“Bu, sebelum Ibu melihat rekaman itu, saya harus bilang sesuatu. Mbak Siska sempat meminta saya menghapus rekaman kamera lorong.”
Suara Pak Budi membuat darahku seakan berhenti mengalir.

Aku berdiri di depan kamar Nadine, masih menggenggam tangan Laras yang gemetar. Putri kandungku itu terus menunduk sejak Arga menuduhnya sengaja mencampurkan sesuatu ke dalam puding.
“Jangan hapus apa pun, Pak. Saya segera ke ruang keamanan.”
Laras menatapku dengan ketakutan.
“Bu, Ibu percaya aku, kan?”
Aku berjongkok di hadapannya.
“Ibu percaya kamu ingin melakukan hal baik untuk Nadine. Tapi kita tetap harus mencari tahu penyebab dia sakit.”
“Kalau ternyata aku salah memasukkan bahan?”
“Kalau ada kesalahan, kita perbaiki bersama. Kamu enggak akan dihukum hanya karena seseorang menuduhmu.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Laras mengangguk tanpa menangis.
Setelah memastikan Nadine sudah dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, aku menuju ruang keamanan bersama Surya. Arga bersikeras ikut.
Pak Budi memutar rekaman pukul tujuh lewat dua belas menit.
Di layar, Siska terlihat masuk ke kamar Nadine sambil membawa kantong kertas kecil. Ketika keluar delapan menit kemudian, tangannya kosong. Dia berjalan menuju ruang penyimpanan belakang dapur.
“Laras mengantarkan puding sekitar pukul tujuh lewat lima menit,” kata Pak Budi.
Aku mengangguk.
“Putar rekaman dapur.”
Kamera memperlihatkan Laras membuat puding bersama Pak Joko, koki keluarga kami. Setelah adonan dingin, Laras menuangkannya ke mangkuk dan menaburkan irisan almond sebelum membawanya ke lantai atas.
Tidak terlihat sesuatu yang mencurigakan.
Namun saat rekaman kamar kembali diputar, Arga tiba-tiba menunjuk layar.
“Tunggu. Siska masuk setelah Laras membawa puding?”
“Iya,” jawab Pak Budi.
Wajah Arga berubah.
Aku langsung meminta Pak Budi memperbesar gambar kantong kertas yang dibawa Siska. Sayangnya, tulisan pada kantong tidak terbaca.
“Kita harus bertanya langsung,” kataku.
Surya mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak keributan terjadi, dia tidak membantahku.
Kami menemukan Siska di ruang belakang dapur. Perempuan itu sedang memasukkan beberapa barang ke dalam tas.
“Siska, mau ke mana?” tanyaku.
Dia terkejut.
“Pulang sebentar, Bu. Ibu saya sakit.”
“Kalau begitu, kita bicara lima menit sebelum kamu pergi.”
Wajahnya memucat.
Aku menunjukkan rekaman CCTV.
“Apa yang kamu bawa ke kamar Nadine?”
Siska menatap layar, kemudian menunduk.
“Itu cuma barang pribadi Mbak Nadine.”
“Barang apa?”
Dia tidak menjawab.
Arga mulai kehilangan kesabaran.
“Kamu memasukkan sesuatu ke puding itu?”
“Enggak, Mas! Saya enggak pernah berniat mencelakai Mbak Nadine!”
“Kalau begitu, kenapa kamu menjatuhkan mangkuknya?”
Siska menangis.
“Saya panik. Saya takut semuanya ketahuan.”
Aku merasakan tengkukku meremang.
“Apa yang takut ketahuan, Siska?”
Perempuan itu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.
Di dalamnya terdapat beberapa bungkus camilan dan dua kemasan suplemen penurun berat badan.
Aku terdiam.
“Ini punya siapa?”
“Mbak Nadine.”
Arga langsung menggeleng.
“Mustahil! Nadine enggak pernah minum begituan!”
Siska mengusap air matanya.
“Sudah hampir dua bulan, Mas. Mbak Nadine minta saya merahasiakannya.”
Aku memandang kemasan tersebut.
“Siska, kenapa kamu membawanya ke kamar malam ini?”
