Di Minimarket, Aku Melihat Suamiku Membeli Obat Migrain dan Bubur Kesukaan

“Aku melamarmu dua minggu setelah Keisya mengirim undangan pernikahannya.”

Suara Arga begitu pelan hingga aku nyaris tidak mendengarnya.

Aku ingat lamaran itu. Hujan sore, restoran kecil, tangannya gemetar ketika membuka kotak cincin. Aku menangis karena mengira lelaki yang kucintai akhirnya yakin ingin hidup bersamaku.

“Kamu menikahiku supaya dia menyesal?”

“Awalnya aku ingin membuktikan bahwa aku juga bisa melanjutkan hidup.”

Aku menarik kursi dan duduk sebelum lututku menyerah.

“Awalnya,” ulangku. “Lalu kapan aku berhenti menjadi pembuktianmu?”

Arga membuka mulut, kemudian menunduk.

Kami sudah berpacaran delapan bulan ketika ia melamarku. Selama itu, aku tahu ia pernah terluka oleh seseorang. Yang tidak kuketahui, hubungan lamanya belum benar-benar selesai ketika ia mulai mendekatiku.

“Aku memang menyukaimu,” katanya cepat. “Kamu membuatku tenang. Bersamamu, semuanya terasa mudah.”

“Mudah karena aku tidak tahu apa-apa.”

“Aku belajar mencintaimu, Din.”

Aku memejamkan mata.

Kalimat itu mungkin terdengar indah dalam cerita orang lain. Di meja makan kami, kalimat itu membuat enam tahun terakhir terasa seperti ruang kelas tempat aku tidak pernah tahu sedang diuji.

“Kenapa Keisya ada di apartemen?”

“Ia sedang berpisah dengan suaminya. Dia membutuhkan tempat tinggal sementara.”

“Dan kamu ingin membuktikan sesuatu lagi?”

“Tidak.”

“Kamu menginap di sana semalam.”

Arga mengusap wajah.

“Aku tidur di sofa.”

Aku menatapnya lama.

“Aku tidak punya cara untuk mengetahui kapan kamu sedang jujur.”

Hari itu aku pergi ke rumah Nisa membawa satu koper. Sebelum berangkat, kuambil amplop pelatihan dari tas dan mengirim konfirmasi penerimaan melalui surel.

Tanganku masih gemetar saat menekan tombol kirim.

Nisa membukakan pintu tanpa bertanya. Ia hanya memelukku, lalu mengambil koper dari tanganku.

Malamnya, aku terbangun karena suara pesan masuk.

Arga mengirim foto meja balkon yang sudah ditatanya kembali. Ada bunga baru, dua piring, dan kue cokelat.

“Aku tahu terlambat. Tapi pulanglah. Kita bicara.”

Aku memandang foto itu sampai layar meredup.

Selama ini aku mengira ia tidak tahu bagaimana membuatku merasa diperhatikan. Ternyata ia tahu. Ia hanya baru melakukannya ketika aku pergi.

Keesokan paginya, nomor yang tidak kusimpan menelepon.

“Dinda? Aku Keisya.”

Aku duduk tegak.

“Aku mendapat nomormu dari kontak darurat di apartemen. Maaf menghubungimu seperti ini.”

“Apa yang ingin kamu katakan?”

“Aku baru tahu Arga tidak pernah bercerita tentang kita.”

“Kita?”

“Hubungan kami dulu. Dan alasan dia mendadak melamarmu.”

Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat kemarahanku semakin tajam.

“Kalian pernah membicarakan pernikahanku?”

Keisya terdiam.

“Jawab.”

“Bertahun-tahun lalu, iya. Dia mengirim foto pertunangan kalian kepadaku. Katanya dia akhirnya menemukan seseorang yang lebih menghargainya.”

Aku menahan napas.

Bahkan kebahagiaanku pernah dipakai sebagai pesan untuk perempuan lain.

“Kenapa kamu kembali mencarinya?”

“Aku sedang kesulitan. Dia menawarkan apartemen itu.”

“Kamu tahu dia punya istri.”

“Aku tahu.”

Tidak ada alasan setelah jawaban itu.

Lalu Keisya mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.

“Aku sudah pindah pagi ini. Tapi aku tidak mau memberimu kesan bahwa masalah selesai hanya karena aku pergi.”

Aku menatap lantai kamar Nisa.

“Memang tidak.”

Kami menutup telepon tanpa saling memaafkan. Aku tidak membutuhkannya menjadi penjahat tunggal agar bisa memahami siapa yang telah berbohong kepadaku.

Dua hari kemudian, aku menemui Arga di tempat umum.

Ia membawa buku kecil berisi rencana mengunjungiku di Surabaya, jadwal panggilan, bahkan pilihan konseling.

“Aku bersedia menjalani semuanya,” katanya.

“Kamu pernah bilang enam bulan akan merepotkan.”

“Aku salah.”

“Kenapa keinginanku baru bisa dibicarakan setelah aku membawa koper?”

Matanya memerah.

“Aku mengira kamu akan selalu ada.”

Aku memandang orang yang dulu ingin kutemui setiap pulang kerja.

“Aku juga mengira begitu.”

Kami mulai menjalani konseling, tetapi tinggal terpisah. Aku ingin mendengar diriku sendiri ketika tidak sibuk menenangkan Arga.

Dalam salah satu sesi, ia mengakui bahwa selama bertahun-tahun ia senang menjadi orang yang dibutuhkan. Ketika Keisya kembali, ia merasa mendapat kesempatan memperbaiki kegagalan masa lalunya.

“Bagaimana dengan Dinda?” tanya konselor.

Arga menatapku.

“Aku menganggap dia kuat. Dia bisa mengurus semuanya sendiri.”

Aku menangis saat mendengarnya.

“Aku bisa,” kataku. “Tapi aku menikah karena ingin ditemani.”

Sebulan kemudian, aku berangkat ke Surabaya.

Arga datang ke bandara. Ia tidak meminta koperku diturunkan atau tiketku dibatalkan. Hanya berdiri di sampingku sambil memegang secangkir kopi yang tidak kuminum.

“Apakah kamu masih mencintaiku?” tanyanya.

Aku memandang antrean keberangkatan.

“Masih ada perasaan yang belum selesai. Tapi aku tidak mau menjadikannya alasan untuk terus tinggal.”

Di Surabaya, kesedihan tidak langsung hilang. Aku pernah menangis di kamar mandi kantor setelah membaca tulisan tentang pasangan yang menua bersama. Pernah pula meraih ponsel untuk menceritakan hari burukku kepada Arga, lalu berhenti.

Namun, aku mulai menikmati pekerjaanku. Membaca naskah sampai larut terasa melelahkan dengan cara yang berbeda. Kali ini aku tahu untuk apa aku bertahan.

Pada bulan keempat, Arga datang sesuai kesepakatan kami. Ia tampak lebih kurus dan tidak lagi membawa hadiah.

“Aku ingin mencoba lagi,” katanya.

Aku mengangguk pelan, lalu mengeluarkan map dari tas.

“Aku ingin mengakhiri pernikahan kita.”

Ia menatap map itu lama.

“Karena kamu tidak bisa memaafkanku?”

“Aku sedang berusaha memaafkan. Tapi aku tidak lagi ingin menjadi istrimu.”

Ia menangis. Aku pun demikian.

Proses perpisahan kami berjalan setelah itu. Tidak cepat, tidak mudah, tetapi kali ini tak ada keputusan yang disembunyikan.

Ketika program pelatihan selesai, aku menerima tawaran bekerja tetap di Surabaya.

Pada ulang tahunku, Nisa mengirim paket. Di dalamnya ada foto balkon lamaku yang diambil sebelum pernikahan, ketika tempat itu masih penuh pot tanaman dan buku.

Aku tersenyum, lalu pergi membeli meja kecil untuk balkon apartemenku.

Malamnya aku memasak rawon. Resepnya kuubah sedikit, sesuai seleraku sendiri.

Baru ketika hendak makan, aku menyadari sesuatu.

Aku tidak pernah benar-benar menyukai kue cokelat.

Selama enam tahun, aku selalu membuatnya untuk Arga.

Besoknya, aku membeli sepotong kue keju, menaruhnya di piring terbaik, lalu duduk menikmati setiap suapnya tanpa menunggu siapa pun pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang