelanggaran prosedur.”
Menurut Arga, Bagas pernah meminjam kendaraan operasional dan masih mengetahui kebiasaan Arga menyimpan tas kerja. Saat penyelidikan internal dimulai, Bagas tidak dapat dihubungi.
Aku mengernyit.
“Jadi dia mau mengambil kembali kotak itu?”
“Itu salah satu kemungkinan. Tapi kami harus menunggu hasil pemeriksaan.”
Setelah telepon berakhir, aku mencoba kembali bekerja seperti biasa. Namun, setiap ponsel bergetar, jantungku langsung berdebar.
Seminggu kemudian, aku mendapat pesan dari nomor baru.
“Mbak Maya, saya ingin menjelaskan semuanya. Tolong jangan percaya semua yang dikatakan Arga.”
Di bawah pesan itu terdapat sebuah foto.
Arga sedang berdiri di depan hanggar bersama seorang pria berjaket biru. Wajah pria tersebut sama dengan sosok yang terlihat dalam rekaman CCTV apartemenku.
Aku segera mengirimkan tangkapan layar kepada Pak Hendra dan tidak membalas pesan itu.
Beberapa jam kemudian, aku diminta datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan tambahan.
Di sana, aku mengetahui bahwa pengirim pesan tersebut diduga adalah Bagas.
Namun, cerita sebenarnya ternyata tidak seperti yang kubayangkan.
Bagas telah menyerahkan diri setelah mengetahui polisi mencarinya. Dia mengakui bahwa dirinya meminta seorang kenalan memotret pintu apartemenku untuk menakutiku agar tidak memberikan keterangan tentang kotak itu.
Alasannya membuatku terkejut.
Bagas ternyata pernah mengambil perangkat elektronik perusahaan tanpa izin untuk dijual kepada pihak luar. Ketika sadar tindakannya sedang diselidiki, dia berusaha mengembalikan salah satu perangkat dengan menyelipkannya ke tas Arga.
Dia berharap Arga akan menemukan benda tersebut dan membawanya kembali ke hanggar tanpa menyadari asal-usulnya.
Namun, kotak itu justru terlihat olehku.
Bagas panik ketika mengetahui Arga mengalami kecelakaan dan tidak segera kembali bekerja. Dia takut kotak tersebut diperiksa dan jejak perbuatannya ditemukan.
“Jadi dia mengancamku karena takut aku bisa mengenalinya?” tanyaku.
Petugas yang memeriksaku mengangguk.
“Dia mengaku mengira Ibu sempat melihat sesuatu pada kotak tersebut. Keterangan itu masih kami cocokkan dengan bukti lain.”
Aku menghembuskan napas panjang.
Ternyata, selama berhari-hari aku ketakutan karena seseorang berusaha menutupi kesalahannya sendiri.
Penyelidikan belum sepenuhnya selesai, tetapi aku akhirnya bisa tidur tanpa terus-menerus membayangkan orang asing berdiri di depan pintu apartemen.
Dua minggu berikutnya, Arga mengajakku bertemu.
Kali ini bukan di restoran mahal, melainkan di sebuah kedai kopi kecil dekat rumah Ibu.
Dia datang menggunakan kemeja putih dan celana hitam. Perban di pelipisnya sudah dilepas, meskipun gerakan bahunya masih sedikit kaku.
“Gimana keadaanmu?” tanyanya.
“Jauh lebih baik sejak nggak ada orang asing yang memotret pintu rumahku.”
Arga tertawa pelan.
“Aku pantas mendengar itu.”
Kami mengobrol cukup lama.
Untuk pertama kalinya, Arga menjelaskan pekerjaannya tanpa membuatku merasa sedang menghadapi teka-teki.
Dia menceritakan bagaimana timnya memperbaiki pesawat yang digunakan untuk mengirim bantuan ke wilayah bencana, bagaimana mereka kadang bekerja sepanjang malam ketika suku cadang sulit didapat, dan mengapa jadwalnya sering berubah mendadak.
“Aku memang sering pergi, Maya. Tapi bukan berarti aku nggak bisa memberi kabar. Ada hal-hal teknis yang nggak bisa kuceritakan, tetapi aku tetap bisa bilang kapan aku berangkat, kapan bisa dihubungi, dan siapa yang harus kamu kontak kalau ada keadaan darurat.”
Aku mengaduk kopi.
“Kenapa waktu pertama ketemu kamu nggak menjelaskannya seperti itu?”
Arga tersenyum malu.
“Karena aku lebih pintar memperbaiki mesin daripada menjelaskan perasaan.”
Aku tertawa.
“Kelihatan.”
Suasana menjadi hening beberapa saat.
Lalu Arga mengeluarkan sebuah amplop kecil.
Aku langsung mengangkat alis.
