DI HARI PERNIKAHANKU, CALON SUAMIKU YANG BERPANGKAT

“Jangan percaya foto itu, Alya. Perempuan yang berdiri di samping Arga bukan Kirana yang selama ini kamu kenal. Dan kalau kamu ingin tahu siapa sebenarnya lelaki yang hampir kamu nikahi, periksa daftar tamu pernikahanmu.”

Aku membaca pesan Nadira sampai tiga kali.

Tanganku gemetar ketika membuka kembali foto akad yang dikirim keluarga Arga. Perempuan berkebaya putih gading itu memang terlihat seperti Kirana. Bentuk wajahnya sama, rambutnya sama, bahkan senyum kecilnya pun begitu kukenal.

Namun, setelah memperbesar foto, aku menemukan sesuatu yang aneh.

Di pergelangan tangan kirinya terdapat bekas luka panjang.

Kirana yang kukenal tidak memiliki bekas luka itu.

“Ran, ambilkan daftar tamu pernikahan Kakak.”

Adikku terlihat bingung, tetapi segera mengambil map dari lemari.

Aku membuka halaman demi halaman hingga menemukan nama yang membuat napasku tertahan.

Kirana Adhitama.

Di sebelahnya tertulis satu nama lagi.

Kirana Prameswari.

Keduanya tercantum sebagai tamu dari keluarga Arga.

Aku menatap Rani.

“Kenapa ada dua Kirana?”

Rani mendekat dan ikut membaca.

“Mungkin salah ketik?”

Aku menggeleng.

Kirana Adhitama adalah perempuan yang selama ini diperkenalkan Arga sebagai adik angkatnya. Namun, nama Kirana Prameswari sama sekali tidak pernah kudengar.

Aku segera menelepon Nadira.

Panggilan tersambung setelah beberapa detik.

“Nadira, jelaskan sekarang.”

Di seberang sana terdengar suara napas berat.

“Alya, aku masih di rumah sakit. Tapi ada sesuatu yang harus kamu tahu sebelum Arga kembali.”

“Siapa Kirana Prameswari?”

Nadira terdiam.

Kemudian dia menangis.

“Dia adik kandungku.”

Aku membeku.

“Adikmu?”

“Iya. Kami saudara kembar.”

Aku duduk perlahan di tepi tempat tidur.

Nadira menjelaskan bahwa dia dan Kirana lahir dari keluarga Prameswari di Yogyakarta. Setelah orang tua mereka bercerai, Kirana tinggal bersama ayahnya, sedangkan Nadira dibesarkan ibunya.

Keduanya baru kembali berhubungan ketika dewasa.

“Lalu kenapa Kirana menikah dengan Arga?”

“Alya, itu yang ingin kujelaskan. Kirana bukan adik angkat Arga. Dia perempuan yang sudah lama memiliki hubungan dengannya.”

Aku merasa dadaku sesak.

“Sejak kapan?”

“Jauh sebelum kamu mengenalnya.”

Aku memejamkan mata.

Selama empat tahun, Arga selalu mengatakan bahwa Kirana hanyalah anggota keluarga yang diasuh orang tuanya sejak kecil.

Aku bahkan pernah mengundangnya makan malam dan memintanya menjadi salah satu pendamping pengantin.

Ternyata hubungan mereka tidak pernah seperti yang diceritakan Arga.

“Tapi kenapa Arga mau menikah denganku?” tanyaku.

Nadira terdiam lama.

“Karena keluargamu.”

Aku menegakkan tubuh.

“Apa maksudmu?”

“Ayahmu pernah membantu Arga mendapatkan kesempatan penting dalam kariernya, kan?”

Aku teringat sesuatu.

Tiga tahun lalu, Ayah memang pernah memperkenalkan Arga kepada beberapa kolega senior di sebuah acara resmi. Namun, Ayah selalu menegaskan bahwa perkembangan karier Arga harus ditentukan oleh kemampuan dan penilaian institusinya sendiri.

“Apa hubungannya?”

“Nadira bilang Arga pernah mengaku kepada Kirana bahwa menikah denganmu akan memperkuat hubungan kedua keluarga.”

Aku menggeleng tidak percaya.

“Jadi aku cuma dianggap jalan untuk mendapatkan pengaruh?”

“Aku nggak tahu seluruh rencananya, Alya. Tapi aku tahu Kirana menolak ketika Arga mengatakan akan menikahimu.”

Aku menatap foto akad itu sekali lagi.

“Lalu kenapa mereka justru menikah hari ini?”