“Mbak Nadine meminta saya mengambil persediaan yang disembunyikan di lemari. Saya taruh di laci meja rias. Setelah Mbak Nadine sakit, saya takut Ibu menemukannya.”
“Dan kamu sengaja menjatuhkan mangkuk puding supaya kami tidak bisa memeriksanya?”
Siska menutup wajah.
“Iya, Bu. Saya pikir kalau pudingnya hilang, semua orang akan menganggap Mbak Laras cuma salah memasak. Saya enggak menyangka Mas Arga akan menuduhnya sengaja meracuni Mbak Nadine.”
Dadaku terasa sesak.
“Jadi kamu membiarkan Laras dituduh melakukan sesuatu yang mengerikan hanya supaya rahasia Nadine tetap aman?”
Siska menangis semakin keras.
“Saya salah, Bu.”
Aku meminta Pak Budi mengamankan rekaman dan barang yang ditemukan, lalu menghubungi dokter yang menangani Nadine untuk menyampaikan informasi tentang suplemen tersebut.
Kami belum tahu apakah produk itu menyebabkan keluhannya. Dokter perlu mengetahui seluruh obat dan suplemen yang dikonsumsi pasien agar pemeriksaannya tepat.
Setibanya di rumah sakit, aku langsung menemui dokter.
Nadine sudah sadar dan kondisinya stabil.
Dokter menjelaskan bahwa pemeriksaan awal menunjukkan Nadine mengalami dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit ringan. Riwayat penggunaan produk penurun berat badan perlu dievaluasi lebih lanjut, termasuk kemungkinan kandungan yang tidak sesuai label.
Tidak ada dasar untuk menyimpulkan Laras sengaja meracuni Nadine.
Aku mengembuskan napas lega.
Namun ketika masuk ke kamar perawatan, aku melihat putri yang sudah kubesarkan selama enam belas tahun itu menangis sendirian.
“Nadine.”
Dia langsung mengusap wajah.
“Ibu…”
Aku duduk di samping tempat tidurnya.
“Nak, Ibu sudah tahu soal suplemen itu.”
Wajah Nadine seketika pucat.
“Siapa yang bilang?”
“Siska.”
Nadine menutup matanya.
Aku menggenggam tangannya.
“Kenapa kamu mengonsumsi produk seperti itu tanpa berkonsultasi dengan dokter?”
Dia tidak menjawab.
Aku menunggu.
Akhirnya, Nadine berkata dengan suara sangat pelan.
“Karena aku takut Ibu enggak sayang aku lagi.”
Hatiku serasa diremas.
“Apa hubungannya dengan berat badanmu?”
Nadine mulai menangis.
“Sejak Laras datang, semua orang terus membicarakan betapa miripnya dia dengan Ibu. Semua orang bilang dia pintar, cepat belajar, bahkan punya bakat bisnis seperti Ibu.”
Aku terdiam.
“Sedangkan aku?”
Air matanya mengalir.
“Aku bukan anak kandung Ibu. Aku enggak punya bakat seperti Laras. Aku juga merasa enggak secantik dia.”
“Nadine…”
“Aku pikir kalau aku bisa terlihat lebih cantik, lebih kurus, mungkin orang-orang akan berhenti membandingkan kami.”
Aku memeluknya erat.
“Sayang, kamu enggak perlu mengubah tubuhmu untuk mendapatkan kasih sayang Ibu.”
Nadine menangis di bahuku.
“Tapi semuanya berubah sejak Laras pulang.”
Aku mengusap rambutnya.
“Iya, ada banyak hal yang berubah. Dan Ibu minta maaf karena terlalu sibuk memastikan Laras merasa diterima sampai mungkin kurang memperhatikan ketakutanmu.”
Nadine mengangkat wajah.
“Jadi Ibu enggak akan mengusirku?”
Aku hampir menangis mendengar pertanyaan itu.
“Nadine, enam belas tahun Ibu membesarkanmu. Kamu tetap anak Ibu. Hasil tes DNA tidak bisa menghapus semua hari yang pernah kita jalani bersama.”
Dia memelukku semakin erat.
Namun kemudian, Nadine tiba-tiba berbisik.
“Bu, ada sesuatu yang belum Ibu tahu.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
Dia menggigit bibir.