“Jangan bilang ada kotak misterius lagi.”
“Bukan. Tenang saja.”
Di dalam amplop terdapat sebuah foto lama.
Foto seorang laki-laki berdiri di depan pesawat kecil bersama pria lain yang mengenakan seragam teknisi.
Aku langsung mengenali salah satunya.
Ayah.
“Ayahku?”
Arga mengangguk.
“Yang di sampingnya ayahku.”
Aku menatap foto itu dengan bingung.
Ayah meninggal enam tahun lalu akibat komplikasi penyakit jantung. Selama hidupnya, beliau bekerja sebagai staf logistik di sebuah perusahaan penerbangan. Aku tahu sedikit tentang pekerjaannya, tetapi tidak pernah menyangka bahwa beliau mengenal keluarga Arga.
“Ini foto tahun berapa?”
“Dua puluh tahun lalu.”
Arga menjelaskan bahwa ayahnya pernah mengalami kecelakaan kerja saat menangani perlengkapan pesawat. Dalam keadaan darurat, ayahku menjadi salah satu orang pertama yang memberikan pertolongan dan membantu membawanya ke rumah sakit.
Sejak kejadian itu, kedua keluarga mereka tetap berhubungan.
Aku memandangi foto tersebut.
“Kenapa Ibu nggak pernah cerita?”
“Karena ayahmu nggak suka membicarakan jasanya.”
Aku mengusap wajah Ayah pada foto itu dengan ujung jari.
Arga kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.
“Aku pernah bertemu kamu waktu kecil.”
Aku menoleh cepat.
“Serius?”
“Waktu ulang tahunmu yang kesembilan. Kamu marah karena aku nggak sengaja menjatuhkan kue ulang tahunmu.”
Aku menatapnya tak percaya.
Tiba-tiba, sebuah ingatan samar muncul.
Seorang anak laki-laki kurus yang berdiri ketakutan di ruang tamu, sementara aku menangis karena hiasan bunga gula pada kuenya hancur.
“Tunggu. Kamu anak laki-laki yang dipanggil Mas Gembul?”
Wajah Arga langsung berubah.
“Jangan panggil begitu.”
Aku tertawa keras hingga beberapa pengunjung menoleh.
“Ya ampun! Kamu Mas Gembul?”
“Itu dua puluh tahun lalu, Maya.”
Aku masih tertawa ketika Arga menutupi wajahnya dengan tangan.
Namun, ada satu pertanyaan yang menggangguku.
“Mas sudah tahu dari awal kalau aku anak Pak Darma?”
Arga mengangguk.
“Sejak Ibu menunjukkan fotomu.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Aku takut kamu mengira aku mendekat hanya karena hubungan keluarga.”
Aku terdiam.
“Dan karena itu Mas memilih jadi lelaki misterius yang jawabannya selalu tergantung penugasan?”
Arga tertawa.
“Iya. Ternyata strategi yang sangat buruk.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat lelaki itu bukan sebagai teknisi dengan penghasilan besar atau pekerjaan rahasia.
Aku melihat seorang anak laki-laki yang pernah menjatuhkan kue ulang tahunku, tumbuh dewasa, dan kini duduk di hadapanku dengan wajah penuh harap.
Namun, kejutan terbesar datang ketika Arga menyerahkan selembar kertas terlipat.
“Ini surat yang ayahmu tulis untuk ayahku beberapa tahun sebelum beliau meninggal. Ayah mengizinkanku menunjukkannya setelah kamu mengetahui hubungan keluarga kita.”
Aku membuka surat itu perlahan.
Tulisan tangan Ayah masih sangat kukenal.
Di dalamnya, Ayah mengucapkan terima kasih atas persahabatan mereka dan menuliskan sebuah pesan sederhana.
“Kalau suatu hari anak-anak kita bertemu lagi, biarkan mereka memilih jalan hidup masing-masing. Jangan pernah menjadikan kebaikan masa lalu sebagai utang yang harus dibayar dengan masa depan mereka.”
Mataku langsung berkaca-kaca.
Aku membaca kalimat itu beberapa kali.
Ternyata Ayah telah memikirkan sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas dalam benakku.
Beliau tidak ingin hubungan baik kedua keluarga menjadi alasan untuk memaksakan sebuah pernikahan.
Aku melipat surat itu dengan hati-hati.
“Mas Arga, aku senang akhirnya tahu semua ini. Tapi aku tetap nggak mau menikah hanya karena orang tua kita berharap begitu.”
Arga mengangguk.
“Aku juga nggak mau.”
Aku menatapnya.
“Terus?”
Dia tersenyum.
“Aku mau mulai dari awal. Tanpa perjodohan, tanpa cerita gaji fantastis, dan tanpa kotak hitam.”
Aku tertawa kecil.
“Jadi Mas ngajak aku kencan lagi?”