Nadira menarik napas panjang.

“Karena ada rahasia yang akhirnya diketahui keluarganya.”

Belum sempat dia melanjutkan, terdengar suara perawat memanggil namanya.

“Alya, aku harus masuk ruang pemeriksaan. Kalau kamu ingin tahu semuanya, temui aku besok. Aku akan membawa dokumen yang kusimpan.”

Panggilan terputus.

Malam itu, aku tidak bisa tidur.

Aku duduk di depan meja rias, memandangi kebaya putih yang telah kugantung kembali.

Pagi tadi, aku masih membayangkan kehidupan bersama Arga.

Sekarang, aku bahkan tidak tahu apakah selama empat tahun terakhir dia pernah benar-benar mencintaiku.

Keesokan harinya, aku datang ke rumah sakit bersama Rani.

Nadira sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya stabil, tetapi dokter menyarankan agar dia mengurangi aktivitas karena kehamilannya membutuhkan pemantauan.

Begitu melihatku, Nadira langsung menangis.

“Alya, maafkan aku.”

Aku duduk di kursi dekat ranjang.

“Aku nggak datang untuk mendengar permintaan maaf dulu. Aku ingin tahu kebenarannya.”

Nadira mengangguk.

Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari laci samping tempat tidur.

Di dalamnya terdapat foto-foto lama Arga bersama Kirana, salinan percakapan, dan dokumen yang menunjukkan bahwa mereka pernah merencanakan pernikahan hampir lima tahun sebelumnya.

Aku memperhatikan sebuah foto pertunangan sederhana.

Arga berdiri di samping Kirana dengan wajah bahagia.

Persis seperti lelaki yang dulu berjanji akan menikahiku.

“Kenapa pernikahan mereka batal waktu itu?”

“Karena Kirana pergi ke luar negeri. Dia mendapat kesempatan bekerja di Singapura. Arga nggak mau menunggu.”

Aku menatap Nadira.

“Lalu dia bertemu denganku?”

Nadira mengangguk.

“Namun, setelah Kirana pulang tahun lalu, mereka mulai bertemu diam-diam.”

Aku merasa napasku tertahan.

“Dan kamu tahu?”

Air mata Nadira kembali jatuh.

“Aku baru mengetahuinya enam bulan lalu.”

Aku menatap perutnya yang membesar.

“Nadira, siapa ayah bayimu sebenarnya?”

Pertanyaan itu membuat wajahnya berubah.

Dia mengusap perutnya perlahan.

“Ayah bayi ini bernama Farhan.”

Aku terdiam.

“Farhan yang dulu bekerja bersama Arga?”

Nadira mengangguk.

Farhan adalah seorang pengusaha logistik yang pernah kukenal melalui acara keluarga. Dia dan Nadira menikah secara sederhana setahun sebelumnya, tetapi hubungan mereka tidak berjalan baik.

Beberapa bulan lalu, Farhan mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.

Sejak itu, Nadira menjalani kehamilan sendirian.

“Lalu kenapa Arga tercatat sebagai pasanganmu di rumah sakit?”

Nadira menunduk.

“Karena waktu aku datang dalam keadaan panik, Arga yang mengisi formulir pendaftaran. Dia menggunakan data dirinya sebagai kontak keluarga dan menyebut dirinya suamiku supaya petugas segera membantunya.”

Aku mengernyit.

“Tapi kenapa perawat memanggilnya suamimu?”

“Karena informasi yang dimasukkan memang keliru. Setelah kamu pergi, aku meminta petugas memperbaikinya.”

Aku menghela napas panjang.

Satu persoalan akhirnya mendapat penjelasan.

Namun, itu tidak membuat tindakan Arga menjadi lebih mudah diterima.

“Kenapa dia meninggalkan pernikahan kita demi menemanimu?”

Nadira menangis semakin keras.

“Karena pagi itu aku mengancam akan memberitahumu tentang Kirana.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Aku sudah tahu mereka akan menikah diam-diam. Aku nggak mau kamu dipermalukan. Pagi itu aku menelepon Arga dan memintanya menghentikan semuanya.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Jadi kecelakaan dan kontraksi itu…”

“Kontraksinya benar-benar terjadi. Tapi aku menelepon Arga terutama karena ingin memaksanya berkata jujur kepadamu.”

Aku menutup mata.

Ternyata pagi itu Arga tidak sekadar memilih menolong sahabatku.

Dia sedang menghadapi seseorang yang mengetahui kebohongannya.

“Dan setelah itu dia menikah dengan Kirana?”

Nadira mengangguk.

“Mereka mengadakan akad setelah keluarga Kirana mendesaknya menentukan pilihan. Aku baru tahu ketika semuanya selesai.”

Aku merasa dadaku semakin sesak.

Selama empat tahun, aku telah memberikan waktu, kepercayaan, dan seluruh harapanku kepada lelaki yang ternyata menyimpan hubungan lain.

Namun, aku masih memiliki satu pertanyaan.

“Kenapa Arga nggak langsung membatalkan pernikahan kami sejak awal?”

Nadira mengeluarkan sebuah dokumen terakhir.

“Aku pikir kamu perlu membaca ini.”

Dokumen tersebut merupakan salinan perjanjian kerja sama usaha antara perusahaan keluarga Arga dan salah satu perusahaan milik pamanku.

Aku membaca beberapa halaman dengan teliti.

Di bagian lampiran terdapat sebuah catatan mengenai rencana penggabungan kepentingan bisnis keluarga.

Nama Ayah tercantum dalam korespondensi awal, tetapi tidak ada tanda tangan persetujuan beliau pada dokumen final.

Aku mengangkat wajah.

“Ini bukan perjanjian yang pernah Ayah ceritakan.”

Nadira mengangguk.

“Karena Arga belum berhasil mendapatkan persetujuan keluargamu.”

Aku akhirnya memahami kemungkinan yang selama ini tidak pernah terlintas dalam pikiranku.

Arga mungkin ingin mempertahankan hubungan denganku sampai rencana bisnisnya berhasil, sementara di sisi lain dia tetap menjalin hubungan dengan Kirana.

Aku tidak langsung menyimpulkan seluruh isi dokumen itu benar.

Aku memotretnya dan meminta salinan untuk diperiksa bersama penasihat hukum keluarga.

Sore harinya, aku menemui Ayah.

Beliau membaca dokumen tersebut dengan wajah semakin serius.

“Ayah memang pernah ditawari kerja sama,” katanya. “Tapi Ayah menolak karena ada beberapa hal yang nggak jelas.”

Aku menatapnya.

“Arga tahu?”

“Tahu. Ayah sudah bilang langsung kepadanya.”

Aku terdiam.

“Kenapa Ayah nggak pernah cerita?”

Ayah menghela napas.

“Karena Ayah nggak ingin mencampuri hubungan pribadi kalian. Ayah pikir Arga cukup dewasa untuk memisahkan urusan pekerjaan dan pernikahan.”

Aku menunduk.

Ayah menggenggam tanganku.

“Nak, kamu nggak perlu merasa malu karena pernikahan ini batal. Yang harus bertanggung jawab adalah orang yang memberikan janji tanpa niat menepatinya.”

Air mataku akhirnya jatuh.

Selama dua hari terakhir, aku berusaha terlihat kuat di depan semua orang.

Namun, mendengar kalimat Ayah membuat seluruh pertahananku runtuh.

Aku memeluknya erat.

“Alya capek, Yah.”

“Ayah tahu, Nak.”

“Alya malu sekali.”

Ayah mengusap rambutku.

“Jangan mengambil rasa malu yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang lain.”

Beberapa hari kemudian, Arga akhirnya datang ke rumah.

Dia tidak mengenakan seragam.

Wajahnya terlihat lelah.

Ketika melihatku duduk di ruang tamu, dia langsung melangkah mendekat.

“Alya, aku ingin menjelaskan semuanya.”

Aku menatapnya tenang.

“Silakan.”

Arga duduk di hadapanku.

“Aku memang pernah punya hubungan dengan Kirana sebelum mengenalmu.”

Aku mengangguk.

“Aku sudah tahu.”

“Waktu itu kami berpisah. Aku pikir semuanya selesai.”

“Lalu?”

“Ketika dia kembali tahun lalu, aku mulai bingung.”

Aku tertawa getir.

“Bingung selama satu tahun?”

Arga menunduk.

“Aku tahu aku salah.”

“Kalau kamu bingung memilih, kenapa tetap menetapkan tanggal pernikahan denganku?”

Dia tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Kenapa kamu membiarkan orang tuaku mengundang hampir seratus tamu? Kenapa kamu membiarkan aku memakai kebaya pengantin dan menunggu di depan penghulu?”

Arga menutup wajahnya.

“Aku takut kehilangan kamu.”

Aku menggeleng.

“Bukan. Kamu takut kehilangan keuntungan yang mungkin kamu dapatkan kalau tetap bersamaku.”

Arga langsung mengangkat kepala.

“Alya, bukan begitu!”

Aku meletakkan salinan dokumen kerja sama di meja.

“Kalau begitu, jelaskan ini.”

Wajahnya berubah.

Dia membaca halaman pertama, kemudian terdiam.

Aku menatapnya.

“Mas, aku nggak membutuhkan suami berpangkat tinggi. Aku nggak membutuhkan kehidupan mewah. Aku cuma membutuhkan seseorang yang jujur.”

Arga mulai menangis.

“Aku benar-benar mencintaimu, Alya.”

Aku menatapnya cukup lama.

“Mungkin kamu pernah mencintaiku. Tapi cinta yang tidak disertai kejujuran tetap bisa menghancurkan seseorang.”

Arga berusaha menggenggam tanganku.

Aku menariknya perlahan.

“Kamu sudah menikah dengan Kirana. Sekarang tanggung jawabmu ada pada keputusan yang kamu ambil.”

“Alya…”

“Aku nggak akan menjadi alasan kamu kembali menyakiti perempuan lain.”

Dia terdiam.

Aku berdiri dan berjalan menuju pintu.

“Pulanglah, Mas.”

Untuk pertama kalinya, Arga tidak mencoba menghentikanku.

Tiga bulan kemudian, kehidupan mulai kembali berjalan.

Aku kembali bekerja sebagai konsultan pengembangan layanan kesehatan.

Aku mengikuti beberapa proyek baru dan mulai menerima tawaran kerja sama dari rumah sakit di luar kota.

Namun, ada satu hal yang masih sering membuatku terbangun tengah malam.

Kenangan tentang kebaya putih.

Tentang kursi pengantin yang kosong.

Tentang janji yang tidak pernah ditepati.

Aku akhirnya memutuskan menemui psikolog untuk membantuku memproses pengalaman tersebut.

Aku tidak ingin seluruh masa depanku terus dibayangi oleh satu hari yang menyakitkan.

Beberapa bulan setelahnya, sebuah undangan datang dari sebuah yayasan pendidikan kesehatan.

Mereka memintaku menjadi pembicara dalam acara pengembangan kepemimpinan perempuan muda.

Awalnya, aku ragu.

Namun, akhirnya aku menerima.

Di hadapan puluhan peserta, aku berbicara tentang keberanian mengambil keputusan ketika kenyataan tidak berjalan sesuai rencana.

Aku tidak menceritakan seluruh masalah pribadiku.

Aku hanya mengatakan bahwa kegagalan sebuah rencana tidak selalu berarti kegagalan hidup.

“Kadang kita terlalu takut mengecewakan orang lain sampai lupa bahwa diri kita juga berhak merasa aman dan dihargai,” kataku.

Setelah acara selesai, seorang perempuan muda menghampiriku.

“Kak Alya, aku mau bilang sesuatu.”

Aku tersenyum.

“Silakan.”

“Aku sedang mempertimbangkan membatalkan pernikahan karena calon suamiku terus berbohong. Tapi aku takut keluarga besar malu.”

Aku terdiam sejenak.

Kemudian menggenggam tangannya.

“Kamu nggak harus mengambil keputusan yang sama denganku. Tapi jangan mengabaikan sesuatu yang menyangkut kepercayaan hanya karena takut pada komentar orang lain.”

Perempuan itu mengangguk sambil menangis.

Saat dia pergi, aku menyadari bahwa pengalaman pahitku ternyata bisa membantu seseorang merasa tidak sendirian.

Setahun setelah hari pernikahan yang gagal, aku menerima kabar bahwa Nadira telah melahirkan bayi perempuan yang sehat.

Dia mengirimkan foto bayinya dengan pesan singkat.

“Aku menamainya Laras. Terima kasih karena dulu kamu tetap memperlakukanku dengan baik meskipun semuanya begitu kacau.”

Aku menatap foto itu cukup lama.

Hubunganku dengan Nadira tidak langsung kembali seperti dulu.

Masih ada pertanyaan tentang mengapa dia begitu lama menyimpan rahasia.

Namun, aku mulai memahami bahwa dia juga pernah terjebak dalam situasi sulit dan mengambil keputusan yang tidak selalu tepat.

Aku membalas pesannya.

“Semoga Laras tumbuh sehat dan bahagia. Jaga dirimu baik-baik.”

Beberapa minggu kemudian, Rani mengajakku membersihkan lemari lama di rumah.

Di bagian paling belakang, kami menemukan kotak berisi perlengkapan pernikahanku.