“Sebenarnya aku tahu Siska mau membuang sisa puding itu.”
Aku membeku.
“Kenapa kamu membiarkannya?”
“Karena aku takut dokter menemukan suplemen yang kuminum. Aku takut Ibu marah dan semua orang menganggap aku sengaja membuat masalah.”
Aku menarik napas panjang.
“Tapi kamu melihat Laras dituduh.”
Nadine menunduk.
“Iya.”
“Kamu tahu dia menangis karena semua orang menuduhnya?”
Air mata Nadine kembali jatuh.
“Aku tahu, Bu. Aku terlalu takut untuk bicara.”
Aku melepaskan tangannya perlahan.
“Nadine, Ibu memahami kamu sedang ketakutan. Tapi ketakutanmu tidak boleh membuat orang lain menanggung kesalahan yang bukan miliknya.”
Dia mengangguk sambil menangis.
“Aku mau minta maaf sama Laras.”
Keesokan harinya, setelah dokter mengizinkan Nadine menerima kunjungan, aku membawa Laras ke rumah sakit.
Sejak kami tiba, Laras terlihat gugup.
“Aku boleh masuk, Bu?”
“Tentu. Nadine ingin bicara denganmu.”
Ketika melihat Laras, Nadine langsung menangis.
“Ras, maafin aku.”
Laras terdiam.
“Aku sebenarnya enggak sakit karena kamu sengaja memasukkan sesuatu ke puding,” lanjut Nadine. “Aku sudah beberapa waktu enggak menjaga makan dan minum suplemen tanpa pengawasan. Aku takut ketahuan, jadi aku diam waktu semua orang menuduhmu.”
Laras memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
“Jadi Kakak enggak marah karena aku bikin puding?”
Nadine menggeleng.
“Enggak. Kamu cuma mau membuatku senang.”
Laras menunduk.
“Aku takut Kakak enggak suka aku tinggal di rumah.”
Nadine terdiam lama.
Lalu berkata, “Awalnya aku memang takut sama kamu.”
Laras mengangkat wajah.
“Aku takut kamu mengambil tempatku. Tapi itu bukan salahmu.”
Kedua gadis itu menangis.
Aku tidak memaksa mereka berpelukan.
Aku tahu hubungan yang terluka membutuhkan waktu untuk pulih.
Namun ketika Laras akhirnya duduk di samping tempat tidur dan menggenggam tangan Nadine, aku merasa ada sesuatu yang mulai berubah.
Beberapa minggu berikutnya, Nadine menjalani pemeriksaan lanjutan dan mendapatkan pendampingan untuk memperbaiki hubungan dengan makanan serta kepercayaan dirinya.
Siska tidak lagi bekerja sebagai pelayan pribadi Nadine setelah kami menyelesaikan urusan pekerjaannya sesuai ketentuan. Sebelum pergi, dia meminta maaf langsung kepada Laras.
Arga juga harus menghadapi kesalahannya.
Suatu malam, aku memanggilnya ke ruang kerja.
“Kamu masih ingat ketika mengangkat tangan hendak memukul Laras?”
Arga menunduk.
“Iya, Bu.”
“Kalau Ibu tidak menghentikanmu, apa yang akan terjadi?”
Dia tidak menjawab.
Aku menatapnya.
“Laras sudah kehilangan enam belas tahun bersama keluarga kandungnya. Setelah akhirnya pulang, orang yang seharusnya menjadi kakaknya justru membuatnya ketakutan.”
Arga mulai menangis.
“Aku cuma takut kehilangan Nadine, Bu.”
“Melindungi Nadine bukan berarti kamu boleh menyakiti Laras.”
Dia mengangguk.
“Aku salah.”
Beberapa hari kemudian, Arga meminta maaf kepada Laras.
Awalnya Laras terlihat takut.
Namun Arga tidak mendekat sebelum adiknya merasa nyaman.
“Kakak minta maaf. Kakak sudah menuduhmu tanpa bukti.”
Laras mengangguk pelan.
“Aku masih takut sama Kakak.”
Kalimat itu membuat Arga terdiam.
“Aku tahu. Kakak enggak akan memaksamu langsung percaya lagi.”
Sejak saat itu, perubahan kecil mulai terlihat.
Arga berhenti berbicara kasar kepada Laras.
Nadine tidak lagi menyembunyikan ketakutannya.
Dan Surya mulai meluangkan waktu untuk mengenal putri kandungnya tanpa terus membandingkannya dengan Nadine.
Aku juga menghubungi keluarga yang selama ini membesarkan Laras.
Hubungan kedua keluarga memang tidak mudah. Ada kesedihan, penyesalan, dan pertanyaan tentang bagaimana pertukaran bayi itu bisa terjadi.
Namun kami sepakat bahwa kedua anak tidak boleh dipaksa memutus seluruh hubungan dengan orang-orang yang telah membesarkan mereka.
Laras tetap boleh mengunjungi keluarga lamanya.
Nadine juga diberi kesempatan mengenal orang tua kandungnya secara perlahan, dengan pendampingan yang sesuai.
Beberapa bulan kemudian, aku mengadakan makan malam kecil di rumah.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada tamu perusahaan.
Hanya keluarga kami.
Di tengah meja terdapat dua mangkuk puding.
Satu puding cokelat.
Satu puding almond.
Laras yang membuat keduanya bersama koki, dengan bahan yang telah diperiksa agar sesuai dengan kebutuhan kesehatan keluarga.
Ketika hidangan penutup disajikan, semua orang sempat terdiam.
Kami teringat malam ketika semangkuk puding hampir menghancurkan hubungan kedua putriku.
Namun kali ini, Nadine justru mengambil sendok lebih dulu.
“Ras, aku mau coba yang cokelat.”
Laras tersenyum.
“Yang almond juga enak, Kak.”
Nadine tertawa kecil.
“Kamu yakin?”
“Yakin. Aku bikin sendiri.”
Arga ikut tersenyum.
Suasana meja makan perlahan menjadi hangat.
Namun kejutan yang paling tidak kuduga datang setelah makan malam selesai.
Nadine menghampiriku sambil membawa sebuah amplop.
“Bu, aku mau kasih sesuatu.”
Aku membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat dua foto.
Foto pertama adalah foto Nadine ketika masih bayi, tertidur dalam pelukanku.
Foto kedua adalah foto Laras ketika pertama kali datang ke rumah kami.
Di belakang kedua foto terdapat tulisan tangan Nadine.
Ibu, mungkin aku bukan bayi yang Ibu lahirkan. Tapi aku tetap anak yang Ibu besarkan. Dan Laras bukan orang yang datang untuk mengambil tempatku. Dia adalah adik yang selama ini tidak pernah kukenal.
Aku menatap tulisan itu dengan mata berkaca-kaca.
Namun di bawahnya masih ada satu kalimat.
Mulai sekarang, aku tidak ingin bertanya siapa anak kandung Ibu. Aku hanya ingin kita belajar menjadi keluarga tanpa harus ada yang merasa tersisih.
Aku menangis sambil memeluk Nadine.
Laras yang berdiri di dekat pintu perlahan menghampiri kami.
Aku meraih tangannya.
Dan untuk pertama kalinya, kedua putriku berada dalam pelukanku tanpa rasa takut.
Saat itulah aku memahami sesuatu yang selama ini hampir kulupakan.
Enam belas tahun lalu, sebuah kesalahan di rumah sakit membuat dua bayi pulang bersama keluarga yang berbeda.
Kesalahan itu memang mengubah banyak hal.
Namun yang hampir menghancurkan keluarga kami bukanlah hasil tes DNA.
Melainkan ketakutan, prasangka, dan kebiasaan menyalahkan seseorang sebelum mengetahui kebenarannya.
Aku tidak bisa mengembalikan enam belas tahun yang hilang dari hidup Laras.
Aku juga tidak bisa menghapus kegelisahan Nadine hanya dengan mengatakan bahwa aku mencintainya.
Namun aku masih bisa memilih bagaimana memperlakukan keduanya mulai hari ini.
Dan ketika melihat Laras serta Nadine tertawa bersama di meja makan, aku menyadari bahwa menjadi seorang ibu bukan tentang menentukan anak mana yang lebih berhak mendapatkan kasih sayang.
Melainkan memastikan tidak satu pun dari mereka harus berebut untuk mendapatkannya.