“Iya. Kalau kamu bersedia.”
Aku berpura-pura berpikir.
“Boleh. Tapi ada syarat.”
“Apa?”
“Kalau ada perubahan jadwal, bilang. Kalau ada masalah, jelaskan sebatas yang memang bisa diceritakan. Dan jangan pernah membuatku merasa harus menebak-nebak apakah kamu sedang baik-baik saja.”
Arga mengangguk serius.
“Aku bisa melakukan itu.”
“Terus satu lagi.”
“Apa?”
“Belajar bikin telur dadar yang benar.”
Arga tertawa.
“Itu mungkin lebih sulit daripada memperbaiki mesin pesawat.”
Enam bulan kemudian, hubungan kami berkembang perlahan.
Tidak selalu mudah. Ada saat Arga harus berangkat mendadak ke Makassar, ada malam ketika dia pulang terlalu lelah untuk berbicara, dan ada rencana akhir pekan yang harus kami batalkan.
Namun, setiap kali ada perubahan, dia berusaha memberi kabar.
Aku pun mulai memahami bahwa pekerjaan yang menyita waktu tidak selalu berarti seseorang mengabaikan pasangannya.
Yang penting bukan seberapa sering seseorang berada di rumah, melainkan apakah dia tetap membuat orang yang dicintainya merasa dihargai.
Suatu malam, Arga datang membawa sebuah kotak kecil.
Aku langsung memandangnya curiga.
“Mas, kita sudah sepakat nggak ada kotak misterius.”
Dia tertawa.
“Kali ini boleh dibuka.”
Di dalamnya terdapat sebuah cincin sederhana dan secarik kertas.
Arga tidak langsung berlutut.
Dia duduk di sampingku dan berkata pelan.
“Aku nggak bisa menjanjikan hidup yang selalu mudah. Tapi aku bisa berjanji untuk tidak sengaja membuatmu merasa sendirian dalam hubungan ini. Maya, maukah kamu membangun masa depan bersamaku?”
Aku memandang cincin itu, lalu menatap lelaki yang dulu hampir kutolak hanya karena pekerjaannya terdengar mencurigakan.
“Aku mau, Mas.”
Arga menghembuskan napas lega.
“Tapi ada satu syarat lagi,” lanjutku.
Dia langsung tertawa gugup.
“Apa sekarang?”
“Jangan sampai cincin ini kamu simpan dalam kotak bertuliskan akses terbatas.”
Kami tertawa bersama.
Saat Arga memasangkan cincin itu di jariku, aku teringat kembali pertemuan pertama kami.
Aku datang dengan keyakinan bahwa lelaki bergaji besar dan jarang pulang pasti bukan pasangan yang tepat untukku.
Aku juga sempat terjebak dalam ketakutan karena sebuah kotak yang tidak kuketahui isinya.
Namun, setelah semua kejadian berlalu, aku memahami bahwa tidak semua hal yang belum kita ketahui harus langsung dianggap buruk. Meski begitu, kepercayaan juga tidak boleh dibangun hanya dengan mengandalkan kata-kata manis.
Kepercayaan memerlukan kejujuran, batasan yang jelas, dan tindakan nyata.
Beberapa bulan setelah lamaran itu, Ibu bertanya apakah aku menyesal pernah menolak Arga.
Aku tersenyum.
“Nggak, Bu.”
Ibu terlihat heran.
“Kenapa?”
“Karena kalau dulu aku langsung menerima hanya karena gajinya besar, mungkin aku nggak akan pernah benar-benar mengenal dia.”
Ibu terdiam sebelum akhirnya tersenyum.
Aku melanjutkan dengan suara pelan.
“Dan kalau Arga nggak belajar membuka diri, aku juga nggak akan berani menerimanya sekarang.”
Di ruang tamu, Arga sedang berusaha membuat telur dadar untuk makan malam. Bau sedikit gosong mulai tercium dari dapur.
Aku segera berlari menghampirinya.
“Mas! Itu telurnya!”
Arga memandang wajan dengan wajah panik.
“Aku sudah ikuti resepnya!”
“Apinya kegedean!”
Dari ruang tengah, Ibu tertawa terbahak-bahak.
Aku ikut tertawa sambil mematikan kompor.
Saat itulah aku menyadari sesuatu.
Lelaki yang dulu kukira penuh rahasia ternyata tidak sempurna, tidak selalu tahu cara menjelaskan sesuatu, dan bahkan masih kesulitan membuat telur dadar.
Namun, dia bersedia belajar.
Dan barangkali, cinta yang layak diperjuangkan bukanlah cinta yang datang bersama janji kehidupan sempurna, melainkan cinta yang membuat dua orang bersedia berubah menjadi lebih baik tanpa harus kehilangan diri mereka sendiri.