Ada undangan yang belum sempat dibagikan.

Ada hiasan rambut.

Dan kebaya putih yang dulu kupakai menunggu Arga.

Aku mengangkat kebaya tersebut perlahan.

Kainnya masih indah.

Bordirnya masih rapi.

Namun, melihatnya tidak lagi membuatku sesak seperti dulu.

Rani duduk di sampingku.

“Kak, mau diapakan kebayanya?”

Aku berpikir sebentar.

Kemudian tersenyum.

“Aku mau mengubahnya.”

“Jadi apa?”

“Gaun sederhana yang bisa kupakai untuk acara lain.”

Rani tertawa kecil.

“Serius?”

Aku mengangguk.

“Kenapa nggak? Kebayanya nggak salah apa-apa.”

Kami membawa kebaya itu ke seorang penjahit langganan keluarga.

Beberapa minggu kemudian, pakaian tersebut berubah menjadi gaun putih sederhana dengan detail bordir yang masih dipertahankan.

Aku mengenakannya ketika menghadiri acara penghargaan proyek kesehatan yang kukerjakan bersama tim.

Malam itu, aku berdiri di panggung menerima penghargaan atas kontribusi dalam pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat.

Ketika fotografer meminta kami berfoto bersama, aku tersenyum lebar.

Untuk pertama kalinya, pakaian putih itu tidak lagi mengingatkanku pada seorang pengantin yang ditinggalkan.

Pakaian itu menjadi bagian dari sebuah pencapaian baru.

Setelah acara selesai, Ayah menghampiriku.

Beliau memperhatikan gaun yang kukenakan.

“Itu kebaya yang dulu?”

Aku mengangguk.

“Iya, Yah.”

Ayah tersenyum.

“Bagus sekali.”

Aku tertawa kecil.

“Lebih bagus daripada waktu pertama dipakai?”

Ayah menggeleng.

“Bajunya sama indahnya. Tapi sekarang wajahmu jauh lebih bahagia.”

Aku memeluk Ayah erat.

Malam itu, ketika pulang, aku membuka kotak kecil yang selama ini kusimpan di meja rias.

Di dalamnya terdapat sebuah cincin yang seharusnya dipasangkan Arga di jariku.

Aku memandang cincin tersebut beberapa saat.

Kemudian menutup kotaknya.

Besok, aku akan menghubungi pihak yang bersangkutan untuk menyelesaikan pengembalian barang-barang pertunangan sesuai kesepakatan keluarga.

Aku tidak lagi membutuhkan benda itu sebagai pengingat.

Karena aku sudah memahami pelajaran terpenting dari semua yang terjadi.

Dulu, aku mengira pernikahan adalah tujuan akhir yang harus kucapai setelah bertahun-tahun membangun hubungan.

Aku mengira semakin lama seseorang bersama kita, semakin besar kewajiban untuk mempertahankannya.

Namun, sekarang aku tahu bahwa lamanya hubungan tidak menjamin kejujuran.

Pangkat, jabatan, dan kehormatan di mata masyarakat juga tidak menjamin seseorang mampu memegang janji.

Aku pernah berdiri di depan penghulu dengan pakaian pengantin, menunggu lelaki yang tidak datang.

Aku pernah merasa seluruh hidupku runtuh ketika melihatnya menikahi perempuan lain pada hari yang sama.

Tetapi aku tidak lagi menganggap hari itu sebagai akhir dari masa depanku.

Justru hari itulah aku berhenti menyerahkan nilai diriku kepada keputusan seseorang yang tidak mampu menghargai kepercayaanku.

Dan kalau suatu hari aku kembali mengenakan pakaian pengantin, aku ingin melakukannya bukan karena takut kehilangan kesempatan menikah.

Aku ingin melakukannya karena menemukan seseorang yang benar-benar siap berjalan bersamaku.

Seseorang yang tidak hanya datang ketika semuanya mudah.

Seseorang yang tidak membuatku menunggu tanpa penjelasan.

Dan yang terpenting, seseorang yang memahami bahwa janji pernikahan bukan sekadar kata-kata indah di depan penghulu, melainkan tanggung jawab yang harus dijaga bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Karena pada akhirnya, kehilangan seorang calon suami yang tidak jujur bukanlah kehancuran terbesar dalam hidupku.

Kehancuran yang sebenarnya akan terjadi jika aku tetap memaksakan pernikahan itu, lalu kehilangan diriku sendiri demi mempertahankan seseorang yang sejak awal tidak pernah benar-benar memilihku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang